Jangan Mempermainkanku

Jangan Mempermainkanku
Juna 2


__ADS_3

"Tuan.." Tok Tok


"Tuan.." Tok Tok


"Tuan Muda, Saya masuk ya"


Suara Sekretaris Nino berkali kali bergema diiringi ketukan pintu, setelah sebelumnya mencoba mengetuk kamar tamu kini Sekretaria Nino ada didepan kamar Juna. Agak ragu karena tidak yakin bagaimana mungkin Tuan Mudanya kembali kekamar utama padahal Dia minta disiapkan kamar kosong disebelahnya.


Seakan magnet, suara Sekretaris Nino menarik Dokter Ferdi untuk mendatanginya.


"Ada apa?" Dia bertanya pelan. Heran sendiri dengan sikap sekretaris Nino yang biasanya tenang dan diam.


"Tuan Muda belum keluar kamar Tuan"


"Bukannya Dia disana?" sambil menunjuk kamar sebelah. Yang kemudian dijawab gelengan kepala Sekretaris Nino.


"Tuan Muda Saya masuk ya" Akhirnya memutuskan setelah khayalannya kemana mana. Tentunya bukan menuju hal hal baik. Isinya hanya sekumpulan adegan penculikan ataupun penyekapan yang sebenarnya mustahil terjadi.


Kedua pria tersebut terkejut dengan mata terbelalak sempurna begitu mendapati Juna tidur terlelap di atas kasur king size tersebut, tangannya mendekap tubuh seseorang. Seseorang bernama Vanya yang datanya baru dadaptkan Sekretaris Nino tadi malam. Tubuh gadis berusia 26 tahun itu bahkan hilang tenggelam dalam pelukan tubuh tinggi Juna dibawah selimut yang sama.


"Mereka tidur?" Pertanyaan konyol terdengar dari Dokter Ferdi, Dia bahkan menghiraukan tatapan melotot Nino yang tertuju padanya. Dokter tersebut mendekat memeriksa denyut nadi Juna. Ingin memastikan. Setelah yakin Juna masih hidup usai jemarinya merasakan denyut nadi dan hembusan napas teratur Juna dia senang bukan main.


"Mereka tidur" diiringi senyum sumringah. Dia melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya "Jam 9" Dia semakin senang. Ingin memeluk Nino tapi tentu saja ditepis Nino agak kasar karena Dia kesal akan Dokter yang tak mau diam itu.


Sekretaris Nino masih diam memperhatikan Tuan Mudanya yang masih mengenakan bathrobe, sama dengan yang dikenakannya sebelum Nino meninggalkan ruangan semalam. Kamar itupun masih rapi tak ada tanda tanda mencurigakan seperti perlawanan.


***


Pastikan sekali lagi, apa gadis itu punya niat tersembunyi!!


Pesan berisi perintah Sekretaris Nino diterima oleh bawahannya.


Baik Tuan. Hanya itu jawaban dari seberang sana.


Memastikan keselamatan keamanan Tuan Juna tentu prioritas Nino. Karena bukan tidak mungkin jika orang orang yang berniat buruk mendekati Juna. Dia tentu harus ekstra hati hati.

__ADS_1


Dia kembali membaca laporan data diri gadis yang tadi malam dibawa Tuan Juna. Untuk pertama kalinya Dia melihat Juna rela membantu orang lain yang tidak dikenal, pertemuan tiba tiba mereka tentu sedikit menarik kecurigaan hingga Nino harus berhati hati akan niat gadis itu. Bukan tidak mungkin jika ternyata gadis itu dikirim oleh pihak pihak lawan atau pihak tak bertanggung jawab lainnya yang ingin menjatuhkan Juna.


Posisinya sebagai Presdir WM Group membuat Juna disegani sekaligus ditakuti. Namun disamping itu ada beberapa orang yang senantiasa ingin menjatuhkannya. Mereka merasa anak muda seperti Juna tak memiliki kemampuan untuk memimpin perusahaan. Namun tentu saja pemikiran mereka salah. Beberapa dari mereka malah menggunakan perempuan sebagai senjata mereka. Namun bukannya diterima dengan tangan terbuka, kehadiran perempuan itu malah ditepis kasar oleh Juna. Seperti nyamuk mereka ditepuk dan diusir dari sekitar Juna tak diberi kesempatan untuk mendekat. Namun sepertinya Vanya menjadi pengecualian sehingga Nino harus lebih waspada.


***


Tadi malam setelah Ferdi terusir dari kamar Juna, Sekretaris Nino masuk kekamar. Dia menyerahkan beberapa lembar kertas berisi data diri gadis yang beberapa jam lalu dibawa Juna.


Juna diam Dia dengan tenang membaca laporan data diri yang diaserahkan Nino.


"Jadi Dia karyawanku?" Keningnya sedikit berkerut mengalihkan tatapannya dari lembaran kertas tersebut ke arah perempuan yang tangah terlelap dibawah selimutnya dengan selang infus yang menggantung menetes dan menyalurkan obat untuknya.


"Iya Tuan Muda. Dia Asisten Manajer tim design untukWM Property Tuan"


"Ok. Intinya Dia bukan gadis dibawah umur" Jawab Juna santai. Nino hanya bisa mengernyit cukup dalam tak mengerti arah kalimat Juna.


"Sana tidur" Usir Juna kemudian saat dirasa telah cukup untuk mendapat laporan dari orang kepercayaannya tersebut.


"Baik Tuan" Diam sesaat "Tuan Anda ingin istirahat dimana?"


