Jangan Mempermainkanku

Jangan Mempermainkanku
Ayra?


__ADS_3

Zyan Hadi Basheera kini ada di Rumah sakit Harapan, Dia datang dengan kepanikan yang terpampang jelas diwajahnya. Kabar yang diterimanya dari salah seorang mahasiswa magang dikampusnya membuat Dia meninggalkan kampusnya.


'Kak Ayra kecelakaan Pak, Saya juga belum tahu pastinya. Tapi tadi dikantor cukup heboh karena ada laporan penting yang dipegang Kak Ayra' ucap si mahasiswa.


Kegalauan hatinya dan janjinya pada diri sendiri untuk tidak menemui gadis pujaan hatinya beberapa saat yang lalu menguap sirna entah kemana berganti dengan kawatir dan panik.


Sesampainya diruangan yang diberitahukan oleh resepsionis dibawah tadi, Zyan mengernyit beberapa kali. Agak bingung juga kenapa Ayra ada diruangan VIP. Sesaat kemudian, tangannya yang akan menarik gagang pintu terbuka ditahan oleh suara yang familiar ditelinganya.


"Zyan?" Ferdi bicara begitu mendapati sosok yang tidak asing didepannya.


"Dokter? Aaah iya, ini Rumah sakit Harapan ya" jawaban ambigu Zyan membuat Ferdi sedikit mengernyit.


"Apa yang Kau lakukan disini?" sesaat kemudian Dia kembali menyela karena teringat sesuatu, "Mau bertemu Juna? Tuan Muda diruangannya yang biasa"


"Apa? Tuan Muda disini? Kenapa?"


"Haah? Kau disini bukan untuk bertemu Tuan Muda?" Ferdi kini ikut heran melihat Zyan yang kebingungan.


"Bukan" jawabnya "Ada kenalanku yang dirawat disini, Kamu bawa apa?" Zyan bertanya setelah melihat keranjang yang dipegang Ferdi.


"Barang pasien" jawab Ferdi singkat, lalu kemudian tangannya bergerak membuka kenop pintu yang tadi dipandangi Zyan, setelahnya tangannya bergerak menuju lemari penyimpanan.


"Apa diruangan ini ada pasien kecelakaan?" pertanyaan Zyan membuat Ferdi menoleh


"Ada"


"Ayra? Apa namanya Ayra?" pertanyaan menuntut dari Zyan pun cukup membuat Ferdi kebingungan.


"Iya, kenapa? Kau kenal?"


"Dimana Dia sekarang?" Zyan kembali bertanya setelah tidak mendapati yang dicarinya didalam ruangan.


"Baru selesai operasi, satu atau dua jam lagi akan dipindahkan jika kondisinya stabil"


***


Tok tok tok..


"Tuan Muda.." Zyan muncul dengan kondisi kacau didepan pintu ruangan rawat inap Juna.


Juna dibuat kesal, setelah berhasil mengusir Lica kini Dia malah akan diganggu bocah lainnya. Tangannya mengelus sayang puncak kepala Vanya lalu menarik selimut menutupi tubuhnya. Setelahnya Dia berdiri dan menarik tiang penyangga infusnya dan duduk di atas sofa meladeni bocah yang kini tampak kusut.

__ADS_1


"Tuan Muda.." Zyan kembali merengek begitu mendapati Juna mendekat.


"Kenapa?"


"Ferdi keterlaluan.. Dia membuat seseorang bahkan sampai harus dioperasi"


Juna mengernyit, setelahnya Dia menjawab acuh, "Itukan tugasnya"


"Bukan!" suara keras Zyan terdengar menyangkal apa yang dikatakan Juna, "Dia membuat seseorang yang sehat sampai harus dioperasi"


"Diam! Kecilkan suaramu!"


"Tuan Muda.. Bukankah Dia jahat.." kepala Zyan yang mendekat ingin bersandar malah mendarat di atas sofa karena Juna menghindar.


"Apa maksudmu?"


"Aku ingin marah, Aku tadinya bahkan ingin menghajar orang yang membuat Ayra kecelakaan. Tapi diantara semua manusia kenapa juga Ferdi, kenapa harus Dia?" hiks "Aku kan jadi tidak bisa menghajarnya"


"Siapa yang sedang Kau bicarakan? Ferdi? Atau yang kecelakaan dengannya?"


"Anda tahu?" pertanyaan Zyan hanya dijawab anggukan Juna, "Lalu kenapa Aku tidak diberitahu?"


"Urusannya denganmu?"


"Diam! Aku akan menghajarmu jika membuatnya bangun"


"Siapa?" Zyan yang akan memutar kepalanya pun dibuat tidak bisa bergerak oleh Juna.


