Jangan Mempermainkanku

Jangan Mempermainkanku
Gaun pengantin..


__ADS_3

"Inii.. apa??"


Vanya mengerjapkan matanya bingung lalu ia beralih menatap Pria disampingnya dan kembali menatap deretan baju yang berjejer rapi didepannya bergantian. Baju baju tersebut merupakan gaun dengan berbagai jenis rata rata didominasi warna putih.


Beberapa saat yang lalu, Juna menghubunginya. Dengan gelagapan Vanya menjawab, Dia kaget begitu mendengar suara yang cukup familiar ditelinganya menyapa melalui sambungan telponnya. Tuan Muda menghubungi. Isinya hanya memberi tahu bahwa Dia dibawah menunggu Vanya.


Dan disinilah kini Vanya berada. Dia tengah duduk manis disebuah sofa disalah satu butik ternama yang hanya menyajikan brand ternama dunia yang terkenal memiliki harga fantastis. Vanya bahkan seringkali heran bagaimana bisa harganya semahal itu, apa mereka merajut kainnya dari emas?!


***


"Dress"


Jawaban dari Juna tentu membuat Vanya sedikit terperangah.


Aku tahu!!! Tapi untuk apa?? Dasar Tuan Muda aneh.


"Saya tahu Tuan. Tapi untuk apa?"


Vanya kembali menatap beberapa gaun tersebut yang mempunyai desain beragam. Ada yang membentuk tubuh, ada yang mengembang menjuntai menyentuh lantai, dan yang lainnya.


"Ck.. Menurutmu untuk dipakai kemana?? Jalan jalan?? Apa otakmu tidak isinya? Itu gaun pernikahan, bodoh"


Juna menunjukkan kekesalannya setelah pertanyaan bodoh Vanya terdengar. Sepanjang perjalanan tadi Dia cukup bahagia dan berpikir Vanya aka terharu atas waktu yang telah diluangkannya, tapi kini Dia kesal.


Apa apaan Dia?! Apa kau sungguh bodoh?! Aku bahkan mengosongkan jadwalku untuk menemanimu!! Lihat ekspresi bodohnya itu.. Cih..


Mendengar kalimat tajam Juna tentu Vanya cemberut. Dia kesal karena diseret kesini ditengah pekerjaannya yang menumpuk. Vanya tentu tahu untuk apa tujuannya Dia diseret kemari, memilih gaun pemgantin.


Tapi.. Urutanmu salah wahai Tuan Muda.. Kau bahkan belum menemui keluargaku!!?Aku bahkan bingung akan menjelaskan apa jika Ayah atau Ibu bertanya.. Tapi ini?? Gaun?? Haaah.. Vanya makin cemberut.


"Tapi Tuan.."


"Apa?! Sana pilih!! Aku sibuk" Juna mulai jengah


Aku juga sibuk Tuan!! Laporanku bahkan belum selesai, tapi Anda menyeretku kesini ditengah kesibukanmu??! Aku juga sibuk!! Sangat sibuk!!


Dengan menahan kesal Vanya menjawab, "Tuan untuk apa Saya memilih gaun? Anda bahkan belum bertemu keluargaku, Tuan.."

__ADS_1


Vanya bahkan mati matian mencoba mempertahankan senyum dibibirnya.


"Bertemu untuk apa?" jawaban Juna tentu semakin membuat Vanya kesal.


Untuk piknik!!! Siapa sih yang bodoh disini, Anda yang bodoh!! Bukan Aku!! Kyaaaa


Vanya makin frustasi, tapi Dia hanya mampu memaki dalam hati.


"Tentu saja untuk meminta restu.. Pertemuan keluarga saja belum, untuk apa gaun pengantin? Bagaimana jika Ayahku tidak menyetejui Anda?"


Juna mengerjap, "Dia akan setuju" yakin Dia menjawab bahkan hanya dalam sepersekian detik.


"Bagaimana Anda bisa yakin Tuan??!" Vanya menahan geram


"Karena Aku akan membuatnya setuju" santai Juna menjawab, "Sekarang cepat pilih!!"


Vanya masih memutar bola matanya bingung


"Haaah" Juna mendesah kesal, Dia lalu mengangkat jemarinya memanggil Nino mendekat.


"Kirim semuanya kerumah si bodoh ini" Juna berkata sambil melirik Vanya kesal "Tidak kosongkan saja tokonya dan penuhi rumahnya dengan itu" Dia kembali meralat perintahnya.


Heh mulut, kenapa kau mengatakan sesuatu yang harusnya hanya ada diotakku?? Lagian Dia gila!! Apartemenku kecil, tidak akan muat dengan setengah barang dari toko itu, apalagi semuanya??! Hiks.. Seram.. Dia menyeramkan.. Bagaimana Aku bisa hidup diantara orang orang menakutkan ini.. Hiks


***


Setelah mendengarkan berbagai penjelasan dari salah satu pegawai toko tersebut, pilihan Vanya jatuh pada salah satu gaun putih berhiaskan batu berwarna pink salem.


