Jangan Mempermainkanku

Jangan Mempermainkanku
Presdir??


__ADS_3

Kelopak mata Vanya mengerjap, Dia tampak tengah mengumpulkan kesadarannya. Napasnya tidak normal berat seakan tertindih sesuatu, kepalanya pusing berdenyut nyeri. Setelah matanya terbuka sempurna Vanya menatap kosong interior ruangan tersebut. Ruangan asing yang tak pernah Dia masuki.


"Aku dimana?" Suaranya bahkan berat seakan tak bisa keluar, kerongkongannya perih.


Matanya melonjak kaget begitu melihat tangan kokoh berotot tengah bergelayut ditubuhnya, napasnya memburu seketika karena kaget.


Siapa?? Mungkinkah Bram??


Jantungnya seketika berdebar, takut akan bayangannya barusan. Kini Vanya bahkan merasa tak terima jika disentuh Bram setelah apa yang dilakukan Pria tersebut.


Dengan menahan debaran jantungnya, pelan Vanya berusaha berbalik untuk memastikan si empunya tangan yang tengah memeluknya posesif, takut juga akan skenario gila yang sekelebat datang tampa permisi. Bayangannya bahkan menjumpai dirinya bersama pria mesum tua.


Jangan!! Jangan sampai Tuhan!! Tolong jangan!!


Dia bahkan berteriak memohon dalam pikirannya. Vanya yang lemas berusaha berbalik menahan tangan bak beton itu, entah karena tubuhnya yang lemas atau karena tangan orang itu yang berat. Entahlah. Dengan takut takut dan berdebar Dia berbalik sembari menutup matanya.


Mata Vanya terbelalak sempurna melihat visual pria yang terbaring disampingnya. Tampan. Hanya itu kata yang dapat mewakili Pria itu. Wajahnya terpahat sempurna dengan kulit putih bak salju. Refleks tangan Vanya terangkat, namun sepersekian detik kemudian Dia tersadar menatap tangannya yang kini menggantung di udara.


Gila!! Vanya kau gila!! Bagaimana bisa kau ingin menyentuhnya!!


Aargghhhh!!!


Teriakan Vanya bergema diruangan asing tersebut. Tanpa sadar Dia berteriak usai melihat dada Pria tersebut yang mengintip dibalik bathrobe yang dikenakannya.


*Bathrobe?? Dia pakai bathdrobe


Gila!! Gila!! Gila!! Apa yang telah kulakukan??! Vanya sadarlah*...


Vanya masih menatap wajah laki laki asing itu. Matanya tampak mengernyit, kaget karena teriakan Vanya. Detik berikutnya mata itu terbuka menatap mata Vanya dalam. Sorot matanya tegas dan dalam


"Kenapa?" Suara berat itu mengalun menambah keterkejutan Vanya, Dia bahkan mencubit tangannya sendiri memastikan bukan mimpi. Detik berikutnya teriakannya kembali bergema sadar akan bajunya yang telah berganti.


Apa yang terjadi??

__ADS_1


"Jangan teriak. Apa kau tuli?" Nada kesal kembali terdengar, kernyitan didahinya bahkan makin dalam.


Vanya kembali kaget usai beberapa saat kemudian pintu ruangan tersebut terbuka dengan cara paksa. Lebih kaget lagi begitu melihat siapa yang membuka pintu. Wajah yang tak asing bagi Vanya. Wajah dingin yang selalu membuat ia terkadang lupa bernapas saat presentesai rapat dikantornya. Semakin kaget lagi melihat beberapa Pria bertubuh tegap mengikuti dibelakangnya. Ekspresi mereka semua sama menunjukkan keterkejutan dan kekhawatiran yang terpampang jelas. Membuat Vanya mengkerut dan refleks menutupi wajahnya menyisakan matanya yang tengah melotot.


Apa yang terjadi?? Bagaimana mungkin Aku disini? Dan kenapa atasanku dari kantor pusat disini??


Vanya menjambak rambutnya frustasi mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.


***


Aaaarrrghh!!


Prrrannnk


Bruukkh


Suara teriakan melengking wanita bergema keseisi villa bersamaan dengan cangkir berisi teh yang tengah digenggam Nino, jatuh berserakan kesana kemari usai menghantam lantai marmer yang dia pijak. Suara itu berasal dari kamar Tuan Muda. Nino kaget dadanya bahkan bergemuruh takut akan kondisi buruk yang mungkin dialami Juna didalam kamar.


Beberapa pengawal yang berjaga diluar vila masuk kedalam usai mendengar suara tersebut. Mereka mematung sesaat mendapati Nino yang tengah berdiri ditengah ruangan makan, Dia bahkan tampak mengabaikan pecahan cangkir didekat kakinya, rahangnya bergemeletuk menahan kemarahan bercampur kekhawatiran. Dengan takut salah satu pengawal bersuara usai mata mereka bertemu "Tuan...?"


Sialan!! Aku akan mematahkan tangan dan kakimu jika menyentuhnya!!


Kalimat makian bergema dalam otak Nino, bagaimana bisa perempuan itu berteriak sekeras itu.


Brakk


Daun pintu itu berbunyi keras dibuka Nino. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar Juna. Menatap Juna yang tengah mengernyit.


