
"Nino, apa yang mereka bicarakan?"
Juna menanti dalam gelisah, bagaimana bisa gadis bodoh itu malah menjauh darinya. Dia kesal. Tapi tetap membiarkan karena tadi Vanya berkata, bahwa ada yang harus mereka bicarakan untuk yang terakhir kalinya katanya.
Juna mencoba duduk dengan tenang di kursi tunggu, tapi tetap saja Dia kesal karena tak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Dia mendesah dan akhirnya memilih bertanya pada Nino.
"Entahlah Tuan. Bukannya kata Nona Dia harus menyelesaikan masalahnya?"
"Huh.. Masalah.." matanya bahkan tidak beralih dari Vanya "Siapa Dia?"
"Bram Prasetya, Tuan"
"Prasetya??" Juna berpikir sebentar, dimana dia menemukan nama yang tak asing itu.
"Putra Tuan Nanda Prasetya, Tuan. Dia mengelola event organizer yang sering kita gunakan Tuan"
"Aku tidak ingin melihatnya lagi" Juna semakin kesal "Lebih tidak ingin lagi jika Dia sampai mendekati Vanya! Jadikan ini yang terakhir" Juna memberi perintah.
"Haaah.. kenapa lama sekali?" Dia semakin geram
Nino hanya diam. Berdiri dalam diam dan menatap Vanya dan Bram. Rahangnya mengeras, sayup sayup dia dapat mendengar suara Bram yang menyebut Juna sebagai anak yatim piatu. Nino sedang berpikir, ingin menghancurkannya dengan cara apa.
*Bagaimana bisa si bodoh itu merendahkan Tuan Muda, disaat Dia sendiri bahkan memohon minta waktu bertemu Tuan Muda. Dan itu hanya beberapa hari yang lalu. Dasar munafik*..
Nino menahan amarahnya dalam diam. Dia akan membalasnya dengan rasa sakit yang lebih besar lagi, tunggulah tanggal mainnya Tuan Bram dengan senyum miringnya.
***
"Terimakasih Kak.."
Vanya tersenyum setelah mereka sampai didepan pintu unit apartemennya. Setelah meninggalkan Bram, Juna mengantarnya hingga ke lantai atas.
"Istirahatlah.. Jangan pikirkan apapun"
"Baik" masih mencoba tersenyum.
Juna bahkan dapat merasakan senyum Vanya yang getir, tangannya terangkat membelai puncak kepala Vanya pelan.
"Dia tidak akan mendekatimu lagi, istirahatlah"
Tubuhnya Vanya membeku seketika dia kaget, membuat matanya mengerjap berkali kali. Kebiasaan dirinya. Kini jantungnya berdetak cepat berdebar begitu mendapat belaian dan suara Juna yang terdengar hangat.
Dia mundur, ingin membuka kunci pintunya "Ka.. Kakak hati hati dijalan" tergagap dia bicara yang dibalas Juna dengan senyum manis disertai anggukan.
tdrrk
__ADS_1
Pintunya tertutup dan terkunci otomatis. Vanya lemas seketika, dia terduduk bersandar pada pintu tanpa mempedulikan dinginnya lantai yang kini dia duduki dengan tangan yang menyentuh kedua pipinya.
*Kenapa? Kenapa kau berdebar, bodoh!! Jantung diamlah... Bagaimana jika Dia mendengarm*u? Tenang Vanya...
Vanya terdiam seketika, kembali teringat apa yang dikatakan Bram padanya.
Yatim piatu?? Apaa karena itu Kakak jadi diam setelah makan malam? Hiks Aku lupa minta maaf.. Maaf yaa kak... Maafkan Aku yang kurang peka..
Dia diam menyadari kesalahannya pada Juna yang telah membantunya. Aku akan berlaku baik kak.. Jadi maafkan Aku yang tadi lancang yaa..
Tanpa disadarinya Dia membuat janji dan menanamkannya didalam hatinya.
***
Hari Minggu datang bersama dengan cuaca hangat yang cerah. Matahari bersinar dengan cerah menerangi bumi menghalau gelapnya malam.
Vanya sedang berdiri diam merasakan angin yang menyentuhnya. Sedang menunggu Juna dengan menikmati udara segar pagi hari. Jam 8 tepat mobil Juna terlihat mendekatinya. Vanya tersenyum manis menyapa Juna dan sekretaris Nino, walau masih agak takut.
Senyum Vanya yang cerah membuat Juna ikut tersenyum, Dia mengalihkan pandangannya melihat jalanan begitu tersadar gugup yang menyapa bersamaan dengan rona merah muncul. Masih pagi.. Kenapa Dia seimut itu... Juna gemas sendiri tanpa diasadari Vanya.
Dan entah sejak kapan Juna terlelap. Dia tertidur dalam perjalanan mereka, mengabaikan Vanya sedang bercerita mengenai suara Ayahnya yang senang begitu mendengar Dia akan datang dengan calon mantu. Tapi setelah lama Dia bercerita Juna hanya diam. "Kakak.." Vanya bahkan melambaikan tangannya didepan wajah Juna.
