
"Anda tidak apa apa?"
Dokter Ferdi menatap bingung pasien yang akan diperiksanya. Wanita itu duduk bersimpuh dilantai dengan tatapan kosong. Tatapannya beralih menatap Ferdi, mengerjap sebentar.
"Saya Dokter Ferdi, sekarang apa yang Anda rasakan? Apa ada keluhan?" Dokter Ferdi mulai melaksanakan tugasnya setelah Vanya berpindah tiduran dikasur.
"Tidak ada"
"Tapi, kenapa Saya ada disini?" Vanya mencoba bertanya, siapa tahu Dokter didepannya kini mengetahui sesuatu.
"Saya tidak tahu Nona" Jawab Ferdi santai menghiraukan tatapan penuh tanya Vanya.
"Tadi malam saya di Bar, kenapa pagi ini Saya bangun disini? Bahkan ada sekretaris Nino? Sebenarnya Saya ada dimana Dokter?"
"Vila Tuan Juna" Ferdi menjawab pendek sambil tangannya sibuk mengumpulkan kembali peralatannya, Dia telah selesai memeriksa Vanya, kondisinya sudah lebih baik, Dia bahkan sudah terlalu kuat untuk membuat telinga Juna berdenging ngilu. Bukankah sudah jelas Dia sehat? Dia menantang Nino melalui sikapnya. Malas menanggapi lebih lanjut, Ferdi permisi undur diri, hanya sekedar melakukan prosedur resminya melayani pasien. Tidak ingin menjawab lebih lanjut. Kalaupun kenyatannya Dia ingin tahu, Dia akan memilih jalan aman melalui Nino atau Juna sendiri pikirnya, tidak ingin berurusan dengan gadis didepannya.
Kenapa? Tentu karena Dokter Ferdi masih sayang dengan hidupnya. Dia tidak ingin ikut ikutan masuk dalam daftar hitam Nino. Tadi Dia dengan jelas menatap mata horor Nino yang mengarah untuk Vanya. Ngeri sendiri membayangkan nasib Vanya kedepannya.
***
Berbagai makanan dengan lauk pauk lengkap terjadi didepan Vanya, Dia yang kelaparan mulai menyantap makanan tersebut mencoba mengusir ragu dalam hatinya.
Aku akan makan dengan lahap. Mari lanjut berpikir nanti, bukankah tenaga akan ada setelah makan?
Dikamar sebelahnya, perdebatan tengah terjadi, Nino sedang memasang wajah memohon agar Juna tidak meminta kopi. Walaupun telah tidur selama 9 jam, tapi tidak ada jaminan nanti malam hal yang sama akan terjadi.
"Tuan.. Bagaimana kalau susu hangat saja"
Juna hanya diam menatap serius Nino, menahan kekesalannya. Dalam hati Dia mengumpat untuk Ferdi yang berkali kali selalu mengulang kalimat "No Cafein Jun!! Mari istirahat dengan baik dan berkualitas" Seakan jadi mantra pengingat kalimat Ferdi jadi tersimpan rapat jadi alarm untuk Nino.
"Jus buah ya Tuan?"
Juna hanya menggeleng dengan wajah serius, menolak ide Nino. Yang Dia inginkan kopi hitam untuk menenangkan dirinya bukan susu dan jus hanya akan membuat seleranya hilang.
"Nino Aku ingin kopi hangat. Kelapaku bahkan sudah tidak sakit lagi"
"Tuan..." Nino memasang wajah memelas frustasi memohon dengan setiap inci ekspresi wajahnya, meneriakkan ketidak setujuan akan keinginan Juna
"Teh saja ya? Teh camomile. Tuan mari jangan minum kafein dulu sampai Anda benar benar bisa tidur normal setidaknya selama 7 hari" Akhirnya menyarankan opsi terakhir, lelah mendebat Juna, belum lagi urusannya dengan Vanya belum selesai. Dia masih belum tau apa yang terjadi tadi pagi, menyesal menggerogoti dirinya. Harusnya Dia tetap dikamar, bukannya meninggalkan Juna dengan wanita asing yang niat aslinya belum diketahui.
"Yaa.. Sana" Juna akhirnya menjawab, lelah melihat Nino yang seperti cacing kepanasan.
