Jeritan Tengah Malam

Jeritan Tengah Malam
Kecurigaan Budi


__ADS_3

Matahari masih mengintip malu di timur, tapi kesibukan warga sudah mulai terlihat. Beberapa hari ini suasana desa terasa aman. Belum ada lagi cerita warga yang ketakutan berpapasan dengan hantu wanita yang ditakuti.


Warung mbok Kar menggeliat, bersiap menyambut tamu di pagi hari. Aneka jajanan manis dan gorengan sudah siap tertata. Imam dan Wardi yang bersiap ke ladang selepas sholat subuh di mushola. Mereka menyempatkan diri untuk mampir.


"Mbok, biasa!" Wardi berteriak pada mbok Kar yang masih sibuk di dapur.


"Aku yo podo mbok, biasa!" Seru Imam tak mau kalah.


Mereka dengan cekatan mengambil gorengan pisang yang masih mengepulkan asap tipis.


"War, abis bersih desa lumayan yo! Desa kita aman, rasane ora medeni neh nek wayah bengi!" Kata imam sambil mengunyah makanannya. (rasanya nggak nakutinlagi kalau malam!)


"Iya Mam, untung ada mbok Ratem! Semua aman wes lah!"


Sumini membawakan dua gelas kopi pesanan mereka lalu meletakkannya di meja. "Warung piye Sum, rame lagi kan?" Wardi bertanya sembari meniup gelas miliknya.


"Sejak bersih desa ya mulai rame sih, tapi ya itu rame juga yang utang! Kayak kalian ini lah!" Sumini menyindir seraya tersenyum masam.


"Weh lah, salah nanya kayaknya saya!" Wardi tergelak, sementara Sumini melotot kesal.


"Assalamualaikum, pagi bapak-bapak!" Seorang lelaki dengan garis wajah tegas berkulit putih menyapa, dialah Budi salah satu petugas yang menginap di rumah Wak haji.


"Wa'alaikumussalam, eh pak Budi. Silakan pak, tumben sendirian temennya mana nih?" Imam bergeser memberi Budi tempat.


"Masih pada tidur, maklum semalam kita ngobrol lama sama pak sekdes." Andi menjawab dengan senyum. Wajahnya terlihat segar dan tubuhnya tercium aroma maskulin.


"Wih, pak Budi pagi bener udah mandi, wangi lagi! Nggak kayak kita yang bau asem, mau ngeladang!" Wardi mencium aroma tubuhnya sendiri, ia malu berdekatan dengan Budi yang nampak gagah.


"Ah, bisa aja nih! Biar matanya nggak ngantuk jadi saya mandi pagi pak." Budi mengambil makanan yang ada di depannya. "Bu, kopi susu ya!"


Sumini mengangguk dan bergegas masuk ke dalam. Sementara Wardi asik mengisi perutnya dengan aneka macam makanan manis.


"Ehm, bapak-bapak disini pernah terganggu sama anjing hutan atau serigala nggak?" Budi menyelidik.


"Saya masih muda belum berkeluarga pak Budi kok dipanggil pak?!" Protes Imam, "Mas aja, biar keliatan mudanya!"


"Oh, maaf. Mas …,"


"Saya Imam, ini Wardi! Masih single en cari pasangan!" Sahut Imam dengan cengiran khas.


"Halah, lagakmu ki lho! Sok ngganteng sok iInggris-an Mam!" Mbok Kar membawa segelas kopi pesanan Budi. "Warga desa sini sudah biasa dengar lolongan anjing dari hutan pak polisi. Kami kan hidup berdampingan sama hutan jadi ya nggak kagetlah!" Mbok Kar ikut menimpali.

__ADS_1


"Oh begitu,tapi nggak sampai masuk ke desa?"


"Wah nggak pernah pak! Aman!" Wardi menyahut.


"Cuma memang akhir-akhir ini suara lolongan anjing hutan sering terdengar hampir setiap malam. Padahal biasanya jarang kedengaran. Aneh!" Wardi menyambung kalimatnya.


"Aneh gimana mas?" tanya Budi penasaran.


"Saya besar di desa ini, seumur umur baru kali ini terdengar suara lolongan anjing hutan begitu pak! Dan anehnya lagi dibarengi sama teror demit pak polisi!" 


Budi mengerutkan dahi, tapi ia masih ingin mendengarkan warga bicara.


"Iya juga sih, Nek dipikir pikir itu kejadian baru-baru saja ya War. Eh trus ada penemuan mayat kan jadi bikin tambah serem!" Imam menambahkan.


"Apa mas-mas disini nggak melihat hal yang mencurigakan?"


"Kalau didesa ini pasti terpantau pak polisi, tapi kalau dihutan mana kita tahu!" Wardi kembali menjawab.


"Warga desa sini ke hutan cuma buat cari kayu bakar. Paling juga beberapa pendaki yang suka ketemu kita dijalan. Sejauh ini sih nggak ada laporan warga yang curiga sama para pendaki. Mereka sopan, ramah dan nggak ada yang aneh-aneh!"


