
Saat Vanya sibuk karena mencoba beberapa gaun, Juna malah berkeliling ditoko tersebut. Memilih dan menunjuk beberapa pakaian, ada dress beraneka warna dan motif serta blouse dan beberapa atasan wanita lengkap dengan beberapa bawahan berupa celana ataupun rok, beserta tas berbagai ukuran. Dia tentu memilih tanpa sepengetahuan Vanya. Tak lupa Juna pun minta pada pegawai yang menemaninya agar menyesuaikan ukurannya dengan tubuh Vanya.
Juna cukup lelah menertawakan tubuh Vanya yang tenggelam dalam gaun yang dikenakannya. Tubuhnya memang lebih pendek jika dibandingkan Juna, hanya mencapai tinggi bahu Juna.
Setelah itu Juna membawa Vanya ke sebuah restoran untuk makan malam tentunya.
***
Obrolan mereka cukup serius, Vanya menjawab apa yang ditanyakan Juna dengan santai. Mereka bicara selayaknya dua manusia yang ingin saling mengenal dan membiasakan diri terhadap satu sama lainnya.
Sekretaris Nino pun duduk dimeja yang terpisah dari mereka. Menjaga jarak. Jarak yang cukup membuat hati Vanya lega. Dia terlalu sering takut jika harus dihadapkan dengan Nino, malah Vanya lebih takut pada Nino jika dibandingkan Juna.
Mereka membahas beberapa hal mengenai rencana pertemuan mereka dengan keluarga besar. "Aku akan menghubungi Ayah dulu, tapi biasanya mereka memang cuma dirumah saja Tuan, karena sudah pensiun"
"Vanya"
"Ya Tuan" refleks dia menjawab tanpa berpikir
"Apa didepan orangtuamu kamu ingin tetap memanggilku Tuan? Apa kamu berencana memberi tahu mereka tentang hubungan kita sebenarnya?"
Vanya mencebikkan bibirnya kesal "Tidak.. Kenapa juga Aku memberi tahu mereka. Kalau mereka malah kecewa gimana?"
"Ganti panggilanmu" diiringi decakan kesal Juna
"Iyaa.. Tapi Aku musti panggil apa?" terdiam sebentar "Anda ingin Aku panggil apa?"
"Hmmm.." Juna sedang sok berpikir "Kamu pikirkan sendiri"
Vanya makin kesal, kini dia malah memutar bola matanya jengah, Dia mulai berpikir. Dan tanpa Vanya sadari, seseorang yang duduk didepannya memperhatikan dengan seksama. Dia bahkan tersenyum geli setelah membuat Vanya kesal. Hobi baru sepertinya.
"Kakak.. Aku panggil kakak saja ya?" Vanya tersenyum cerah seakan menemukan jawaban tersulit didunia, tapi senyumnya hanya mampu bertahan sebentar.
"Sejak kapan kamu jadi adikku?"
Jawaban polos Juna membuat Vanya kembali cemberut, pipinya kini malah menggembung minta ditarik, membuat Juna makin gemas.
"Terus apa?"
"Mana Aku tahu" Juna hanya mengangkat bahunya dengan senyum yang bagi Vanya tampak seperti mengejeknya.
Makanan mereka tersaji ditata oleh pelayan. Beberapa saat kemudian mereka masih makan diselingi obrolan ini dan itu. Janji Juna terucap, ia akan datang dihari minggun dan diiyakan Vanya tanpa menaruh curiga.
"Lalu Aku kapan ketemu keluarga kakak?" Vanya dengan sengaja mulai membiasakan diri memanggil Juna dengan kakak, walau sudah ditolak, semangatnya semakin berkibar. Ingin membangkang, siapa suruh Dia tidak membantuku berpikir, fikir Vanya santai.
Juna hanya mengerjapkan matanya beberapa kali "Tidak ada"
"Apanya yang tidak ada kak?"
"Sepertinya tidak ada keluargaku yang harus kamu temui. Adikku sedang diluar negeri, sedang proses menyelesaikan studi S2. Sisanya tidak ada sepertinya"
Haah?? Vanya semakin bingung "Orangtua kakak?"
"Kau ingin bertemu?"
