
Malam hari, setelah semua seleai makan malam, akhirnya infus Magdalena di lepas oleh dokter keluarga. Dokter itu sudah tidak muda lagi, ia sudah memiliki banyak uban di rambutnya.
"Tubuh Nyonya sudah lebih sehat, jangan lupa untuk makan yang banyak." Kata sang dokter.
"Terimakasih banyak dokter sudah merawat saya."
"Bagaimana keadaannya, Alfred." Kata Reid yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Magdalena.
Semua pelayan menunduk hormat dan undur diri sembari membawa troli berisi piring kotor.
"Perkembangan nya bagus Tuan Reid, Nyonya muda makan dengan semangat, dan infus sudah habis, tenaga nya sudah hampir pulih, dan kesehatannya juga meningkat, beberapa hari lagi kemungkinan bisa kembali seperti sediakala." Kata Alfred menunduk hormat.
Reid mengangguk tanda mengerti.
Namun, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan Deborah yang masuk tiba-tiba.
"Astaga... Tuan Reid saya mencari anda dimana-mana..." Kata Deborah terengah.
"Ada apa..." Kata Reid.
"Nyonya Besar sedang dalam perjalan kemari." Kata Deborah tegang.
Reid membulatkan matanya.
"Siapkan semuanya, dan ajari gadis ini bagaimana harus bersikap."
Reid menutup matanya sejenak, ia ingat Qartel sedang pergi. Reid tak menyangka bahwa ia berani datang ke mansionnya.
"Deborah, suruh para pelayan untuk menyiapkan kamar kami berdua." Kata Reid berlalu pergi.
"Baik Tuan."
Deborah sibuk memberitahu Magdalena apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan ketika Nyonya Besar ada.
"Nona, sebenarnya Nyonya besar bukanlah ibu kandung Tuan Reid, awalnya dia adalah istri simpanan dari Tuan Besar yang saat ini berada di luar negeri, Nyonya Besar selalu mengadu pada Tuan Besar jika Tuan Reid tidak menuruti perintahnya, dan pasti akan terjadi peperangan tanpa henti. Tuan Besar akan menekan perusahaan Tuan Reid terus menerus." Kata Deborah sembari menyiapkan pakaian untuk Magdalena.
"Jadi? Aku harus bagaimana?" Tanya Magdalena.
"Yang perlu anda lakukan untuk saat ini tidak boleh menyela apapun saat Nyonya besar berbicara, dan jawab saja sesuai yang ada di diri anda. Selebihnya Tuan Reid pasti akan mengurusnya." Kata Deborah membantu melepas pakaian Magdalena.
"Astaga... Maaf saya malu..." Kata Magdalena ketika Deborah membuka kancing baju Magdalena.
"Tidak ada waktu lagi, anggap saja saya adalah nenek anda Nona." Kata Deborah bergegas memberikan pakaian untuk Magdalena.
Kemudian Magdalena memakai pakaian dress yang elegan, para pelayan mulai mendandani Magdalena dan merapikan rambut panjang Magdalena yang tergerai halus.
Seorang pelayan masuk dan memberikan infornasi
"Kepala pelayan, mobil sudah memasuki area mansion." Kata pelayan itu.
"Apa kamar Nona dan Tuan Reid sudah siap." Tanya Deborah.
"Sudah Kepala Pelayan." Kata pelayan itu menunduk.
__ADS_1
Magdalena telah selesai berdandan dan itu membuat penampilan Magdalena bagaikan wanita kelas atas yang elegan, Reid masuk tanpa pemberitahuan dan melihat Magdalena dari pantulan kaca, sejenak dada Reid berdegup, dan ia tak sadar jika matanya tak berkedip, bahkan dia hanya berdiri terpaku.
"Tuan Reid." Panggilan Deborah menyadarkan Reid.
"Ah ya... Suruh Magdalena ke kamar." Perintah Reid.
Kemudian Reid menjadi salah tingkah dan pergi keluar dari kamar Magdalena, dan Deborah mengantar Magdalena ke kamar yang sudah di siapkan, di sana ternyata Reid sedang duduk di kursi dekat balkon dengan laptop di mejanya.
Reid melihat Magdalena masuk dengan Deborah.
"Lakukan apa saja, yang menurutmu nyaman." Perintah Reid.
"Tunjukkan saja jika kau adalah Nyonya di rumah ini, dan tunjukkan jika kau adalah istriku." Kata Reid.
"Saya akan pergi Nona Magdalena." Kata Deborah.
Magdalena hanya mengangguk, dan Deborah pergi sembari menutup pintu.
Magdalena masih berdiri dan tidak tahu harus berbuat apa, dia sangat canggung, melihat Magdalena hanya berdiri, kemudian Reid menghampirinya.