***
Rasanya seperti jadi terdakwa. Vanya kini sedang duduk di sofa kamar dengan berhadapkan wajah dingin Sekretaris Nino. Dia bahkan sedang mengatur napasnya sendiri agar tetap nampak tenang, takut jika membangunkan singa yang tidur. Duduknya pun dalam kondisi tegak sempurna sopan dengan tangan yang saling bertaut diatas kakinya yang rapat tertutup. Mulai mampu meraba siapa Pria tampan yang tadi pagi memeluknya. Presdir hanya itu satu satunya kemungkinan yang ada.
Nino mengamati Vanya lamat dari ujung kepala hingga kaki. Melihat cara duduknya bukankah sudah jelas gadis itu mengenalinya. Posisi gadis itu kini persis seperti salah satu karyawan yang ketahuan berbuat salah, menunggu keputusan apa yang dihadiahkan untuknya.
"Anda mengenali Saya kan?" Nino akhirnya buka suara, sedikit menenangkan Vanya setelah lama diam.
"Iya Tuan"
"Apa yang Anda lakukan tadi malam?"
"Bukan apa niatmu sebenarnya? Bagaimana bisa Anda berakhir disini Nona?" Nino meralat pertanyaannya. Geram bercampur kesal dapat ditangkap Vanya dari suaranya
__ADS_1
"Saya juga tidak tahu Tuan, kenapa Saya bisa disini?" Rasanya Vanya ingin menangis saat ini juga.
"Bukankah Anda yang melemparkan tubuh Anda pada Tuan Muda?"
Geram dituduh yang bukan bukan. Apa Kau gila? Aku bahkan tidak ingin berurusan denganmu!! Apalagi Tuanmu. Aku tidak kenal dan tidak ingin kenal!!
"Saya bahkan tidak mengenal Tuan Muda Anda Tuan" Vanya berusaha tetap menjawab dengan tenang. Dia menahan emosinya agar tak memperkeruh suasana.
"Apa Anda mengikuti seseorang tadi malam?"
"Iya Tuan, tapi bukankah itu urusan Saya? Bukankah itu tidak ada hubungannya dengan Anda?"
"Tentu ada hubungannya, bukankah sekarang Anda berakhir disini?" suaranya dingin didengar Vanya membuat Dia makin tersindir merasa direndahkan, entahlah mungkin dia jadi terlalu sensitif.
"Bukankah karena itu Saya bertanya? Kenapa Saya bisa berakhir dirumah mewah ini Tuan?"
Nino hanya diam mengabaikan kalimat terakhir Vanya, Dia memperhatikan setiap gerak gerik dan perubahan ekspresi Vanya. Dia memang sudah mendapat laporan dari bawahannya bahwa Vanya tidak mengikutinya, Dia mengikuti seorang Pria, tapi tetap saja Nino sangsi dan ingin memastikan.
"Kenapa tadi pagi Anda berteriak?"
"Hah?? Apa menurut Anda Saya akan tersenyum dan bertepuk tangan saat bangun tidur dengan posisi didalam pelukan seseorang yang bahkan Saya tidak kenali?" Vanya menumpahkan semua kekesalannya, napasnya bahkan memburu menyalurkan kemarahannya lupa sudah akan tatakrama apalagi sopan santun yang tadi Dia jaga dihadapan atasannya. Nino hanya menjawab cuek dengan kedua bahu yang terangkat.
***
Vanya menatap horor Pria tinggi didepannya menyalurkan kekesalan dibalik punggung Nino. Interogasi singkat Nino tentu membuatnya kesal bukan main, lebih kesal lagi saat pertanyaannya tak ada yang dijawab Nino. Dalam diam Vanya berjalan mengikuti Nino, tentu dengan hati yang komat kamit menyalurkan kemarahan serta kesal, untuk bertemu Tuan Muda katanya.
Selama perjalanan mereka Nino memberi peringatan 'Jangan berteriak tiba tiba' 'Jangan mengagetkan Tuan seperti tadi pagi' Dan kalimat perintah lainnya yang intinya jangan berisik dan jangan teriak tiba tiba. Disangka monyet kali ah gue teriak teriak.
Mata Vanya kini mengerjap beberapa kali, Dia memandang lurus Pria tampan didepannya. Mungkin jika dalam kondisi normal, Dia akan terpesona akan Pria bak pahatan Dewa itu.
