Jeritan Tengah Malam

Jeritan Tengah Malam
Berburu Mangsa


__ADS_3

Hari masih pagi, kabut pun masih terlihat menyelimuti jalan desa. Tapi suasana balai desa sudah begitu ramai. Warga berbondong-bondong datang memenuhi pelataran balai desa yang sudah dihiasi janur layaknya hajatan besar.


Bersih desa kali ini sengaja diadakan pak kades untuk mengusir balak yang kini menghantui desa. Penemuan mayat-mayat misterius dan meninggalnya Eman membuat warga desa begitu ketakutan. 


Hal ini tentu saja mempengaruhi produktivitas warga yang bergantung pada pertanian. Warga desa yang biasanya berladang setelah sholat subuh kini dilakukan siang hari. Warga juga mengakhiri kegiatan berladangnya lebih cepat di sore hari, karena takut berpapasan dengan hantu wanita yang konon berkeliaran. 


Mbok Ratem datang dengan membawa besek berisi aneka macam bunga. Dibelakangnya ada beberapa warga yang membawa sesaji lain seperti tumpeng, bekakak ayam, jajan pasar, kopi pahit dan manis, aneka rempah dan tak lupa kemenyan, dupa, dan rokok kretek.


Semua sesaji itu diletakkan di tengah pendopo balai desa. Pak kades dan perangkatnya telah bersiap menunggu mbok Ratem yang akan memimpin ritual bersih desa.


Warga desa tanpa dikomando, duduk lesehan mengitari sesaji. Mbok Ratem terlihat berbisik pada pak kades. Entah apa yang mereka bicarakan tapi pak kades hanya manggut-manggut tanda mengerti.


Mbok Ratem kemudian duduk di depan sesaji membakar kemenyan yang diletakkan diatas pecahan tembikar. Mulutnya tampak berkomat kamit merapalkan mantra. 


Matanya menutup rapat, rangkaian daun pandan yang disisir (disobek) kecil kecil. Mbok Ratem mengayunkan tangannya ke atas, ke kanan dan ke kiri. Menyebarkan asap kemenyan ke segala penjuru. Setelah beberapa lama mbok Ratem pun berdiri dan mengitari sesaji.


 Ia juga berjalan ke arah warga yang berkumpul meniupkan asap dari kemenyan yang ia bakar. Mbok Ratem berjongkok mengambil janur yang dibentuk sedemikian rupa. Ia meletakkan bunga tujuh rupa, kunyit, daun sirih, sebatang dupa yang terbakar dan tak ketinggalan sebatang rokok kretek diatasnya.


Mbok Ratem memperhatikan sekeliling lalu meletakkan sesaji kecil itu di kamar tempat Eman ditemukan mati terbunuh dan dua lainnya di pojok timur dan selatan balai desa. 


Mbok Ratem kembali berdiri, kali ini meminta Rohman dan Bagyo berjalan mengikutinya. Sebuah prapen kecil dibawa Bagyo, sedangkan Rohman membawa tembikar kecil dengan tiga buah dupa yang menyala.


Mbok Ratem berjalan keluar balai desa, ia mulai mengelilingi desa. Mantra pelindung desa terus dirapalkan, sesekali ia berhenti di sudut batas desa meletakkan janur berisi bunga yang dilengkapi rokok dan dupa.


Asih memperhatikan mbok Ratem dari kejauhan, ia tidak berani mendekat. Peringatan Bu Lasmi tentang mbok Ratem masih diingatnya jelas. Asih tidak ingin rencana yang hampir sempurna hancur karena wanita tua yang sangat disegani warga desa.


Ia mencibir mbok Ratem satu kejauhan. "Kau pikir dengan ritual itu,desa ini akan aman dari pengikutku? Huh, jangan harap!"

__ADS_1


Jin wanita yang berdiri dibelakang Asih menyeringai, ia berbisik menghasut Asih.


"Tenanglah, dia bukan tandinganmu! Aku akan membantumu mengatasinya!"


Asih tersenyum, tatapan matanya gelap segelap hatinya kini. Mbok Ratem yang menyadari kehadiran Asih, menoleh padanya. Sorot matanya berubah tajam dan bengis. Kebencian tampak di wajah rentanya. Mbok Ratem jelas melihat sosok jin wanita yang ada di belakang Asih.


"Kowe sing dadi sumber kacilakan desa iki! lunga sadurunge kowe tak pateni!" Mbok Ratem meludahi tanah, sebagai peringatan pada jin wanita dan Asih.


