
Janji yang Diingkari
_Ines_
Hari ini Mas Tama berkunjung ke rumah dengan anak dan istrinya. Papa, Mama dan Mas Tama terlihat begitu senang ketika bermain dengan Adira, dan mereka menerima kehadiran Adira. Mereka tak membencinya. Ku lihat mereka dari kejauhan. Terlihat mereka menyayangi putriku. Walaupun Adira lahir tanpa seorang Ayah, yang bisa dikatakan anak haram?. Dan mau menerimaku yang tidak punya suami tapi memiliki seorang anak. Terharu aku melihatnya, kuseka ujung mataku yang basah. Aku sudah bahagia tanpa Dito. Aku harap mereka akan terus bisa menerima Adira sampai kapanpun itu dan tidak membanding-bandingkan mana anakku, mana anak Mas Tama.
Aku akan bekerja keras demi Adira. Aku ibu sekaligus Ayahnya. Aku tak boleh bersedih di hadapannya, karena mampu menghalangi masa pertumbuhannya. Aku tak ingin Adira merasakan apa yang aku rasakan, Adira tak boleh merasakannya. Aku harus menjaga Adira sampai dia menjadi remaja nanti, aku tak ingin kecolongan, aku tak ingin dia salah pergaulan, jangan sampai dia menjadi sepertiku, menjadi gadis yang bodoh, yang mudah untuk ditipu.
🌼🌼🌼
Hari ini aku mengajak anak gadis ku pergi makan luar. Aku tak pernah membuatnya kurang kasih sayang dariku. Banyak waktu yang aku luangkan untuknya, karena aku tak ingin dia mencari kenyamanan dan kebahagiaan dari orang luar. Dan aku tak ingin dia seperti mamanya. Kurang kasih sayang sehingga dia meminta nya dari pacarnya.
Tak terasa putri kecilku beranjak remaja, sekarang dia berusia 15 tahun. Dan selama ini pula, tak ada keinginan untuk aku menikah. Buat apa? Sudah cukup aku hidup berdua dengan Adira.
Alhamdulillah butik yang aku dirikan dulu, sekarang berkembang pesat, bahkan sekarang aku sudah membuka cabang. Berkat kegigihan ku untuk bangkit. Dan bahkan aku sudah mampu untuk membeli rumah, tak besar namun nyaman.
__ADS_1
Tak pernah Adira bertanya kemana Ayahnya, pernah sekali bertanya.
" Mah, Ayah kemana sih? Kok aku nggak pernah lihat ya? "
Deg. Pertanyaan ini.
" Adira sayang, emm Adira jangan pernah bertanya bertanya kemana Ayah ya nak " Aku menjawabnya dengan sangat berhati-hati agar tak melukai hatinya.
" Kenapa Mah? Adira ingin bertemu Ayah, aku juga ingin diantar Ayah pergi ke sekolah! " Tangisnya.
Dia mengangguk.
" Jangan lagi ya, Mama mohon " Pintaku.
Aku memang egois, tapi aku melakukannya juga demi kebaikannya. Aku tak ingin membuatnya tau yang sebenarnya terjadi, belum cukup umur. Aku takut jika dia tahu yang sebenarnya, malah bisa membuatnya terpuruk dan bisa membuat mentalnya down.
__ADS_1
Dan sekarang dia tak pernah bertanya lagi dimana Ayahnya. Alhamdulillah.
" Ayo Mah! Adira sudah lapar " Rengeknya.
Aku tersentak dari lamunan ku.
" Yuk sayang! " Ajakku.
🌼🌼🌼
Sesampainya di rumah makan, aku suruh Adira memilih kursi dan aku memilih menu. Hari ini hari sial ku, aku bertemu dengan orang yang aku benci setengah mati. Dan sialnya dia juga melihatku. Dia menghampiriku, badanku lemas, tak mampu aku menelan ludah, yang terasa mengganjal ini.
" Intan!" Lirihnya. Ternyata dia masih mengingat ku.
" Kemana saja kamu Intan?" Tangisnya pecah dan aku juga tak bisa membendung air mataku . Bahkan dia mencium pucuk kepalaku berulang kali. Aku di buatnya tercengang akan sikapnya ini.
__ADS_1