
"Hmmmhh..." Juna menggeliat dan menguap, sesaat kemudian ia tersadar ada kepala yang tengah bersandar di bahu kirinya.
"Nino?" Suaranya serak khas bangun tidur
"Ya Tuan, tidur Anda nyenyak?" Dia menjawab dengan tangan yang masih sibuk mengemudi.
"Hhmm.. Kenapa Dia tertidur?"
"Entahlah Tuan" Nino menjawab kalem.
"Bukankah harusnya Dia bersemangat?!" masih bingung "oh iya, berapa lama Aku tertidur?"
Nino menatap jam tangannya sebentar, "Anda tidur 2 jam Tuan, apa kepala Anda masih sakit?"
"Tidak, apa masih lama?" masih menguap dengan menyisakan kantuknya.
"Tidak Tuan, kita hampir sampai"
Juna melihat jalanan yang ia lalui, merasa aneh melihat kecepatan mobil yang dilajukan Nino.
"Apa ini? Semut saja masih lebih cepat darimu" lalu kemudian Dia melanjutkan, "Apa karena ini Dia tidur?" Juna maklum dengan sendirinya tanpa diminta.
"Entahlah Tuan"
"Percepat!" Dia jadi kesal sendiri, "Haruskan Aku menunggu malam baru kita sampai?!"
"Baik Tuan" Nino diam dan mengikuti keinginan Juna. Dalam hati Dia cukup lega setidaknya 2 jam sudah cukup untuk menenangkan tubuh Juna.
***
Vanya terkesiap kaget begitu Dia bangun, Dia dapat melihat rumah orangtuanya didepannya. "Sudah sampai huaah" masih menguap.
Dia tertidur setelah lelah melihat kecepatan mobil yang dinaikinya. Lebih lelah lagi karena harus berdebat dengan Nino, karena tentu Dia terlalu takut untuk menjawabnya. Dan tanpa disadarinya Dia terlelap setelah kantuknya datang menyapa tanpa permisi.
Dari luar teras kehadiran mereka disambut Ayah dan Ibu Vanya serta Mama Anna yang merupakan adik ibunya beserta suami dan anak mereka yang super usil. Kakak sepupu Vanya yang hanya berbeda usia 2 tahun.
Vanya menyalami mereka bergantian satu persatu dan tak lupa pelukan kangen juga. Keluarga Mama Ana ikut datang karena rumah mereka memang ada didepan rumah Vanya. Setelahnya Vanya memperkenalkan Juna. Nino sedang sibuk mengeluarkan beberapa barang yang merupakan hadiah Juna untuk keluarga Vanya.
__ADS_1
Didalam bingkisan itu ada buah buahan beserta hiasan cantik oleh oleh dari rekanan bisnisnya yang juga sahabatnya baru kembali dari luar negeri. Cantik dan tampak mewah tentunya. Dan beberapa bingkisan lainnya.
Setelahnya Ayah Vanya selaku Tuan rumah mempersilahkan tamunya masuk.
***
"Kenapa repot repot bawa bingkisan segini banyak" Ayah membuka suara setelah melihat deretan boks bingkisan berbagai ukuran beserta bingkisan lainnya yang memenuhi meja ruang tamunya.
"Heheh tidak Pak, hanya beberapa" Juna menjawab kalem diiringi senyum manis.
Vanya diam tidak menanggapi apalagi memberi komentar. Tapi dalam hati Dia cukup uring uringan setelah melihat ekspresi keluarganya yang tampak tidak enak.
Leon, kakak sepupu Vanya, cuma bisa geleng kepala melihat bingkisan yang rata rata diisi dengan barang mewah itu. Apa Dia sedang unjuk kekayaan?
***
Hingga makan siang, pembicaraan mereka lancar tanpa hambatan. Ayah menyambut kedatangan Juna tanpa prasangka apapun. Ayah yang adalah pensiunan pegawai negeri disalah satu instansi keuangan milik pemerintahan pun sedikit banyaknya telah mendengar mengenai citra baik keluarga Presdir WM Group bahkan saat dipimpin oleh Presdir sebelumnya. Dia tentu telah mendengar bagaimana mereka membangun dan menjalankan bisnisnya.
Leon pun ikut tersenyum menyambut Juna, dulu Dia juga pernah bekerja di kantor pusat WM Group. Sebelum akhirnya melanjutkan studinya dan kemudian kembali ke tanah air sebagai dosen disalah satu universitas bergengsi di Ibukota. Sedikit banyaknya Dia tahu bagaimana citra Juna, beberapa temannya yang masih bekerja di WM Group pun ikut menceritakan bagaimana Presdir tersebut.
Menurut temannya Leon yang merupakan pegawai Juna, Juna adalah sosok yang hangat dan ramah. Walau memang tidak selalu tersenyum, tapi cara bicara dan pembawaannya kadang terasa seperti teman, berbeda dengan seseorang yang berdiri disisinya yang terlalu sering memasang wajah dingin, siap sedia menghalau seseorang yang mengganggu Tuannya.
Ayah pun melanjutkan, "Jika kalian memang udah saling yakin, maka Ayah akan menyetujui keinginan kalian. Tapi Ayah harap Kamu dapat menjaga Vanya, Dia kadang masih sering manja dan kadang kekanak kanakan"
"Iya Ayah, Juna akan menjaganya" Dia tersenyum "Dan jika Ayah menyetujui, Saya harap pernikahan kami dapat dipercepat"
"Kenapa?" Ayah agak bingung
"Saya ingin segera menikahi Vanya" Juna kalem menjawab masih diiringi senyum manisnya.
