
**Janji yang Diingkari**
\_Ines\_
Mama menoleh ke arahku, berhambur memelukku. Memelukku dengan sangat-sangat erat .
" Intan, jangan pergi. Mama tau kamu membuat Mama marah dan kecewa , dan kamu membuat kesalahan yang sangat besar. Mama mohon, jangan pergi dari rumah ini, ini rumahmu. Jangan dengarkan ucapan Papa mu! " Huhuhu
" Mah, tapi ini sudah konsekuensinya Intan. Mah, Intan minta maaf sering buat Mama nangis, buat Mama marah, aku membuat kesalahan yang sulit untuk di maafkan."
Ku urai pelukan. Kuusap perlahan air mata Mama, ku tangkup wajahnya menggunakan kedua tanganku. Kupandangi lama, ini hari terakhir aku melihatmu Mah . Wajah yang akan selalu membuatku rindu.
Mama hanya mengangguk.
" Mah, Intan harus pergi. Mama jangan lupa jaga kesehatan, jangan lupa makan, ya?. Dan jangan terlalu banyak Mama menangis mikirin Intan nanti."
Setelah aku bertanya keberadaan Papa. Ku langkahkan kaki menuju ke kamar Papa.
__ADS_1
Tok! tok!
" Pah, buka pintunya dong. Intan minta maaf ya Pah, karena Intan sudah membuat kesalahan yang begitu besar. Pah aku mau pamit sama Papa. Intan mohon, buka pintunya Pah."
Hening
" Pah, Intan minta maaf sudah membuat Papa kecewa, membuat Papa marah, Maafin Intan Pah. Papa jangan lupa selalu jaga kesehatan ya, jaga pola makan Papa dan jangan lupa selalu jagain mama. Intan minta maaf belum bisa bahagiain kalian, belum bisa menjadi yang kalian mau."
Masih hening.
" Pah, tak maukah papa memeluk Intan untuk yang terakhir kalinya?" Lirihku.
" Intan pergi ya Pah. Ingat pesan Intan tadi, terimakasih kalian sudah merawat dan mendidik Intan dengan sangat baik. Aku akan selalu merindukan kalian*".
🌼🌼🌼
Ku langkahkan kaki menuju pintu utama. Hari ini aku benar-benar pergi. Masih tidak percaya, aku akan menjalani hidup seperti ini. Ku kendarai mobilku secara perlahan. Ya, aku lebih memilih menggunakan mobil daripada motor kesayanganku, karena banyak barang yang aku bawa.
__ADS_1
" Kemana aku harus pergi? " Lirihku
Tak mungkin aku kerumahnya Mas Tama, dia akan sangat-sangat marah bila mengetahui kehamilan ku.
Setelah berpikir lama, maka aku putuskan untuk tinggal di daerah pedesaan saja. Yang jauh dari keramaian kota, aku ingin hidup tenang. Dan aku juga tidak lupa untuk mengganti nomor telepon ku dengan nomor yang baru. Aku ingi benar-benar hidup tenang.
Aku sudah sampai di daerah pedesaan. Pedesaan yang tidak jauh dari tempatku berasal. Aku mulai mencari kontrakan rumah yang sudah lengkap dengan isinya. Kurang lebih satu jam aku keliling mencari kontrakan, akhirnya aku menemukannya.
Bisa aku lihat dari kejauhan.
" Lumayan nyaman " Lirihku.
Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Pas untukku dan calon anakku nanti. Dekat dengan toko dan juga pasar. Akan sangat mudah jika aku ingin membeli sesuatu.
Aku menelepon orang yang punya kontrakan, tak lama kemudian datang seorang perempuan dengan menenteng sebuah tas kecil.
" Mungkin itu ibu kostnya " Pikirku.
__ADS_1
Benar dia lah pemilik kontrakan ini. Setelah transaksi akhirnya aku resmi menempati rumah ini, hari ini juga. Aku menyewa rumah ini selama setahun. Menggunakan uang tabungan ku selama aku masih SMA, tak sia-sia aku menabung selama ini, sekarang aku membutuhkannya, cukup untuk dua tahun kedepan. Dan jika aku betah aku akan memperpanjang masa kontrak. Entah sampai kapan aku tinggal disini.