Janji Yang Diingkari

Janji Yang Diingkari
Bab 7


__ADS_3

**Janji yang Diingkari**


\_Ines\_


Ku rebahkan tubuhku diatas kasur. Aku ingin mengistirahatkan otak dan tubuhku.


Keesokan harinya aku izin cuti selama dua hari. Selain aku tidak ingin bertemu dengan Dito aku juga masih mual.


" Sayang, badan kamu masih lemes?. Mama panggilin Dokter aja ya, biar cempet sembuh kamu, ya Sayang? Ucap Mama


" Jangan Mah!, nggak usah. Bentar lagi juga sembuh kok! ". Jawabku


" Mama khawatir lho, nggak tega lihat wajah kamu pucat begitu. Mama panggilin aja ya? "


" Nggak usah Mama " Rengekku.


Aku tidak mau Mama mengetahui kehamilan ku. Tapi bagaimanapun juga, lambat laun mereka pasti akan mengetahuinya.


🌼🌼🌼


Selama dua hari ini aku menonaktifkan handphone ku. Malas banget aku meladeni Dito!.


Bahkan sudah seminggu ini aku mengabaikan Dito. Dan selama ini juga aku berusaha untuk tetap kuat walau sebenarnya aku sangat-sangat rapuh. Aku tidak ingin Mama curiga dan mengetahui perubahan pada tubuhku ini. Entah sudah berapa Minggu janin ini berada di rahimku. Aku tak ada keberanian untuk memeriksanya.

__ADS_1


🌼🌼🌼


Hari ini aku putuskan untuk kembali kuliah, sudah cukup kemarin aku bermalas-malasan.


" Semoga tak mual saat di kelas " Batinku.


Sesampainya di dalam kelas, aku hanya diam sambil membaca buku. Entah Dito masuk atau tidak, aku sudah tak peduli, toh dia juga tidak memperdulikanku dan calon anaknya.


🌼🌼🌼


Sesampainya di rumah, aku dihadang sama Mama dengan sorot mata setajam elang.


" Intan, duduk! "


" Mama mau tanya sama kamu, jawab dengan jujur. Punya siapa ini?." Tanya Mama tanpa basa-basi.


Hatiku mencelos, tak kuat lagi aku menopang badanku, ambruk ke sofa. Aku lemas ketika aku melihat Mama mengeluarkan benda yang sudah aku simpan ditempat yang aman. Kini benda itu sudah berada digenggaman tangan Mama. Lidahku kelu tidak dapat menjawab pertanyaan Mama.


" Mama tanya sama kamu Intan!, punya siapa ini ha?. Kenapa benda ini ada di laci kamar kamu? benda ini bukan punya kamu kan nak?" Tanya Mama menggoyang kedua bahuku.


Aku tak berani menjawab. Aku diam menunduk .


" Tak punya mulut kamu Intan?, sehingga kamu nggak mampu menjawab pertanyaan Mama?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


Satu tetes air mataku jatuh. Kini aku tak dapat membendung nya lagi. Rahasia yang sudah aku tutupi selama ini akhirnya terbongkar juga. Memang benar kata pepatah sepintar - pintarnya bangkai ditutupi, baunya akan tetap tercium juga.


" Kenapa kamu diam saja Intan? jawab pertanyaan Mama!" Bentak Mama.


Ku pejamkan mata karena aku kaget Mama membentakku. Terlihat Mama mengotak - atik ponselnya.


" Biar papamu saja yang bertanya, padamu Intan!. Tunggu Papa mu pulang".


" Sungguh Mama tak habis pikir sama kamu, Mama ceroboh. Dan kamu sangat - sangat pintar mengelabui Mama, inikah alasanmu kemarin,kamu tak memperbolehkan Mama memanggil Dokter?"


Terdengar tangisan Mama tergugu. Hingga membuat hatiku tersayat. Sungguh aku menyesal!. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat dari arah belakang. Belum sempat aku menoleh, aku dikejutkan dengan sebuah tamparan yang mendarat di pipiku.


" Papa " Lirihku


Perih dan panas yang aku rasakan. Tapi aku memang pantas mendapatkannya.


" Dengan siapa kamu melakukannya, ha?. Tak malukah dirimu Intan? Berzinah hingga membuatmu hamil! . Tidak berpikir kamu apa dampak yang akan kamu lakukan ini?. Mau taruh mana muka Papamu ini!. Sekali lagi Papa bertanya padamu Intan, jawab Papa. Dengan siapa kamu melakukannya?"


" A- aku , melakukannya dengan Dito Pah" Lirihku. Aku tak berani menatap wajah Papa.


" Ya Tuhan!, dosa apa yang pernah aku lakukan, sehingga kau menghukum ku d Ngan cara seperti ini?" Tubuh Papa ambruk kelantai, menangis tergugu.


Baru kali ini aku melihat Papa menangis

__ADS_1


" Pah, Intan minta maaf, aku mohon Pah,maafin Intan! huhuhu. Intan menyesal. Mama, mah Intan mohon Mah, Intan minta maaf . "


__ADS_2