
Ardi melipat kedua tangan di depan dada, ia bersandar di pintu gudang tua. Senja mulai menampakkan keanggunannya. Ia gelisah, Asih tak kunjung pulang dari acara bersih desa.
Pintu gudang tua berderak kasar. Ardi sedikit bergeser, ia menoleh ke arah dalam. Pak tua yang bertubuh tegap, kumis tebal, dan rambut botak di tengah kepala, berjalan dengan sedikit kepayahan. Ia menyeret dua kantong plastik hitam keluar, Ardi yakin isi kantong itu adalah mayat kedua rekannya.
"Perlu bantuan?" Ardi menawarkan diri.
Pak tua itu hanya menatapnya sekilas, tak menjawab dan berlalu dengan menyeret kasar kantong hitam yang bertumpu pada bahunya.
Ardi menghela nafas, pak tua itu tak merespon dirinya. Ia bosan dirumah menanti Asih. Akhirnya ia memutuskan mengikuti pak tua masuk ke dalam hutan tak jauh dari gudang itu berada.
Ardi menyamakan langkah dengan si pak tua. Ia memaksa membawa satu kantong plastik. Tak tega rasanya saat melihat pak tua itu kepayahan. Beberapa hari berada dirumah Bu Lasmi, Ardi bahkan tak tahu nama pak tua yang sedang bersamanya.
"Apa masih jauh?" Ardi bertanya seraya mengusap peluhnya. Mayat dalam kantong plastik itu terasa begitu berat.
Pak tua tetap tak menjawab, ia terus melangkah perlahan menyeret kantong plastik tebal. Ardi berdecak kesal, ia menyesali keputusannya membantu pak tua itu.
Malam semakin gelap, lolongan anjing hutan mulai bersahutan. Suara burung hantu dan binatang nokturnal lain mulai terdengar. Ardi terus melangkah mengikuti pak tua. Kakinya terasa pegal dan lelah, mereka sudah masuk terlalu jauh ke dalam hutan.
Akhirnya pak tua itu berhenti. Nafasnya tersengal dengan keringat membanjiri tubuhnya.
"Aku pikir kita nggak bakal berhenti pak tua!" Sindir Ardi mengusap peluh untuk kesekian kalinya.
Pak tua itu memperhatikan sekitar, gelap dan sunyi hanya terdengar suara tonggeret di pepohonan.
"Kita buang mereka disini?" Tanya Ardi lagi, pak tua itu mengangguk.
Ardi dan pak tua itu dengan susah payah menarik dan membuang mayat dalam kantong ke sebuah jurang di tengah hutan. Suara benda jatuh dengan kasar terdengar tak lama setelah kedua kantong itu jatuh ke dasar jurang.
Ardi melongok ke jurang gelap itu sejenak, "Udah aman belum?" Tanyanya pada pak tua.
Lelaki tua itu hanya menatap Ardi sejenak tak menjawab lalu berlalu meninggalkan Ardi.
"Cck, bisu kali ni orang ya! Ditanya daritadi diem mulu!"
__ADS_1
Ardi segera menyusul lelaki tua yang berjalan cukup gesit di tengah gelapnya malam. "Hei, pak tua! Tunggu aku!" Teriaknya dengan nafas tersengal.
Lolongan anjing hutan terdengar bersahutan, membuat Ardi berhenti sejenak. Ia memperhatikan sekitar khawatir jika gerombolan anjing hutan itu mengincar dirinya. Dalam gelapnya malam dan minimnya pencahayaan, Ardi adalah sasaran empuk bagi kawanan hewan nokturnal itu.
Kelebatan bayangan hitam sesekali muncul di balik pepohonan. Ardi diserang rasa panik. Ia mencari arah kelebatan bayangan itu pergi. Suara burung hantu pun terdengar sangat tak bersahabat di telinganya.
Tiba-tiba saja ada yang menarik kasar pakaian Ardi, memaksanya untuk berjalan. Ia hendak berteriak tapi tangan kekar dan kasar menutup mulutnya. Mata Ardi berusaha melihat siapa yang membekapnya. Dalam keremangan malam Ardi melihat wajah pak tua yang memberi isyarat diam padanya.
