
Jika bisa memutar waktu, maka aku akan kembali ke masa itu. Masa saat aku belum mengenalmu. Pria menyebalkan.
Karena kesalahanku pada malam itu, kau mengurungku dalam sangkar emas menjijikkan ini. Aku bahkan tidak bisa mengelak ataupun kabur. Bukankah kau yang memutar balikkan semuanya??!
***
Bagaikan rollercoster dalam hitungan detik hidup Vanya berubah naik dan turun tak terkendali. Vanya Zifara terjebak dalam hidup pria asing yang meminta pertanggung jawaban darinya.
"Ayah.. Ibu.. Vanya nggak salah hiks!! Pertanggung jawaban apa?! Kenapa tidak ada yang mendengarku??"
Aku bahkan tidak tau harus mengadukan semuanya kemana. Aaarrghhh!!
***
Kesunyian malam seakan tidak ada efeknya dengan tempat ini, dentuman musik keras memekakkan telinga diputar, dibagian tengah ruangan kosong tidak ada perabotan memberi keleluasaan untuk banyak pasang anak manusia menari meliukkan tubuhnya atau sekedar menggoda pria dihadapannya dengan tubuh gemulai yang dimilikinya, beberapa tiang berdiri kokoh dan diisi oleh beberapa wanita yang tangah menarikan pole dance menunjukkan betapa gemulai dan lentur tubuhnya. Dibeberapa sudut ruangan ada beberapa pasangan yang tengah bercumbu mesra tanpa menghiraukan hingar bingar di sana seolah tidak terusik apapun. Dan aroma minuman keras tercium kental dari berbagai arah, beberapa bahkan sudah sempoyongan tidak manpu menahan berat tubuhnya sendiri.
Tempat yang baru dimasuki Vanya. Gadis manis itu bukannya tidak tau tempat apa yang dia masuki, bukan tidak pernah masuk juga. Hanya saja dia tidak suka dengan tempat itu merasa tidak cocok jadinya ia jarang kesana, walaupun diajak sahabat ataupun sang pacar.
Beberapa menit yang lalu, Dia terkejut karena melihat kekasihnya tengah berjalan keluar dari sebuah cafe di Ibukota. Bukannya dirumah seperti apa yang baru saja Pria itu katakan padanya via telepon, melainkan di cafe Dia berjalan santai dengan seorang wanita yang tidak dikenali Vanya. Tampak sedang mengobrol, sesekali mereka bertatapan dan jangan lupakan senyum mengembang diwajah pacarnya.
Cemburu datang tanpa permisi, seketika nafas Vanya berat, seakan dihimpit beban berat ia merasa nyeri dihatinya. Dia bahkan harus menenangkan pernapasannya beberapa kali karena merasa oksigen seakan berputar lambat didalam mobilnya. Tanpa pikir panjang, Diapun mengikuti mobil kekasihnya ingin tahu apa yang akan dilakukannya bersama gadis itu.
***
__ADS_1
Vanya duduk disebuah kursi didalam bar, tampat yang dituju oleh Bram, Pria yang berstatus kekasihnya selama hampir 3 tahun ini. Hubungan mereka pun baik, dimata Vanya, Bram adalah pria baik dan pengertian. Sosok laki laki yang selalu dapat mengerti dirinya, laki laki yang menerima Dia apa adanya dirinya walau sering manja dan kadang egois pun Bram seakan selalu punya stok sabar dan mengerti Vanya.
Tapi kini sepertinya Dia harus berpikir ulang mengenai Bram, walau dari tadi dia tidak melihat Bram melakukan kontak fisik dengan si wanita. Vanya tidak suka melihat interaksi mereka, Bram yang senantiasa tersenyum dan selalu menatap si wanita saat bicara. Belum lagi dress mini sepaha super ketat yang bahkan memperlihatkan belahan dada si wanita membuat dia harus ekstra sabar mengelus dada agar tidak marah dan mencak mencak kehadapan 2 manusia itu.
Berjarak 2 meja dari meja yang ditempati Bram beserta siwanita itu plus 5 orang lainnya 3 orang laki laki dan 2 wanita lainnya membuat Vanya dapat leluasa melihat aktifitas mereka disana. Dia mencoba menahan emosinya berkali kali, juga mencoba untuk tetap mempertahankan pikiran positifnya. Bahkan saat dia melihat Bram yang seolah tak masalah saat lengannya disentuh wanita itu.
