
Juna diam menatap lamat gadis yang tengah mengerjapkan matanya cepat didepan Juna. Dia tampak syok dan terkejut. Matanya yang kecil dan cenderung sipit itu melotot setelah mendengar apa yang Juna ucapkan.
"Apa maksud Anda Tuan?" Vanya tampak mencoba tetap tenang berusaha menguasai keterkejutannya.
Juna mengetukkan ujung jemarinya membentur pegangan sofa yang terbuat dari kayu jati itu. Tidak mengeluarkan bunyi karena kuku Juna pendek, tapj cukup untuk mengintimidasi Vanya. Juna duduk bersandar menatap gadis didepannya. Merasa cukup terhibur dengan reaksi gadis itu.
"Bukankah Kau sudah meniduriku?"
"Apa??!" Suara Vanya naik cukup keras, tapi tidak sekeras pagi tadi. Namun, cukup mengganggu pendengaran Juna, Dia kembali mengernyit sesaat. Telinganya berdengung pelan, namun kepalanya tidak berdenyut. Membuat ia tetap mencoba tenang.
Nino mendesah kesal. Bagaimana bisa gadis bodoh itu mengabaikan peringatannya. Jangan berteriak!!! Haruskah aku menuliskan kalimat itu dadahinya?? Menyebalkan??!
"Anda tidak apa apa Tuan?"
Tangan Juna terangkat menjawab pertanyaan Nino, diamlah itu artinya.
"Jangan berteriak. Aku bukan orang tuli" Juna menatap Vanya sedikit jengah. Niatnya untuk mempermainkan gadis itu seperti bumerang untuknya. 'Dia terlalu sering berteriak. Menyebalka**n!!'
"Jadi bagaimana Kau akan bertanggung jawab??"
Vanya hanya bisa melongo mendengar ucapan Juna.
"Tidur?? Aku??" Tangannya menunjuk dirinya sendiri "Aku meniduri Tuan??" Masih melongo.
"Bagaimana mungkin??" Lanjut Vanya kemudian dengan pelan, dengan wajah tertunduk dalam. Namun suaranya masih dapat didengar Juna dengan sangat jelas.
"T.. Tuan.." Vanya mengangkat wajahnya takut takut "A.. Apa yang kulakukan tadi malam?" bertanya akhirnya walau takut akan jawaban Juna.
"Tadi malam??" Terdiam sebentar sedang sok berpikir keras "Kau menghalangi jalanku, lalu memelukku dan pingsan dimenit berikutnya"
"Karena Aku tidak tahu harus mengantar kemana, jadi Aku membawamu kesini, memberikan dokter pribadiku" terdiam sebentar "Lalu Kau menyerangku setelah hanya tinggal kita berdua"
Jawaban asal Juna tentu seperti petir untuk Vanya. Dia melongo, napasnya sesak "Bagaimana mungkin Aku begitu?" air matanya menetes mengejutkan Juna untuk sesaat. Sesaat kemudian Dia kembali memasang wajah datar, bersikap seperti korban yang minta keadilan.
Nino hanya bisa geleng kepala.
*A*nda menikmatinya Tuan Muda? Saya akan keluar. Selamat menikmati kesenangan barumu Tuan..
Nino keluar dari ruangan kerja Juna. Meninggalkan Juna bersama gadis yang katanya ingin Dia kerjai. Tapi Tuan Muda ekspresi Anda bukan ekspresi yang tepat untuk mengerjai seseorang, Anda terlalu serius menghayati peran Anda.
Nino kemudian berkutat dengan tumpukan laporan yang harus Dia periksa. Ferdi? Dia sudah kembali ke asalnya, Dia harus ke Rumah Sakit. Ada beberapa hal yang harus dikerjakan Direktur muda itu.
***
Vanya masih sesegukan menangis. Juna hanya menatapnya dalam diam, dengan wajah serius tentu saja. Juna menikmati tiap ekspresi wajah Vanya. Manis. Lucu. Hanya itu kata yang dapat mewakili Vanya dimatanya.
Bagaimana bisa gadis itu percaya begitu saja. Juna dengan hati lapangnya menyodorkan kotak tisu mendekat ke arah Vanya.
"Tapi Tuan.." masih terisak, mencoba tenang "Kenapa Saya tidak sakit?"
"Apanya?" Juna belum mengerti arah pertanyaan gadis didepannya.
__ADS_1
"Bukankah katanya sakit?"
