Jangan Mempermainkanku

Jangan Mempermainkanku
Lica 2


__ADS_3

"Apa yang terjadi?"


Lica masih berusaha menahan keterkejutannya pagi ini. Rencananya untuk marah malah berubah seratus delapan puluh derajat. Kini wajahnya pucat bercampur syok.


"Ayo keluar dulu Nona"


"Aku tanya apa yang terjadi?" Lica kini tak mampu menahan kemarahannya. "Apa yang kalian lakukan tanpa sepengetahuanku?"


"Kenapa tidak ada yang memberitahuku" air mata Lica luruh mendapati wajah pucat Juna.


Lica masih terduduk tanpa mempedulikan dinginnya lantai yang kini menjadi alas duduknya. Suara Nino pun seakan hilang dari pendengarannya, tersapu bersama angin.


"Nona" dengan paksa pandangan Lica beralih menatap Nino, "Akan Saya jelaskan, ayo keluar. Anda harus menenangkan diri dulu"


***


Kepala Lica semakin berdenyut usai mendapat penjelasan dari Nino. Bagaimana bisa kakaknya menahan semuanya sendiri, sedangkan Dia malah sering mengeluhkan berbagai hal yang dihadapinya pada Juna.


"Bisakah Kau diam? Kepalaku semakin sakit"


Lica memijat pelipisnya pelan, entah kenapa rasanya semakin sakit ketika berkali kali melihat Nino mondar mandir seperti setrikaan diruang tengah, Dia tampak berjalan keluar melihat kearah pintu lalu sesaat kemudian akan kembali lagi kedalam begitu berkali kali.


"Kak Ferdi mungkin masih dijalan, apa Kau tidak tahu ini hari senin, mungkin Dia terjebak ditengah macet"


"Baik Nona"


Apanya "Baik Nona" Dia bahkan terlalu sering mondar mandir.. Kakak lihatlah orang gila ini..


Lica semakin dibuat frustasi melihat tingkah Nino, belum lagi ketika ia harus dihadapkan dengan kemarahan Nino. Dia mengeluarkan kalimat super tajam yang siap mengoyak rasa bersalah manusia. Tapi mungkin Lica harus sedikit bernafas lega karena Nino tidak menggunakan kekerasan. Entahlah mungkin karena Dia calon kakak iparku? Mungkin...


Tapi lihat gadis itu, wajahnya merah penuh rasa bersalah. Dasar Nino gobl*k!! Aku kan jadi tidak punya kesempatan untuk menyapanya. Kenapa sih melampiaskan rasa bersalahmu padanya. Haaah.. Maaf kakak ipar, Dia memang gila.


Lica yang awalnya merasa sedikit bisa bernafas lega begitu melihat kedatangan Ferdi, dibuat semakin khawatir ketika Juna malah diangkat dan dipindahkan ke ambulance menuju rumah sakit. Dalam hati ketakutannya menjadi, Dia bahkan berkali kali mengucap doa agar Tuhan tidak mengambil kakaknya.


***


Setelah drama panjang, Juna membuka matanya. Disaat Dia membuka matanya pemandangan janggal membuat ia mengerjap berkali kali, mencoba memastikan apa Dia bermimpi atau bukan. Apa yang dilakukan bocah ini disini?


"Anda sudah sadar Tuan?" suara Nino selalu jadi yang pertama didengar Juna. Sudah seperti tradisi karena memang Nino tidak pernah melepaskan pandangannya dari Juna terlebih saat dia tidak sadarkan diri.


Ferdi mendekat, melakukan pemeriksaan. Setelahnya Dia tampak tersenyum karena mendapati kebingungan diwajah Juna.


"Kamu dirumah sakit" kalimat Ferdi menjawab pertanyaan dibenak Juna, seakan ia mendengarnya.


"Awalnya kupikir, Kamu darah tinggi yang menyebabkan otot dan persendianmu kaku, tapi syukurlah tidak" Ferdi tersenyum dengan terpaksa menahan geram, "Hemoglobinmu rendah dan demam tinggi"

__ADS_1


"Tuan Muda, Anda tahu kan. Anda membuat seisi rumah kalang kabut. Aku bahkan kecelakaan"


Juna hanya diam mendengarkan sesekali mengernyit, terlebih saat mendengar Ferdi kecelakaan. Dia bahkan memandang Ferdi lamat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yakin Ferdi tampak baik baik saja Dia kembali diam, membiarkan Ferdi menumpahkan semua yang ingin dikatakannya.


"Karena Anda sudah sadar, Saya permisi undur diri" tapi sesaat kemudian Dia kembali berbalik,


"Aah Saya teringat sesuatu, calon istri Anda mungkin sudah kabur karena dimaki Dia" menunjuk Nino dengan ekor matanya dan melanjutkan kalimatnya, "Anda tahu kan kekuatan mulutnya?"


Ferdi berucap dengan santai dan kalem, mengabaikan tatapan tajam Nino tentunya. Lalu kemudian meninggalkan ruang rawat inap Juna setelah puas menumpahkan kekesalannya.


***


Juna tersadar begitu mendengar apa yang dikatakan Ferdi, Dia kembali teringat bahwa tadi malam Dia bersama Vanya. Tapi dimana Dia sekarang? Pandangannya kembali mengedar mencari keberadaan gadis itu, tapi matanya malah mendapati tatapan Lica yang lurus menatapnya, membuat Dia gelagapan gugup.


"Apa maksudnya?" Juna bersuara setelah mendengar apa yang dikatakan Ferdi. Tatapannya lurus menatap Nino, orang kepercayannya.


