
Budi dan Andi segera bergerak menuju ke rumah Bu Lasmi. Mereka tiba di sana siang hari. Rumah Bu Lasmi sepi, tak ada yang menghuni setelah mbok Jum juga pergi kembali ke desa sebelah.
Meski baru ditinggalkan beberapa hari rumah besar di dekat hutan itu nampak seram tak terurus. Entah karena aura mistis yang masih tertinggal dari berbagai benda pusaka milik Bu Lasmi ataukah memang karena hawa angker yang sengaja dihembuskan agar tak ada seorang pun yang berani mendekati rumah itu.
Yang jelas warga desa ketakutan karena kematian Bu Lasmi yang tak wajar ditambah lagi dengan desas desus jika jin wanita dan sosok iblis kecil menjadi penunggu rumah Bu Lasmi. Kabar kematian Asih putri angkatnya juga mencuat, hingga tak ada satupun warga yang mau mendekat atau hanya sekedar dimintai tolong untuk menyalakan lampu oleh mbok Jum.
Mbok Jum sebenarnya ingin tetap berada disana, ia merasa banyak berhutang Budi pada Bu Lasmi. Tapi bayangan Asih selalu membuatnya sedih hingga ia memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. Mbok Jum ingin tenang, dan menikmati hari tuanya meski ia pun harus melalui hari-hari sepinya tanpa anak.
Yah, suami mbok Jum meninggal beberapa tahun lalu karena sakit. Orang bilang suaminya terkena teluh dan Bu Lasmi menjadi orang pertama yang membantu, ia juga yang membiayai kehidupan mbok Jum selama ini.
Budi, Andi bersama beberapa anggota kepolisian lain berjalan perlahan memantau sekitar.
"Awasi keadaan, aku yakin Darsono ada disini!" seru Budi pada yang lainnya.
"Kamu yakin sama dugaanmu? Ini tempat hawanya nggak enak bener lho, aku aja ogah tinggal disini biarpun mewah ni rumah." Andi menyahut sembari memperhatikan rumah Bu Lasmi.
"Tempat persembunyian terbaik adalah tempat yang jarang dikunjungi orang kan?" Budi berkilah. "Aku melihatnya masuk ke gudang tua itu bersama pemuda yang namanya Ardi. Kalau dugaanku benar Darsono ada dirumah kecil itu."
Andi dan rekan lainnya mengangguk, mereka berjalan dengan waspada menuju pondok kecil di samping gudang tua.
Budi memberi kode pada yang lain agar berjalan memutari pondok, menutup akses pintu keluar agar Darsono tidak kabur. Setelah semua siap, Budi mengetuk pintu kayu berharap Darsono keluar dari persembunyian.
"Assalamualaikum, apa ada orang dirumah?" Budi mengintip kedalam rumah dari balik jendela.
Tak ada sahutan dari dalam, aktivitas pun tak terdengar dari dalam sana. Sepi, seperti rumah tak berpenghuni.
"Hallo, selamat pagi! Apa ada orang disini?" Budi kembali berseru, dan sekali lagi tak ada yang menyahut.
"Kalian mencari siapa?" suara serak terdengar mengejutkan dari arah belakang.
Budi dan Andi menoleh, ternyata mbok Ratem. Budi dan Andi saling memandang lalu mendekati mbok Ratem perlahan.
__ADS_1
"Kami mencari lelaki tua yang tinggal di pondok ini, apa simbok pernah lihat?" tanya Budi menyelidik.
Mbok Ratem menjawab dengan anggukan, wajahnya hampir tanpa ekspresi hanya mulutnya yang selalu aktif menginang.
"Dia, dimana mbok?" tanya Andi penasaran.
"Aku juga tidak pernah melihatnya lagi setelah kejadian kemarin. Mungkin dia sudah pergi!" jawab mbok Ratem seraya berbalik hendak meninggalkan mereka.
Budi tiba-tiba teringat sesuatu, Wak haji pernah mengatakan padanya jika mbok Ratem wanita sakti. Ia buru-buru mencegah mbok Ratem pergi.
"Tunggu mbok, saya tahu simbok mengerti apa yang terjadi disini. Bisakah simbok tunjukkan pada saya dimana lelaki tua itu berada?!"