"Apa?" Tuan Muda masih nge-leg, belum nyambung. "Maksudnya demam? Iya tadi malam Kau demam Nona, karena itu ada infus yang menyelamatkan nyawamu"
"Hah? Bukan!! Bukankah katanya sakit sampai tidak bisa berjalan kalau melakukan itu?"
Sakit?? Pertama?? Apasih?!
Nino bahkan tidak disampingnya. Setidaknya kalau ada Nino, Dia mungkin akan menjawab kebingungan diwajah Juna. Sementara gadis ini? Apa dia bodoh? Kenapa bertanya tapi tidak jelas?!
Sadar akan tatapan Juna, dan ketiadaan Nino, Vanya pun akhirnya kembali bersuara "Bukankah jika melakukan malam pertama katanya paginya akan sakit sampai tidak berjalan?"
"Haah.. Itu.." akhirnya Tuan Muda nyambung tanpa gangguan.
"Mana Aku tahu. Bukankah itu badanmu?" Juna bahkan berhasil menyembunyikan keterkejutannya tanpa disadari Vanya. Ya memang Dia tidak tahu mengenai itu, karena Diapun tidak menyentuh Vanya, hanya pelukan yaah mereka tidur saling memeluk satu sama lain.
"Tapi katanya kalau pertama melakukan akan sakit dan keluar darah" masih sewot kenapa Dia bisa berjalan normal.
"Kau yakin tadi malam yang pertama??" nada sangsi terdengar membuat Vanya kesal bukan main.
"Tentu saja!! Aku bahkan tak pernah berciuman Tuan!!" kesal Vanya memuntahkan isi pikirannya tanpa vilter. Membuat Juna tergelak.
"Mana kutahu"
Vanya bahkan mematung setelah melihat Juna tertawa.
Apa yang Dia tertawakan?? Ayaah... Aku harus gimana??
"Anda mau bagaimana?" airmatanya kembali luruh "Kenapa Aku yang tanggung jawab?? Anda yang mengambil kesucianku.. hiks" masih terus menangis, gamang membanyangkan masa deoannya. Apakah ada Pria yang akan menerimanya? Apa ini ons yang sering Dia dengar dari temannya?
"Bukan Aku yang mengambil kesucianmu Vanya. Tapi Kau! Kau yang mengambil kesucianku, melakukan tindakan tidak senonoh pada tubuhku"
Kalimat Juna sukses mengundang airmata Vanya semakin deras mengalir.
"Keluarlah. Pikirkan bagaimana Kau akan bertanggung jawab padaku"
Dengan lemas Vanya mengerahkan tenaga meninggalkan ruangan kerja Juna. Minggu ceria itu merenggut hidupnya. Memberinya pukulan berat, Vanya menangis dengan frustasi memikirkan bagaimana masa depannya.
***
Juna masih memandang layar datar didepannya. Layar itu memperlihatkan Vanya yang membenamkan wajahnya dalam bantal dengan airmata masih berderai. Dia masih menangis. Sesaat kemudian Dia bangun, memaki dan memukul guling tak berdosa yang teronggok disampingnya.
"Apa dia benar benar bodoh?"
Pertanyaan Juna bergema dalam ruangan kerjanya. Juna juga tidak meminta jawaban dari siapapun, bahkan Nino yang kini hanya berdiri diam memperhatikan Juna.
Entah Tuan. Entah Anda yang terlampau pintar berakting hingga mengelabuinya atau Dia yang pintar karena percaya begitu saja pada Anda. Entahlah Tuan Muda.
"Lanjutkan laporanmu"
"Ini berkas yang harus Anda.."
__ADS_1
"Bukan itu" potong Juna cepat, membungkam kalimat Nino mengenai laporan yang harus Dia tanda tangani.
Nino hanya tersenyum manis
"Namanya Vanya Zifara Tuan.."
"Hhmm" Juna menggeram kesal, Dia tahu itu, Bukan data diri Zifa yang Dia inginkan. Tentu Nino tahu apa yang diinginkannya, lihatlah senyum Sekretarisnya itu semakin lebar memantik kekesalan Juna.
"Nona keluar dari Perusahaan jam 9 malam setelah lembur"
"Kenapa?" Penasaran Juna terpancing.
"Sepertinya karena rapat besar untuk besok Tuan"
"Aaah.." Ingat akan jadwal rapat besar kuartal kedua WM Property "Aku akan datang dan mendengarkan laporan dari Asisten Manajer Design Departemen Perencanaan" Dia tersenyum cerah.
