
"Dokter, apa Kakak begini karena Aku?" suara Vanya terdengar pelan, bercampur isak tangis yang coba ditahannya sekuat tenaga, matanya bahkan merah menahan air mata dengan sekuat tenaganya.
"Hmm? Maksudnya?" Dokter Ferdi bingung seketika, tidak mengerti arah pembicaraan Vanya.
"Aku bukannya cuma ingin diam, tapi Aku tidak bisa bergerak"
Ferdi masih bingung, ribuan pertanyaan muncul dibenaknya, tapi sepertinya kondisi saat ini juga akibat orang yang sedang berdiri disampingnya kini. Nino tampak diam, tidak merespon apapun, matanya tampak hanya memperhatikan Juna yang masih tertidur.
"Memang kenapa Nona?"
"Aku tidak memberitahu kondisi Kakak pada Sekretaris Nino, tapi bukannya karena Aku tidak mau.." tangis Vanya mulai terdengar pelan terisak, Dia sudah tak mampu menahannya, ucapannya Sekretaris Nino masih terngiang ngiang ditelinganya.
Lalu kemudian Dia mencoba melanjutkan apa yang ingin dikatakannya, "Aku bahkan tidak bisa memindahkan tangan kakak, bagaimana bisa Aku bergerak?!" huahuhu tangis Vanya pecah seketika.
"Hah?! Maksudnya? Bisakah Anda mengulang penjelasannya? Aku masih tidak mengerti"
"Dia harusnya memberitahu lebih awal, dari tadi malam, bukannya saat pagi dengan matahari yang telah muncul Dokter" suara Nino menyela, terdengar dingin, Dia bahkan berkata dengan menekankan tiap kalimatnya menahan kemarahannya.
Ferdi mengerjap, otaknya sedang berpikir keras mencoba merangkai informasi tidak jelas dari dua orang tersebut.
"Jam berapa kejadiannya, Nona?"
"Tidak tahu.. Aku tidak bisa bergerak, yang pasti masih malam" Vanya mencoba menjelaskan, Dia bahkan mencoba menahan tangisnya "Aku bahkan mencoba mengangkat tangannya, tapi tidak bisa, sungguh, Aku tidak berbohong"
"Apa maksudnya tangannya kaku?"
"Hmm tidak tahu, Aku tidak memeriksanya Dokter, tapi Kak Juna berkeringat banyak dan bergumam tidak jelas. Aku tidak memperhatikan apa tangannya kaku atau tidak"
Ferdi kini beralih menatap Nino, "Kapan terakhir kali pemeriksaan rutinnya Juna?"
"2 bulan yang lalu Dokter"
"Ayo kerumahsakit, pemeriksaan lengkap saja"
"Bukankah tadi Anda yang bilang bahwa kondisinya stabil?"
__ADS_1
Emosinya semakin tersulut, Dia merasa kalut dan merasa bersalah bersamaan. Bagaimana bisa Dia kecolongan mengenai kondisi Juna, Dia semakin frustasi.
"Memang stabil, tapi kita tidak tahu kan kondisi sebenarnya, kalau tangannya kaku, atau persendiannya kaku ada kemungkinan lain, karena itu kita perlu pemeriksaan lanjutan"
"Juna tidak apa apa, bukankah kau lihat sendiri demamnya pun sudah reda, tapi kita tentu perlu pemeriksaan lengkap laboratorium dan sekalian saja pemeriksaan lengkap bulanan, Ok?" "Anggap saja ini kesempatan emas karena Dia sering kabur dengan alasan sibuk yaa Nino"
Ferdi kini mengelus dadanya, Dia harus punya stok ekstra sabar menghadapi manusia satu ini. Sabar.. Sabarr wahai diriku yang tampan dan pintar... Dia memang selalu begitukan? Mari yang waras yang sabar..
***
Sesampainya dirumah sakit, pemeriksaan lengkap untuk Juna dilakukan. Vanya tidak tahu pasti jenis pemeriksaannya, Dia pun juga tidak diberi penjelasan apa apa. Dia hanya bisa duduk diam dikursi tunggu didepan ruangan rawat inap Juna. Hanya diam, dan menunggu dengan pikiran campur aduk. Rasa bersalah hadir menambah beban pikirannya.
"Tidak apa apa"
Seorang wanita kini merangkul Vanya, mencoba memberinya ketenangan. "Aku Lica" ucapnya dengan senyum mengembang walau raut khawatir masih ada diwajahnya.
Vanya menatap gadis itu, "Aku Vanya" jawabnya ditengah isak tangis yang coba ditahannya, tapi entah kenapa bukannya berhenti Dia malah semakin deras terisak dalam tangisannya.
