
Vanya memulai hari Seninnya dalam kekacauan. Kalimat 'tanggung jawab' terus bergema dalam kepalanya.
Kemarin Dia diantar oleh supir Tuan Juna kembali ke apartemennya. Dia cukup berterimakasih begitu menemukan mobilnya terparkir di parkiran kompleks apartemen yang Dia tinggali. Walau masih sama sama di Ibukota, Vanya memilih keluar dari rumah orangtuanya agar tidak perlu terburu buru saat harus kekantor, menghindari padatnya jalanan Ibukota, ditambah ingin mandiri menjadi alasannya hingga mendapatkan izin tinggal sendiri. Dalam kondisinya kini entah Dia harus berterimakasih atau bagaimana, tidak lucu kan anak gadis tidak pulang semalaman?? apa kata orangtuanya. Dia bahkan mulai takut jika hal ini diketahui orangtuanya.
Selama perjalanan Vanya komat komit berdoa agar hari ini dirinya menjadi tak kasat mata dan tidak menarik atensi apapun dari Sekretaris Nino. Dia tidak siap harus menghadapi Nino dikantor. Tidak tahu juga harus bagaimana. Selama rapat nanti Vanya akan memilih diam tidak bertanya dan tidak menunjukkan kehadirannya. Dia bahkan berencana akan duduk dipojokan kalau perlu tertutupi karyawan senior lainnya.
Jika bisa memilih Vanya ingin agar tak ikut rapat tersebut, tapi jabatan yang dia emban sebagai Asisten Manjer tim design mengharuskan dirjnya hadir. Dia cukup lega bahwa bukan Juna lah yang menghadiri rapat dikantornya melainkan tangan kanannya Sekretaris Nino.
***
Pagi ini rasanya Vanya ingin memaki, berteriak mengeluarkan kekesalannya. Sungguh. Begitu mendarat di meja kerjanya Manajernya mendekat, menyerahkan tugas presentasi yang harusnya Dia lakukan kepada Vanya. Rencana Vanya yang coba ia susun selama perjalanannya hancur berantakan.
Wanita yang tengah hamil muda itu hanya tersenyum beralasan bahwa Dia agak lelah hari ini, rasa rasanya kakinya agak lemas jika harus berdiri lama.
Alasan!!
Tentu saja hanya alasan. Ria Manajer tim Design itu hanya memberi alasan seadanya pada Vanya, menggunakan kondisi tubuh ibu hamil untuk membungkam jawaban Vanya. Dia kuat. Terlalu kuat malah jika harus memaparkan presentasi mewakili timnya mengenai proyek yang kini mereka tangani. Walaupun kini kehamilannya ada pada usia 11 weeks, Dia cukup kuat berjalan kesana kemari tentu dengan sepatunya yang datar, tidak seperti karyawan lainnya.
Pagi tadi Dia diberi perintah oleh atasan, membuatnya harus menyerahkan tugasnya pada Vanya. Tak masalah baginya, apapun alasan yang melatar belakangi perintah itu tak ingin Dia pikirkan. Bukan urusannya juga. Dengan senang hati Dia menyanggupi dan membantu Vanya mempersiapkan dirinya, memberi briefing singkat. Heheh. Si Bumil sedang bahagia memancarkan senyum cerahnya.
***
Apa yang terjadi jika sekarang Aku pura pura pingsan?? Bisakah Aku keluar dari situasi ini??
Vanya makin frustasi begitu melihat siapa yang ada diruangan rapat berukuran super besar itu. Juna duduk santai dengan tangannya di atas meja. Sesekali Dia mengalihkan tatapannya pada Nino, Sekretarisnya, mendengarkan penjelasan sepertinya. Kehadiran Juna tentu membuat gempar kantor tersebut.
__ADS_1
Jika biasanya nama Tuan Nino terdengar disebut dari berbagai sudut, sekarang malah nama Tuan Juna yang terdengar mendominasi. Siapa juga yang akan tahan untuk tidak membicarakannya. Wajah tampan, postur tubuh tinggi tegap cukup membuat kaum hawa terpana. Apalagi jika membayangkan kekayaannya. Menghadirkan gosip mengenai ini dan itu.
Vanya dibuat makin pusing. Dia harus memaparkan presentasi timnya. Bagaimana mungkin Dia akan lolos dari tatapan dingin Juna. Kata 'tanggung jawab' kembali hadir dan bergema berulang kali dalam benak Vanya. Rasanya sungguh Dia ingin kabur dan menyerah. Dia tidak ingin jika harus ditatap Juna.
Bisakah Vanya kabur? Tidak semudah itu Ferguso.
Sebelum kabur, tentu Dia harus memastikan timnya tidak mendapat masalah. Siapa juga yang mau menggantikannya dalam situasi super mepet tersebut. Bagaimana bisa dari sekian banyak departemen mereka tidak memberi laporan. Bukankah hanya hukuman yang menanti? Belum lagi Vanya tak sampai hati jika meminta Kak Ria yang merupakan seniornya itu untuk menggantikannya. Beberapa pikiran mengenai hamil sudah menghantuinya tadi malam.
