
Vanya sedang diam, tidak ingin melakuka apapun. Setelah pulang bekerja Dia membersihkan dirinya dan naik ke atas ranjangnya, melipat kakinya dan bersandar dikepala ranjangnya. Hanya diam dan merenung.
Dia sedang berpikir, benarkan apa yang telah dilakukannya? Benarkah keputusannya? Menikah?! Bagaimana dia bisa menikah dengan seseorang yang bahkan tidak dia kenali. Keinginannya untuk menikah dengan penuh cinta kini tinggal angan. Seseorang yang dicintainya bahkan menghancurkan kepercayaannya, lalu masih bisakah ia berharap? Apa yang bisa diharapkannya dari seseorang yang punya segalanya seperti Tuan Juna?
Entahlah.
Dia bingung, bahkan untuk sekedar berbagi keluh kesahnya pada seseorang pun dia tak sanggup. Rasa malu menggerogotinya hingga menahan semua keinginannya untuk bercerita menumpahkan semua isi hatinya. Bahkan pada sahabatnya sekalipun. Dia terlalu malu. Walau sebenarnya dia agak bimbang.
Benarkah dia melakukan hubungan satu malam dengan Tuan Muda? Saat bangun tidurpun dia bahkan tak merasakan ada hal janggal pada dirinya. Padahal sebelumnya sahabatnya Alea, pernah menceritakan bagaimana ia kesulitan berjalan setelah malam pertama pernikahannya. Cerita itu pun bahkan disambut heboh dengan teriakan sorak sorai dari sahabat lainnya. Lalu apa yang terjadi padanya? Vanya bahkan tak merasakan apapun.
Normalkah dirinya? Dia bahkan telah mencari berbagai informasi terkait dari mesin pencarian di ponselnya. Tapi sayangnya, dia tidak menemukan hasil apapun. Dari berbagai sumber dia hanya mengetahui bahwa reaksi tersebut tergantung pada tubuh masing masing individu yang berbeda. Vanya pun makin bingung akan tubuhnya.
Tapi jika memikirkan bahwa hal tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang tak dia harapkan, tentu Vanya tak sanggup menghadapinya sendiri. Dia tentu tidak akan sanggup jika menghadapi Ayah dan ibunya. Bagaimana mungkin dia tega menghancurkan hati mereka beserta kepercayaan penuh yang dia dapatkan.
Tapi jika benar tidak ada hubungan satu malam maka kenapa? Tidak mungkinkan dia dibohongi? Untuk apa? Apa keuntungan yang akan didapat seseorang seperti Tuan Juna yang bahkan tampak seperti telah memiliki segalanya.
*Dia bahkan bisa mendapatkan wanita manapun.
Haaah*...
__ADS_1
Yang mampu Vanya lakukan sekarang hanyalah berdoa. Semoga apa yang akan dia hadapi kedepannya bukanlah hal buruk dan akan mendatangkan hasil baik untuk dirinya ataupun keluarganya. Disaat Dia tak bisa bercerita pada manusia, maka Dia akan menjadikan Tuhan sebagai tempatnya bersandar dan berkeluh kesah.
Dia tentu tak mengharapkan cinta Juna, namun juga tak mengharapkan hal buruk seperti kebencian yang mungkin akan tertuju padanya dari keluarga besar Juna.
Malam itu Vanya hanya bisa berharap. Semoga keputusan mereka untuk menkah merupakan keputusan terbaik dan jalan terbaik untuk kehidupan mereka kedepannya.
***
Setelah berkali kali mengabaikan dering ponselnya, Vanya menatap layar tersebut yang menampilkan panggilan dari Bram. Dia sedang tak berminat meladeni Bram. Menggulir layar ponselnya masuk ke dalam aplikasi pesan. Mengabaikan puluhan pesan Bram yang belum dibukanya, dia beralih membuka obrolan grupchat dari para sahabatnya.
Mereka heboh memberi selamat untuk foto Alea yang tengah tersenyum dengan jemarinya sedang menggenggam sebuah benda kecil ramping yang menunjukkan garis dua, menandakan dirinya tengah hamil muda. Berbagai kata berisi untaian doa pun mengalir dari yang lainnya. Beberapa bahkan menunjukkan rasa iri mereka, ingin segera ada diposisi Alea, lupa bahwa dirinya jomblo. Mereka bahkan tengah membayangkan menggendong bayi mungil lucu. Perjalananmu masih jauh wahai kaum kaum jomblo. Heheh.
***
Dokter Ferdi tertegun mendengar rencana Juna. Bagaimana mungkin Dia akan menikahi seseorang yang bahkan baru sekali ditemuinya?
"Juna.. Kau yakin?" entah sudah berapa kali dia menanyakan hal ini pada Juna, dan setiap pertanyaan itu terlontar dia akan mengangguk menunjukkan keyakinannya.
"Kau yakin? Kalau salah bagaimana?"
__ADS_1
"Tentu saja yakin" Juna terdiam sebentar "Kalau salah maka... Hmmm.. akan kupikirkan nanti" dia nyengir dan dibalas Ferdi dengan decak kesal.
"Apa yang membuat Kau yakin Jun?"
"Aku tidur"
"Kau lihat sendiri kan Aku tidur semalaman!!"
"Dan sangat nyenyak Ferdi.."
Juna tampak sangat yakin, bahkan terlalu yakin. Walau agak sangsi, Ferdi hanya diam. Setelah botol infusnya kosong, Dia pun bergerak mencabut jarum yang tadi menancap pada kulit Juna, lalu dengan telaten membersihkannya dan menempelkan plester bening kecil.
"Semoga saja kamu tidak salah Jun.." pelan Ferdi bersuara.
"Dan apapun tujuan awalmu.. Aku akan selalu berdoa untukmu, untuk kebahagiaanmu.."
"Aku berharap hubungan kalian tidak saling menyakiti satu sama lain.."
Kini Ferdi tersenyum, setelah menyelesaikan semua tugasnya malam itu Dia pamit dan meninggalkan kamar Juna. Dia keluar dengan membawa kembali bonekanya. Jika Juna tak mau, maka dia yang akan memeluknya. Dalam hati dia berharap Juna akan mendapatkan kebahagiaannya.
__ADS_1
***