
Drrrt drrrt drrrrrrtt..
Ponsel Ferdi berdengung bergetar minta dilihat, tapi seakan terdapat lem matanya kesulitan terbuka. Setelah usaha ekstra akhirnya dia meraih ponselnya.
Dia gelagapan kaget melihat si penelepon. Juna Calling.
"Yaa Tuan Muda"
"Kau ingin mati? Atau ingin pensiun dini? Bosan jadi direktur Rumah Sakit?"
Marah Dia sedang marah. Suara Juna mampu menyadarkan Ferdi sepenuhnya, kini Dia memutar kepalanya mencari keberadaan jam nya 03.00
"Anda tidur berapa jam Tuan?"
"Menurutmu??"
"Jawab pesanku*!!" Kemarahan Juna bahkan seakan menembus ponsel Ferdi, gelagapan Dia membuka aplikasi pesan singkat yang dipakai sejuta umat didunia.
Mungkinkah manusia jadi obat tidurku?
Mengernyit sebentar, pertanyaan aneh Juna di pagi buta meyakinkan Ferdi. Tuan Muda diseberang sana sama sekali belum tudur hingga dini hari ini.
"Mungkin Tuan. Tentu saja mungkin. Tidur itu adalah mengenai kenyamanan. Sama halnya dengan seseorang yang harus memeluk sesuatu untuk bisa tidur"
"Juna, matahari belum muncul. Ayo tidur lagi. Berusahalah Jun, agar kepalamu tidak sakit lagi..."
Memelas Dia memohon diseberang sana. Juna bahkan menutup teleponnya setelah mendengar jawaban yang ingin Dia ketahui, dan tidak ingin lebih lama lagi mendengar permohonan Ferdi yang selalu sama.
__ADS_1
Juna bergulingan di atas kasur king size nya. Tadi sore Dia sudah kembali ke rumah utama, meninggalkan vila tentu agar dia tak perlu terlambat memulai Seninnya. Rapat besar kuartal kedua WM Property. Dia yang merupakan Presdir akan hadir setelah absen sekian lama. Mulai membayangkan wajah kesal Vanya. Dia bahkan tergelak sendiri.
Dia kembali mengingat malam sebelumnya, sepertinya dugaannya tadi siang benar. Sama halnya kata Ferdi tadi, bukan camomile yang membuatnya tertidur lelap. Tapi demi memberi ketenangan diwajah Nino Dia tetap menyesap teh tersebut beberapa jam yang lalu. Dia bisa tidur nyenyak sebelumnya karena memeluk seseorang. Entah apa daya tarik gadis tersebut, namun Dia mampu menarik atensi Juna sepenuhnya. Juna pun merasa aneh akan dirinya sendiri, biasanya Dia akan menjauhi perempuan yang ingin mendekatinya, tapi Vanya seakan diterimanya dengan tangan terbuka. Hanya Nino yang menunjukkan kecurigaan pada Vanya yang kemudian diabaikan Juna.
Kenyamanan. Karena Aku nyaman?
Dia kembali mengingat apa yang disampaikan Ferdi padanya di telepon barusan. Juna bukannya orang yang tak mengerti akan jam tidur, tapi Dia penasaran. Dia bahkan tak bisa menunggu matahari terbit dulu untuk menjawab pertanyaannya. Akhirnya Dia malah mengirimkan pesan dan menebar ancaman untuk Ferdi yang baru bangun tidur.
Melihat bantal guling yang teronggok tak tersentunh disisi ranjangnya, Juna meraih guling tersebut. Dia memeluknya mencoba mencari kenyamanan, menutup matanya berusaha tidur, bergulingan dengan mencari posisi terbaik. Dia bahkan membayangkan tengah memeluk Vanya.
Beberapa menit kemudian. Guling tersebut Dia tendang hingga teronggok tak berdaya di lantai kamarnya. Kesal. Dia bahkan tak menemukan kenyamanan apapun. Hingga matahari terbit dan Nino mengetuk pintu kamarnya, Juna sukses tidak tidur sama sekali. Membuat Nino mendesah frustasi.
***
Setelah Juna menutup telepon sepihak, kantuk yang tadi mendera Dokter Ferdi hilang seketika. Dia memilih untuk masuk kekamar mandi, mulai membuka berbagai laporan penelitian mengenai insomnia. Setelahnya Dia berselancar dalam mesin pencarian yang terdapat pada layar macbook, mencari berbagai artikel mengenai tidur, ramuan alternatif agar bisa tidur.
Merasa ironi, kemarin Juna tidur selama lebih kurang 9 jam. Sedangkan malam ini matanya terjaga, bahkan mengganggu tidur Ferdi.