"Iyaa.. tentu saja.. Aku kan harus bertemu mereka. Bagaimana jika mereka tidak mengizinkan? Aku kan harus minta restu dari mereka.." pelan Vanya menjawab agak ragu, terlebih setelah mendengar jawaban ambigu Juna.
__ADS_1
"Baiklah.. Setelah dari rumah orangtuamu saja"
"Baik kakak" Vanya tersenyum senang. Dalam hati dia berharap, terlepas dari alasannya bisa menikah dengan seorang yang sempurna seperti Juna, Dia berharap Tuhan akan memberinya sedikit kebahagiaan. Mungkin dengan diterima dengan baik ditengah keluarga Juna akan sedikit mengobati hatinya.
Tanpa Vanya sadari seseorang kini menatapnya tajam menahan kesal.
Bukankah nyali Anda terlalu besar Nona?? Rasanya Aku ingin menyeretmu dan merobek mulutmu. Bukankah Anda terlalu berani membuatnya sakit hati, bahkan disaat Anda belum memiliki hubungan apapun dengannya. Anda membuka luka yang tak ingin diperlihatkannya pada siapapun..
Nino mendesah kesal begitu melihat awan mendung menutupi mata Tuan Juna. Datang seketika dalam sekejap mata. Kenapa juga sih membahas orangtua. Haaah
***
Vanya semakin bingung, setelah makan malam Juna hanya diam. Walau ingin tahu, dia dengan sekuat tenaga menahan dirinya. Dia memilih mengingat ingat pembicaraan mereka tadi.
Pembicaraan kami tadi cukup lancar, lalu kenapa dia diam?? Apa mungkin Aku berbuat salah?? Tapi apa?? Kenapa?? Hmmmm apa dia kelelahan? Mungkin kah?? Apa iyaa yaaa.. Hmmm
Sesaat kemudian mereka sampai didepan pintu masuk kompleks apartemen Vanya. Vanya cukup kaget begitu melihat keluar, karena sibuk berpikir dia jadi tidak sadar dibawa kemana. Setelah mendapat informasi bahwa mobilnya akan diantarkan oleh tim keamanan, Vanya pun memilih mengucapkan terimakasih dan segera pamit.
***
"Nino, dia melupakan ini"
Nino yang akan melajukan mobil yang dikendarainya berhenti begitu mendengar suara Juna. Dia berbalik mencari tahu apa yang dibicarakan Juna, tas Vanya masih tergeletak dikursi belakang.
"Sepertinya dia benar benar bodoh" Juna berbicara pelan. "Bagaimana bisa dia melupakan tasnya"
"Akan Saya antarkan Tuan"
Sebelum tangan Nino berhasil menjangkau tas itu, Juna terlebih dahulu menariknya, "Tunggu disini" setelahnya dia keluar dari mobil.
***
Apa apaan dengan pemandangan gila ini??!
Mereka berpelukan di tengah loby yang dilalui orang orang?? Bukan. Laki laki gila itu yang memeluknya. Dia tersadar begitu mendengar teriakan Vanya, tubuhnya kini tampak menggeliat memberontak minta dilepaskan.
Dengan kemarahan yang mencapai puncaknya, Juna menarik keras kerah kemeja orang itu. Tanpa mempedulikan sekitar, dia bahkan tak peduli akan teriakan yang mengaduh kesakitan itu. Matanya cukup panik menjelajahi tubuh Vanya
"Kau tidak apa apa?" tangannya menyentuh pipi Vanya membaliknya, memastikan keadaan Vanya. Dia memeluk tubuh Vanya yang dapat dirasakannya bergetar terkejut.
***
Apa ini?? Kenapa dia disini?? Kenapa dia memeluk Vanya??
Bram terkejut. Tubuhnya kini nyeri kesakitan begitu menghantam dinginnya lantai. Dia semakin dibuat terkejut bagitu melihat Vanya yang kini ada dipelukan seseorang yang tanpak tak asing baginya. Bagaimana mungkin mereka saling kenal. Dia tak habis pikir menyaksikan adegan didepan matanya.
Pelan Dia berusaha berdiri, "Tuan Muda?" Bram bersuara pelan dan ragu. Dia ingin memastikan. Kini pelukan mereka telah terlepas, tapi wajah Pria itu masih tampak khawatir meneliti tubuh Vanya.
