Janji Yang Diingkari

Janji Yang Diingkari
Bab 20


__ADS_3

Janji yang Diingkari


_Ines_


Ternyata Mama yang menelepon ku, ku kira siapa. ku lirik jam di ponsel, sudah jam 08.12. Aku sudah kesiangan. Ku lirik Adira ternyata dia masih tertidur.


" Halo nak, kamu denger ucapan Mama kan?. Intan, halo halo "


" I-iya Mah, aku denger kok. Nanti aku share lok ya " Jawab ku.


" Oh oke Sayang, kamu mau titip sesuatu nggak? Udah makan?. Intan mau bubur ayam atau Mama beliin soto kesukaan kamu?." Ucap Mama yang selalu perhatian pada ku.


" Intan belum makan mah, belum sempat masak karena Intan bangun kesiangan. Em terserah Mama aja deh, mau bawain apa . Mama hati-hati di jalan ya! ".


" Iya sayang !"


Tut telepon di matikan.


Ku sambar handuk yang menggantung di tembok, segera mandi dan bersiap. Biarlah Adira tidur, aku tak tega membangunkannya.


🌼🌼🌼

__ADS_1


Tok! Tok!


" Assalamualaikum " Terdengar suara salam dari luar.


Pasti itu Mama


" Waalaikumsalam" Jawabku dari dalam.


Ceklek!


" Mah! " Kupeluk Mama dan Papa.


Aku mempersilahkan mereka masuk kedalam rumah. Terlihat mereka mengamati tempat tinggal ku sekarang ini. Lama sekali mereka mengamatinya. Aku tinggal ke dapur untuk membuat kan mereka minuman.


Ada dua orang yang mengangkut semua tas dan barang-barang ku.


" Intan, Mama bawain kamu bubur ayam, belum sarapan kan kamu?, Mama nggak jadi beliin kamu soto, orangnya belum buka "


" Nggak apa-apa sih Mah, yang penting perutku terisi " Ku ambil bubur itu dan segera menyantapnya. Sedangkan Mama sedang bermain dengan Adira.


" Yuk! Udah kan sarapan mu Intan? " Ucap Papa dari arah depan.

__ADS_1


" Udah Pah ? " Tanya Mama.


" Sudah " Jawab Papa singkat.


Ku suruh mereka ke depan duluan, saat mereka sudah tak terlihat. Ku amati rumah ini untuk yang terakhir kalinya. Mataku berembun, segera ku usap dengan ujung jariku. Tempat berlindung ku, tempat persembunyian ku, bagiku rumah ini segala-galanya.


" Selamat tinggal ! " Ucapku tersenyum.


Ku langkahkan kakiku menuju halaman rumah. Tak lupa aku mengunci pintunya. Sebelumnya aku sudah memberi tahu ibu kostnya kalau hari ini aku pindah.


🌼🌼🌼


Kini usia putriku sudah menginjak usia 3 tahun. Selama ini aku bekerja untuk mencukupi kebutuhan ku dan Adira. Aku bukan seorang gadis lagi yang hanya mengandalkan dan meminta uang kepada Papa, kini aku sudah menjadi seorang ibu, dan aku harus mencukupi nya sendiri. Aku tak ingin merepotkan mereka. Adira adalah kewajiban ku bukan kewajiban Papa.


Aku membuka butik dengan sisa uang tabunganku. Aku memulainya dengan 0, dan sekarang Alhamdulillah lumayan ramai. Tak apa yang penting kebutuhan Adira tercukupi dan tidak kekurangan. Selama aku bekerja, Mama yang mengurus Adira, bukan aku yang memintanya tapi kemauan Mama sendiri.


Kadang ada rasa tak enak, pernah aku ingin menyewa baby sitter tapi tak di perbolehkan Mama, kata Mama mending uangnya untuk beli popok Adira daripada untuk membayar baby sitter. Mama sangat berjasa di dalam hidupku begitupun dengan Papa. aku tak akan melupakan mereka. Adira tak kurang kasih sayang.


Kadang aku sedih, ketika melihat putriku yang tidak mempunyai seorang Ayah. Sanggupkah aku, jika suatu saat nanti Adira bertanya dimana Ayahnya? . Apa yang akan aku katakan?.


Selama ini pula aku tidak pernah melihat Dito, aku tidak pernah berharap bisa bertemu dengan Dito. Aku juga tidak ingin mencari tahu informasi tentang Dito. Buat apa?. Membuang-buang waktu ku saja. Masa lalu pantas di lupakan dan tak perlu untuk diingat lagi.

__ADS_1


__ADS_2