Ferdi mendesah frustasi. Tanaman herba yang umum kita temui dimana mana dinegara ini telah dia coba berikan pada Juna. Beberapa Ferdi ekstrak hingga menjadi bubuk, beberapanya lagi diseduh lalu didiamkan. Namun dia masih belum bisa menemukan herba yang benar benar bisa membantu Juna tertidur. Kondisi itu semakin diperparah dengan selera Juna yang menolak rasa dari beberapa tanaman tersebut. Hanya teh camomile yang dapt diterima lidahnya, jahe dan beberapa tanaman lainnya yang disodorkan Ferdi ditolak Juna, beberapa kali Dia bahkan muntah setelah minum beberapa jenis tumbuhan. Membuatnya mendapat pelotototan tajam bin horor dari Nino.
Ferdi menjauhkan Juna dari obat tidur. Karena tidak baik untuk kondisi tubuh Juna. Dari kecil telinga Juna memang sensitif tapi dulu kepalanya tidak ikut kesakitan jika telinga Juna berdenging.
Telinga berdenging atau berdengung saat mendengar suara keras itu sebenarnya wajar dan dialami hampir semua orang. Kondisi ini dalam dunia medis disebut tinnitus. Normalnya akan mereda beberapa saat kemudian. Namun kondisi ini cukup berbahaya jika diiringi sakit kepala atau berlangsung lama dan sering. Intensitas tingkatan bunyi keras yang dapat menimbulkan tinnitus pun beragam pada tiap individu, bagi Juna, suara teriakan saja mampu membuat telinganya berdenging sementara orang lain yang mendengar hal yang sama dengan Juna tak merasakan masalah apapun. Kini tingkatan sensitifitas Juna bertambah tinggi.
Mungkin ini salah satu efek insomnia akut Juna, setiap telinganya berdenging maka detik berikutnya kepalanya akan ikut berdenyut nyeri. Pernah satu waktu Juna pingsan setelah mendengar suara keras akibat kepalanya yang sakit. Belum lagi sistem imun Juna lebih rendah dibanding orang lainnya. Lengkap sudah menyebabkan kekhawatirannya jadi benar benar terpusat pada Juna.
Ferdi kembali menatap ponselnya. Lama dia memandang pesan singkat Juna.
__ADS_1
Mungkinkah manusia jadi obat tidurku?
Tentu saja mungkin. Ada kan saat anak anak yang hanya bisa tidur jika ada orangtua disampingnya. Ada juga yang hanya bisa tidur jika memeluk guling atau boneka. Karena memang semuanya berpusat pada kenyamanan. Dan menciptakan kondisi nyaman untuk Juna hingga kini masih menjadi kesulitan Ferdi.
Aaa... benar.
Seakan ada bola lampu yang berpijar terang didepan mata Ferdi.
Aku akan memberikanmu boneka yang dapat kau peluk. Hmmm kelinci? Panda?? Aaah tidak. Aku akan memberikanmu boneka beruang super besar. Hahahah. Ayo tidur Junaa....
Dia tergelak bahagia dengan pikirannya.
***
Pagi cerah menyapa Juna. Jangan tanya bagaimana Dia memulai harinya. Dia frustasi bagaimana bisa Dia tidak tidur barang 1 jam pun?? Kesal menggerogoti.
"Aku ingin kopi.." diiringi nafas frustasi Juna dikursi belakang. Tidak menuntut jawaban. Hanya menyuarakan keinginannya. Nino pun hanya menyetir dalam diam. Tidak ingin menjawab, karena tahu hanya akan menimbulkan kesedihan tersendiri untuk Tuan Mudanya.
Jika Ferdi akan menahan diri untuk tidak minum kopi didepan Juna. Maka Sekretaris Nino melarang karyawan membawa kopi.
Minumlah diluar gedung kantor ini!! Jangan coba-coba membawanya masuk, apalagi membawanya saat meetin**g. Terlebih lagi jika ada Tuan Muda. Tidak boleh!!
Peraturan tidak tertulis yang dipatuhi semua karyawan WM Group, bahkan hingga anak perusahaan berserta perusahaan cabang sekalipun. Peraturannya diikuti oleh semua karyawan tersebut. Sebagai gantinya, di pantry kantor akan tersedia berbagai jenis teh dari berbagai merek lengkap dengan teh camomile yang diminum Juna.
Mari hidup tanpa kafein..
Mantra Ferdi yang senantiasa diingat Nino. Berbeda dengannya, Ferdi terkadang masih minum kopi jika tidak bersama Juna. Sedangkan Nino yang benar benar tidak minum kopi, Dia akan mengikuti hal yang selalu Dia katakan pada Juna. Baginya jika dia melarang Juna mengkonsumsi sesuatu, maka dia orang pertama yang tidak akan mengkonsumsinya. Seperti contoh dan praktek, tapi sebenarnya itu adalah salah satu bentuk kesetiaan Nino. Dia akan mencoba merasakan sendiri apa yang dirasakan Juna. Terkadang Dia juga menahan tangis saat kondisi kesehatan Juna drop ataupun pingsan. Dia akan berdiri diam memandangi wajah pucat Juna. Terkadangnya lagi Dia akan melampiaskan kemarahannya pada Dokter Ferdi, yang disikapi Ferdi dengan diam. Karena Nino juga butuh kewarasan bukan?
__ADS_1
***