(kamu yang jadi sumber malapetaka di desa ini! pergi sebelum aku membunuhmu!)


Ia kembali berjalan keliling desa, membuat perlindungan bagi warga desa dari balak yang dibawa orang asing. Asih tersenyum kecut pada mbok Ratem.


"Dasar nenek sialan!"


Ia beranjak pergi ke balai desa. Dari kejauhan seorang lelaki muda menarik perhatiannya. Lelaki itu adalah pak kades, ia terlihat sedang berbicara dengan perangkatnya. 


Petugas kepolisian yang menangani kasus juga ada disana. Asih menjaga jarak. Ia bisa mengenali ciri-ciri petugas meski mereka berpakaian preman. Asih tak mau salah langkah dan dicurigai oleh mereka. 


Asih pandai sekali memainkan perannya. Ia tampak begitu lugu dan polos.


"Eh cah ayu juga ikut datang to, Bu Lasmi mana kok nggak ikut gabung!" Mbok Kar menyadari kehadiran Asih yang tampak berbeda dibandingkan gadis desa lainnya.


Asih menanggapi pertanyaan mbok Kar dengan senyum manis sebelum menjawab. "Ibu sibuk mbok!"


Salah satu warga yang ada di sebelah mbok Kar dengan iseng menyikut lengan mbok Kar, ia berbisik.


"Mbok, piye to pake nanyain Bu Lasmi segala! Kalau dia datang bisa geger geden nanti! Mbok kan tau mbok Ratem sama Bu Lasmi musuh bebuyutan!"

__ADS_1


"Eh iya juga sih, lali aku Yu! Lha aku melas he karo dekne kok ayu-ayu mangkat dewekan Rene. Mbok digondol Joko, Yu!" Ujar mbok Kar sambil menutupi mulutnya agar tidak terdengar Asih.


(Eh iya juga sih, aku lupa Yu! Lha aku kasian sama dia, cantik-cantik kok berangkat sendiri kesini. Takut diculik bujang, Yu!)


Suara mbok Kar yang begitu dekat tentu saja terdengar oleh Asih, ia tersenyum tipis. "Mbok, kadesnya disini siapa ya? Saya mau bikin surat keterangan pindah," tanya Asih menyelidik.


"Pak kades? Lha itu nduk, yang duduk di tengah sana sebelahe pak polisi!" Mbok Kar menunjuk tepat ke arah pria yang menjadi sasaran Asih.


Oh dia rupanya kades disini, cakep juga! Cocok untuk mangsa baru!


"Oh itu pak kadesnya, makasih mbok! Ehm, namanya siapa ya mbok?" Ia bertanya lagi.


"Pak kades? Namanya pak kades Adi nduk, kamu kalau mau urus surat-surat besok aja biar Wardi apa Imam yang anterin! Kalau sekarang kantor desa tutup, karena acara ini biasanya sampai sore nduk!" Terang mbok Kar sembari membagi berkatan pada warga.


Asih hanya tersenyum dan mengangguk. Ia ikut membagi besek berkatan pada warga lain. Senyum manis menawan tak lupa selalu tersungging di bibir tipisnya. Asih menebar pesona tidak hanya pada wanita tapi pada para lelaki muda di desa itu.


Mantra pemikat ia rapalkan dengan lirih. Begitu lirih hingga tak ada orang yang menyadari. Tak lupa Asih menyebutkan nama pak Kades dalam mantra. Mata Asih tak lepas dari wajah tampan pak kades. 


Mantra ditiupkan ke udara menghampiri pak kades yang sedang asik berbincang. Getaran aneh mulai dirasakan pak kades. Ia mulai gelisah dan tak tenang. Fokusnya mulai terbagi. Matanya mencari sosok wanita yang mencuri perhatiannya.


Pak kades menghentikan obrolan, dan menemukan Asih diantara kerumunan warga. Mata bertemu mata, pak kades terbius kecantikan semu Asih.


 Asih menggoda pak kades dengan kerlingan menggoda. Kerlingan yang hanya terlihat oleh pak kades. Asih membisikkan kata lewat gerakan bibir.


Aku menginginkanmu!


 Tak lupa menggoda pak kades dengan mengibaskan rambut hitamnya. Asih menggigit bibir bawahnya menambah sensasi sensual yang ia tawarkan untuk pak kades. Pak kades kini hanyut dalam pesona Asih.

__ADS_1


Asih mengunci targetnya, membekukan waktu dan menghipnotis pak kades dengan suaranya. 


Datanglah padaku segera!


__ADS_2