
Vanya dibuat terkejut ketika mendapati kondisi mengenaskan gadis didepannya. Satu tangannya kini dipasang gips, belum lagi luka memar dan lebam disepanjang tangan dan kakinya.
Tak berbeda jauh dari Vanya, Ayra kini juga kebingungan sekaligus kaget. Otaknya kini berpikir keras, apa yang dilakukan orang orang penting ini disini? Yang satu adalah wajah ramah yang sering ditemuinya dikantor manajer tim design yang terkenal cantik dan ramah, disebelahnya berdiri Pria yang selalu menjadi bahan gosip dikantor, Kepala Sekretaris Presdir yang selalu dijuluki pangeran es. Daan, Ayra dibuat hampir kehabisan napas. Bukankah itu Presdir?? Hiks.. Senioorr.. Bantu Aku.. Pekiknya dalam hati menatap Zyan yang duduk manis disebelahnya.
"Kamuuu kenapa?" Vanya bersuara setelah selesai meneliti penampilan seseorang didepannya, "Ayra kan?" tanyanya memastikan.
Dia dibuat bingung karena sebelumnya diberitahu bahwa Juna sudah bisa pulang. Tapi bukannya ke parkiran, lift yang mereka naiki malah berhenti di lantai yang hanya berjarak 1 lantai. Dalam hati Dia sudah kesal, kenapa juga pakai lift orang ada tangga. Dan entah kalimat apa lagi yang isinya hanya mengumpat pada dua Pria tinggi disampingnya.
Dan disinilah Dia kini berada. Ada Ayra didepannya yang merupakan salah seorang staf senior marketing dikantornya. Ruangan kerja mereka bersebelahan dan memang sering berhubungan, jadi tentu saja tidak heran jika Vanya mengenal hampir seluruh anggota tim marketing seperti Dia mengenal seluruh anggota timnya sendiri. Karena pekerjaan yang saling terkait, mereka sering saling berdiskusi dan rapat bersama.
"Iya Kak" jawab Ayra sopan.
Sesaat kemudian suara gaduh langkah kaki Ferdi memasuki ruangan menambah kebingungan Ayra. Permintaanya yang sudah seperti rengekan untuk pindah kamar diacuhkan Ferdi. Bahkan saat Dia akan memberikan kartu asuransinya, Ferdi hanya diam dengan tatapan yang seolah bertanga 'apa ini?' membuat Ayra semakin frustasi. Tapi setidaknya permintaan maafnya sudah diterima Ferdi memberinya sedikit ketenangan untuk bernafas.
"Tuan Muda, bukankah harusnya Anda pulang?" walaupun sopan, suaranya bahkan terdengar geram tanpa bisa ditutupinya "Apa yang Anda lakukan disini?"
"Kamu pikir Aku bisa tidur dengan tenang, jika Dia terus merengek?" ucapnya mengalihkan tatapannya pada Zyan, "Dia juga, sampai kapan Kamu hanya akan diam mendengar rengekannya untuk pindah kamar?"
Ferdi diam menatap dua manusia yang duduk bersebelahan didepannya. Yang satu tersenyum tanpa tahu malu, yang di atas ranjang pasien kini malah bersemu merah. 'Apa apaan mereka?' makinya dalam hati.
"Aku akan jelaskan dengan singkat" ucap Juna lagi dengan menatap Ayra didepannya, dan entah kenapa yang ditatap malah deg degan sendiri.
"Kecelakaan kalian itu anggap saja memang sudah harus terjadi, atau anggap saja takdir" ucap Juna tenang "Lalu, terima saja apapun yang dilakukannya sebagai salah satu caranya bertanggung jawab" tunjuk Juna pada Ferdi "Biaya rumah sakitmu, tidak perlu dipikirkan. Itu salah satu bentuk pertanggung jawaban dariku, karena Dia terburu buru menemuiku" lanjut Juna.
"Tapi Tuan, saya.."
"Kalian saling bertabrakan karena kecelakaan. Dan kau tahukan tabrakan hanya bisa terjadi jika ada dua benda yang saling berbenturan. Anggap saja itu hari sialmu hingga berakhir disini" potong Juna.
Ayra tentu dibuat bingung, apa apaan ini? Dan ketika matanya menemukan wajah Vanya yang tersenyum dan mengangguk padanya, Dia pun hanya mengiyakan semua perkataan Tuan Juna didepannya. Anda membantuku kan? Bukan menjerumuskan kan?