"Hanya teman"
"Mereka pasti cuma teman"
"Atau kalaupun suka, palingan cuma se cewek aja yang kegatelan suka tebar pesona kesemua cowok
"Iya.. Pasti gitu"
Vanya masih tetap memperhatikan saat Bram dan teman temannya yang lainnya beranjak ke lantai dansa. Beberapa menit kemudian kejutan serasa bom meledak, seakan dihimpit beban berat tak kasat mata. Vanya seketika terbelalak saat Dia melihat ke lantai dansa, bagaimana Bram mencium si wanita itu dengan santai, diiringi sorakan dan tawa temannya yang lain.
Dia dibohongi. Bukan Dia diselingkuhi.
"Dasar Bram brengs*k!!! Bajing*n!! Mata keranjang!!"
Dan entah kalimat sumpah serapah lainnya yang ingin dia muntahkan. Karena musik yang masih berdentam keras tak ada yang mendengar Vanya malam itu. Hatinya hancur bersamaan dengan cumbuan Bram untuk wanita lain. Perselingkuhan Bram yang sungguh dia tak ingin saksikan. Tapi mungkin Vanya harus sedikit berterimakasih malam ini dia mengetahui hal yang ditutupi Bram karena dia yang lembur, berawal dari lembur dia menangkap perselingkuhan menjijikkan kekasihnya.
Sungguh Vanya ingin segera keluar dari tempat itu. Lelehan air matanya sudah seperti anak sungai yang mengalir deras. Dia sempoyongan, kakinya seakan lemah tak mampu menahan berat tubuhnya, tapi ia tetap berusaha melangkah meninggalkan tempat terkutuk itu. Hanya rasa jijik yang kini ia rasakan, Dia hanya ingin segera pulang dan membersihkan tubuhnya. Aroma menyengat dari berbagai minuman berakohol telah Dia tahan sedari tadi, belum lagi Bram yang sungguh tak dia sangka akan mengkhianatinya, orang yang sungguh dia percaya. Malam itu kepercayaannya telah dihancurkan Bram.
__ADS_1
Vanya masih terus melangkah, dia beruasaha mengeluarkan semua tenaganya untuk berjalan. Belum sampai Dia dipintu keluar, Vanya oleng tangannya ditarik kuat oleh seseorang kebelakang membuat kakinya tidak seimbang dan dia menabrak sesuatu yang kokoh. Wajah Vanya mendarat didada seorang pria, dia berusaha melihat siapa itu, tapi sekan tubuhnya tak punya secuil tenaga pun, matanya buram tertutupi air mata, telinganya seakan tak mampu mendengar, sayup sayup dia mendengar suara seorang pria dan disusul suara pria lainnya yang sama sama tidak dikenalinya aroma alkohol kuat menguar dari pria yang tengah menahan tubuhnya agar tak terjatuh.
"Siapa??" Bibir Vanya seakan terkunci tak mampu berucap. Sesaat kemudian gelap dirasakannya.
***
Adu mulut disekitarnya masih terjadi, namun kini Dia hanya diam, suaranya telah digantikan Nino asistennya. Dia diam menatap wanita yang tadi ditariknya, mata wanita itu terselimuti air mata, mulutnya terbuka seperti ingin berucap tapi tak ada yang terdengar, sebelum sesaat kemudian dia pingsan dalam pelukannya.
"Nino"
"Ya Tuan" sahut seseorang disampingnya usai mengusir seorang pria.
"Dia pingsan" ucap pria tersebut agak bingung, Dia mencoba menepuk pipi wanita tersebut beberapa kali.
Seakan tersadar dengan keadaan, Pria yang dipanggil Nino tersebut menoleh menghadap secara sempurna ke arah bos yang telah dia layani.
"Pingsan? Apa kita kerumah sakit Tuan?"
"Siapkan mobil kita ke vila" putusnya usai beberapa saat terdiam.
"Baik Tuan. Apa mau saya yang gendong Dia?"
"Tidak" terdiam sesaat "Siapkan mobil" lanjutnya kemudian.
__ADS_1
***