Gaun itu memiliki potongan ngepas yang membentuk bagian atas tubuh, dan mengembang dari pinggang kebawah berhiaskan bunga bunga kecil yang dibagian tengah tiap bunga ada batu kecil berkilau berwarna pink salem lembut.


Cantik.. Saat dikatalok kenapa cantik??


Vanya kini tengah menatap pantulan dirinya didepan cermin besar. Namun tampaknya gaun yang tengah dia kenakan terlalu kepanjangan untuk tubuhnya. Pinggangnya turun tidak berada ditempat yang seharusnya, dan bagian bawah gaun tersebut panjang menyentuh lantai dan sudah pasti akan terinjak jika Vanya berjalan.


Itu sudah gaun yang ukurannya kecil, tapi sepertinya harus dirombak ulang agar benar benar pas ditubuh Vanya.


Juna kini tergelak melihat Vanya, "Apa ini? Apa yang kau lakukan selama masa pertumbuhanmu?? Hahahah" Dia terpingkal menertawakan Vanya "Apa jika Aku memberimu susu formula tinggimu akan bertambah??" Hahahah

__ADS_1


Anda bahagia?? Dasar menyebalkan!!


Vanya kini cemberut, kesal karena tawa Juna bertahan lama. Walau sering menyangkal, tentu Vanya sadar, tubuhnya memang tidak tinggi tapi juga tidak sependek itu untuk ditertawakan. Kesal Dia cemberut.


Juna masih tergelak, makin gemas dengan Vanya, tangannya terangkat mencubit gemas pipi Vanya, membuat Vanya yang terkejut malah merona malu.


Imut.. Kenapa pipinya jadi makin besar menggembung.. Menggemaskan.. Juna mencubit pipi Vanya gemas kiri dan kanan lalu memainkannya.


Vanya menarik dirinya dari Juna, mencoba membuat jarak untuk menormalkan dirinya. Matanya mengerjap cepat berulang kali, belum lagi degup jantungnya yang makin cepat. Dia berdebar, bahkan tanpa disadarinya rona malu muncul diwajahnya.


Kenapa? Kenapa aku berdebar karena orang menyebalkan ini?? Heh jantung diamlah..


"Aku.. mau ganti baju" Vanya kabur mencari alasan


***


Seseorang sedang duduk di lobi apartemen Vanya, sesekali pandangannya beralih pada pintu masuk. Dia menunggu Vanya, Dia memilih menunggu di lobi setelah berkali kali membunyikan bel dan menggedor pintu unit apartemen Vanya namun tak mendapat jawaban dari dalam.


Bram mulai kesal karena Dia menunggu sejak sore, tepatnya jam 4.30 tapi Vanya belum juga pulang. Dia kembali melirik jam tangannya yang kini menunjukkan jam 7.25 perutnya kini mulai keroncongan. Setelah berhari hari pesan dan telponnya tidak ditanggapi Vanya, Bram malah menerima pesan singkat berisikan kalimat putus. Membuatnya tak terima dan memilih mendatangi Vanya.


Setelah tak mampu menahan lapar yang menggerogotinya, Bram memilih berdiri. Dia berencana akan menunggu Vanya di cafe seberang apartemen Vanya, sambil menyesap kopi dan sandwich mungkin? Dia kelaparan. Namun belum sampai Bram melewati pintu masuk yang terbuat dari kaca transparan tersebut, Dia melihat Vanya yang keluar dari mobil yang tak dikenalinya. Bukan mobil Vanya tentu saja.


Mobil itu tampak mewah dan elegan, yang merupakan salah satu mobil yang diproduksi dari merk ternama dunia, harganya fantastis karena hanya diproduksi dalam jumlah terbatas. Bram mengenalinya karena Dia tertarik, namun apa daya duitnya tak mencukupi, Ayahnya bahkan tidak ingin membantunya.


Kening Bram berkerut, heran kenapa kekasihnya bisa keluar dari sana, apa yang terjadi.


***


Vanya terkejut ketika tubuhnya ditarik masuk kepelukan seseorang. Dia berteriak terkejut, berusaha meloloskan dirinya.


"Sayang.."


Bukannya tenang, Vanya semakin berontak setelah mendengar suara Bram.


Sesaat kemudian pelukan Bram lepas seiring dengan tubuh Bram yang terhuyung ke belakang. Seseorang menarik kerah belakangnya kuat, dan membuat tubuh Bram terhempas membentur lantai.


Vanya ikut oleng sesaat sebelum tangan kokoh menahan tubuhnya. Juna kembali dengan matanya yang berkobar menunjukkan kemarahannya.

__ADS_1


Ada apa ini???


***


__ADS_2