
Janji yang Diingkari
_Ines_
Sekarang aku sudah tak bisa tidur malam dengan nyenyak. Makan sudah tak bisa tepat waktu, apalagi mandi, tak ada waktu buat aku mandi atau mempercantik diriku lagi. Nikmatnya menjadi ibu muda sepertiku.
Dua bulan sudah berlalu. Banyak rintangan yang aku hadapi. Aku mengurus putriku seorang diri. Tak mudah bagiku mengurus bayi seorang diri, sangat kualahan.
Hari ini aku ingin mengajak Adira pergi ke kota. Aku ingin melihat Papa dan Mama, aku sangat-sangat merindukannya. Walau aku tidak berkunjung ke rumahnya langsung, tapi aku ingin melihatnya dari kejauhan, untuk mengobati rasa rinduku selama ini.
Adira Prima Rahardja, nama yang cantik bukan?. Bahkan aku masih menyematkan nama Rahardja. Karena sekarang Adira sudah menjadi bagian dari keluarga ku.
🌼🌼🌼
Kini aku sudah sampai di kota. Ku berhentikan mobilku lumayan jauh dari rumah agar aku tidak ketahuan. Aku segera turun dari mobil dengan menggendong Adira. Ku amati rumahku dari kejauhan, tak berubah, masih sama dengan yang dulu pas terakhir aku meninggalkannya.
Air mata tak bisa ku bendung lagi. Ingin sekali rasanya aku masuk dan memeluk Papa dan Mama. Tapi aku tidak punya keberanian. Aku takut jika mereka tak menginginkan ku kembali. Cukup lama aku berdiri disini dengan masih menggendong Adira. Aku lupa aku tidak membawa payung untuk melindungi Adira dari teriknya matahari. Adira mulai rewel karena kepanasan, ku balikan badanku menuju mobil. Tanpa kusadari, dari arah belakang ada mobil yang berhenti.
Dari balik kaca ada seorang lelaki, dia nampak ingin turun dari mobilnya. Tak ku hiraukan dia, aku kembali melanjutkan langkah kaki ku. Belum sempat aku membuka pintu mobil, aku dikejutkan oleh suara orang memanggil nama ku.
__ADS_1
" Intan! " Panggilnya.
Deg!
"Suara Papa, apakah tadi Papa? " Batinku.
Aku tak menyadari nya kalau tadi itu Papa. Cukup lama aku berdiri mematung. Aku tak berani menoleh kebelakang. Hingga terasa ada tangan yang menepuk pundak ku pelan. Mau tak mau aku membalikkan badanku. Kini aku sudah berhadapan dengan orang yang selama ini aku rindukan. Ku amati Papa dari atas sampai bawah.
" Benarkah ini Papa ku? " Batinku.
Papa banyak berubah, badannya kini kurus dan muka lesu seperti tidak ada semangat. Terlihat jelas, nampak matanya berkaca-kaca.
" Benarkah ini kamu Nak? " Lirihnya. Tangannya mengelus pipiku.
Ku anggukan kepalaku, ia berhambur memelukku sangat erat. Menangis dipundak ku. Tak dapat aku membendungnya, aku sudah menangis tergugu. Bahagia akhirnya aku bisa bertemu dengan Papa. Lama ia memeluk ku, akhirnya ia melerai pelukannya. Di tangkupnya kedua pipiku, di ciumnya berulang kali wajahku tanpa terkecuali. Kata maaf terucap berulang kali dari mulutnya.
" Intan, kemana saja kamu nak? tak taukah selama ini Papa mencari mu berbulan-bulan?"
" Maafkan Papa Intan, dulu pernah mengusir mu dan tak memperdulikan keadaanmu." Lanjutnya.
__ADS_1
" Intan sudah memaafkan Papa dari dulu, bukan Papa yang salah tapi Intan."
" Siapakah dia Intan? " Matanya melirik ke arah Adira.
" Dia putriku Pah! " Jawabku.
" Anakmu?, bolehkah Papa menggendong cucu Papa? "
Ku anggukan kepalaku. Dia mencium pipi Adira berulang kali.
" Kenapa kamu tidak langsung masuk kedalam rumah mu nak?, Dan kamu memilih berdiri saja disini?" Kata Papa.
" Aku takut Pah, takut kalian tidak menerima kehadiran ku dan Adira." Lirihku.
Papa mengembuskan napasnya, maafkan Papa Intan.
" Ayo kita masuk, dan bertemu Mama mu. Kamu pasti merindukannya kan?"
Tanpa menunggu jawabanku, papa menarik lenganku.
__ADS_1