Merasa dirinya dipanggil, Juna pun berbalik suaranya dingin menyapa pendengaran Bram
"Kau mengenalku?"
"Yaa Tuan" kini matanya beralih menatap Vanya dan Juna bergantian.
***
__ADS_1
Setelah kekacauan yang terjadi, Vanya mencoba menenangkan Juna. Dia tentu dengan jelas melihat kemarahan Juna, entah Dia harus bagaimana berterimakasih nanti. Dia cukup sesak saat tadi dipeluk Bram, tidak rela tubuhnya disentuh Bram, membuatnya memberontak berusaha melepaskan diri. Tapi tenaga Vanya tentu kalah dibanding Bram yang memeluknya erat. Hari ini dia diselatkan karena tasnya yang tertinggal, membuat Juna datang padanya. Terimakasih Tuan Muda..
Vanya mengambil jarak aman, Dia akan meladeni Bram untuk terakhir kalinya. Tapi tidak ingin jika pembicaraannya dan Bram didengar Tuan Juna apalagi Tuan Sekretaris dingin itu. Mungkin ini memang saat yang tepat, atau memang saatnya mereka harus bicara untuk yang terakhir kalinya.
Masih dibawah pandangan tajam Juna, Vanya memulai pembicaraannya.
"Ada apa? Kenapa Anda kesini?" Vanya mencoba menahan kemarahannya.
"Ada apa? Kau sendiri kenapa?" Bram berkobar marah "Apa apaan cara bicaramu, dan kenapa bisa dengannya?" dia mencoba bicara dengan pelan, menahan geram. Menunjuk Juna dengan ekor matanya, takut jika suaranya terdengar oleh Juna.
"Bukan urusanmu"
"Apa yang bukan urusanku Vanya? Kau..."
"Kita sudah putus!" tegas Vanya bersuara memotong kalimat yang ingin diucapkan Bram.
"Putus? Kapan? Kenapa? Kenapa kita putus?"
"Bukankah Aku pernah mengatakannya.. Aku tidak ingin dibohongi, bukan Aku tidak mau memiliki hubungan yang berdasarkan kebohongan!"
Bram terdiam sesaat, "Aku tahu..."
Belum selesai Dia berbicara, Vanya kembali memotong "Tapi Anda membohongiku, Anda bahkan dengan senang hati bercumbu dengan wanita lain!! Dibelakangku, Kamu membohongiku Bram!"
Bram terdiam
"Lalu apa yang harus Aku pertahankan dari hubungan kita? Bukankah hasilnya sudah terlalu jelas?" Vanya diam, mengatur napasnya sebelum kembali melanjutkan, "Bukankah Aku pernah mengatakan, jika memang sudah tidak menyukaiku, maka akhiri hubunganmu denganku, bukannya malah bermain dibelakangku"
Suara Vanya bergetar, menahan sesak membuat Bram terdiam.
"Vanya, kamu salah paham sayang"
"Aku melihatnya dengan jelas, bahkan terlalu jelas. Jika memang ingin mencari alasan jangan menggunakan kalimat salah paham Bram"
"Hubungan kita sudah selesai, jangan temui ataupun menghubungiku lagi"
"Lalu apa? Kamu lebih memilih Dia? Menurutmu apa bedanya Dia denganku? Kau tahu Dia siapa?"
"Dia jauh lebih baik darimu!!"
"Dia hanya anak yatim piatu dengan kekayaan berlimpah! Apa menurutmu Kau akan bahagia dengannya?!"
"Kau salah Vanya, pilihanmu salah"
Vanya terdiam sesaat, terkejut dengan apa yang Bram katakan padanya, "Jaga mulutmu, Bram!! Dia lebih baik daripada Pria sepertimu!"
"Vanya kau..."
Vanya kembali menyela, "Dia calon suamiku, jaga bicaramu Bram!!"
Bram terdiam, "calon suami?" gumamnya pelan. Dia terkejut, lebih terkejut lagi dengan tatapan Vanya yang berisi kemarahan. Kemarahan pertama Vanya yang dia muntahkan untuk dirinya..
Vanya.. Apa Aku benar benar tak memiliki kesempatan lagi? Jangan pergi sayang...
***
__ADS_1