Jangan Mempermainkanku

Jangan Mempermainkanku
Juna


__ADS_3

Juna Anggara Wijaya tubuhnya tinggi tegap dan wajah tampan beserta rahang yang tegas, serta bibir yang jarang tersenyum, memberi kesan dingin dirinya. Hidupnya seringkali dinilai sempurna oleh orang lain. Diusia 32 tahun Dia telah menjabat sebagai CEO diperusahaan yang ditinggalkan Ayahnya, Dia meneruskan perusahaan tersebut saat usianya bahkan belum genap 20 tahun disaat dirinya bahkan belum menyelesaikan pendidikan S1 nya. Kematian orangtuanya yang mendadak memberi pukulan yang cukup berat untuk dirinya, bahkan tanggungjawab yang tak kalah beratnya.


Malam ini Dia datang ke sebuah bar di ibukota, tentunya diikuti oleh asisten pribadi plus sekretarisnya Nino. Juna bahkan tak menyukai tempat ini, musik yang terlampau keras, belum lagi beberapa pasang manusia tak tahu malu bercumbu dibeberapa sudut membuat ia muak. Dia datang karena rengekan sahabatnya yang katanya patah hati karena gadis yang ditaksir malah memberinya undangan pernikahan, alasan yang cukup menyedihkan bukan.


Diruangan privat tersebut mereka bercengkrama ini dan itu, menertawakan nasib temannya. Juna hanya mendengarkan dan sesekali berucap seraya tersenyum, Dia meneguk beberapa minuman beralkohol. Hanya beberapa gelas Dia bahkan tidak mabuk. Dia cukup lelah, lelah karena tak bisa tidur akibat insomnianya kambuh, lelah karena beberapa masalah pekerjaan. Bosan mendengar ocehan sahabatnya Dia pun beranjak pulang, diikuti Nino.


Matanya menangkap seseorang, gadis itu tampak kesusahan berjalan tubuhnya sempoyongan ingin keluar sepertinya. Cukup tertarik, Dia hanya berjalan pelan mengikuti dibelakang gadis tersebut hanya memberi jarak beberapa meter, tak jauh dari pintu keluar seseorang mendekati gadis tersebut, tangan pria itu terulur dengan tatapan lapar pada wanita tersebut. Sesaat sebelum tangan tersebut menyentuh pinggang si wanita, tangan Juna terlebih dahulu menarik lengan wanita itu. Refleks tubuhnya ditabrak wanita itu.


"Mau ngapain? Jangan kurang ajar ya!!" Protes terdengar, merasa tak terima incarannya jatuh pada pria lain.


"Anda yang jangan kurang ajar" dingin suara Juna terdengar. Dia mengalihkan tatapannya begitu melihat Sekretaris Nino maju menangani si pria hidung belang itu, Dia menatap wanita dalam rangkulannya itu dalam diam. Matanya berkabut terselemuti air mata, hidung dan pipinya merah. Entah sudah berapa lama gadis tersebut menangis.


"Anda tidak apa apa?" Pelan bertanya diiringi tangannya terulur menyentuh pipi gadis tersebut, mengusap air matanya.


Seakan bertanya pada udara, gadis itu hanya diam tak merespon pertanyaan Juna, mulutnya terbuka seakan ingin mengucapkan sesuatu, hingga dia merasakan wanita itu pingsan kehilangan kesadarannya dalam rangkulannya.


***


Mobil yang dikendarai Sekretaris Nino berjalan pelan membelah keramaian malam Ibukota, Beberapa kali Dia menoleh menatap kursi belakang. Tuan Muda yang telah Dia layani hampir 10 tahun itu hanya diam sesekali menatap gadis yang tengah bersandar pada bahunya.


"Aku ingin data gadis itu secepatnya"


Pesan terkirim ke bawahan Sekretaris Nino begitu mobil yang Dia kendarai berhenti dilampu merah. Dalam diam Dia menyetir menuju Vila Tuan Mudanya yang terletak didaerah pegunungan, sedikit menyingkir dari padatnya Ibukota. Terletak dipinggiran Ibukota, udara disekitaran vila bersih, dikelilingi tumbuhan dan pepohonan hijau.