"Sudah.. Tidak apa apa" Lica menepuk pelan punggung Vanya, lalu Dia melanjutkan, "Nino memang begitu, Dia tidak tahu caranya bicara yang sopan. Dia hanya bisa sopan pada Kak Juna"
Dia berbicara tanpa menghiraukan Nino yang kini berdiri didepan mereka. Nino berdiri disamping pintu masuk ruangan VIP Rumah sakit tersebut dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Sebelumnya Dia diusir Ferdi dari dalam ruangan membuat Vanya bergidik ngeri.
Vanya menggelengkan kepalanya kuat, ngeri sendiri dengan pikirannya. Dia diam berdoa untuk kesembuhan Juna.
***
Beberapa jam yang lalu..
Bandara pagi itu tampak tidak begitu sesak dengan antrian panjang. Mungkin karena waktu yang masih menunjukkan angka 6, masih terlalu pagi untuk melakukan perjalanan jauh. Hanya beberapa kesibukan yang terlihat.
Seorang gadis manis baru saja keluar dari pintu kedatangan luar negeri, Dia celingukan kiri kanan mencari apa adakah yang menjemputnya. Karena tidak menemukan apa yang Dia cari, Dia pun berjalan keluar dan menaiki taksi. Dia kesal setelah mendapat kabar mengenai pernikahan kakaknya dari orang lain.
Setelah sambungan teleponnya dengan Ferdi, seperti sedang dikejar oleh sesuatu, Lica mengepak beberapa pakaiannya, lalu kebandara memesan penerbangan paling cepat. Dan disinilah Dia kini berada, setelah penerbangan panjangnya, Dia dibuat semakin kesal ketika tidak menemukan Kakaknya dirumah utama. Beberapa tim keamanan dibuat pusing ketakutan menjawab pertanyaan Lica.
Dia di vila?? Setelah merencanakan pernikahan yang bahkan tidak melibatkanku Dia ada di vila??
__ADS_1
Seperti kesetanan, Dia melajukan kendaraannya dengan kecepatan maksimal menuju vila keluarganya. Bahkan setelah sampai di vila pun, langkahnya tertahan beberapa kali
"Nona" langkah kaki Lica berhenti setelah pergelangan tangannya dicekal Nino, laki laki itu tampak terengah setelah berlarian. Pakaiannya tampak basah dan ketat, baru selesai olahraga sepertinya.
"Lepas!!" Lica kesal dan bahkan menghentakkan tangannya kuat, membuat Nino segera melepas tangannya. Karena jika tidak segera dilepasnya, bukan tidak mungkin gerakan Lica akan menimbulkan bekas memerah.
Dan reaksi Nino membuat Lica memanfaatkan waktu yang ada, dengan cepat tangannya meraih handel pintu dan cleck pintu terbuka, namun tubuhnya kembali terhalang.
"Anda tidak boleh masuk, Nona" Nino merentangkan tangannya menghalangi Lica melangkah.
Lica tentu dibuat semakin frustasi marah dan kesal. Matanya kini menatap Nino tajam.
"Minggir! Apa Kau tidak mendengarku?!"
"Dia mau menikah tapi tidak memberitahuku? Tahukah Kamu sekarang Aku sedang marah?! Jangan menghalangiku, Nino!" suara Lica semakin keras menumpahkan kemarahannya pada Nino
"Anda tidak boleh masuk Nona, Tuan Muda sedang tidur" kini suara Nino menyahut pelan
"Tidur? Dia bisa tidur saat Aku bahkan lupa waktu dan mengejarnya dari benua lain?" sindiran keras penuh kemarahan terlontar
"Nona.. Suara Anda akan membuat Tuan terbangun" kini suaranya setengah memelas.
"Tentu saja Dia harus bangun. Sekarang sudah pagi. Minggir!"
"Nona.. Tuan sudah tidak tidur selama seminggu. Pelankan suara Anda.."
"Haaah?? Seminggu? Memang apa yang dilakukan Tuan Mudamu?!
"Sekretaris Nino" suara seorang wanita menyela, membuat perhatian Nino dan Lica teralihkan padanya.
Lica semakin kesal melihat seorang wanita muncul dibalik tubuh Nino, keluar dari kamar Juna. "Bukankah Dia akan menikah?? Lalu kenapa ada wanita keluar dari kamarnya? Apa yang dilakukan Tuan Mudamu, Nino?!"
Lica semakin mencak mencak menumpahkan kemarahannya dan ingin memaki Juna, tapi sesaat kemudian Dia terdiam melihat bagaimana wajah pucat kakaknya, entah kenapa Dia lemas seketika. Dia terduduk dilantai, seolah tidak punya tenaga lagi untuk menopang tubuhnya.
Nino menatap Lica, jemarinya masih sibuk menekan deretan tombol di ponselnya lalu berbicara pada Ferdi diseberangnya. Setelahnya Nino membantu Lica berdiri, dan memapah Lica yang tampak pucat meninggalkan kamar Juna.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?"
***