Telunjuk pak tua itu menempel di bibirnya, matanya mengisyaratkan sesuatu di sebelah kiri Ardi. Mata Ardi melirik ke arah yang dimaksud pak tua itu. Ia terbelalak, tapi kembali lagi pak tua itu membekap mulutnya lebih keras.
Sosok melayang di antara pepohonan, berbaju putih dengan suara menangis tak henti. Meski gelap Ardi melihat dengan jelas ditangan sosok itu ada sesuatu yang dibalut kain. Ardi gemetar, ia ketakutan.
Sosok itu melayang perlahan, berhenti sejenak di salah satu dahan pohon lalu kembali terbang menuju desa.
Pak tua itu melepaskan tangannya, lalu menarik baju Ardi agar mengikutinya segera. Jantung Ardi berdegup kencang, ia bersyukur menghadapi hal menakutkan bersama pak tua yang tak pernah bersuara itu. Ardi tak bisa membayangkan jika ia menghadapinya sendiri.
Langkah kaki pak tua itu kembali terhenti, Ardi kembali was-was. "A-ada apa lagi?" Tanyanya tergagap.
Pak tua kembali meletakkan telunjuknya dan meminta Ardi waspada. Tak lama kemudian terdengar suara binatang yang berlarian. Segerombolan anjing hutan melintas tak jauh dari mereka. Mereka berlari menuju jurang tempat dimana mayat itu dibuang.
Ardi dan pak tua menunggu sesaat hingga suasana hening dan sunyi. Mereka pun kembali bergerak, sayup-sayup terdengar suara anjing hutan yang saling berebut makanan. Lolongan panjang nan meremangkan bulu roma kembali terdengar.
Dengan langkah tergesa pak tua dan Ardi meninggalkan hutan dengan segera. Mereka tidak ingin mati konyol dimangsa anjing hutan ataupun bertemu lagi dengan sosok lelembut wanita tadi.
Pak tua itu langsung pergi meninggalkan Ardi saat mereka memasuki halaman rumah. Ia segera menuju pondok kecil tak jauh dari gudang tua. Ardi hanya bisa menatap pak tua itu dengan perasaan kacau.
Baru saja ia melangkah masuk ke dalam, Asih sudah menghadangnya dengan tatapan mata aneh.
"Darimana kamu?"
"Hutan," jawab Ardi singkat, ia enggan menjawab lagi karena tubuhnya begitu lelah.
Ardi menuju ke dapur, mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya habis. Asih mengikutinya, ia duduk di kursi menunggu Ardi bercerita. Ardi menenangkan dirinya sejenak lalu membasuh muka di keran wastafel dapur.
__ADS_1
"Darimana kamu seharian?" Tanya Ardi, ia menarik kursi di sebelah Asih.
"Balai desa, ada acara kan disana?"
"Amel telpon tadi siang. Dia nanyain kamu!" Kata Ardi menatap tajam Asih.
"Kenapa dia?"
"Takut katanya, mau pindah kalau kamu masih lama disini."
"Cckk, dasar penakut!"
"Gimana nggak takut, kamar kosong yang kamu kunci itu terus ngeluarin suara mengerikan! Dia cewek, sendirian lagi, lama-lama juga ngeri kali sendirian!" Ardi mengetuk ngetukkan jarinya ke meja kayu.
"Hmm, aku tahu!"
Keduanya terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mbok Jum datang dengan ekspresi tak biasa, "Ndoro, ada yang cari?!"
"Siapa?!" Tanya Asih ketus.
"Ehm, anu ndoro …," mbok Jum ragu meneruskan kalimatnya, Asih menatapnya dengan kerutan dahi.
"Siapa mbok? Ditanya malah bingung begitu!"
Mbok Jum menatap Ardi sejenak lalu menjawab dengan lirih, "Pak Kades."
Wajah Asih berbinar seketika. Ia segera berdiri dan berlalu meninggalkan Ardi yang terheran-heran. Pak kades menunggu di ruang tamu dengan gelisah.
Asih mengintip sejenak dari ruang tengah, ia merapikan rambutnya dan membuka kancing atas bajunya, membiarkan belahan dadanya sedikit terekspos.
Asih tersenyum menggoda, ia mendekati pak kades yang matanya berbinar penuh hasrat padanya. Asih duduk disebelah pak kades, menebarkan pesona mistisnya pada lelaki beristri yang memiliki pengaruh besar di desa.
"Malam, pak kades!"
__ADS_1