***


"Apa tidak berat Tuan Muda?" Sekretaris Nino menyuarakan kekahawatirannya, pasalnya begitu turun dari mobil Tuan Muda sendiri yang malah menggendong gadis tersebut, bukannya memerintahkan orang lain atau dirinya misalnya. Beberapa pelayan yang menyambut kedatangan mereka tadi bahkan terkejut begitu melihat seorang gadis dalam gendongan sang Tuan.


"Tidak"


"Dia ringan dan kecil. Berapa umurnya?" Lanjut Tuan Juna.


"Saya belum menerima datanya Tuan"


"Laporkan begitu kau tau. Aku tidak ingin dianggap sebagai gigolo" Juna berucap santai tanpa memikirkan orang yang mendengar.


Mereka memasuki kamar utama


"Hubungi dokter Ferdi. Dia pingsan tapi aku tidak mencium alkohol darinya"

__ADS_1


"Bagaimana kalau dia keracunan" lanjut Juna


"Baik Tuan Muda"


"Haah kenapa Aku membawanya kesini ya?" Tersadar begitu dia membaringkan tubuh gadis tersebut, bukannya kekamar tamu mereka kini malah dikamar utama, kamarnya Juna.


Sekretaris Nino hanya diam menatap kebingungan yang tercetak di wajah Juna.


"Anggap saja ini keberuntunganmu" putusnya sambil menatap gadis yang tengah berbaring diranjang kamarnya.


"Aku mau mandi, minta pelayan menyiapkan minuman hangat"


"Tuan, bagaimana dengan susu hangat saja? Bukankah Anda kesulitan tidur beberapa hari ini?"


"Teh Camomile saja" Putus Juna cepat tak ingin membayangkan dirinya minum susu hangat apalagi jika sekretarisnya menambahkan madu. Tidak mau.


"Panggil pelayan wanita mengganti bajunya" sebelum Juna benar benar hilang dibalik kamar mandi.


***


Diseberang sana kantuk yang tadi menggelayuti dokter muda bernama Ferdi tersebut hilang seketika, bersamaan dengan dering telepon dari Sekretaris Nino. Sekretaris Tuan Muda itu menghubungi ditengah malam, Dia diminta ke vila yang jaraknya tidak dekat dari rumahnya yang terletak dipusat Ibukota.


Walau dari luar Tuan Muda itu tampak gagah sehat dan kuat tanpa cela, tapi Dia kesulitan tidur. Insomnia akut tengah menjalari tubuh Juna perlahan. Walau terkesan penyakit sepele, tapi insomnia akan perlahan menggerogoti tubuhmu. Tubuh yang jarang istirahat tentu lebih lemah dibandingkan yang cukup istirahat. Beberapa kali Ferdi bahkan dipanggil ke ruangan presdir karena Juna pingsan akibat efek samping insomnianya, sistem kekebalan tubuh Juna lebih rendah dibandingkan orang pada umumnya.


Berbagai rencana pengobatan Dia rancang agar Juna bisa beristirahat dengan tenang, setidaknya 5 jam saja. Tentu angka tersebut lebih sedikit jika dibandingkan anjuran tidur sehat 8 jam, tapi setidaknya bukankah itu lebih baik jika dibandingkan Juna yang hanya tidur 1 sampai 2 jam sehari. Kadang bahkan Juna bisa terjaga sepanjang malam. Belum lagi infus yang secara berkala akan Dia berikan agar kesehatan Juna tidak drop. Obat tidur bahkan tidak mempan pada Juna, membuatnya memohon agar Juna sahabatnya itu mau menemui psikiater. Dan tentunya saran darinya ditolak mentah mentah.


"Tidak! Ferdi kau yang atur pengobatanku. Jangan suruh Aku bertemu orang lainnya. Apalagi Psikiater. Aku nggak mau!" Penolakan tegas berbau ancaman didapat Dokter Ferdi diiringi senyum smirk Juna. Rasanya Dia ingin menangis. Belum lagi saat diluar Dia harus berhadapan dengan wajah yang tak kalah dinginnya dari Juna. "Anda tahu maksudnya Tuan Muda kan Dokter? Bukankah Anda yang paling mengerti peraturannya? Kesehatannya bukan untuk konsumsi orang lain apalagi publik. Bukankah begitu Dokter?"


