
Janji yang Diingkari
_Ines_
" Maafkan Papa Intan, dulu pernah mengusir mu dan tak memperdulikan keadaanmu." Lanjutnya.
" Intan sudah memaafkan Papa dari dulu, bukan Papa yang salah tapi Intan."
" Siapakah dia Intan? " Matanya melirik ke arah Adira.
" Dia putriku Pah! " Jawabku.
" Anakmu?, bolehkah Papa menggendong cucu Papa? "
Ku anggukan kepalaku. Dia mencium pipi Adira berulang kali.
" Kenapa kamu tidak langsung masuk kedalam rumah mu nak?, Dan kamu memilih berdiri saja disini?" Kata Papa.
" Aku takut Pah, takut kalian tidak menerima kehadiran ku dan Adira." Lirihku.
Papa mengembuskan napasnya, maafkan Papa Intan.
" Ayo kita masuk, dan bertemu Mama mu. Kamu pasti merindukannya kan?"
Tanpa menunggu jawabanku, papa menarik lenganku.
__ADS_1
🌼🌼🌼
" Mah!, Mama. Lihatlah siapa yang aku bawa pulang! " Teriak Papa heboh.
Terlihat Mama keluar kamar tergopoh-gopoh
" Apa sih Pah?, teriak-teriak aj.. "
Belum selesai Mama bicara, terlihat diam mematung.
" Mama! "
" Intan! Ya Allah nak!. Benarkah ini kamu, Hem?.
" Kemana saja kamu Intan? Mama selalu mencari keberadaan mu nak? Ya Allah." Mama menatapku dengan tatapan khawatir. Matanya melirik Adira.
" Intan, apa dia putrimu? " Mama mendekat ke arah Adira.
" Iya Mah, dia putriku. Cucu Mama dan Papa" Ucapku.
Senyum merekah terlihat jelas di bibir Mama. Ia mengambil alih Adira dari gendongan Papa.
" MasyaAllah, cantik sekali kamu sayang!. Siapa namanya? "
" Adira, Adira Prima Rahardja" Jawabku.
__ADS_1
" Nama yang indah bukan Pah?" Ucap Mama.
Papa hanya tersenyum menanggapi.
🌼🌼🌼
Mama mengajakku ke meja makan. Dia memaksaku untuk makan. Tanpa penolakan, aku mengambil piring dan mulai makan. Selama ini aku merindukan masakan Mama, akhirnya sekarang aku bisa merasakan masakan Mama lagi.
Setelah makan, aku menyusul mereka di ruang TV. Mereka tampak asik bermain dengan Adira. Mereka tak membenci nya, rasa haru menyeruak di dalam hatiku. Ku seka ujung mataku yang basah. Papa melihatku menangis.
" Intan " Panggil Papa.
Ku langkahkan kembali kaki ku menuju mereka. Ikut bermain. Mereka menyuruh ku bercerita apa yang sudah aku alami selama di luar. Aku mulai menceritakan semua yang aku alami, tanpa ada yang aku tutup-tutupi, biarlah mereka mengetahuinya. Lama aku bercerita, ku jeda ceritaku, rasa sesak menyerang ku. Tak sanggup aku melanjutkan, aku rapuh!. Mereka juga ikut menangis melihat aku yang sekarang menjadi rapuh.
Kini mereka sudah mengetahui semua kisahku, saat aku berantem sama Dito, dari aku diusir, semua aku ceritakan tanpa terkecuali. Mereka mengaku menyesal telah melakukan ku seperti itu, telah bertindak gegabah.
Bahkan mereka juga memaksaku untuk kembali tinggal di rumah ini. Mereka ingin memperbaiki kesalahannya. Berulang kali aku menolaknya, namun mereka tetap kekeuh memaksa untuk tinggal di sini.
Jujur saja, aku belum bisa melupakan kejadian kemarin. Aku tau aku yang salah, tapi tak bisakah mereka memberi sedikit simpati pada ku?. Bahkan Papa tega mengusir ku, tanpa ada belas kasih. Mereka ingin kembali seperti dulu. Yang seolah-olah tidak mengingat kejadian kemarin. Bukannya aku dendam sama mereka, tapi aku kecewa.
Bukan perlindungan dan empati yang aku dapatkan waktu itu. Kini aku menimbang-nimbang permintaan Mama, aku meminta waktu buat menjawab pertanyaan ini.
🌼🌼🌼
Hampir seharian ini aku di sini, kini waktunya aku pamit pulang. Awalnya mereka tak mengizinkan aku untuk kembali pulang ke kontrakan. Namun aku terus memaksanya, dan aku minta pengertian nya padaku. Dengan terpaksa mereka memperbolehkan aku pulang, dengan syarat aku harus kembali dan memberikan jawaban besok pagi. Ku sanggupi permintaan nya.
__ADS_1