
Rapat telah usai memberi ketenangan tersendiri untuk Vanya. Namun sayangnya jiwa tenangnya hanya bertahan sebentar. Belum Dia sampai diruangannya, ponselnya berdering memperlihatkan pesan singkat dari nomor tak dikenalnya, isinya menberi perintah agar Dia ke ruangan Direktur.
Dengan hati berdebar Vanya kembali berbalik menuju lift, menekan tombol angka lantai yang dituju. Tak lama Dia pun sampai didepan ruangan yang ia tuju. Kehadiran Vanya disambut staf sekretaris.
Vanya berdebar, takut jika telah berbuat salah yang mungkin tak Dia sadari. Setelah mengetuk pintu, Dia pun memberanikan dirinya melangkah masuk. Dia melihat Pak Direktur tersebut sedang duduk dikursi kebesarannya dengan posisi membelakangi Vanya.
"Selamat siang Pak, Bapak memanggil Saya?"
***
Mendengar suara seorang wanita, Juna berbalik tak lupa dengan senyum kecil membuat wajah Vanya pucat seketika.
Apa yang dilakukan Presdir disini?
"T.. Tuan.."
Tergagap Dia pun mundur pelan, takut dengan apa yang dia bayangkan. Dan entah kenapa kalimat 'tanggung jawab' kembali muncul dalam pikirannya.
"Bagaimana?"
Bertanya to the point, senyumnya kini hilang berganti wajah serius dengan matanya yang lurus menatap Vanya.
"A.. A.. Apa yang b.. bagaimana Tuan?"
"Hhmm Kau sudah lupa dengan apa yang Kau lakukan kemarin?"
"T.. Tapi Tuan.."
"Apa?"
Juna menatap lurus kedalam mata Vanya matanya tegas dengan ekspresi serius, suaranya pun tegas makin menuntut membuat Vanya makin lemas takut dan bingung bersamaan. Dia takut dengan bayangannya sendiri, lebih takut lagi jika membayangkan wajah kedua orangtuanya.
Aku tidak akan membiarkanmu lari
"Jangan bilang Kau ingin lari dari tanggung jawabmu?"
"Setelah apa yang Kau lakukan?!"
"T.. Tidak Tuan.. Tapi.."
"Apa?! Bicara yang jelas!!" kini suara Juna makin keras, membuat Vanya makin pucat bergetar takut.
"Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi"
"Aku harus tanggung jawab bagaimana?"
Tangis Vanya pecah seiring dengan tuntutan Juna yang menjadi. Belum lagi suaranya yang makin lama jadi makin tinggi, menuntut dengan penuh arogansi.
"Tidak bisakah Kau pikirkan sendiri? Kau melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya. Lalu tidak tahu harus tanggung jawab bagaimana??!" suara Juna kini malah makin kesal terselip amarah
__ADS_1
Apa Kau masih tak mengerti?? Menikah!! Katakan saja itu!! Bodoh!
"Aku tidak tahuu.. huuu.. hiks" tangis Vanya pecah.
"Apa Kamu hanya bisa menangis?? Tidak bisakah Kamu memikirkan sesuatu?!"
"Aku tidak tahu.. Aku takut.. Itu pertama kalinya bagiku dan bahkan Aku tidak ingat apa yang kulakukan.."
"Bagaimana jika Aku jadi hamiil.. Hiks"
Tangisnya kini makin kencang, menyayat hati. Beruntungnya ruangan tersebut kedap suara, jadinya pembicaraan mereka tidak akan terdengar hingga keluar ruangan. Namun, untuk berjaga jaga, Nino berdiri diluar ruangan setelah mengusir staf sekretaris direktur begitu Vanya masuk.
"Apa hanya hamil yang bisa Kamu pikirkan? Bagaimana denganku? Itu pertama kalinya bagiku, bodoh!"
"Lalu bagaimana? Haruskah kita menikah saja??"
"Aku takut.." Hiks "Jika benar hamil apa yang harus kukatakan pada orangtuaku.."
"Mereka.. mereka akan kecewaaa.." dalam tangisnya Dia mencoba mengatakan semua yang dipikirkannya sejak tadi malam, bagaimana takutnya Vanya akan mengecewakan kedua orangtuanya yang senantiasa percaya dan mendukungnya.
"Haaah.." Juna mendesah, berakting. Menunjukkan seberapa frustasinya dirinya. Salah satu tangannya kini bertopang di atas meja dengan pelan jemarinya bergerak memijat pelipisnya. Menunjukkan dirinya sedang pusing berpikir. Padahal dalam hati dia gembira, Dia bahkan dengan lihai menyembunyikan senyumnya.
"Tidak bisakah Tuan?" Vanya makin pucat, takut, gamang apa yang akan dia lakukan.
"Tuan.. Saya akan bersikap baik.." masih mencoba menstabilkan nafasnya "Tidak bisakah?" yang ada dalam pikiran Vanya kini adalah wajah kecewa orangtuanya yang sesaat kemudian berubah jadi malu.
