
Janji yang Diingkari
_Ines_
" Semoga kau selalu bahagia dengan pilihanmu nak!, Maafkan Papa tidak bisa membantumu. Yang tak bisa memikirkan perasaanmu. " Lirihku .
Yang seharusnya aku membantunya untuk menyelesaikan masalahnya, namun aku tidak melakukannya. Justru aku malah menambah masalahnya. Seharusnya aku memberinya semangat bukan malah mengusir dan membiarkannya untuk menyelesaikan masalahnya seorang diri.
" Maafkan Papa Intan " Lirihku.
Ku rebahkan tubuhku, aku harap ini hanya sebuah mimpi buruk. Aku harap ini tidak benar-benar terjadi di dalam hidupku.
Paginya aku terbangun, seperti biasa aku harus pergi ke kantor. Setelah semua selesai, aku keluar kamar menuju meja makan.
" Intan belum keluar kamar mah?, atau dia nggak masuk lagi?" Tanyaku pada Ratna sambil melinting kemejaku.
" Intan?, kamu lupa kalau kamu sudah mengusirnya dari rumah ini? " Jawabnya dengan nada lumayan tinggi.
__ADS_1
Kukira hanya mimpi, ternyata benar terjadi. Segera ku tinggalkan meja makan ini, aku sudah tak merasakan lapar lagi. Dengan perlahan aku mengendarai mobilku.
Sesampainya di kantor aku langsung menyibukkan diri untuk bisa mengalihkan pikiranku. Pikiranku benar-benar kacau. Seharian penuh aku berjibaku dengan laptop ku. Bahkan aku lupa kalau aku belum sarapan tadi pagi. Tak ada keinginan untuk mengisi perutku.
🌼🌼🌼
Hampa. Yang dulunya seramai pasar karena teriakan Intan, kini hening dan sepi.
Kini sudah satu bulan Intan meninggalkan rumah ini. Seperti apa kehidupannya sekarang? Apakah dia bahagia?. Tak inginkah dia berkunjung kemari untuk menemui Papa dan Mamanya?. Kalian pasti bertanya - tanya padaku bukan, kenapa bukan aku saja yang pergi kesana? Aku sudah terlanjur malu, aku takut jika aku kesana, Intan tak ingin menemui ku.
Bahkan aku selalu menunggu Intan ku pulang. Tapi tak ada tanda-tanda ia mau berkunjung kesini.
Suara ketukan pintu mampu membuyarkan lamunanku. Ku langkahkan kakiku menuju pintu utama.
" Dito? "
Dito datang bersama kedua orangtuanya, tapi kemana Intan?. Semarah itukah ia padaku?.
__ADS_1
🌼🌼🌼
" Pak Erik, em maaf sebelumnya. Atas nama Dito, saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada Anda dan terutama buat Putri anda yaitu Intan. Saya meminta maaf atas kelakuan tak senonoh anak saya terhadap putri Anda. Sungguh saya meminta maaf sebesar-besarnya Pak! " Ucap Pak Candra dengan menangkupkan kedua tangannya.
" Setelah saya mendengar cerita dari Dito, ternyata Dito sudah melakukan hal yang tak pantas terhadap Intan, bahkan sampai membuatnya hamil. Bahkan dia sempat tidak ingin bertanggungjawab kepada putri Anda. Sungguh saya sebagai Ayah Dito, saya malu terhadap kelakuannya, dan saya kecewa atas kelakuannya seperti ini. Saya gagal mendidik anak saya."
" Maka dari itu saya mau menikahkan mereka, saya ingin anak saya bertanggung jawab. Biar Intan tidak menanggung aib seorang diri Pak, biarlah aib ini Dito juga menanggung nya karena dialah yang membuat Intan hamil." Sambungnya.
" Bolehkah saya bertemu dengan Intan Pak? " Ucap Bu Candra.
" Intan?, Bukankah dia ke rumah Anda untuk meminta pertanggungjawaban?, dia pergi ke rumah Anda satu bulan yang lalu " Ucapku.
" Tidak ada Pak, dia tidak ada ke rumah saya satu bulan yang lalu!. Bahkan Dito memberi tau saya baru tadi malam. " Jawab pak Candra.
" Lalu kemana putriku pergi?" Lirihku.
Setelah saya mendengar cerita dari mulut Dito sendiri, yang pernah cek-cok dengan Intan sebelumnya. Ia bercerita sedetail mungkin. Marah? tentu!. Ayah mana yang tak sakit hati ketika mendengar putrinya diperlakukan seperti itu?, yang dianggap seperti bunga, yang hanya bisa diambil madunya saja, setelah hilang dicampakkan.
__ADS_1
Ingin sekali aku membuat Dito babak belur, tapi aku tak ingin mengotori tanganku. Najis aku memegang tubuhnya!.
Laki-laki brengsek, ia telah melakukan putriku seperti itu. Dan sekarang kemana putriku pergi?. Ku acak kasar rambutku.