"Dimana Vanya?" Juna semakin kesal mendapati Nino yang hanya diam, membuat emosinya tersulut "Jawab, Nino"


"Aku menyuruhnya makan siang, karena Aku tidak melihatnya makan sesuatu dari pagi" Lica menyela, memberi jawaban untuk pertanyaan Juna.


"Bukankah pasien seharusnya diam? Lalu kenapa Anda berisik?"


Juna mengerjap bingung, "Kenapa kamu disini?"


"Kakak tahu, Aku sekarang kelelahan. Tadi Aku ingin marah dan memakimu, tapi malah dihadapkan dengan kemarahan Dia" matanya beralih menunjuk Nino, lalu melanjutkan, "Walau kemarahannya bukan untukku, tapi Aku harus menenangkan diriku dan seseorang yang tampak lebih menyedihkan dariku"


"Apa sebegitu susahnya untuk memberitahuku, tidak bisakah Kakak memberitahuku, katakan saja Aku insomnia atau Aku ingin menikah. Apa tidak bisa?" air matanya banjir begitu saja.


"Tanganku diinfus, Aku tidak bisa bergerak. Kemarilah"


Sesaat kemudian Lica berhambur masuk dalam pelukan Juna, menumpahkan semua kesedihan yang tadi coba ditahannya. Bagaimana kalutnya Dia saat mendapati kondisi kesehatan Juna. Adik macam apa Dia yang bahkan tidak tahu kondisi kesehatan Kakak yang buruk.


"Apa kakak sengaja mengirimku agar jauh darimu? Supaya Aku bisa dibodohi?"


"Apa maksudmu, Kau yang merengek ingin sekolah keluar negeri"


"Jangan menikah tiba tiba. Jangan sakit tiba tiba.. Aku tidak bisa jika kakak juga pergi tiba tiba. Setelah Ayah dan Ibu, Aku tidak bisa jika tidak ada Kakak. Bagaimana Aku harus hidup kalau kakak tidak adaa" tangis Lica semakin deras.


"Kan ada Dia" jawaban kalem Juna mendapat pukulan dari Lica membuatnya mengaduh kesakitan.


"Sakit, Lica" Juna meringis kesakitan.


"Tidak mau! Kakak kan tahu, Dia seperti robot. Wajahnya cuma bisa berekspresi datar kalau nggak ya marah. Kakak tidak tahu kan semarah apa Dia tadi? Kakak ipar bahkan ketakutan dan tampak sangat iba minta dipungut tahu?!" Dia dengan semangat menunjukkan ketidak sukaannya tanpa memperdulikan Nino yang menatapnya. "Jangan ngomong aneh aneh ya, tarik lagi ucapan Kakak!"


"Sakit, panggil Ferdi sepertinya ini bengkak" Juna sedang berdramatisasi disaat yang bersamaan Vanya memasuki ruangan.

__ADS_1


Vanya tampak panik mendapati Juna yang tampak kesakitan menyentuh punggung bagian atas yang bahkan tidak bisa dijangkaunya.


"Kenapa, ada apa?" suara Vanya terdengar panik dan bingung


Bukannya berhenti, Juna malah semangat mengadu menunjukkan Dia sedang kesakitan.


"Dia memukulku" tunjuknya pada Lica, "Sakit Vanya"


"Hah? dipukul? Kenapa?"


"Dia.." masih menunjuk Lica yang kini menatap Juna jengah.


Vanya menatap gadis yang kini duduk disebelah Juna dengan heran. Apa yang sebenarnya terjadi. Belum selesai Vanya berpikir, Juna menariknya duduk dan memeluknya. Plak! tangan Lica kembali terangkat memukul lengan atas sebelah kanan Juna.


"Jangan lebay"


Vanya tentu dibuat terkejut dan Juna semakin mengaduh kesakitan dan memeluk Vanya erat. "Sakit Lica! Ayo laporkan Dia karena sudah kdrt"


Lica semakin jengah ingin memukul sekali lagi, tapi kini tangannya ditahan Nino, "Cukup, Nona"


"Kakak" Vanya bersuara dan mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Juna, "Lepas, bicara dulu"


"Apa? Aku mau dipeluk"


Vanya dibuat berdebar sekaligus malu. "Lepas kak"


"Kenapa Kakak bisa dipukul?" Vanya bertanya setelah dirinya terbebas, "Apa Kakak membuatnya sakit hati?"


"Iya, Kakak ipar tidak tahukan? Dia orang paling menyebalkan" Lica menjawab tanpa permisi.


Kakak ipar?


"Kau bahkan tadi menangis seperti bayi, sekarang malah bisa bilang Aku menyebalkan. Sana balik ke London"


Ucapan Juna tentu membuat Lica mencak mencak, tangannya malah kembali terangkat ingin menganiaya tubuh Juna. Tapi tertahan karena Nino, membuatnya frustasi.


"Kakak ipar, ayo berpikir ulang. Yakin mau nikah sama orang menyebalkan macam Dia?" Lica kini mendekati Vanya ingin memprovokasi.


"Kakak ipar?" Vanya dibuat bingung, dan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum canggung menatap gadis didepannya.


"Dia adiknya Tuan Muda, Nona" jawaban singkat Nino malah membuat Vanya semakin bingung.


Adik? Bukan pacar, atau mantan? Lalu untuk apa Aku mempersiapkan hati? Pikiranku bahkan kemana mana..


"Apa Aku belum memperkenalkan diri?" Lica kini dibuat bingung, Dia bahkan mengingat ingat kembali apa yang tadi mereka bicarakan.

__ADS_1


"Yasudah diulang lagi saja, Aku adiknya Dia" tunjuknya pada Juna yang kini duduk bersandar diatas tempat tidur khusus pasien, "Perkenalkan Angelica Anggara Wijaya" ucapnya demgan senyum manis.


***


__ADS_2