Jangan Mempermainkanku

Jangan Mempermainkanku
Aku takut..


__ADS_3

Setelah memberi salam dan berdoa kini Juna dan Vanya meninggalkan area pemakaman. Sebelumnya mereka juga tidak lupa meletakkan buket besar bunga mawar dan lyly.


"Aku lelah, kita menginap di vila saja yaa"


Suara Juna mengagetkan Vanya, "Haah? Kenapa?"


"Apa itu kebiasanmu?"


"Apa?" Vanya masih bingung.


"Matamu mengerjap berulang kali, apa itu kebiasaan?" Juna penasaran, kini Dia tiba tiba berhenti berjalan dan menatap wajah Vanya lurus. Memperhatikan, tubuhnya bahkan membungkuk membuat Vanya salah tingkah.


"Kini pipimu juga merah. Kau demam?" tangannya terangkat menyentuh dahi Vanya. "Apa Aku perlu memanggil Ferdi?" Juna bergumam pelan, berpikir, namun suaranya masih dapat didengar Vanya.


"Aku tidak demam" refleks dia mundur, menjauhkan tangan Juna yang kini berbahaya untuk jantungnya terlebih hatinya. Vanya lalu menyentuh pipi dan dahinya 'Aku tidak demam' pikirnya.


"Kau lucu" Juna terkekeh kemudian, membuat Vanya semakin bingung sekaligus berdebar.


Apa apaan Dia? Apa ini yang dinamakan cobaan... Vanya bingung sendiri, kini pikirannya kemana mana. Dan kembali teringat dengan kalimat awal Juna, Vila??


"Kakak... Kita.." ragu dia berucap "Tidakkah kita pulang saja?"


"Aku lelah.. Bagaimana jika Aku tertidur lagi dan kita sampai tengah malam?"


"Kakak tahu? Kakak tahu kan tentang tadi dijalan? Apa kakak pura pura tidur?" kini Vanya kesal malah menuduh Juna.


"Tidak, Aku tidur"


"Terus, kenapa kakak bisa tahu kalau mobilnya jalan dengan sangat sangat pelan?? Kakak tahu, ibu-ibu yang bawa motor disamping kita saja, jalannya lebih cepat daripada mobil, apa itu masuk akal?" Vanya dengan semangat mengadu.


Juna hanya mendengarkan dengan sesekali menunjukkan reaksi dengan kalimat antusias "benarkah? lalu?" dan sebagainya. Dia mati matian menahan tawanya melihat Vanya yang semangat menceritakan kejadian saat dia tidur tadi.


"Bukankah sekretaris kakak aneh? Aku dengan baik hati menawarkan akan menyetir, tapi kakah tahu jawabannya? Dia tidak percaya padaku. Padahal negara saja percaya padaku, karena itu kan Aku bisa punya SIM?"


"Aku bahkan bisa sampai kurang dari satu jam, tapi Tuan Nino bahkan harus makan waktu lebih dari dua kali lipatnya. Bukankah Dia aneh?"


Juna mengangguk angguk "Tapi Vanya, bukankah Kau terlalu berani?"


"Apanya?"


"Kamu biasanya ketakutan didepan Nino, tapi sepertinya tidak lagi. Sekarang Kamu bahkan dengan berani membicarakannya didepannya" Juna bertepuk tangan kecil memberi aplaus menunjukkan kebanggannya.


Mata Vanya mengerjap cepat, dia bingung seketika, "Apanya? Kita kan cuma berdua.." suaranya kini pelan setengah memohon.


"Dia disana, mendengarkanmu dengan cermat" jari telunjuk Juna terangkat, menunjukkan kehadiran seseorang yang kini menatap kearah mereka. Dia sedang menunggu dan berdiri diam disamping mobil.


Vanya refleks bergerak, bersembunyi dibalik tubuh tinggi Juna. Dengan takut Dia mengintip, masih dibalik tubuh Juna, Dia melihat Nino yang kini menatapnya tajam menakutkan.

__ADS_1


Mumpung dipemakaman, apa Dia akan langsung memakamkanku??? Hiks... Dia menakutkan...


"Kakak...." kini suara Vanya pelan, ketakutan dan setengah memohon "Kenapa tidak bilang ada Dia disana??" lanjut Vanya.


"Dia menakutkan..."


Pffft Hahahaha.. Juna tergelak keras mendengar kalimat terakhir Vanya. Sepertinya Dia keceplosan, tebakan Juna tentu saja benar, kalimat yang harusnya ada diotaknya malah tersampaikan melalui mulutnya.


"Kakak.. Jangan tertawa" masih setengah merengek, menunjukkan bahwa dia takut.


"Ayo jalan, atau kau mungkin akan menemukan hal yang lebih menakutkan lagi" tangan Juna kini menggenggam tangan Vanya, menuntunnya untuk berjalan disampingnya, tapi wajah Vanya masih tertunduk dalam membuat Juna makin tergelak.