Ayah hanya mangguk angguk maklum dengan mata yang menatap Vanya dan Juna bergantian, "Kalian tidak melakukan hal aneh kan?"
"Hal aneh apa Ayah?"
"Aku malah takut akan melakukan hal aneh, jika pernikahan Kami tidak segera diselenggarakan" Juna kembali menjawab dengan diiringi senyum malu, dan godaan lainnya pun muncul dari anggota keluarga lainnya cie cie bersahutan dari Leon dan adiknya Friska. Membuat Vanya melotot kepada dua bocah menyebalkan itu.
"Yasudah.." Ayah kembali melanjutkan agak ragu, "Kapan Ayah bisa bertemu keluargamu?"
__ADS_1
Juna masih berusaha tersenyum walau agak kecut, dan Nino mendesah pelan, agak kesal.
"Hmmm, bukankah Ayah sudah tahu, kedua orangtuaku sudah tidak ada" suara Juna kini pelan
Ayah dan keluarga Vanya lainnya pun ikut terdiam, seolah ikut merasakan sakit yang dirasakan Juna. Agak tidak enak juga karena tanpa sengaja mengungkit luka Juna. Tapi bukankah jika membicarakan pernikahan, maka keluarga akan ikut dibicarakan. Seolah menjadi hal lumrah, karena pernikahan memang bukan hanya menyatukan dua anak manusia, melainkan menyatukan dua keluarga besar..
"Tapi, jika Ayah ingin bertemu keluargaku, ada saudara Mami yang cukup dekat denganku, sisanya mungkin tidak ada" Juna kembali terdiam "Aah ada adik perempuanku juga, tapi sekarang Dia diluar negeri. Dia mungkin akan kembali beberapa hari sebelum hari pernikahan" kini Juna tersenyum melihat suasana hening yang tiba tiba menyergap ruangan tersebut.
"Iya boleh, sebelumnya Ayah minta maaf ya karena kita malah jadi mengingatkanmu dengan mendiang orangtuamu" Ayah tersenyum hangat, mencoba menenangkan,
"Ayo bicarakan harinya setelah kedua keluarga bertemu yaa nak, sekalian lamaran secara resmi"
"Tapi sebelumnya lamaranmu hari ini sudah Ayah dan Ibu terima, semoga kedepannya kalian akan bahagia selalu"
"Ayah harap Kamu jangan menyakiti Vanya, jika Dia bersalah yang membuatmu tidak ingin menerimanya lagi, maka Ayah harap Kamu mengembalikannya pada Ayah, jangan sakiti Dia baik fisik maupun psikisnya"
"Iya Ayah, akan Juna ingat selalu" Juna pun tersenyum.
Tak lama setelahnya merekapun pamit undur diri. "Vanya ikut kak Juna ya Ayah, Ibu, besok kan Vanya kerja, kalau dari sini macet, terimakasih" Dia pun memeluk mereka bergantian.
***
Sesuai janji Juna, setelah dari rumah kedua orangtua Vanya, mereka akan mengunjungi orangtuanya. Lebih tepatnya makam kedua orangtuanya yang ditempatkan dalam satu makam. Juna tersenyum, menggandeng Vanya. Dia maklum dengan wajah tak enak hati Vanya, diperjalanan tadi pun gadis itu mengucapkan maaf atas nama orangtua dan keluarganya.
Juna menggenggam tangan Vanya, mereka menyusuri area makam pribadi milik keluarga Juna. Tempat yang tak pernah didatangi Vanya, terletak didekat Vila yang sebelumnya dia sambangi. Mereka sampai disana jam 3.15 sore.
"Kamu sudah dengar kan" suara lembut Juna menyapa, setelah mereka lama hanya berjalan dalam diam "Ini makam mereka, dan disebelahnya ada Kakekku" Dia mencoba tersenyum.
Tapi bagi Vanya, senyum Juna kini tampak bercampur sedih. Dia hanya diam mendengarkan Juna dengan tangannya masih menggenggam erat tangan Juna. Seolah tak ingin lepas, Vanya ingin memberinya kekuatan.
Selamat sore, Tuan, Nyonya, dan Kakek, Saya Vanya, Saya akan menjaga Kakak.. Kami akan menikah. Jika boleh, Aku ingin meminta restu kalian. Restui hubungan kami ya, dan jika bisa maka mintalah pada Tuhan agar anak Anda dapat memberi cintanya sedikit untukku yaa..?! Aku akan menjaganya, Aku akan bertahan selama Dia tidak menyakitiku, doakan Aku kuat yaa..
A**yah.. Hari ini Aku bertemu seseorang yang mengingatkanku pada mu, Aku memanggilnya Ayah karena Dia yang minta. Dia Pria yang hangat sepertimu, apa menurutmu keputusanku benar? Aku akan berusaha membahagiakannya, Dia Vanya, calon istriku, Aku akan menerimanya dan mencoba untuk mencintainya.. Ibu, Aku merindukanmu.. Sepertinya tidak lama lagi Aku akan bisa tidur dengan tenang, Ferdi dan Nino pun tidak akan menghawatirkan Aku lagi, iya kan? Aku membawanya kesini karena Dia ingin bertemu kalian, katanya karena ingin minta restu. Jadi, restui kami yaa.. Aku menyayangi kalian semua...
***
Untuk pertama kalinya, Vanya melihat kesedihan menyelimuti wajah Juna.. Semoga kedepannya Aku dapat memberimu kebahagiaan yaa, walau itu hanya kebahagiaan kecil sekalipun..
__ADS_1
Bersambung..