"Haaah.. Baiklah"
***
Bukankah akting Tuan Juna luar biasa? Otaknya bekerja dengan baik. Tiap kalimatnya tajam menusuk dan menuntut. Dia kini tergelak dan tersenyum selama perjalanan pulang.
Ayo menikah.. Dan jadilah obatku..
Nino yang tengah menyetir pun ikut bahagia melihat rona bahagia tersebut terpancar dari Tuan Muda. Dalam hati dia mendoakan semoga penilaian Tuan terhadap Vanya tidak berbeda. Semoga mereka bahagia dan semoga Vanya tidak mendatangkan masalah untuk Juna.
Kebahagiannya sirna seketika begitu Ia masuk kedalam rumahnya. Diruang tamu Ferdi menanti Juna dengan boneka super besar hampir menyamai tinggi tubuh Vanya yang mini. Juna dibuat melongo melihat Ferdi yang tersenyum riang.
"Aku sudah mensterilkannya. Ini sudah dicuci Jun.."
"Untuk apa?" Juna kesal bukan main
"Tentu saja untuk menemanimu tidur. Siapa tahu dia bisa membuatmu nyaman"
"Coba yaaa.. ayo coba.. Bukankah dia tinggi, dia hampir seukuran manusia Jun.." Ferdi tersenyum lebar membujuk.
"Tidak mau. Apa ada manusia normal yang ingin memeluknya?" sangsi dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Dan penolakan beruntun lainnya.
__ADS_1
"Akan kuletakkan disini, Kau tidak boleh marah. Coba saja untuk malam ini kenapa sih?!" kesal Ferdi malah makin sewot.
Dokter Ferdi dengan kesal meletakkan boneka beruang tersebut dikaki tempat tidur Juna. Kini dia beralih memberi Juna infus. Sebuah jarumpun telah melekat pada punggung telapak tangan Juna. Dokter itu kesal bukan main, hal yang ia persiapkan jadi serasa tak berarti. Juna menolak. Ferdi bahkan dengan semangat mempersiapkannya sendiri sepanjang hari, Dia bahkan cukup cerewet memerintah ini dan itu pada petugas laundry tempat dia membersihkan si beruang. Tidak ada parfum yang disemprotkan kesana, hanya wangi segar yang kini menguar dari beruang, wangi khas deterjen dan pewangi pakaian lembut tak menyengat.
"Kenapa? Kau marah?"
"Menurutmu?"
"Aku tidak mau memeluk benda aneh itu"
"Lalu apa? Kau lebih memilih tidak tidur seperti kemaren?" kesal kini dia bahkan melotot pada Juna
"Nanti.. Sebentar lagi Aku akan mendapatkan obatku" Juna kini malah senyum menatap Ferdi
"Obat apa? Kau minta kesiapa? Jangan aneh aneh ya, bagaimana jika tidak cocok denganmu?
Aaaa.. jangan jangan..
"Apa yang kau pesan?!" Kini Ferdi menatap Juna curiga. Takut dan sangsi sekaligus bagaimana jika Juna malah memesan sesuatu yang tidak boleh dikonsumsi. Penenang mungkin? Atau malah jangan jangan narkotika?
"Jangan.. tidak boleh Jun.."
Juna dibuat kesal, bahkan kini tangannya digenggam Ferdi.
"Apasih yang Kau pikirkan?!"
"Kau tidak pesan obat obatan terlarang kan.."
Suara Ferdi kini terdengar pelan setengah memohon, takut akan apa yang terpikirkan olehnya.
"Kau gila?!"
Dengan keras dan kesal kedua tangan Ferdi yang kini menggenggam tangan Juna yang tak ada jarum infus itu dia hempaskan kuat. Membuat seketika genggaman tangan Ferdi terlepas. Dia tengah menunjukkan kekesalannya.
"Apa Kau sungguh dokter? Kau temanku atau bukan sih? Apa yang bisa otakmu pikirkan? Bagaimana mungkin aku.. Haah.."
"Sana.. Aku muak melihatmu.." tangan Juna terangkat mengusir Ferdi.
"Aku mana tahu. Baguslah Kau tidak melakukannya"
"Jadi obat apa yang Kau pesan?" Ferdi dengan santai kini duduk bersandar melemaskan ototnya yang lelah seharian. Dalam hati tentu Dia bernapas lega. Mari hidup dengan tenang tanpa melanggar aturan apapun. Itulah moto hidupnya.
"Kau tidak lihat pesanku kemarin? Bukankah sudah jelas apa obatnya?" senyum smirk nya kini tercetak
"Memang apa? Manusia? Karena itu kan Aku membawakanmu boneka seukuran manusia, tapi Kau menolaknya dengan keras. Menurutmu tidakkah dia sakit hati? Dia pasti sakit hati sekarang" tatapan miris Dokter Ferdi kini tertuju pada beruang besar itu.
"Aku kan tidak minta!" masih kekeh menolak.
"Aku ingin manusia. Aku akan menjadikan Vanya obat tidurku"
__ADS_1
"Aapaaa?!!"