Untuk pertama kalinya Dia ingin datang. Tujuannya tentu mengganggu ketenangan Vanya. Siang ini Dia bahagia. Sekali lagi menyebutkan bahwa penilaiannya tidak salah. Awalnya Dia merasa aneh kenapa ada wanita di club malam mengenakan pakaian tertutup tanpa ingin menunjukkan sesuatu, rok nya lebar menjuntai hingga kebawah lutut dengan kemeja berwarna pastel tidak ketat dan tidak seksi. Dan siang ini Juna mendapat jawabannya, gadis itu masih polos malah terkesan bodoh.
"Anda akan hadir Tuan?" Nino ingin memastikan kembali apa yang barusan Dia dengar. Yang dijawab anggukan Juna.
Tuan Muda akan hadir dalam rapat besar besok. Persiapkan dengan baik. Paparan laporan dari tim design serahkan pada asisten manajer Vanya Zifara.
Pesan singkat Nino terkirim. Diterima seseorang yang Dia percaya di WM Property. Anak perusahaan WM Group yang mengurusi pembangunan property, mereka tidak hanya mengurusi pembangunan yang berkaitan dengan Perusahaan WM Group saja, tapi juga permintaan klien yang datang secara pribadi. Beberapa diantara mereka adalah Pengusaha yang ingin mengembangkan Kantornya ataupun permintaan perorangan untuk membangun rumah hunian pribadi mereka.
"Apa yang Dia design disana?"
"Design rumah, apartemen, bahkan hotel hingga interior dan perabotan Tuan. Nona juga harus mengawasi staf karyawan lainnya" Nino lancar menjawab tanpa berpikir panjang, karena memang itulah tugas tim design apalagi Vanya menjabat sebagai Asisten Manajer.
"Lanjutkan Nino" Juna mendengarkan dengan khidmat bersamaan dengan salah satu dokumen yang Dia buka untuk ditanda tangani.
Yang bergerak hanya tangannya. Juna bahkan tidak membaca satu kalimat pun dalam laporannya, memang terkesan menganggap enteng. Tapi laporan yang menumpuk dimejanya ini telah melampaui pemeriksaan super ketat ala Nino. Tujuannya untuk mempermudah kinerja Juna, serta meringankan bebannya tentu saja tujuan utamanya untuk menjauhkan Juna agar jangan bekerja berlebihan dan kalau kalau sakit kepalanya kumat, sedangkan dokumen persetujuan menumpuk tinggi menunggu ditanda tangani.
Nino melanjutkan laporannya mengenai Vanya yang mengikuti seorang Pria, hingga tadi malam Vanya memergoki kekasihnya selingkuh di Bar. Dia pingsan juga karena syok ditambah demam. Kemungkinannya dia lemas karena tidak mengkonsumsi apapun hingga malam untuk segera menuntaskan pekerjaannya. Dia yang harusnya libur di hari sabtu malah harus rela bekerja hingga malam bersama staf tim design lainnya menyelesaikan tenggat laporan mereka dan berakhir dalam pelukan Juna.
"Boleh Saya tahu apa rencana Anda Tuan?" Nino bersuara setelah lama berpikir sendiri, bertanya tanya dalam hatinya.
"Aku akan membuatnya bertanggung jawab. Bukankah biasanya jika seseorang meniduri orang lain maka harus bertanggung jawab dengan menikahinya?" Ucapan santai Juna mengagetkan Nino.
"Menikah? Anda yakin Tuan?" ragu Nino bertanya
"Hhm. Tentu saja. Dia yang akan menikahiku!!"
Senyum Juna masih terkembang cerah. Namun Nino cukup ragu, dahinya berkerut dalam. Apakah mungkin? Jika orang lain minta dinikahi bukankah karena Dia takut hamil dan menanggung beban sendiri? Dan itupun permintaan wanita Tuan. Sedangkan Anda? Anda tidak mungkin hamil Tuan!!
Gemas Nino geram sendiri mendengar apa yang dikatakan Juna dengan santainya.
"Tapi bukankah Anda hanya tidur dengan saling berpelukan hingga pagi?" Nino semakin ragu bertanya, ingin memastikan apa yang sebenarnya Dia lewatkan setelah meninggalkan Juna bersama wanita asing.
" Iya. Tentu saja. Karena itu Dia harus bertanggung jawab"
Nino kini melongo, tak tahu harus bereaksi bagaimana. Dia speechless setelah mendengar apa yang dikatakan Juna.
__ADS_1
***