Bagaimana jika karena kesalahan satu malam itu ia hamil? Apa yang harus ia katakan pada Ayah dan Ibunya. Dia tentu tidak akan mampu bertemu mereka, bukankah jika itu terjadi sama saja Dia telah mencoreng nama baik kedua orangtuanya. Kembali teringat dengan kata 'tanggung jawab' bisakah jika Dia minta dinikahi? Ide konyol memang. Tapi bukankah itu satu satunya cara. Lagipula laki laki mana yang mau menerimanya jika benar hamil.
Haaah
Entah keberapa kalinya Vanya bernapas cukup keras. Frustasi tergambar jelas darinraut wajahnya.
"Mbak Vanya gugup ya?"
"Semangat ya Mbak.." Gadis itu tersenyum ramah mengepalkan tinjunya ke udara membuat Vanya tersenyum dalam hati ia berucap 'Iya Nana, Aku akan mencoba semangat'
***
Setelah jadwal makan siang, Juna kini menginjakkan kakinya kembali ke salah satu anak perusahannya WM Property. Tidak banyak yang berubah. Perusahaan itu masih tetap berdiri kokoh, setiap sudut tertata rapi ketika Dia melewati loby.
Lantai dasar tersebut biasanya digunakan untuk menyambut tamu ataupun klien yang ingin berdiskusi. Begitu melewati pintu masuk, yang pertama terlihat adalah meja panjang resepsionis yang siap melayani dan memberi penjelasan. Didinding bagian atasnya ada titik titik melingkar berjumlah 60 buah sebagai penunjuk waktu, beberapa titiknya dibuat lebih agak sedikit lebih panjang. Lengkap dengan dua jarum menit serta detik yang bergerak teratur. Jam super besar tersebut tanpa bingkai dan memiliki warna hitam kontras jika dibandingkan dengan dinding yang didominasi warna putih tulang tersebut.
Disisi kiri dan kanannya terdapat kursi dan sofa berderet lengkap dengan meja didepannya bisa digunakan untuk berdiskusi mengenai design interior ataupun design bangunan. Dapat digunakan sebagai ruang tunggu juga. Beberapa tanaman hijau dan segar ditata apik dibeberapa sudut ruangan, menawarkan kesegaran untuk mata. Beberapa pigura berisikan lukisan terpampang dibeberapa sudut dinding lobby. Disalah saru sisi, terdapat ruangan berbatas dinding kaca kedap suara, berisikan meja panjang dan kursi bisa digunakan sebagai ruang rapat mini.
__ADS_1
Bagi Juna, yang tampak berbeda mungkin hanya karena Dia tak terlalu dikenali. Bukannya menyapa dirinya, beberapa karyawan malah tampak menunduk menyapa Nino membuat Dia tergelitik ingin menggoda Nino.
"Nino"
Kini mereka memasuki lift. Menuju lantai 6 tempat rapat dilaksanakan.
"Ya Tuan"
"Sepertinya mereka lebih mengenalmu. Apa Aku pulang saja?" Ingin menggoda Nino.
Tampaknya Juna ingin memberi hiburan untuk dirinya sendiri, kapan lagi Dia akan melihat wajah merah Nino yang bercampur malu.
"Tidak Tuan..."
Nino bahkan tak tahu harus menjawab apa. Hanya diam. Menanti lift yang mengantarkan mereka sampai ditujuan. Tanpa Juna berkata pun, Nino sudah cukup kesal. Karena bukannya menyapa Juna, beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka malah menyapa dirinya. Dia bahkan sengaja berjalan sedikit dibelakang Juna, ingin menunjukkan bahwa Dia tidak sendiri dan ada seseorang yang berpangkat lebih tinggi sedang Dia layani. Kesal karena mereka malah tidak mengerti.
***
Rapat sudah dimulai, laporan dari berbagai departemen disampaikan bergiliran. Juna mendengarkan dengan serius. Sesekali Dia meminum jus buah yang telah tersedia didepannya atau air mineral. Kadang melontarkan beberapa pertanyaan juga atau meberi saran dan perbaikan. Beberapa karayawan menjawab dengan tenang ketika pertanyaan darinya terlontar, beberapa lainnya malah gelagapan kaget bercampur takut. Dalam hati Juna malah mendesah cukup kesal apa dirinya tampak semenakutkan itu?
Hingga laporan dari tim design. Vanya memaparkan laporan mengenai proyek yang telah selesai dan tengah timnya kerjakan. Kesulitan, hambatan hingga masalah yang tengah mereka rasakan pun tak lupa disampaikannya.
Juna tergelak dalam hati. Vanya benar benar menghindari tatapannya, seakan tak ingin melihatnya. Mencoba menghindar dengan sangat jelas.
Rapat siang itu pun selesai setelah memakan waktu tiga jam. Selaku Presdir tentu Juna memberikan berbagai masukan pengarahan hingga perbaikan.
__ADS_1
***