
Nafas Vanya berat bercampur sesak, Dia menggeliat, mencoba melepaskan dirinya dari suatu benda berat yang kini membelenggu tubuhnya. Tapi Dia heran kenapa ini tidak bergerak, Dia membuka matanya pelan mencari tahu situasi sekitar.
Ruangan kamar yang ditempatinya gelap, hanya ada cahaya dari salah satu lampu tidur disisi ranjang. Dia kembali menatap sesuatu yang menghimpitnya. Tangan?? Aah iya, Aku kan tidur sama kakak..
Vanya kembali teringat dengan kejadian sebelum Dia terlelap. Ditatapnya Juna yang kini tidur disebelahnya menghadap kearahnya.
"Kakak... Kakak demam?" pelan Vanya bersuara, Dia ingin bengkit, tapi tangan Juna sudah seperti benda paling berat yang bahkan tidak bisa digesernya.
"Haaah haah tangan kakak berat, kakak?" Dia panik, tapi tidak bisa melakukan apapun, tubuhnya tidak bisa bergerak, terpenjara dalam pelukan Juna.
Vanya khawatir menatap Juna, kini tubuhnya basah karena keringat, dahinya berkerut dalam seperti menahan sesuatu yang menyakitkan.
"Kakak apa sakit? Kenapa menangis?" Vanya makin khawatir melihat bekas air mata diwajah Juna, tangannya bergerak menghapus air mata Juna lembut, gumaman Juna terdengar tapi tidak jelas. Gumam gumaman yang bercampur isak tangis.
Tangan Vanya masih bergerilya ke area wajah Juna yang lainnya, mencoba menyingkirkan peluh keringat Juna yang banjir malam itu, dahinya menguarkan panas. Vanya tidak tahu pasti jam berapa saat itu, tapi yang pasti masih sangat malam, Dia bahkan tak menemukan sedikit cahaya pun yang membias disela sela gorden. Dia masih tidak bisa bergerak, bahkan tak bisa meraih ponselnya.
"Kakak mimpi buruk?" tangan Vanya kini ada dibalik punggung Juna, menepuknya pelan mencoba menenangkan "Tidak apa apa kak.. Tidak apa apa.." Dia masih setia menepuk pelan dan mengusap punggung serta bahu Juna yang bergetar lalu kemudian balas memeluk Juna. Dan setelahnya Dia kembali tertidur.
***
Vanya kembali terbangun, kini Dia mendengar suara orang yang tengah ribut.
"Dia mau menikah tapi tidak memberitahuku? Tahukah Kamu sekarang Aku sedang kesal! Jangan menghalangiku, Nino!" suara seorang wanita terdengar sedang menunpahkan kemarahannya.
"Anda tidak boleh masuk Nona, Tuan Muda sedang tidur" kini suara Nino menyahut pelan
"Tidur? Dia bisa tidur saat Aku bahkan lupa waktu dan mengejarnya dari benua lain?"
"Nona Tuan sudah tidak tidur selama seminggu, pelankan suara Anda" suara Nino setengah memohon setengah memerintah terdengar ditelinga Vanya.
Sesaat kemudian Vanya benar benar sadar, kantuknya hilang entah kemana. Sepertinya suara dua manusia itu ada didepan pintu kamar yang tengah Dia tempati kini. Dia kembali menatap Juna, kondisinya masih sama dengan saat terakhir kali dilihatnya, tangannya pun masih sama beratnya sulit untuk diangkat Vanya.
Entah karena tangan Juna memang berat atau karena tenaganya yang tidak ada, entahlah. Yang pasti butuh energi ekstra untuk Vanya bisa mengangkat tangan itu dari perutnya. Setelahnya Dia agak ngos ngosan lelah, sesaat kemudian Vanya teringat sesuatu dan segera berdiri, menghampiri keributan didepan pintu kamar tersebut.
"Sekretaris Nino?"
"Yaa??!" Nino agak terkejut begitu namanya dipanggil dari belakangnya, lebih terkejut lagi begitu melihat Vanya yang berdiri disana, pembicaraannya dengan Nona Muda didepannya bahkan belum selesai, Dia masih belum berhasil mengusirnya dari kamar Tuan Juna.
__ADS_1
"Apa apaan ini, bukankah Dia akan menikah? Lalu kenapa ada wanita yang keluar dari kamarnya? Apa yang dilakukan Tuan Muda mu, hah?"
Suara wanita yang tadi adu mulut dengan Sekretaris Nino kembali terdengar oleh Vanya, suara yang sama. Vanya terkesiap melihat penampilan wanita itu. Cantik, Dia bahkan seperti artis atau model yang keluar dari majalah ataupun TV, sangat cantik. Vanya terpesona sesaat sebelum kembali teringat akan Juna.
"Kakak sakit, dari semalam Dia berkeringat dingin dan demam"
"Apa?" Nino berlalari memasuki kamar Juna, menghiraukan wanita yang tadi dihadangnya.
