Jangan Mempermainkanku

Jangan Mempermainkanku
Kecelakaan Ferdi


__ADS_3

Seorang perempuan sedang duduk bersandar diranjang pasien disalah satu rumah sakit di Ibukota. Matanya mengedar menatap sekeliling ruangan yang ditemmpatinya. Sungguh bukan ruangan yang manusiawi terlebih untuk kantongnya. Sekali lihat pun, Dia tentu tahu itu ruangan VIP.


Tapiii, kenapa Aku disini?? Bagaimana kalau orang yang tadi beneran kabur?? Aku harus bayar pakai apa.. Hiks.. Tuhan tolong hukum orang yang tadi menabrakku, bukan jangan biarkan Dia kabur Tuhan.. hiks.


Pikiran buruk tentu sudah menguasai diri Ayra, Dia adalah merupakan anak kos yang jauh dari keluarga dan hidup dengan hanya mengandalkan gaji bulanan. Tentu dalam hati Dia takut jika orang yang tadi menabraknya kabur.


Setelah ditinggal si pengemudi mobil yang menabraknya, Dia dibawa seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai perawat bernama Irwan. Irwan juga yang tadi mengantarkannya ke ruangan ini.


"Kak Irwan, yakin Aku dirawat disini?" Ayra gugup begitu memasuki ruangan rawat inapnya. Dia tentu tidak mengharapkan ini saat diberitahu akan pindah keruangan rawat setelah pemeriksaan di IGD.


"Yakin disini? Ruangan lain aja ya?"


"Iya Nona, ini ruangan rawat inap Anda"


"Tapi Aku nggak punya uang, kalau nanti disuruh bayar gimana?" rasanya Dia ingin menangis saja jika harus membayangkan tagihannya nanti.


Irwan hanya tersenyum dan mengatakan kalimat yang menurut Ayra sama sekali tidak menenangkannya. Karena entah keyakinannya yang tidak ada atau karena Dia yang ketakutan jika nanti disuruh membayar biaya pengobatannnya. Membuat pikirannya sungguh tidak bisa diajak kompromi, bagaimana jika orang yang katanya akan bertanggung jawab benar benar melakukan hal yang dikatakannya.


"Aku pindah saja yaa, keruangan biasa aja. Kalau nanti ternyata orangnya nggak tanggung jawab, Aku masih bisa bayar, ya?" mencoba membujuk walau bagi Irwan itu terdengar seperti rengekan.


Irwan dibuat bingung, entah harus menjelaskan apa lagi. Nona, Dia akan tangung jawab. Pasti. Dia kan Direkturnya, tentu saja akan tanggung jawab. Aku mungkin akan ditegur keras jika menempatkanmu diruangan biasa.


Entah harus menjelaskan apa lagi, tapi Irwan sudah mengeluarkan berbagai kalimat yang terdengar meyakinkan. "Dia akan tanggung jawab Nona" "Beliau kan salah satu dokter disini" dan entah kalimat lainnya lagi. Dia dibuat bingung menghadapi pasien didepannya.


***


Ayra kini diam walau masih was was, tapi Dia kini mencoba menenangkan dirinya. Dalam hati Dia mengumpat. Aku akan membunuhnya jika Dia tidak tanggung jawab setelah membuatku dirawat diruangan mewah ini. Atau kalau nanti disuruh bayar, Aku akan menyeret perawat tadi saja. Iya benar, kamu pintar Ayra.. Ayo tenang..


Seperti nasib sial yang tiba tiba datang menerpa Ayra. Pagi ini kecelakaan membuatnya harus berdebat dengan seorang pengemudi. Katanya Dia sibuk atau apalah. Dan setelahnya Ayra benar benar ditinggal dan sampai siang ini orang yang katanya akan bertanggung jawab itu entah kemana.


Kini Ayra sedang menunggu, setelah pemeriksaan lengkap dengan MRI tadi di IGD Ayra diberitahu bahwa tulang disekitar sikunya retak dan harus dioperasi. Dan ada beberapa luka lainnya dikaki dan lututnya belum lagi sekitar area tangannya serta pergelangan tangan. Memar disana sini dengan luka yang terbuka. Menjadi bukti berapa keras dia menghantam jalanan.


Membuat dia kesakitan dan frustasi dalam waktu bersamaan. Laporan pekerjaannya yang harusnya Dia laporkan pagi ini tidak jadi diserahkan, padahal Dia sudah begadang membuatnya. Bayangan akan dimarahi pun tentu menerpanya membuat Dia kembali marah dan ingin mengutuk si pengemudi. Lupa akan kemungkinan kesalahan dirinya.

__ADS_1


***


Setelah menumpahkan unek uneknya pada Juna, Ferdi melangkah keluar ruangan turun dengan tangga menuju lantai dibawah ruangan rawat inap Juna. Karena memang hanya berjarak satu lantai, Dia pun memutuskan memakai tangga dibanding lift.