"Vanya Zifara?"
Suara berat itu menyapa pendengaran Vanya usai lama terdiam. Pakaian Pria itu santai hanya mengenakan kemeja berwarna cream yang kancing atasnya terbuka beberapa, dipadukan dengan celana hitam. Terkesan santai tapi tetap formal.
"Iya Tuan"
Diam lagi. Membuat Vanya gregetan apa yang akan disampaikan padanya. Mata Pria itu hanya menatap lurus pada matanya.
"Bukankah Kau harus bertanggung jawab padaku?"
Haah??? Apa???
Matanya Vanya melotot terkejut dengan apa yang didengarnya barusan. Apa telinganya bermasalah?
***
Kembali ke Dokter Ferdi, setelah jam menunjukkan waktu dini hari , lebih tepatnya jam 00.50 Dia pun keluar dari kamar Juna menuju kamar tamu di lantai satu vila tersebut, kamar yang memang seringkali Dia tempati jika datang ke vila Juna. Urusannya tentu tidak jauh dari kesehatan Juna. Dia berhenti sebentar di anak tangga terbawah saat berpapasan dengan Nino, kembali menanyakan mengenai siapa gadis yang tengah terbaring dikamar Juna.
Ada nada takut dan khawatir yang dirasakan Nino saat mendengar suara Dokter Ferdi, Nino hanya tersenyum mencoba meyakinkan Ferdi bahwa semua baik baik saja. Dia tidak akan mengizinkan sesuatu yang buruk menimpa Juna. Jikapun sesuatu terjadi, Dia sendiri yang akan menyingkirkan gadis itu.
Dokter Ferdi hanya menepuk bahu Nino lalu melanjutkan tujuannya, matanya mengantuk ingin membaringkan tubuhnya yang lelah. Seakan teringat sesuatu, Ferdi mengeluarkan hp nya, memasuki ruang obrolan grup nya.
'Zyan, apa kau membawa perempuan ke pestamu?" Pesan dari Ferdi terkirim
Ting.
__ADS_1
Pemberitahuan muncul tak lama kemudian. Pria yang tengah patah hati diseberang sana mencurahkan kekesalan, sedang sensitif. Pesan singkat Ferdi memantik amarahnya, merasa tertuduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya.
'*A*pa maksudmu? Aku bahkan mengusir Marlo karena membawa pacarnya!!'
'Kalau begitu apa kau meminta dipanggilkan wanita?'
'Dokter, apa Anda masih waras?? Senyum Juniorku saja belum bisa Aku lupakan!! Wanita apa??'
'Aku tentu masih ingin tetap hidup. Apa kau berpikir Aku seberani ini memanggil wanita saat Tuan Muda disana?? Tidakkah Anda pikir Aku akan digantung?!!'
'Kau tidak tahu dengan wanita yang bersama Tuan Muda?'
Pertanyaan singkat Ferdi memancing keributan. Tentu saja yang ribut Zyan, Dosen muda jurusan Ilmu Hukum itu mencak mencak tidak terima.
'Wanita apa??'
'Kau gila??!'
'Hei Dokter jawab!!'
'Dokter!!!'
Kesal Dia bahkan beradu ketikan secepat kilat membalas pesan singkat dari Ferdi.
'*A*ku akan benar benar menggantung Anda hidup hidup jika masih berisik Tuan. Mohon tenang. Tuan Muda harus istirahat'
Pesan singkat dari Id Nino membungkam Zyan yang masih ingin mengatakan berbagai hal. Lupa sudah bahwa didalam grup obrolan mereka ada Nino bahkan Juna.
'Selamat tidur Nino dan Tuan Junaku tersayang' Pesan penutup Zyan terkirim diiringi emoji hati berderet.
Tapi dia masih mengetik memaki Dokter Ferdi dalam obrolan pribadi mereka. Bersamaan dengan kantuk Zyan yang lenyap, saat itu Ferdi terlelap mengabaikan dering pesan singkatnya yang memanggil minta dibuka.
Ting
Ting
Ting
Ting
Ting
Ting
Ting
Ting
Ting
Berisi makian dengan tanda seru yang jebol. Heheh
***
Selamat istirahat..😚😚☺
__ADS_1