Reid berjalan dan menarik Magdalena lebih dekat ke tubuh kekar Reid.
"Aku sudah katakan padamu perjanjiannya, hanya cukup menjadi istri yang baik di depan keluargaku, apa kau masih tidak paham!" Gertak Reid menunjukkan wajah dingin dan kesal.
Reid menekan dagu Magdalena, agar Magdalena memandangnya, wajah mereka sangat dekat, bahkan bibir mereka hampir saling menyentuh.
"BRRAAKKK!!!" Tiba-tiba pintu di buka dengan suara keras seolah itu di buka dengan cara di banting.
Dan itu adalah si Nyonya Besar, dia menyaksikan adegan saat Reid dan Magdalena saling menatap, dengan tubuh yang saling merapat, dan hampir seperti akan berciuman.
Reid memeluk Magdalena di samping tubuhnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya ia masukkan ke dalam saku celana.
"Kau tidak lihat kami sedang apa?" Kata Reid.
"Aku sudah katakan padamu, bahwa Belinda adalah wanita yang pantas untuk mu!"
"Joyce, apa kau tidak bisa mengatur mulutmu, dan kau seenaknya masuk ke kamar orang lain, ini mansion ku, jaga sikapmu." Kata Reid menatap dingin pada ibu tirinya.
Joyce mengatur nafasnya, ia menahan amarah yang memuncak di ubun-ubun hingga dada nya seolah terbakar, dan wajahnya panas.
"Okey... Kita harus minum teh, dan duduk bersama." Kata Joyce.
"Tidak!" Sahut Reid.
"Baik Nyonya." Sahut Magdalena.
Magdalena dan Reid menjawab secara bersamaan, dan mereka saling memandang kaget.
"Bagus. Menantu yang paham etika." Sindir Joyce.
Kemudian Joyce pergi dengan membanting pintu.
Reid melihat pada Magdalena dengan tatapan dingin dan mendesahkan nafas berat.
__ADS_1
"Ap... Apa aku salah?" Tanya Magdalena.
"Kau masih bertanya?" Kesal Reid.
Magdalena meremas kedua tangannya, ia gemetar.
Kemudian Reid pergi lebih dulu, merasa Magdalena tak mengikutinya, kemudian Reid berbalik, dan memegang tangan Magdalena.
"Ingatlah, perjanjiannya, kita harus terlihat seperti pasangan yang sesungguhnya. Apa kau paham." Kata Reid.
"Ba... Baik Tuan."
Reid berhenti berjalan dan melihat Magdalena.
"Jangan memanggilku tuan." Kata Reid.
"La... Lalu?"
Reid berfikir sejenak.
"Sayang?" Tanya Reid agak ragu.
Magdalena kemudian menganggukkan kepala, dan mereka berjalan kembali menuju ruangan keluarga untuk minum teh.
Di dalam ruang keluarga, Joyce sudah duduk elegan dan di atas meja pelayan telah menyiapkan teh dengan cangkir-cangkir yang cantik.
Reid duduk dan Magdalena juga duduk, mereka saling bergandengan tangan.
Joyce masih memandangi keduanya dengan tatapan menelisik.
"Benarkah kalian sudah menikah."
Reid mulai muak.
"Kau bisa periksa dokumennya. Aku sudah menghubungi Qartel untuk mengirim salinan dokumen pernikahan kami ke surelmu." Kata Reid.
"Baiklah. 2 istri tidak akan masalah." Kata Joyce.
Reid memicingkan matanya pada Joyce.
"Kau bahkan bukan ibu kandungku, seenaknya saja kau mengatur hidupku."
"Aku tidak akan mengatur hidupmu jika kau juga tidak ikut campur dalam rencanaku."
"Kau memang parasit murahan." Umpat Reid.
"Ya... Aku sudah mendengarnya ribuan kali. Aku parasit, aku wanita murahan yang merebut suami ibumu, dan aku penyebab ibumu menjadi depresi dan gila. Aku juga tahu kau mengetahuinya, jika aku memiliki rencana untuk mengambil seluruh harta ayahmu dengan cara mengatur pernikahanmu dengan Belinda, keponakanku." Kata Joyce percaya diri.
Reid mengepalkan tangannya, wajahnya menegang.
"Tapi... Kau tidak akan pernah bisa berbuat apapun, karena ibu mu ada di tanganku." Ancam Joyce.
Reid mulai marah, wajahnya menegang, tubuhnya pun kaku. Jika saya Joyce adalah seorang pria, Reid lebih memilih memukulinya hingga mematahkan seluruh tulang rusuk dan menghancurkan wajahnya.
__ADS_1
"Kau boleh membunuhku Reid, tapi hanya aku yang tahu beradaan ibumu." Kata Joyce.
Bersambung