"Kau tampak sangat menakutkan, tersenyumlah Nino" ucapnya begitu sampai diparkiran dengan tawa yang masih terdengar. Vanya tentu saja telah lebih dulu lari dan memasuki mobil, takut jika harus bersitatap mata dengan Nino.


***


Vanya kini duduk di sofa didepan kamar Juna dan kamar yang dia tempati. Sebelumnya, mereka selesai makan malam ditemani hidangan pasta dan seafood. Begitu melihat Juna mendekat Vanya berdiri. Kepalanya celingukan mencari Nino, masih takut.


"Kenapa?" Juna bersuara tanpa menghentikan langkahnya memasuki kamarnya.


"Kakak... tunggu"


"Kenapa? Mau tidur denganku?" ucapan jahil Juna dihadiahi tatapan tajam Vanya.


"Apa Dia marah?" Vanya mengabaikan kalimat Juna, tidak ingin menanggapi juga.


"Siapa?" sedang malas berpikir, Juna memilih bertanya saja


Belum Juna menjawab, ketukan menginterupsi pembicaraan mereka. Nino masuk dengan nampan ditangannya, "Tuan, Saya bawakan camomile tea"


"Ya, terimakasih"


Juna menjawab tanpa menatap Nino, Dia kini menatap Vanya.


Nino melihat dua manusia tersebut, mereka sedang duduk disofa, yang satu menatap wanita didepannya, yang satu lagi hanya menunduk. Nino hanya menggelengkan kepalanya, dan dalam diam Dia meletakkan teh yang dibawanya di atas meja didepan Juna, setelahnya matanya menatap Vanya "Anda mau juga Nona?"


"Ti.. tidak" Dia tergagap menjawab, begitu matanya menangkap mata Nino yang tengah menatapnya. Awalnya dia hanya ingin mengintip apa Nino sudah keluar atau belum.


***


"Vanya" suara Juna menyadarkan Vanya


"Ya?" jawabnya refleks.


"Kamu tidak perlu takut pada Nino, wajahnya memang sudah seperti itu dari sananya. Dan jangan memanggilnya Tuan, panggil Sekretaris Nino atau Nino saja"


Vanya mendengarkan apa yang dikatakan Juna, sesekali matanya beralih menatap Nino yang masih berdiri tak jauh dari Juna. Apaa Dia selalu begitu?

__ADS_1


" Haaah, keluarlah, Kau membuatnya tidak nyaman" Juna mengusir Nino tanpa menatapnya.


"Baik Tuan, selamat malam" Nino meninggalkan ruangan kamar Juna dengan tenang, dalam hati dia berharap Juna tidur nyenyak malam ini


Hmm, "Kau mendengarkanku?"


"Dengar, tapi tetap saja Aku takut.."


***


"Haaah Aku lelah, Aku mau tidur"


"Aku akan kembali kekamarku, selamat malam kak"


Vanya yang ingin meninggalkan kamar Juna malah tertahan, tangannya digenggam Juna membuat Dia berhenti melangkah.


"Ada apa?" Vanya bingung, kini dia malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tidur disini saja" suara Juna pelan terdengar lemah.


"T.. Tapi..." Vanya tergagap, tidak tahu ingin berkata apa.


"Tidur disini saja, Aku tidak akan melakukan apapun padamu"


"Tapi kak, kita.."


"Kita pernah tidur bersama" Juna memotong, "Kali ininhanya tidur, aku tidak akan melakukan apapun padamu"


"Vanya, Aku lelah, Aku bahkan terlalu lelah, tapi tidak bisa tidur, sekarang kepalaku bahkan sakit tapi tidak bisa tidur. Bisakah kamu disini bersamaku?"


Suara Juna pelan, kini wajahnya tampak pucat membuat Vanya khawatir. "Kepalamu sakit? Haruskah Aku panggil Sekretaris Nino?"


Juna menggeleng, "Aku ingin tidur, kamu disini saja ya, bersamaku"


Entah dipengaruhi karena apa, tapi setelahnya Vanya menganggukkan kepalanya, membuat Juna tersenyum. Juna menarik tangan Vanya, membuatnya terduduk dipangkuan Juna.


"Kakak.." Dia terlalu kaget, pipinya kini merah menyerupai tomat.


"Ayo tidur" suara Juna terdengar berat, sesaat kemudian dia mengangkat tubuh Vanya yang kini ada dipangkuannya dan membawanya ke ranjang. Vanya berdenar tidak karuan, dalam hati Dia mengumpat, kenapa juga mengiyakan ucapan Juna.


Sesaat kemudian Vanya terperangah, tubuhnya masuk dalam pelukan hangat Juna. "Kakak, bukannya hanya tidur saja?"


"Hmm tidurlah"


"Tapi..." Vanya bergerak, berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Juna.


"Tidur Vanya, kalau kau masih bergerak Aku tidak bisa menjamin apapun kelanjutannya"

__ADS_1


Dia diam seketika, kalimat Juna berhasil membungkam suara dan pergerakan Vanya. Akhirnya mereka tertidur dengan posisi saling berpelukan.


***


__ADS_2