"Diam, atau Aku akan memutar kepalamu"


"Hiks.. Anda kejam Tuan.. Lalu bagaimana?"


"Apanya? Bukankah Kau sudah patah hati? Karena itu kan Kau merengek dan memanggilku beberapa minggu yang lalu"


"Tapi tetap saja, Aku masih sangat menyukainya.. Tidak, Aku mencintainya.. Aku juga tidak rela kalau Dia sampai kesakitan begitu"


"Yang salah bukan Ferdi. Nino sudah mengecek cctv. Ferdi bahkan tidak sedang ngebut walaupun Dia ingin. Yang ngebut gadis itu, Dia ngebut saat belok kanan karena mungkin Dia pikir masih lampu merah. Dan setelahnya mereka bertabrakan"


Juna diam sebentar lalu melanjutkan, "Tapi Ferdi tetap tanggung jawab kan, mungkin karena Dia dokter dan bukannya ahli hukum, atau mungkin karena kondisiku juga. Jadinya Dia bukan mencari siapa yang salah tapi memberikan perawatan untuk gadis itu"


Zyan hanya diam dan berpikir, tubuhnya kini juga telah bersandar pada sofa dan menatap Juna, "Anda kenapa Tuan?"

__ADS_1


Juna hanya tersenyum, "Demam dan hemoglobinku rendah hanya itu saja, tapi mereka saja yang lebay"


"Anda harus istirahat Tuan" suara Nino mengejutkan keduanya, Zyan bahkan refleks berteriak membuat seseorang yang tengah dibawah selimut ikut terkejut dan bangun.


"Kenapa?" Vanya bangun ditengah kebingungan.


"Tidak ada apa apa, Kamu tidur lagi saja" puk puk puk Juna pun menepuk pelan bahu Vanya memberi ketenangan. Mungkin karena Vanya masih mengantuk atau mungkin karena Juna membuatnya nyaman, detik berikutnya Dia kembali tertidur.


Zyan dibuat melongo akan sikap Juna. Begitu Juna mendekat Zyan pun tergelitik untuk bertanya, "Anda siapa Tuan? Anda yakin Tuan Juna?"


Kalimat konyol Zyan dihadiahi lemparan bantal dari Juna yang diambilnya dari atas sofa


"Bukankah Aku sudah bilang, Diam Zyan!"


"Maaf Tuan, ini salah Dia kan?" Dia nyengir seakan tanpa dosa dan menunjuk sekretaris Nino yang datang entah darimana tanpa keduanya sadari


"Sana sebelum Aku menghajarmu"


"Baik Tuan, Saya permisi"


Sesaat kemudian langkah Zyan kembali terhenti begitu suara Juna kembali terdengar memanggilnya.


"Bukankah Kau yang bilang, seseorang yang bijak harus tahu kapan waktu yang tepat untuk berhenti"


"Tuan.. boleh Aku memelukmu?" Zyan kini memasang wajah memelas minta dipungut.


"Tidak, sana keluar"


Juna kembali pada urusannya dengan Nino serta macbook dan beberapa laporan didepannya.


"Anda juga harus istirahat, Tuan"


"Hmm"


Ucapan Zyan tentu mendapat perhatian Nino, Dia bahkan sudah memasang wajah dinginnya menatap Zyan. Merasa tersindir, tapi sebenarnya yang perlu dilakukan Juna hanya tanda tangan saja. Karena Nino sudah memeriksa sendiri laporan yang dibawanya, tapi karena Juna yang minta akhirnya Dia juga datang bersama dengan laporan lainnya dalam gadgetnya.


***


Bukannya tidak tahu apapun, bukannya karena Dia bodoh juga. Hanya saja harapan sudah menelan akal sehat Zyan. Dia tentu yang paling tahu bagaimana pandangan Ayra padanya. Gadis itu bahkan mungkin hanya menganggapnya sebagai salah satu senior dikampus yang kemudian membuat banyak orang iri karena kembali sebagai dosen begitu Dia menyelesaikan kuliah pascasarjana di luar negeri.


Hal yang ingin dilakukan Ayra, namun realita menyadarkannya lebih baik langsung bekerja daripada harus melanjutkan kuliah lagi. Walaupun saat itu Ayra bisa mendapat beasiswa karena nilainya. Tapi Dia lebih memilih bekerja disalah satu perusahaan.

__ADS_1


Ayra merupakan salah satu junior Zyan. Bukan dari jurusan yang sama, tapi wajah cantiknya mampu menarik atensi Zyan. Fakultas mereka bersebelahan dan Zyan termasuk salah satu mahasiwa yang hobi nongkrong dicafetaria yang posisinya berada ditengah antar fakultas mereka. Namun anehnya, pesona Zyan seakan tidak mempan menembus perhatian Ayra.


***


__ADS_2