
Asih masuk begitu saja dirumah pak kades yang tidak terkunci. Ia paham betul, pak kades jarang mengunci pintu rumah kecuali jika Asih sedang bertandang.
Asih berjingkat masuk kedalam rumah yang sepi, mencari sosok pria yang belakangan menjadi pemuas nafsunya. Saat ia hendak memanggil nama pak kades terdengar suara wanita yang tengah merajuk.
"Mas, kok nggak ke rumah ibu sih? Aku kan kangen!"
Asih yang penasaran pun mencari tahu siapa pemilik suara itu, ia mengintip dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Maaf,mas lagi sibuk ngurusin desa. Belum lagi ada penemuan mayat di desa ini, jadi mas sibuk."
Dari tempatnya bersembunyi, pak kades terlihat mengelus rambut hitam istrinya dan sesekali mengusap perut buncit sang istri. Asih geram, ia merasa cemburu.
"Sialan, aku harus cepat bertindak!"
Kerinduan istri pak kades pada suaminya tak terbendung lagi, dua bulan terpisah dari sang suami membuatnya rindu belaian lembut darinya. Sang istri mulai mencumbu pak kades.
Wajah Asih merah padam melihatnya. Pak kades yang tak menyadari kehadiran Asih membalas cumbuan istrinya dengan penuh hasrat. Asih kini merasakan bagaimana posisi Ardi. Kecewa, cemburu, dan merasa dikhianati.
Asih yang pada awalnya hanya ingin memanfaatkan pak Kades tapi berkali-kali bergumul dengan pak kades membuatnya mulai menyukai pak kades. Entah karena cinta atau memang karena Asih menyukai permainan pak kades. Asih terlanjur menjelajah hal yang tabu yang tidak seharusnya ia rasakan.
Sedang asyik melakukan tugas memberi nafkah batin pada sang istri, pak kades melihat ke arah Asih yang bersembunyi dan mengintip dari celah pintu. Ia terperanjat, hasratnya yang semula menggebu turun seketika.
"Kenapa mas, kok nggak dilanjut. Tanggung ini mas!" Rengek istrinya yang setengah telanjang dengan perut buncit.
"Ehm, sebentar aku kebelet nih! Nanti kita lanjut lagi ya, kamu tunggu disini sebentar!"
Pak kades menyelimuti tubuh montok istrinya, ia memakai kembali kaosnya dengan asal lalu segera keluar menemui Asih.
Asih yang terkejut seketika hendak keluar rumah tapi pak kades menarik tangannya dengan kuat.
"Kamu ngapain kesini!" Bisik pak kades panik.
"Aku kangen!" Jawab Asih berbohong.
"Aku juga merindukan kamu Asih, tapi ada Warni. Besok saja kita ketemu lagi ya!" Pak kades kembali berbisik.
__ADS_1
"Nggak, sebelum kau ceraikan dia!"
"Iya, aku pasti ceraikan dia! Tunggu anakku lahir dulu!"
Pak kades menarik tangan Asih membawanya ke dapur agar suara mereka tidak terdengar Warni istrinya.
"Aku nggak mau nunggu selama itu!" Asih berpura pura menekuk wajah agar pak kades menuruti kemauannya.
"Sabar Asih, tinggal sebulan lagi kok!" Bujuk pak kades sambil menatap wajah cantik Asih.
"Aku ada cara, biar mas Adi bisa cepat ceraikan dia!" Asih menatap tajam mata pak kades.
Pak kades pun mengernyit, "Maksudnya gimana?"
Asih mengeluarkan botol berisi cairan penggugur kandungan.
"Campurkan ini dalam minuman mbak Warni dia akan langsung menurut padamu dan … tentu saja, minuman ini juga berkhasiat untuk melancarkan persalinannya." ujarnya berbohong.
Pak kades menerima botol kecil itu, ia ragu dan menatap Asih. "I-ini …,"
Pak kades menepis tangan Asih, "Aku percaya, aku turutin kemauan kamu. Tapi sekarang … kamu harus tanggung jawab selesaiin ini!"
Pak kades menurunkan matanya ke arah bagian tengah tubuhnya yang kini menegang sempurna. Pesona mistis Asih membius pak kades. Kejantanannya cepat sekali bereaksi hanya dengan mendengar suara manja Asih.
Asih mengerling nakal pada pak kades, yang berbalas hukuman panas untuknya. Kecupan dan ciuman liar yang membara di seluruh tubuhnya. Asih meniupkan mantra penidur pada Warni, agar ritual basahnya tak terganggu.