Dalam diamnya Nino melihat ke kursi belakang melalui kaca spionnya. "Nona, berikan ini pada Tuan Muda, jangan sampai Dia terbangun" tangannya mengulurkan bantal kecil untuk leher Juna agar tidak sakit.
Nino masih memperhatikan apa yang Vanya lakukan dan sesekali matanya beralih menatap jalanan didepannya. Mobil yang Dia kendarai kini berjalan semakin pelan agar tak membangunkan Juna.
Bagaimana Anda bisa tertidur segampang itu Tuan.. Apa Anda benar benar menemukan obat tidur Anda? Selamat istirahat Tuan Muda..
***
Pagi ini kekacauan terjadi di kediaman Juna. Jam 6 pagi Nino mendapat telepon dari kepala pelayan, mengatakan bahwa Dia menemukan Juna dalam kondisi tidak sadarkan diri dilantai kamarnya. Dalam kepanikan Dia dan Dokter Ferdi bergegas dengan kecepatan penuh mereka membelah jalanan pagi Ibukota.
Tabung infus kecil pun Ferdi berikan pada Juna. Beruntung kepala pelayan cepat menemukannya, awalnya Pak Setyo bahkan tidak menaruh curiga apapun. Tidak berniat juga untuk mengecek kondisi Juna didalam kamar.
Dia yang sedang ada ditangga mendengar suara kaca yang pecah dari arah kamar Juna membuatnya berlari dan bergegas masuk. Setelahnya Dia menemukan Juna dengan kondisi terkapar di lantai. Membuatnya panik dan menghubungi Nino serta Ferdi.
Beberapa saat kemudian Juna siuman, wajah pucatnya berangsur angsur memudar. Setelah selesai pemeriksaan, Dokter Ferdi kini duduk diam dengan kedua tangannya bersedekap didepan dadanya, menatap Juna lurus. Membuat yang ditatap jadi salah tingkah.
"Apa?" pelan Juna akhirnya bersuara tidak tahan jika ditatap begitu, Dia merasa seperti layaknya tersangka yang tengah diadili.
"Berapa jam kamu tidur semalam?"
"Aku tidak bisa tidur"
Ferdi masih dalam posisinya, "Kemarin?"
__ADS_1
"Hmmm 2 jam?"
"Hari sebelumnya?"
"1 jam? Hmmm mungkin?"
"Hari sebelumnya lagi?"
"Haah Aku tidak bisa tidur bahkan hari sebelumnya dan sebelumnya lagi" pasrah Juna menjawab agar cepat selesai, Dia mulai kesal.
"6 hari?? Kamu hampir tidak tidur selama seminggu, dan tidak memberitahuku?" Haaah Ferdi menahan kekesalannya.
"Apa Aku tidak penting bagimu Jun.." Dokter Ferdi sedang menggunakan jurus terakhirnya, memelas "Apa Kamu tidak bisa minum sesuatu, susu misalnya?"
"Aku tidak suka"
"Lalu apa? Kamu lebih suka diinfus? Kenapa tidak memberitahuku? Aku akan memberikanmu infus yang sangat Kamu sukai agar begitu istrimu melihatmu Dia akan berpikir Kamu punya penyakit menular dengan tubuh penuh bekas suntikan infus"
"Aku juga tidak suka diinfus"
Haaah... Ferdi frustasi
***
"Tuan.. Tidakkah Anda menyetir terlalu pelan?" Vanya bersuara setelah memperhatikan sekitar, mobil yang dikendarai Nino bahkan tidak lebih kencang daripada sepeda motor bebek yang dibawa oleh mak emak disampingnya.
"Tuan Muda sedang tidur Nona" Nino hanya menjawab singkat. Jawaban super singkat yang bahkan tidak menjelaskan apa apa bagi Vanya.
"Tapi, ini terlalu pelan Tuan, bagaimana kalau kita sampai 2 jam kemudian?"
"Nona, Tuan Muda sedang tidur. Bisakah Anda tenang?"
"Atau Tuan, biar Saya yang nyetir ya?"
"Apa menurut Anda, Saya akan mempercayakan keselamatan Tuan Muda pada Anda"
"Yaa?? Tapi Aku bisa nyetir, Aku punya SIM Tuan"
"Tapi Saya tidak percaya pada Anda" Nino berkata dengan menekankan tiap kalimatnya, membuat Vanya semakin kesal frustasi.
Haaah bagaimana bisa tidur jadi alasan?? Kenapa Anda tidur disini Tuan Muda?? Dasar aneh.. Lihat.. Ibu itu bahkan bawa motor lebih kencang daripada mobil yang dikendarai anak muda seperti Dia. Kyaaaa!!! Tuan Muda bangun!! Sadarkan sekretaris gila Anda...Dia aneh sekaligus gila!? Dia tidak percaya padaku?! Padahal negara saja percaya padaku, karena itu kan Aku punya SIM. Hiks.. Aku capek.. Kakak ayoo banguunnn.. Hiks.
Vanya semakin dibuat frustasi, bagaimana bisa jarak yang biasa Dia tempuh selama 1 jam jadi semakin panjang hanya karena Nino yang nyetir. Jalanan yang mereka lalui pun bahkan tidak macet sama sekali.
***
__ADS_1