"Kak Juna kenapa?" tangan Vanya dicekal oleh wanita cantik tersebut, membuat langkahnya terhenti dan bingung.
Belum sempat Vanya menjawab wanita rmtersebut, suara Nino terdengar, memanggil namanya. Membuat Vanya memutar arah dan mendatangi Nino. Dia kini tengah mencoba membangunkan Juna.
***
Ferdi dibuat panik dipagi hari, Dia yang hanpir sampai dirumah sakit harus putar arah dan kembali membelah kemacetan.
Dia kesal bercampur frustasi, hari senin tentu bukan saat santai yang membuat jalanan lengang hingga Dia bisa bebas ngebut, melainkan hari sibuk dengan mobil dan kendaraan yang memenuhi jalanan padat merayap menuju kantor masing masing.
Dia kemudian menghubungi rumah sakit, minta dibawakan beberapa obat obatan dan infus serta perlengkapan lainnya. Sekalian ambulans, takut jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
Adh mulut cukup panjang terjadi hingga seorang perawat dirumah sakitnya maju, karena mengenali Ferdi ditengah kerumunan orang yang berhenti.
"Dokter Ferdi?" kepala perawat di bangsal UGD maju begitu mengenalinya.
"Aaah kamu kepala perawat UGD bukan? Kamu.."
"Saya Irwan, Dokter"
"Ya Irwan, bisa bantu Saya? Kamu bawa kendaraan?"
"Itu Dokter" tunjuknya pada motor gede berwarna hitam.
"Ini kunci mobil Saya, bawa Nona ini kerumah sakit, Saya pinjam motormu" ucap Ferdi menyerahkan kunci mobilnya setelah mengambil beberapa barang pentingnya.
"Saya tidak lari dari tanggung jawab ya Nona, ada urusan yang sangat penting yang harus Saya urus" ucap Ferdi kemudian pada pengendara motor yang masih menatapnya sewot, seakan dirinya adalah laki laki yang lari dari tanggung jawab.
***
__ADS_1
Deru sepeda motor dan ambulans milik rumah sakit harapan datang bersamaan. Walau agak bingung, tim keamanan membuka pagar setelah melihat Ferdi. Sejak kapan Dokter muda itu membawa motor. Memarkirkan asal dan memberikan kunci beserta helm yang dipakainya pada salah seorang tim keamanan disana.
Dia masuk tergesa kedalam villa, kehadirannya ditunggu Kepala Pelayan vila, Bu Darti dan Nino. Kemudian Dia dibuat bingung begitu menemukan Lica diruang tengah, tampak kesal dan sedih.
"Kenapa Anda lama Tuan?" Nino mendesah frustasi
"Ada hal gila yang terjadi" jawaban singkat Ferdi membuat Nino kesal.
"Bagaimana kondisi Juna?"
"Tuan Muda masih belum bangun Tuan, suhu tubuhnya 39,5" Nino memberi laporan "Aku sudah mengganti bajunya karena basah oleh keringat" lanjutnya kemudian.
***
Nino memeriksa kondisi Juna "Sepertinya Dia buakn pingsan" ucapnya menatap Nino lalu kemudian pandangannya beralih pada Vanya, "Apa Juna mengatakan sesuatu padamu?"
"Tidak ada, sebelum tidur Kakak bilang kepalanya sakit tapi tidak bisa tidur, karena itu Aku diminta tidur disini" ucap Vanya lemah.
"Untuk sekarang, Aku beri infus dulu dan pereda demam" putus Ferdi kemudian "Setelahnya kita perlu observasi lagi, semoga hanya karena demam" ucap Ferdi kemudian pelan.
"Nino, bisa minta tolong salah seorang tim keamanan untuk mengembalikan motor yang Aku bawa? Aku meminjamnya dari kepala perawat disana"
"Baik Dokter" setelahnya jari jemari Nino sibuk mengetikkan sesuatu diponselnya.
"Apa yang dilakukan Lica dibawah?"
"Bukankah Anda yang membuatnya bisa datang kesini?" Nino terdengar kesal.
"Kenapa Aku?" Ferdi heran sendiri, kenapa jadi menuduhnya, pikirnya.
"Karena Anda memberitahunya sesuatu yang harusnya disampaikan Tuan Muda" Nino geram menjawab pertanyaan konyil Ferdi.
"Nona, ini sudah waktunya sarapan" kini Ferdi berucap sambil menatap Vanya. Gadis itu masih duduk disisi ranjang yang ditempati Juna, menatapnya nanar.
"Nanti Dokter, apa Kakak begini karenaku?" ucapannya pelan menahan isak tangisnya yang hampir pecah. Rasa bersalah menggerogoti Vanya seketika.
Ferdi menatap Nino bingung, seolah melalui sorot matanya dia sedang bertanya 'ada apa dengannya?' tapi tentu diabaikan Nino.
__ADS_1