Janji Yang Diingkari

Janji Yang Diingkari
Bab 4


__ADS_3

Janji yang Diingkari


_ Ines _


Tidak terasa sudah satu bulan lebih aku mampu menutupi satu kesalahan ku ini. Dan begitu pula belakangan ini sikap Dito benar - benar berubah total. Yang dulunya perhatian,peka, dan suka kasih perhatian lebih ke aku, tapi sekarang dia sudah bersikap cuek, dingin, dan bodoamat- an. Dia benar-benar berubah, tidak seperti Dito yang dulu aku kenal.


Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya. Aku sedang melakukan makan malam bersama keluarga ku. Kami makan malam hanya bertiga, karena Mas Tama sudah berumah tangga. Dengan cekatan aku menyiapkan piring dan lainnya. Dengan segera aku mengambilkan nasi ke atas piring Papa dan Mama. Belum sempat aku menyendok kan nasi kedalam mulut ku. Tiba-tiba aku merasakan mual.


" Hoek, hoek! " Spontan aku langsung menutup mulutku. Bau opor yang menurutku sangat menyengat, menusuk Indra penciuman ku.


" Aneh, biasanya juga biasa saja saat aku mencium bau opor " Gumamku.


" Intan, are you okey?. Kamu kenapa nak, sakit?. Tanya Mama.


" Nggak kok mah!, cuma, eng cuma kaya mual aja ". Jawabku


" Pucet lho muka mu itu Intan!" Kata Papa


" Mau Papa panggilkan Dokter?" Sambungnya

__ADS_1


" Nggak usah Pah!, emm mungkin ini hanya masuk angin saja. Aku istirahat ke kamar aja ya Pah ". Ucapku dengan sedikit tergagap.


" Hem iya udah deh, cari obatnya di laci dekat Tv, coba kamu cari sendiri ya?. Terus kalau udah ketemu langsung diminum obatnya! " Perintah Mama .


" Iya Mah." Sambungku.


Setelah aku menemukan obatnya, dengan segera aku meminumnya. Ku rebahkan tubuhku di atas kasur.


" Semoga hanya masuk angin biasa " Lirihku.


🌼🌼🌼


Sesampainya di kamar, aku langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Badan yang terasa lemah, emm agak mual juga sih!. Tak butuh waktu lama, aku sudah tertidur.


" Pucat banget wajahku." Lirihku didepan cermin.


Deg!


Aku mengingat sesuatu,

__ADS_1


" Apakah aku hamil?, nggak-nggak. Nggak mungkin kan aku hamil?. Tanyaku pada diriku sendiri.


Sungguh frustasi aku dibuatnya. Dengan badan yang masih lemas, aku mengambil kunci motor dan tas ku untuk pergi ke apotek membeli tespeck.


" Jangan sampai aku hamil!" Gumamku.


Sesampainya aku dirumah, segera aku mengeceknya. Dengan perasaan yang berkecamuk antara gugup dan takut. Aku takut hasilnya akan positif. Dengan perlahan ku celupkan tespeck kedalam wadah yang berisi urine ku.


" Semoga hasilnya negatif!. Kumohon jangan garis dua".


Aku terlonjak seketika. Mataku membulat diikuti mulut membuat huruf O. Bagaikan ada gempa yang mengguncang badanku hingga membuat jantungku bergemuruh hebat.


Saking kagetnya,aku bahkan menjatuhkan alat uji tes kehamilan itu. Aku menatap gamang kearah alat tes kehamilan yang jatuh kelantai. Terpampang jelas, dua garis, menandakan bahwa aku positif hamil!.


" Nggak mungkin aku hamil, pasti sudah rusak alat ini". Bahkan aku sudah mengeceknya sebanyak dua kali. Dan dua-duanya sama, bergaris dua yang artinya aku benar-benar positif hamil.


" Ya Tuhan!". Lirihku


Bagaimana ini?, Apa yang harus aku lakukan?. Bagaimana reaksi Mas Tama jika tahu kalau adiknya sedang hamil? Bagaimana dengan Papa dan Mama ?. Aku menjambak rambutku sendiri seraya menggeleng - gelengkan kepalaku. Tidak! Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat mereka tahu kehamilan ku ini.

__ADS_1


" Apakah Dito akan siap menerima kehadiran calon anak yang aku kandung ini? Gumamku.


Aku memaki diriku sendiri. Kenapa aku bisa sebodoh ini?, ketakutan terus merayapiku . Aku memeluk lututku seraya menggigit ujung jari ku, sambil berpikir apa yang akan aku lakukan nanti.


__ADS_2