
Janji yang Diingkari
_*Ines_
" Kemana saja kamu Intan?" Tangisnya pecah dan aku juga tak bisa membendung air mataku . Bahkan dia mencium pucuk kepalaku berulang kali. Aku di buatnya tercengang akan sikapnya ini.
" Kemana saja kamu ha! Kamu tau selama ini aku mencari keberadaan mu sayang. Bertahun-tahun aku mencarimu! " Ucapnya setengah berteriak.
" Kenapa kamu mencari ku? Bukankah kamu tak peduli dengan ku?" Ejekku.
Tak bisa menjawab dia.
" Siapa gadis yang tadi bersamamu Intan? Apakah dia putriku sayang ? " Tanyanya.
Sial. Dia melihat Adira.
" Siapa gadis yang kamu maksud itu Dito? Apakah kamu punya anak dariku? Tidak kan!" Sentakku.
" Intan " Lirihnya.
" Benarkan yang aku katakan itu? Kita tak pernah menikah! Kita hanya pacaran waktu itu, jadi kenapa kamu bertanya kalau dia anak kamu? " Ketus ku.
" Mas, aku sudah memesan makanan, kita tinggal cari tempat duduk " Ucap seorang wanita dari arah belakang.
Wanita itu menghampiri ku dan Dito. Seorang wanita muda yang sedang hamil.
" Dia teman kamu mas? " Tanyanya sambil menunjuk ke arah ku.
Dito tak menjawabnya, dia gugup sekarang.
" Mbak " Dia mengulurkan tangannya bermaksud untuk mengajak berkenalan.
__ADS_1
" Firda istrinya Mas Dito " Senyumnya ramah, dia melirik kearah Dito.
Deg!
Istrinya? Tak salah dengar kan aku? Jadi dia sudah menikah? Kebencianku kian bertambah. Katanya dia mencariku bertahun-tahun, mana buktinya? Bulshit. Nyatanya dia sudah menikah. Dia memang sudah gila.
" Sa- saya Intan " Ku jabat tangannya, aku tersenyum mengangguk. Segera ku tinggalkan tempat ini. Adira, dimana dia? Mataku mencari keberadaannya, itu dia, aku mengajaknya pindah Restoran. Bisa gawat kalau Dito menyusul ku kemari.
" Sayang, disini makanannya banyak yang habis, kita pindah yuk! " Ajakku.
" Mah, aku udah laper banget ini" Melasnya.
" Dira, disini nggak ada makanan yang kamu sukai, sudah habis nak, yuk! " Bujuk ku.
Dia mengangguk, dan berdiri dari duduknya. Ku pegang tanyanya dan berjalan keluar*.
🌼🌼🌼
Rasa sesak yang aku rasakan dari tadi kini aku tumpahkan. Dia telah berbohong, dia tak benar-benar mencariku. Dan dia begitu cepat untuk melupakanku. Seperti tak pernah membuat dosa saja dia!. Kini malah dia sudah mempunyai seorang istri dan calon anaknya. Dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, sedangkan aku?. Ku pukul bantalku berulang kali untuk mengurangi rasa sesakku.
" Tuhan, kenapa engkau mempertemukan ku dengannya? " Isakku.
Lama aku menangis. Entah kenapa aku berpikir bahwa Dito akan merebut Adira dariku.
" Tidak, aku tidak akan melepaskan kan Adira, aku ibunya, dan aku yang membesarkannya. Dia tak bisa merebutnya! "
" Aku harus meminta bantuan Papa " Kucari handphone ku, mencari nama kontak Papa. Ku pincet tombol hijau.
" Assalamualaikum Pah! "
" Waalaikumsalam Intan , Intan kamu nangis? Kenapa sayang? " Tanyanya.
__ADS_1
" Pah, bantuin Intan Pah! Bagaimana ini? Aku harus apa? " Huhuhu.
" Intan, tarik napas keluarkan. Ceritakan secara perlahan pada Papa, jangan gugup! " Titah Papa.
Aku bercerita padanya.
" Bagaimana ini Pah? Aku nggak mau kehilangan Adira. Aku tak ingin Dito merampas Adira dariku. Dia putriku bukan putrinya! "
" Intan tenang, disini ada Papa dan Mama membantu mu menjaga Adira, tenang nak! Jangan takut kamu, oke! "
" Apa aku pindah saja ya Pah? Ya aku harus pindah dari sini! Aku ingin kembali ke desa yang dulu pernah aku tinggali. Disana Dito tak akan bisa menemukan ku! " Gumamku.
" Em Intan, Papa selalu mendukung kamu, jika kamu pindah demi kebaikan mu dan cucu Papa! Papa akan membantumu."
" Lusa aku akan mengurus semuanya! " Ucapku.
🌼🌼🌼
Hari ini aku mengurus semuanya didampingi oleh Papa, mengurus sekolah Adira juga. Hari ini juga aku pindah ke desa yang dulu pernah buat aku bersembunyi. Aku mencari tempat tinggal baru, karena rumah yang dulu pernah aku tinggali sudah di jual oleh pemiliknya.
Tak mudah bagiku untuk membujuk Adira, untungnya ada Mama, Mama yang sudah membujuk Adira.
Aku berharap pada Tuhan, untuk terus melindungi ku dan Adira. Aku berharap, ditempat baru ini aku dan Adira lebih aman. Semoga!. Tanpa ada lagi bayang-bayang Dito.
Aku tersenyum lega. Sesekali aku pergi ke kota untuk mengurus butik ku. Bisa saja aku meminta Mama yang mengurus nya, tapi aku tak mau terus saja merepotkannya, sudah cukup selama ini aku membuat nya susah.
🌼🌼🌼
Sudah tiga bulan aku tinggal disini, Alhamdulillah aman. Bahkan Adira sangat betah tinggal disini, banyak teman katanya. Syukurlah kalau dia betah disini. Seminggu sekali aku mengajak Adira ke kota untuk berkunjung ke rumah Kakek neneknya. Bahkan Papa dan Mama juga sering kali berkunjung. Jauh dari kota membuat ku aman dan tentram.
Selesai.
__ADS_1