Janji Yang Diingkari

Janji Yang Diingkari
Bab 3


__ADS_3

Janji yang Diingkari


_Ines_


Entah mengapa aku jadi mengingat akan hal yang aku lakukan tadi. Sungguh diluar dugaan.


Sungguh aku menyesal . Benar - benar menyesal. Penyesalan yang tiada gunanya, dengan gampangnya aku menyerahkan mahkota ku. Mahkota yang seharusnya aku jaga dan berikan kepada suamiku kelak.


Aku takut, takut jika suatu saat nanti aku hamil, takut Dito mengingkari janjinya itu.


" Arrggh !, kenapa aku baru sadar sih?, dasar bodoh!" Umpatku kesal.


Sudah tidak bisa ku bendung lagi air mataku. Luruh sudah, menangis sejadi-jadinya.


" Seharusnya, aku tadi bisa mengelak, bisa kabur atau...arrgghh! " Jeritku


Memang percuma aku berandai-andai seperti ini, toh semuanya sudah terjadi, yang aku takutkan adalah Dito ingkar dengan janjinya. Dan aku takut jika Dito meninggalkan aku.

__ADS_1


🌼🌼🌼*


Hari ini aku izin tidak masuk kuliah. Aku sedang malas untuk melakukan hal apapun. Malas bertemu Dito dan malas bertemu dengan semua orang. Hari ini aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Maka aku putuskan untuk menonaktifkan handphone ku.


🌼🌼🌼


Satu Minggu sudah berlalu..


Kini aku sudah memulai aktivitas ku kembali, berusaha untuk tenang, entah sampai kapan aku harus menutupi kebohongan ini. Dan akhir - akhir ini pula aku merasakan perubahan sikap Dito, berubah menjadi cuek dan bersikap biasa, seolah - olah dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun.


Berbanding balik denganku. Aku sekarang tidak bisa hidup tenang lagi, aku yang selalu dihantui oleh rasa bersalah dan penyesalan.


🌼🌼🌼


Tidak terasa sudah satu bulan lebih aku mampu menutupi satu kesalahan ku ini. Dan begitu pula belakangan ini sikap Dito benar - benar berubah total. Yang dulunya perhatian,peka, dan suka kasih perhatian lebih ke aku, tapi sekarang dia sudah bersikap cuek, dingin, dan bodoamat- an. Dia benar-benar berubah, tidak seperti Dito yang dulu aku kenal.


Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya. Aku sedang melakukan makan malam bersama keluarga ku. Kami makan malam hanya bertiga, karena Mas Tama sudah berumah tangga. Dengan cekatan aku menyiapkan piring dan lainnya. Dengan segera aku mengambilkan nasi ke atas piring Papa dan Mama. Belum sempat aku menyendok kan nasi kedalam mulut ku. Tiba-tiba aku merasakan mual.

__ADS_1


" Hoek, hoek! " Spontan aku langsung menutup mulutku. Bau opor yang menurutku sangat menyengat, menusuk Indra penciuman ku.


" Aneh, biasanya juga biasa saja saat aku mencium bau opor " Gumamku.


" Intan, are you okey?. Kamu kenapa nak, sakit?. Tanya Mama.


" Nggak kok mah!, cuma, eng cuma kaya mual aja ". Jawabku


" Pucet lho muka mu itu Intan!" Kata Papa


" Mau Papa panggilkan Dokter?" Sambungnya


" Nggak usah Pah!, emm mungkin ini hanya masuk angin saja. Aku istirahat ke kamar aja ya Pah ". Ucapku dengan sedikit tergagap.


" Hem iya udah deh, cari obatnya di laci dekat Tv, coba kamu cari sendiri ya?. Terus kalau udah ketemu langsung diminum obatnya! " Perintah Mama .


" Iya Mah." Sambungku.

__ADS_1


Setelah aku menemukan obatnya, dengan segera aku meminumnya. Ku rebahkan tubuhku di atas kasur.


" Semoga hanya masuk angin biasa " Lirihku.


__ADS_2