Jangan Mempermainkanku

Jangan Mempermainkanku
Rasa bersalah


__ADS_3

Ayra terbangun dengan kondisi lemah, rasanya tubuhnya sangat lemah hanya untuk sekedar digerakkan. Kepalanya pun masih berdenyut nyeri, belum lagi bagian tubuh lainnya yang meneriakkan kesakitan membuat Ayra hanya bisa bergumam tidak jelas.


Dia dibuat terkejut begitu mendapati dua pria mendekatinya. Yang satu adalah dokter yang terlibat kecelakaan dengannya pagi ini dan satunya lagi, aah seniorku yang tampan, pikirnya.


Ferdi mendekat untuk melakukan pemeriksaan. Walaupun bukan Dia yang melakukan operasi, tapi tentu Dia tahu prosedur pemeriksaannya. Dia hanya ingin memastikan bahwa kondisi Ayra baik baik saja. Setelahnya Dia keluar meninggalkan Ayra dan Zyan sahabatnya yang suka lebay.


Zyan mendekat, tangannya kini membelai puncak kepala Ayra pelan, "Apa sakit?" tanyanya.


Ayra hanya menjawab dengan mencoba tersenyum, lalu Dia menggelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa senior disini?" ucapnya pelan.


"Mau tau kondisimu, tadi Aku diberitahu mahasiswa magang dikantormu. Dia tadi menyerahkan laporan padaku" ucap Zyan diiringi senyum.


"Ardi?" tanya Ayra memastikan yang dijawab Zyan dengan anggukan.


"Apa katanya?"


"Hmm katanya ruanganmu kacau, karena laporannya ada padamu" masih tersenyum Zyan menjawab lalu Dia melanjutkan, "Jangan dipikirkan, mereka akan baik baik saja tanpamu"


"Apa tanganmu sakit?" tanyanya lagi ingin memastikan.


"Hmm, tapi Aku akan baik baik saja kan" jawab Ayra


"Tentu saja, Aku mungkin akan menghabisi Ferdi jika Kamu tidak baik baik saja"


"Apa Dia makanan? Kenapa dihabisi" jawaban asal Ayra kini memunculkan tawa keduanya.


"Senior mengenal Dokter tadi?"


Zyan menjawab dengan anggukan, "Kamii teman dekaat" jawab Zyan terdengar ragu.


"Benarkah? Lalu apa senior dengar siapa yang salah?" tanyanya lagi


"Ayra, Kamu istirahat saja ya" Zyan jelas ingin menghindar dari pertanyaan Ayra.


"Kenapa? Apa sebenarnya Aku yang salah?" tebah Ayra.


Zyan lemas tidak tahu harus menjawab apa, matsnya malah berputar kekiri dan kanan ingin menghindar.


"Jadi sebenarnyaa kecelakaannya karena Aku?" tanya Ayra lagi menuntut jawaban ingin memastikan.

__ADS_1


"Kamu istirahat saja ya.."


"Senior" belum selesai Zyan bicara, tangan Ayra sudah lebih dulu menggenggam tangannya menahan Zyan untuk bergerak.


"Apa karena Aku ngebut?" tanya Ayra lagi menuntut jawaban pasti.


Setelah lelah menghindar, Zyan pun menganggukkan kepalanya memberi jawaban. Tangan Ayra yang tadi menggenggam tangan Zyan terlepas karena Dia yang seakan kehilangan tenaganya.


"Tapi Ferdi tetap salah, kalian kan bertabrakan"


"Tapi Aku menuntut ganti rugi darinya" ucap Ayra lemah.


"Itu salahnya, itu tanggung jawabnya, Ayra" jawab Zyan frustasi melihat Ayra yang lemah usai operasi malah jadi berkali kali lebih lemah lagi karena mendengar mengenai hal ini.


Rasa bersalah menerpa Ayra. Dia tentu tidak bisa dan tidak ingin menghindar, tapi sikapnya pada Ferdi tentu saja sudah diluar akal sehatnya. Dia yang teriak teriak karena merasa benar tapi sebenarnya Dia lah yang salah. Dia lah yang menyebabkan kecelakaan, tapi malah mencak mencak marah pada orang yang dirugikan. Membuatnya frustasi sendiri.


"Jangan dipikirkan, istirahat saja, yaa" ucap Zyan kemudian mencoba menenangkan.


Tapi bukannya tenang, Ayra malah mulai menghitung kesalahan yang dilakukannya pada Ferdi. "Jadi, waktu Dia mengatakan ada urusan pemting dan harus pergi, berarti bukan alasan karena ingin kabur? Apaa Dia terkena masalah karena ku?"


Pertanyaan Ayra membuat Zyan semakin pusing, "Tidak Dia tidak terkena masalah, Kamu lihat sendirikan, Dia baik baik saja. Hanya sedikit kelelahan karena harus kesana kemari, just it" ucap Zyan mencoba meyakinkan.


"Senior"


"Ya?"


"Bisa minta pindahkan ruanganku pada Dokter Ferdi? Dan daftarkan Aku juga sebagai pasien yang punya asuransi. Aku punya asuransi, sungguh. Biar Aku yang bayar biaya rumah sakitku sendiri" ucapnya mantap.


Zyan dibuat melongo saking kagetnya. *Aku harus mengatakan apa padamu? Si B-debah itu direkturnya, gajinya bahkan berkali kali lipat darimu. Dan orang yang membiayai rumah sakitmu itu Juna! Tuan Juna!! Karena Dia merasa bersalah.