"Oke masalah selesai. Kalian berdua jangan menggangguku" kalimat Juna tentu ditujukan pada Ferdi dan Zyan. Setelahnya Dia menggandeng tangan Vanya yang duduk disebelahnya, "Ayo pulang" ucapnya santai tanpa memperdulikan Vanya yang terkejut.
Vanya kaget begitu tangannya digenggam Juna, lebih kaget lagi karena ada karyawan lain didepannya. Membuat Vanya lagi lagi memaki Juna dalam hati.
__ADS_1
"Aku mau bicara dulu" Vanya mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Juna.
"Apa?" tanya Juna tanpa melepaskan genggamannya, mengabaikan Vanya yang sedang berontak.
"Aku mau bicara dengan Ayra" ucapnya setenfah frustasi dan kesal.
"Bicaralah" ucap Juna santai. Dia yang tadi sudah berdiri kini duduk lagi.
"Tuan.. Anda harus keluar dulu. Aku ingin bicara empat mata" geram Vanya berucap.
"Atau Aku pulang sendiri saja ya?"
Kenapa? Kau ingin bertemu mantan si-lanmu lagi?
Melihat Juna hanya Diam menatap, membuat Vanya salah tingkah.
"Aku tunggu dimobil" ucap Juna kemudian "10 menit" lanjutnya tegas.
* * *
Setelah semua orang keluar, kini tersisa Ayra dan Vanya didalam ruangan.
Vanya tersenyum lebar, "Apa sakit?" tanyanya ikut meringis, seolah merasakan sakit Ayra juga.
"Nggak apa apa kak, sudah mendingan" ucap Ayra diiringi senyum.
"Kalau kenapa kenapa boleh loo hubungi Aku, nanti kubantu"
"Iya kak, terimakasi"
"Yang tadi siapa? Kakakmu?"
"Bukan kak, itu seniorku dikampus dulu. Tapi beda jurusan. Sekarang Dia jadi Dosen Ilmu Hukum. Fakultas kami dulu sebelahan, jadinya dekat heheh"
__ADS_1
Vanya hanya mengannguk anggukkan kepalanya. Jadi Kak Juna juga punya teman orang biasa?
Entah kenapa, Dia senang sendiri dengan pemikirannya. Padahal Vanya, Zyan itu bukan orang biasa. Orang tuanya juga adalah salah satu pengusaha dengan aset fantastis. Tapi Dia memilih menjadi Dosen, mengabdikan ilmunya untuk para Junior yang kadang malah berharap jadi pacar atau istrinya. Sementara yang dikejar kejar malah cuek bebek setelah 6 tahun berlalu. Mulai dari saat kuliah, hingga Zyan menyelesai pascasarjanya bahkan setelah yang ditaksir kesenangan cerita dapat pekerjaan dikantor sahabatnya. Dia masih tidak mendapat angin segar.
"Kakak.." ragu Ayra ingin bertanya, "Jangan marah ya?"
"Ya?" Vanya bingung sendiri melihat Ayra yang tampak ragu.
"Yang tadi, Presdir kita kan?" pertanyaan Ayra dijawab anggukan Vanya, lalu Dia melanjutkan, "Kalau Aku boleh tahu, kakak punya hubungan spesial dengannya?"
Dia tampak ekstra hati hati bertanya. Yang ditanya cuma bisa senyum, tanpa memberi penjelasan.
"Heheh, tunggu aja, nanti mungkin akan diumumkan. Tapii jangan beritahu siapapun ya?" minta Vanya yang diangguki senang oleh Ayra.
"Kakak boleh Aku minta tolong?"
"Apa?"
"Ini" ucap Ayra menyerahkan sebuah flashdisk dari tasnya yang dibantu Vanya ambilkan dari laci meja disampingnya, "Tolong kasihkan ke ketua tim ku ya kak. Ada laporanku didalamnya" ucapnya setengah memelas.
"Oke, sudah ada yang jengukin kamu?" tanya Vanya kemudian yang dijawab Ayra dengan gelengan kepala dan senyum maklum.
"Kenapa?"
"Aku nggak beritahu siapapun heheh"
Vanya dibuat melongo, "Kenapa?"
"Aku takut ngerepotin kak, Aku juga nggak kasih tahu keluarga dikampung. Takut mereka pada khawatir, lagian biaya kesini kan mahal heheh"
Vanya cuma senyum menanggapi dan memeluk Ayra, lembut diusapnya bahu serta kepala Ayra pelan. "Aku bakalan sering sering main, jangan bosan lihat Aku ya heheh" ucap Vanya kemudian pamit.
* * *
__ADS_1