"Tuan, Anda tidak apa apa?" Pelan Dia menyentuh lengan Juna saat melihat Juna yang tengah berusaha bangun untuk duduk. Tangannya berhenti usai tangan Juna terangkat menandakan tak perlu bantuan. Nino hanya diam menatap lamat Juna tanpa menghiraukan wanita disebelah Tuannya yang tengah menutup wajahnya bersembunyi dibalik selimutnya.


"Juna!! Kenapa? Ada apa??" Dokter Ferdi berucap disela napasnya yang ngos ngosan, Dia bahkan hampir jatuh jika lengannya tak ditahan salah satu pengawal Juna. Dia berlari sekuat tenaga usai mendengar teriakan Vanya, lebih kaget lagi ketika melihat Nino dan beberapa pengawal Juna berlari menaiki tangga.


Setelah melihat kernyitan Juna Dokter kembali bersuara "Kenapa? Kepala mu sakit??" Masih berusaha mengatur napas. Matanya bahkan kini berkeliling mengamati kamar Juna.

__ADS_1


"Keluar" Tangan Juna kembali terangkat lalu bergerak mengusir semua orang yang telah menerobos kamarnya, Nino masih diam ditempatnya, Ferdi sedang mengatur napasnya, hanya 3 orang pengawal tersebut yang beranjak dari sana.


Telinga Juna berdenging keras agak lama dari biasanya, kepalanya berdenyut nyeri usai keributan yang terjadi dikamarnya. Teriakan Vanya ditambah keributan orang orang yang menerobos kamarnya. Sebenarnya Juna juga tidak bisa marah kepada mereka, terlebih Nino. Saat Dia pingsan Nino adalah wajah pertama yang sering Juna temukan selain Ferdi, Dia akan berdiri diam menatap Juna dengan mata serta wajah yang merah. Marah, sedih bahkan ada rasa iba dan sayang tercetak disana membuat rasa bersalah kerap datang menjumpai Juna.


"Pindahkan Dia" Tunjuknya pada Vanya.


"Baik Tuan" Nino patuh keluar ruangan dan sesaat kemudian kembali diikuti seorang Pelayan wanita.


Juna masih memijat pelipisnya pelan. Baru pertama kali Dia dibangunkan dengan cara tak biasa tersebut. Telinganya memang sensitif, Dia tidak bisa dikagetkan dengan suara keras yang tiba tiba. Apalagi jika dibangunkan dengan teriakan super keras seperti tadi, telinganya berdenging cukup keras dan lama diiringi kepalanya yang berdenyut nyeri. Dia bahkan kesulitan untuk duduk karena dunia seakan berputar.


***


Vanya mondar mandir khawatir akan masa depannya. Apa yang terjadi?


Dia mulai berpikir merunut kejadian tadi malam. Usai lembur Dia yang kelaparan malah tidak jadi makan karena melihat Bram keluar dari cafe, Dia mengikutinya sampai ke Bar. Hingga Dia melihat Bram yang tengah bermesraan dengan wanita lain, setelahnya Dia keluar untuk pulang...


Apa kelanjutannya?? Kenapa Aku tidak ingat?? Tapi Aku tidak minum. Aku tidak mabuk!! Bagaimana bisa aku tidak ingat??!


Vanya merasa yakin bahwa Dia tidak menenggak minuman berakohol. Tapi pertanyaan terbesarnya tentu mengenai kenapa Dia ada disini? Dirumah super mewah yang bahkan Dia tak tahu dimana. Kenapa gue disini?? Ayah.. Bunda.. hiks.. hiks.


Bos seram yang sering Dia temui tiap empat bulan sekali saat rapat dikantornya, saat tiap departemen akan memberikan laporan. Tuan Nino atau Sekretaris Nino begitulah semua karyawan mengenalnya. Pria itu dingin dengan rahang tegas, jarang tersenyum apalagi menyapa. Dia hanya akan mengangguk sedikit jika disapa. Suaranya bahkan jarang terdengar. Dia terkenal diantara para pegawai wanita sebagai Pria tampan dingin. Ketenarannya bahkan melebihi Presdir, karena walau beberapa menyebut sang Presdir juga tampan tapi jarang terlihat apalagi dikantor cabang seperti kantornya.


Presdir??


"Tuan Anda tidak apa apa??"


Vanya terduduk lemas tanpa memperhatikan tempat Dia mendarat. Presdir?? Mungkinkah?? Kakinya lemas. Tanpa menghiraukan dinginnya lantai yang kini Dia duduki, ingatannya kembali berputar mengingat beberapa saat yang lalu. Sekretaris Nino memanggil seseorang dengan kalimat Tuan. Dia bahkan berlari memasuki kamar tanpa memperhatikan tatakrama belum lagi Pria berbadan tegap yang mengikuti dibelakangnya.


Presdir?? Tuhan sebenarnya apa yang terjadi padaku tadi malam?? Hiks.


Ceklek.


Pintu kamarnya terbuka memperlihatkan sosok Pria yang bingung menatapnya yang duduk bersimpuh di lantai.

__ADS_1


"Anda tidak apa apa?"


***


__ADS_2