Pak kades yang dimabuk kepayang dengan tubuh Asih, lupa ada wanita yang lebih pantas digauli menunggunya di kamar. Mantra Asih bekerja dengan cepat, membuat pak kades tersesat.
Asih pergi meninggalkan rumah pak kades setelah mendapatkan pelepasan masing-masing. Pak kades berjanji akan menemuinya esok.
Hati Asih gelisah tak karuan karena besok malam adalah waktu yang dijanjikannya untuk memberikan tumbal. Harapannya hanya bertumpu pada bidan Mimah dan juga anak yang ada dalam kandungan Warni, istri pak kades.
Asih tak menyadari jika mbok Ratem mengawasinya dari kejauhan. Ia melihat Asih menyelinap ke dalam rumah pak kades, ia juga tahu apa yang dilakukan Asih dengan pak kades. Asih tidak bisa menutupi aura jahat yang menyelimutinya dari mbok Ratem.
"Kau menabuh genderang perang denganku!" Gumam mbok Ratem dari kejauhan saat Asih baru saja keluar dari rumah pak kades.
__ADS_1
Asih berjalan tergesa, malam semakin larut ia tak mau bertemu dengan warga yang sedang berkeliling kampung. Tanpa membawa alat penerangan apapun, Asih berjalan menembus gelapnya jalan desa.
Kelebatan bayangan hitam muncul di belakang Asih. Ia pun menghentikan langkahnya.
"Siapa disana?" Teriak Asih saat menoleh ke belakang.
Tak ada sahutan, gelap dan sunyi hanya terdengar suara binatang malam dari pepohonan. Asih kembali hendak berjalan, tapi ia dikejutkan dengan kehadiran wanita renta di depannya.
"Kau?!"
"Beraninya kau menantangku!" Mbok Ratem menghadang Asih, ia menatap tajam ke arah Asih.
"Huh, siapa yang menantang mu nenek tua! Aku tidak ada urusan apapun denganmu!"
"Aku sudah memperingatkan dirimu untuk pergi meninggalkan desa, tapi kau malah berulah!" Mbok Ratem tak bergeming dari posisinya.
"Ohya, kapan kau mengatakannya nenek peot!" Asih dengan angkuhnya berjalan mendekati mbok Ratem. "Jangan campuri urusanku!" Asih membungkuk berbisik tepat ditelinga mbok Ratem.
Mbok Ratem,menatap Asih dari jarak dekat. "Satu saja warga desa kau lukai, aku tidak akan segan menghabisi mu!" Ujarnya mengancam.
Asih tertawa, ia sama sekali tidak takut pada mbok Ratem. "Menghabisi ku?" Asih kembali tertawa kali ini jarinya bahkan diacungkan ke arah mbok Ratem. "Coba saja kalau berani!"
Tanpa diduga Asih, mbok Ratem mengarahkan tangannya ke leher Asih. Menghempasnya ke salah satu pohon terdekat dengan keras, tangannys mencekik kuat leher Asih. Asih terkejut dengan kekuatan mbok Ratem, kepalanya pusing karena membentur batang pohon.
"Kau pikir aku tidak mampu?! Kau, anak bau kencur berani berbuat ulah di desaku?!"
Asih tak bisa membalas perkataan mbok Ratem karena cekikan kuat di leher. Ia meronta berusaha melepaskan tangan mbok Ratem, tapi mbok Ratem semakin meninggikan tangannya hingga kaki Asih melayang di atas tanah.
Wajah Asih mulai memerah, aliran darahnya terhambat, kepalanya pusing karena pasokan oksigen yang semakin berkurang. Tak lama tangan mbok Ratem perlahan mengendurkan cekikan. Tubuh Asih melorot kebawah dan terjatuh di atas rerumputan liar.
"Ini peringatan untukmu! Lain waktu kita bertemu, aku tidak menjamin kau masih tetap hidup!" Mbok Ratem pergi berlalu begitu saja hilang dengan cepat dalam gelapnya malam.
Asih terbatuk dan menyentuh lehernya yang sakit karena cekikan. "Si-sialan! Dasar nenek tua!"
Kepalanya berkunang-kunang, tubuhnya gemetar, ia menatap ke arah mbok Ratem menghilang.
__ADS_1
Aku pasti akan membunuhmu nenek peot! Tunggu, tunggu saja! Waktumu akan tiba!