Karena secara tidak langsung, Dia jugalah penyebab kecelakaan ini, Dia merasa bersalah karena kondisi kesehatannya yang drop, membuat Ferdi harus terburu buru kesana. Walau sebenarnya ini tetap saja salah si Dokter gila itu.. Hiks.. Aku harus mengatakan apa agar Kau percaya*..


Zyan mengacak rambutnya mulai frustasi.


"Aku tidak tahu, katakan saja pada Ferdi atau Presdirmu saja sekalian" ucapnya lelah dan merebahkan tubuhnya pada sofa bed diruangan Ayra. Dia cukup lelah sudah khawatir dan sudah marah marah pada Ferdi, belum lagi mendebatmu butuh energi ekstra. Dia melirik jam dinding, hampir tengah malam. Kini jam itu menunjukkan pukul 11 malam, membuatnya semakin lelah saja.


"Hah? Presdir?" pertanyaan Ayra mengambang diudara tidak mendapat jawaban.


"Senior, Kamu tidur?" karena tak jua mendapat jawaban, Ayra diam, berpikir sendiri. Dia kembali melirik Zyan, "Senior ada selimut dilemari, pakai selimut dulu"


Masih tidak mendapat jawaban, Ayra jadi diam. Sedangkan yang sedang diajak bicara Ayra mencak mencak dalam hati. Jangan panggil Aku senior!! Berhenti memanggilku senior!! Hiks.. Tuan Muda.. Apa Aku benar benar harus berhenti?? Tapi kan Aku mau menikah juga.. Hiks..

__ADS_1


Hingga akhirnya keduanya terlelap.


* * *


Vanya mengedarkan pandangannya pada cafe yang kini didudukinya. Suasana nyaman menyambut pelanggan yang ingin sedikit merilekskan saraf dan pikirannya. Ada berbagai macam minuman lengkap dengan makanan ringan yang ditata cantik di etalase menarik minat. Ada cake, puding dan makanan manis lainnya sebangsanya mulai dari yang manis hingga yang dibuat low sugar dapat diminta sesuai keinginan.


Vanya kini menyantap puding strawberry didepannya ditemani latte. Dia sedang menunggu mantan super menyebalkannya. Niatnya tentu bukan untuk balikan ataupun mendengar penjelasan Laki laki yang kini membuatnya bergidik jijik, melainkan ada sesuatu hal yang ingin diketahuinya. Hal yang akan dijadikannya sebagai senjata menfhadapi Tuan Juna.


"Sayaaang" senyum super lebar terpampang diwajah Frans saat mendapati Vanya yang duduk amteng menunggunya.


Harapannya membuncah bahagia, begitu mendapati pesan singkat dari Vanya. Karena itu jugalah, bukannya curiga tapi Dia senang senang saja diauruh kesini.


"Aku kangeen" senyumnya semakin lebar. Membuat Vanya bergidik ngeri, betapa tidak tahu malunya orang didepannya ini pikirnya.


"Lupa sudah putus?" kalimat dingin Vanya menyadarkan Frans. Tapi senyumnya masih ditempatnya, tidak berkurang sedikitpun.


Sebelum Frans mengoceh kesana kemari, Vanya bertanya, "Apa yang membuatmu bosan padaku?"


Frans mengerjap bingung, ingin memelas


Tapi kalimatnya terhenti "Jawab yang jujur" kata Vanya tegas.


"Kamu ingin kembali padaku kan?"


"Aku akan jujur" jawabnya.


"Jawab saja" ucap Vanya mulai jengah menghadapi ketidak tahu maluan Frans.


Dan setelahnya kalimat Frans membuat Vanya sakit hati, intinya laki laki itu merasa bosan dan lelah menghadapi sikap Vanya yang manja. Walaupun Vanya mandiri, tapi Dia dibuat lelah karena harus meluangkan waktu untuknya. Belum lagi sikap manja Vanya.


Vanya tentu melongo mendengarnya, Dia merasa sikapnya selama ini cukup wajar. Kalaupun minta meluangkan waktu, Dia tidak pernah menuntut Frans untuk selalu ada untuknya. Cukup meluangkan waktu saja, salahnya dimana? Bukankah dimana mana orang yang memiliki hubungan akan meluangkan waktu untuk pasangannya?


Manja?? Aku manja? Haah apa salah kalau bersikap manja pada pasangan?? Vanya dibuat tak habis pikir.


"Jadi, menurutmu, biasanya laki laki tidak akan suka dengan sikapku itu kan?" Vanya ingin memastikan, sedetik kemudian Dia mendapat anggukan percaya diri Frans.


Membuat Vanya langsung berdiri, Dia ingin segera pergi dan tak ingin berurusan lagi dengan laki laki menjijikkan didepannya. "Aku pergi, jangan hubungi Aku lagi, dan sebagai informasi tambahan, Aku akan memblokir nomormu, bye"


"Apa?" kini gantian Frans yang melongo. Harapannya sebelum datang tadi hancur berkeping keping. Bukankah harusnya Dia yang paling tahu, bahwa jika Vanya sudah mengambil keputusan maka adalah suatu kelangkaan jika Dia menariknya lagi apalagi kembali. Apa Aku sedang dimanfaatkan?? Haah...


* * *

__ADS_1


__ADS_2