Budi hanya manggut-manggut, ia kembali meminum kopinya. Tak lama kemudian muncullah Ardi dengan wajah kusut.


"Mbok, kopi item ya!" Pintanya lesu, pikiran Ardi kacau. Ia bahkan kesulitan untuk tidur. Bayangan Asih dan pak kades selalu berputar diotaknya.


"Ada dirumah!" Jawabnya malas.


Budi meliriknya sepintas, dari penampilannya yang berbeda Budi tahu jika Ardi dari kota. Entah mengapa instingnya mengatakan jika Ardi sedang menyembunyikan sesuatu. Budi memutuskan untuk menunggu dan memperhatikan Ardi.


"Mas Ardi boleh nanya nggak, neng Asih udah punya pacar belum sih!" Wardi iseng bertanya, jujur ia terpesona dengan wajah ayu Asih.


"Udah!" Jawab Ardi ketus.


"Waah, telat aku! Kira-kira kalau saya mau kenalan, masih diterima nggak ya?!"


"Nggak!" Sekali lagi Ardi menjawab dengan tak enak membuat Wardi menggerutu, "Wong ditanya kok jawabe ora enak banget! Marai emosi!"


Ardi hanya melirik tajam pada Wardi, ia tidak peduli dengan gerutuan pemuda didepannya. Budi masih memperhatikan ekspresi aneh Ardi. Tiba-tiba saja ponsel Ardi berbunyi.


"Ya, ada apa?" Waja Ardi nampak berubah, ia mengerutkan dahi sejenak tapi kemudian senyum mengembang.


"Apa, Clara?! Bagus!" Senyum mengembang di bibir Ardi, Budi pun semakin menajamkan pendengarannya.

__ADS_1


"Gimana sama Lisa?" Ardi kembali bertanya pada seseorang di ujung sana. Tak lama kemudian ia kembali tersenyum.


"Kabari aku jika ada perkembangan!" Ardi menutup ponselnya, ia menghabiskan kopi lalu berlalu setelah memberi sejumlah uang pada mbok Kar.


Budi yang curiga mengikuti Ardi diam-diam. Ia berjalan pelan menjaga jarak agar Ardi tidak mengetahuinya. Budi penasaran kemana Ardi pergi. Nama Clara yang sempat terucap dari bibir Ardi, membuat tanda tanya besar di benak Budi. Nama yang sama juga disebutkan lelaki dengan penuh luka semalam.


Tibalah Budi di sebuah rumah besar yang terbilang cukup mewah untuk ukuran desa. Ardi terlihat menyelinap masuk ke dalam gudang tua, disusul dengan lelaki tua. Budi bersembunyi dibalik pohon besar yang berbatasan langsung dengan hutan.


"Lokasinya menguntungkan, hutan ini dijadikan lokasi pembuangan korban. Bisa jadi Ardi pelakunya. Tapi, siapa lelaki tua itu?" Gumam Budi penasaran.


Dari rumah utama keluarlah wanita cantik berkulit putih. Memakai dress sewarna kulit berpotongan pendek dengan potongan V-neck rendah menampakkan belahan dada yang cukup menggoda. Rambut ikalnya digerai sebahu, Budi seketika terpesona dengan kecantikannya.


Pesona mistis yang dikeluarkan Asih menarik perhatian Budi. Ia hendak mendekat saat tangannya ditarik seseorang dengan kasar.


"Jangan dekati gadis itu!" Suara serak dan parau menghentikan niat Budi.


Budi menoleh ke belakang dan mendapati mbok Ratem dengan wajah serius menatapnya. "Anda siapa?"


"Jangan coba-coba mendekatinya jika.kau ingin selamat!" Mbok Ratem kembali memberi peringatan.


Budi menoleh ke arah Asih lalu kembali menatap Mbok Ratem yang masih memegang lengannya kuat. "Dia siapa mbok? Kenapa saya nggak boleh dekatin dia?"


"Dia berbahaya, dia musuh desa ini!"


Budi semakin tak mengerti, ia kembali menatap Asih. Ia tak mengerti maksud mbok Ratem.


 Wanita secantik Asih adalah musuh desa? Bagaimana mungkin? Atau jangan-jangan dia …,


Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Budi. Ia memperhatikan Asih, setiap gerak geriknya begitu mempesona.


"Wanita secantik itu ada di desa terpencil seperti ini rasanya mustahil!" guammnya lirih.


"Jangan terlalu lama memperhatikannya! Kau bisa terjebak dalam pengaruhnya!" Mbok Ratem kembali berbicara.


"Memangnya dia punya pengaruh apa …," Budi bertanya pada mbok Ratem tapi betapa terkejutnya ia saat menoleh mbok Ratem menghilang.


"Lho, kemana dia? Tadi masih disini kan?"


Angin bertiup ringan di tengkuk Budi, dan sebuah bisikan terdengar ditelinganya.


Tinggalkan tempat ini segera sebelum semua terlambat!

__ADS_1


 


 


__ADS_2