Mbok Ratem yang enggan menjawab seketika berhenti ketika tangan Budi menyentuh bahunya. Ia perlahan menoleh ke arah Budi. Kedua mata mbok Ratem, tertutup selaput abu-abu tipis membuat Budi tercekat.
"Bawa pergi pria itu dari desaku! Dia ada diujung jalan sana, cepat tolong dia dan singkirkan dari desaku!"
Mbok Ratem dengan lantang berbicara pada Budi. Ia menunjukkan jalan kecil yang dilalui Budi tempo hari. Mbok Ratem memalingkan wajahnya sejenak, lalu kembali berkata.
Budi tak tahu harus berkata apa, ia hanya mengangguk ragu. "I-iya mbok,"
Budi memerintahkan pada yang lain untuk segera mengikuti dirinya. Mereka menuju jalan kecil yang membelah hutan berkabut meski siang telah menjelang.
Mbok Ratem tersenyum sinis, "Waktunya membersihkan desa! Kesempatan kedua yang aku berikan pada kalian telah disalahgunakan. Jadi jangan salahkan aku jika aku terpaksa membunuh!"
Budi menyusuri jalanan berumput bersama rekan kepolisian lain. Mata mereka awas mencari pergerakan.
"Tolong, tolong aku!" terdengar suara rintihan lemah dari salah satu cekungan yang tertutup tanaman liar.
Andi mendengar suara rintihan itu. "Sssst, apa kalian mendengarnya?" serunya lirih sembari meletakkan telunjuk pada bibirnya.
"To-long …, aku sudah ti-tidak kuat la-gi!" suara itu kembali terdengar, terbata-bata seperti orang kesakitan.
__ADS_1
Salah satu rekan Andi, berjalan perlahan dan ia menemukan lubang cukup dalam dengan seorang lelaki tua di dalamnya.
"Pak! Disini!" serunya memanggil yang lain.
Budi, Andi, dan yang lainnya segera mendekat. Mereka melongok ke dalam lubang.
"Darsono?" tanya Budi sebelum yang lain bertanya.
"I-iya, tolong aku keluar dari sini!" jawabnya terbata bata, kakinya terluka parah dan terdapat luka cakaran yang menganga cukup lebar pada tangannya.
Dengan segera mereka membantu Darsono. Kakinya terjepit jebakan besi besar yang biasa digunakan para pemburu liar. Kemungkinan Darsono terperosok ke dalam lubang secara tak sengaja. Benarkah itu?
Alam bekerja secara ajaib, para penjaga desa sudah muak dengan tingkah sekelompok orang yang mengotori desanya. Mereka sudah berada di puncak kemarahan hingga akhirnya menghukum siapapun yang melanggar ketenangan desa. Termasuk Darsono.
Setelah bersusah payah dan saling membantu akhirnya Darsono berhasil diselamatkan. Menurut pengakuannya sudah dua malam tiga hari Darsono terjebak disana. Ia pun segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Sepanjang perjalanan, Darsono terus terisak membuat Budi dan Andi penasaran.
"Kamu ternyata bisa bicara?" Budi bertanya pada Darsono yang tergeletak tak berdaya di bagian belakang mobil.
Darsono hanya mengangguk, lalu kembali terdiam. Sesekali ia merintih saat rasa sakit menyerangnya.
"Kenapa selama ini kamu diam? Aku pikir lidahmu terpotong sesuatu!" Budi yang penasaran kembali bertanya.
Darsono menggelengkan kepala, lalu berkata. "Karena dalam diam aku temukan kedamaian,"
"Huh, kedamaian gundulmu! Damai kok bunuh orang seenaknya!" Andi menyindir sarkas.
"Jangan salahkan aku, mereka yang memulai. Mereka mancing jiwa lain dalam diriku!"
Andi dan Budi bergidik mendengarnya. "Jiwa lain apa? Wong edan!" Andi kembali mencemooh.
"Kalian tidak akan pernah mengerti. Hanya kekasihku Lasmi yang tahu tentang hal itu. Sayang kematiannya begitu cepat, aku sangat merindukannya."
__ADS_1