***


Derap langkah Dokter Ferdi bergema saat Dia memasuki vila yang hening, Dia menaiki tangga dengan setengah berlari. Dia bahkan lupa mengetuk pintu, membuat Juna yang tengah menyesap tehnya terkejut.


"Kau kenapa? Apa yang kau rasakan? Kenapa duduk disofa? Kenapa tidak tiduran?" Seakan lupa bernapas usai berlarian dari pintu masuk vila, Dokter tersebut bertanya seakaan tak ada hentinya.


Juna hanya mengerjap beberapa saat bingung mendapat deretan pertanyaan Dokternya.


"Periksa Dia" tunjuknya pada makhluk di atas kasurnya.


"Siapa? Nino?" Mata Dokter Ferdi beralih pada Sekretaris Nino yang berdiri disamping Juna, tampak sehat tentunya.

__ADS_1


"Ferdi tidak lihat tunjukku? Dia!"


Seakan baru tersadar akan jari yang menunjuk suatu objek. Dokter Ferdi akhirnya beranjak menuju kasur tempat seseorang tengah tertidur.


"Dia siapa?"


"Entah" Jawaban santai Juna membuat Ferdi melongo.


"Kau tidak tahu Dia siapa? Membawanya masuk kekamarmu?"


"Periksa saja" Mulai kesal menanggapi.


Setelah beberapa menit memeriksa dengan stetoskop dan sebagainya. Tatapan Ferdi kini beranjak pada Juna yang kini tengah duduk diatas kasur disisi kosong kasur king size tersebut.


"Dia kenapa?"


"Tidak apa apa, hanya kelelahan. Aku akan memberinya infus karena Dia demam tapi tidak terlalu tinggi juga"


"Oke" Jawab Juna santai.


Dokter Ferdi semakin dibuat bingung, matanya bergantian menatap Juna dan gadis yang tengah terbaring tersebut bergantian. Mulutnya gatal ingin menanyakan berbagai hal. Sadar akan tatapan Dokter sekaligus sahabatnya, Juna pun mengangkat wajahnya yang diam memandangi makhluk didepannya.


"Apa?" Kesal terdengar


"Dia siapa?" Penasaran karena Juna tidak pernah membawa masuk makhluk berjenis perempuan apalagi sekarang mereka dikamar utama.


"Ntahlah, Aku belum dapat laporan" Jawaban santai Juna sungguh seperti petir disiang bolong untuk Dokter Ferdi. Dia hanya bisa kaget dan melongo melihat wajah santai Juna yang tanpa dosa.


"Sana keluar. Kalau nggak mau pulang, tidur dikamar tamu" Ingin mengusir Ferdi dari hadapannya tentu saja.


"Kau tidak keluar?" Bingung karena melihat sahabatnya yang bukannya keluar malah diam ditempat, makin bingung lagi begitu melihat Juna yang hanya santai dan mengangkat kedua bahunya dan kembali menatap perempuan yang tengah terlelap itu.


"Jun jangan minum teh saat malam, kau akan semakin kesulitan tidur, didalamnya ada cafein.." suara Ferdi kembali terdengar namun enggan melanjutkan tahu bahwa Juna tak ingin mendengarkan ucapan darinya. Matanya hanya menatap cangkir kosong diatas meja yang tadi diduduki Juna, merasa iba akan kondisi kesehatan sahabatnya, inginnya dia membantu tapi terapi yang Dia berikan selama ini seolah tak membantu Juna.


"Tidurlah. Sekarang hampir jam 1 malam" kembali berucap saat sebelum benar benar hilang dibalik pintu. Dokter Ferdi lelah mendapat kejutan bertubi tubi tangah malam itu. Persaannya campur aduk Juna yang bahkan tak mengenal perempuan membawa seseorang masuk kekamarnya.


Haah entahlah aku lelah.


Semoga tak terjadi hal buruk.

__ADS_1


***


__ADS_2