"Sebelah. Sudah kau siapkan kan?" Yakin sendiri dengan tebakan Juna yang tentu saja benar.


"Aku akan keluar sebentar lagi" Ucap Juna sambil berjalan menuju kasur dikamarnya, ia ingin memastikan kondisi gadis tersebut yang tiba tiba pingsan tadi, masih penasaran akan penyebabnya sepertinya.


"Selamat malam Tuan. Pastikan Anda tidur beberapa jam ya Tuan, cobalah untuk tidur walau beberapa jam" suara Nino bercampur kekhawatiran


"Hhmm"


***


Jam 10 pagi Juna akhirnya terbangun setelah kaget mendengar keributan dikamarnya. Lebih kaget lagi saat Ferdi berkata bahwa Dia tidur dikamarnya bukan dikamar lainnya dengan kondisi berpelukan. Kepalanya semakin nyeri berdenyut membuat Dia harus memijat pelipisnya pelan.


Juna kaget sekaligus bingung. Saat bangun tidur perasaannya campur aduk. Walau ditengah kekacauan, untuk pertama kalinya setelah sekian lama Dia bangun dengan kepala yang ringan tidak sakit ataupun berat seperti pagi lainnya. Walaupun setelahnya jadi sakit lagi.


Dia yang bingung akan penyebabnya memanggil Ferdi untuk diperiksa, jangan tanya Ferdi, jika Juna bingung maka Dia lebih bingung lagi. Untuk pertama kalinya Juna bangun setelah tidur selama kurang lebih 9 jam, tentu sebagai dokter sekaligus sahabat Dia bahagia. Tapi kini yang mereka pertanyakan kenapa, apa yang membuat Juna tidur lelap selama itu. Vanya jangan ditanya kini Dia dipindahkan kekamar disebelah kamar Juna. Membuat ketiga pria itu dapat leluasa berpikir dan berdiskusi.

__ADS_1


"Kau makan sesuatu sebelum tidur?"


"Teh camomile" Juna menjawab pelan.


"Selain itu?"


Juna hanya mengernyit lalu menggeleng, memang camomile yang ia minum terakhir kali sebelum tidur.


"Tidak mungkin teh camomile. Walaupun menenangkan tapi tubuhmu kebal Jun" Teh camomile memang terkenal merupakan salah satu teh herba tanpa kafein, didalamnya bahkan terkandung senyawa antioksidan dan flavonoid, salah satu khasiatnya baik untuk penderita insomnia karena dapat meningkatkan kualitas tidur dan memberi efek ketenangan untuk tubuh. Tapi seakan kebal bertahun tahun mengkonsumsi camomile Juna seakan tak mendapatkan manfaat apapun membuat geram Ferdi. Dia harus berpikir ulang mengenai minuman yang baik untuk meringankan insomnia Juna.


Juna hanya mengangkat kedua bahunya Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya.


"Apa kau menambahkan sesuatu kedalamnya?" bertanya akhirnya setelah bingung lama


"Tidak Tuan. Bahkan tidak ada gula dalam teh Anda semalam" Jawab Nino agak cemas. Pikirannya kini kemana mana. Mungkinkah gadis itu memberi sesuatu pada Tuannya? Mulai geram dengan pikirannya sendiri.


"Apa yang terjadi semalam?"


"Tidakkah kau ingat sesuatu?"


Pertanyaan Dokter Ferdi tentu membuka lebar mata Juna, Dia diam menopang dagunya, mengingat apa yang terjadi tadi malam.


Tadi malam


Setelah Nino meninggalkannya didalam kamarnya, Juna dengan khidmat memperhatikan wajah gadis didepannya. Dia kini sedang duduk disisi samping tempat tidurnya, memperhatikan seseorang bernama Vanya yang baru Dia temui beberapa jam yang lalu. Gadis itu hanya tidur dalam diam, pipinya tembam berisi menggelitik Juna untuk menusuk pelan pipi itu, Dia tergelak sendiri dengan aktifitasnya.


Tuk "Vanya.." Dia tergelak usai menusuk pipi gadis itu dan memanggil namanya pelan.


Teringat kembali dengan ucapan Nino, saat Dia akan beranjak untuk mencoba tidur, suara gumaman pelan menyapa pendengarannya. Karena tak memdengar dengan jelas Juna mendekat, Dia mendekatkan telinganya pada gadis itu.


"Jangan pergi..." Lirih dengan suara pelan seakan akan kini suara itu bercampur airmata dan isakan. Juna hanya diam memperhatikan hingga Dia merasakan tangannya digenggam erat dan lembut oleh tangan Vanya.


Gumaman Vanya masih terdengar, perasaan iba menyapa Juna. Apa yang terjadi pada gadis itu sebelum bertemu dengannya. Juna bahkan tak bisa melupakan bagaimana mata Vanya menatapnya sebelum gadis itu pingsan dalam pelukannya.


Tiba tiba kepala Juna berdenyut perih sesaat pandangannya kabur, Dia pun mengerang pelan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia kembali membuka matanya, gumaman Vanya masih terdengar menyayat hati, kini Juna melihat mata Vanya terbuka sedikit memperlihatkan netra hitam pekat Vanya "Jangan pergi.." masih terdengar. Juna membelai pelan kepala Vanya

__ADS_1


"Tidurlah Aku tidak kemana mana" Lalu Dia menarik tubuh Vanya mendekat, masuk dalam pelukannnya, Dia masih senantiasa membelai pelan puncak kepala Vanya menyalurkan ketenangan, merasakan hangat tubuh Vanya, Juna terlelap sesaat kemudian.


***


__ADS_2