Ferdi akan menemui seseorang yang tadi pagi menyulut emosinya. Emosinya meledak setelah dituduh tidak akan bertanggung jawab. Dia pun tidak tahu pasti siapa yang salah, entah dirinya atau perempuan itu. Entahlah.. Tapi melihat seseorang bersimbah darah didepannya, tentu membuat Dia tidak akan lari apalagi tidak bertanggung jawab. Tentu saja itu bukan dirinya.


Ckleck


Ferdi membuka salah satu pintu ruang rawat inap VIP. Matanya mengedar mencari keberadaan seseorang dan setelah mendapati orang yang dicari, Dia pun melangkah masuk. Mendekati seseorang yang kini tidur di atas ranjang pasien.


Ferdi memperhatikan dengan seksama, gadis itu tampak terlelap. Rambut panjangnya yang tadi terikat rapi kini terburai kemana mana, matanya tertutup rapat dengan bulu mata yang lentik, pipi yang sedikit berisi dengan mulut tipis, dan beberapa lebam serta luka menghiasi kaki hingga tangan gadis itu membuat miris. Ujung rok yang dikenakannya tampak sedikit robek.


Cantik. Kesan pertama Ferdi yang muncul ketika melihat wajah tersebut. Tapi Dia jadi kesal seketika begitu ingat apa yang gadis itu tadi katakan padanya. Tidak tanggung jawab? Enak saja.. Ngomong kok seenaknya.. Aku akan memafkanmu karena hari ini Kau terluka..


Setelahnya senyum samar muncul dibibir Ferdi. Merasa tidak ada pekerjaan urgen, Dia pun duduk dan memperhatikan gadis itu. Otaknya sedang berpikir, kenapa Dia sendirian sekarang sudah siang. Bukankah harusnya ada anggota keluarga yang menemani.


Ferdi duduk anteng didalam ruangan dengan membaca laporan berisi catatan kesehatan gadis yang masih terlelap tersebut. Dia mendapatkan catatan medis itu dari dokter yang bertanggung jawab yang datang beberapa saat sebelumnya untuk melakukan pemeriksaan singkat.


Ayra Bilqis Haseena. Perawatan untuk luka luar yang terbuka telah diberikan, dan kini Dia tengah menunggu untuk dilakukan operasi. Hasil pemeriksaan fisiknya pun baik untuk dilakukan operasi. Kini Ayra hanya perlu menunggu. Ferdi sesekali mengalihkan pandangannya pada Ayra yang sesekali tampak meringis menahan sakit ditengah tidurnya.


***


Ayra kembali mengerjap, memfokuskan pandangannya begitu melihat sosok seseorang yang tengah duduk dengan fokus membaca berkas laporan yang terbentang dikakinya lengkap dengan jas dokter.


"Kamu tidak kabur?!"


Kalimat sinis berisi sindiran dari Ayra terdengar, membuat Ferdi mengangkat kepalanya, keningnya berkerut, menatap lurus Ayra yang masih terbaring.


"Aku akan menganggap tidak mendengar ucapanmu barusan" Ferdi menjawab dan kemudian kembali membaca berkasnya.


"Padahal tadi Kamu kabur ck"


"Aku tidak kabur, jangan bicara seenaknya"

__ADS_1


"Tidak bisakah Aku pindah keruangan biasa?" Ayra kembali coba menawar.


"Kenapa? Aku tidak akan kabur, Aku akan membayar semua tagihan biaya pengobatanmu. Diam saja dan terima semuanya"


Ferdi sudah cukup lelah, Dia tentu sudah mendengar apa yang gadis itu katakan pada Irwan perawat yang dimintai tolong olehnya untuk mendampingi Ayra. Dia cukup lelah untuk mendebat gadis itu.


"Tapi Aku takut.." jawaban pelan Ayra membuat Ferdi mengernyit.


"Kenapa?"


"Aku cuma sendiri disini, pindah ruangan saja, ya?" kini Dia merengek tawar menawar yang membuat Dia takut.


"Takut apa? Bicara yang jelas"


"Bagaimana kalau nanti ada sesuatu"


Ferdi yang semakin lelah hanya diam, menatap Ayra lurus. Dia akan mendengarkan jika yang dikatakan gadis itu masuk akal.


Begitu yang diajak bicara hanya diam Ayra jadi salah tingkah lalu kemudian Dia melanjutkan kalimatnya bahkan kini bercampur rengekan, "Aku takut sendirian.."


"Ada banyak staf yang mondar mandir, dan panggil saja keluargamu untuk mendampingi"


"Mereka diluar kota, dan kalaupun Aku kabari hanya akan membuat mereka khawatir" Ayra menjawab dengan merengut cemberut.


Ferdi mengerjap bingung dan kemudian menjawab, "Kalau begitu panggil kerabat lainnya"


"Tidak ada, Aku sendirian"


"Haaah.. Kamu tidak sendirian, ada dokter perawat dan yang lainnya, mereka akan bolak balik beberapa kali dalam sehari" Ferdi dibuat semakin lelah.


Ayra mengernyit, bingung harus mengatakan apa lalu Dia pun mencoba bicara jujur, "Aku takut sendirian.. bagaimana kalau ada makluk halus"


Ferdi melongo mendengar apa yang dikatakan gadis didepannya. Dia bahkan jadi tidak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


***


__ADS_2