Jeritan Tengah Malam

Jeritan Tengah Malam
Kesalahan Kedua Asih


__ADS_3

Mbok Jum mengetuk pintu kamar Asih, ia membawakan sarapan karena Asih belum juga keluar hingga siang menjelang.


"Non, non Asih … mbok bawain makan!" Serunya berharap Asih segera membukakan pintu.


Sudah hampir sepuluh menit mbok Jum berdiri di depan kamar Asih. "Non, buka pintunya non! Makan dulu nanti non Asih sakit!"


Tak ada jawaban dari dalam kamar Asih, mbok Jum mulai khawatir. Ia takut sesuatu terjadi pada keponakannya itu.


"Ada apa mbok?" Ardi mendekat suara mbok Jum terdengar hingga ke dalam kamarnya.


"Ini, non Asih belum makan dari pagi. Saya takut dia sakit Den!" Wajah mbok terlihat sangat khawatir.


Ardi mengetuk pintu kamar Asih, "Asih, aku masuk ya!" Tanpa menunggu jawaban Ardi segera meraih handle pintu dan membukanya. Tak ada seorangpun disana, Ardi membuka pintu kamar mandi. Asih juga tak ada disana.


"Lho kemana dia?" Ardi melihat ponsel Asih yang tergeletak begitu saja di meja. Pesan dari bidan Mimah baru saja masuk.


"Paket dikirim sore ini? Belum waktunya kan, aneh!" 


Ardi meletakkan kembali ponsel Asih, ia menatap mbok Jum yang diam termangu menatap sesuatu yang tergeletak di sisi lain meja.


"Ada apa mbok?" Ardi dibuat penasaran oleh sikap mbok Jum.


Mbok Jum tergagap, "Eh anu, ini … ah, nda ada apa-apa den! Kalau gitu mbok bawa lagi makanannya kebawah. Kali aja non Asih ada dibawah!"


Ardi hanya mengangguk pelan, ia menatap punggung mbok Jum pergi. Ia duduk di tepi ranjang, Ardi membuka ponsel milik Asih lagi. Beberapa foto dirinya dan Asih dengan wajah bahagia saat berada disebuah restoran cepat saji masih tersimpan dalam galeri.


Ardi mengusap wajah ayu Asih. "Nggak bisakah kita mulai hidup yang baru? Aku sayang kamu Asih, aku cinta sama kamu?"


Suara Ardi bergetar, meski Asih melukai hatinya Ardi masih menyimpan harapan besar padanya. Asih bukan cinta pertamanya tapi Ardi begitu mencintai Asih melebihi cintanya pada sang adik yang tengah berjuang melawan penyakitnya di sebuah sanatorium.


Ardi masih berharap Asih berubah dan bertaubat, meski telah banyak kejahatan yang dilakukan keduanya. Mungkinkah itu terjadi?


Suara langkah kaki terdengar mendekat, Ardi menoleh ke arah pintu, Bu Lasmi datang dengan ekspresi muram.


"Dimana dia?" Tanyanya datar pada Ardi.


Ardi hanya menggelengkan kepala. Bu Lasmi membuka lemari pakaian Asih dengan kasar, ia memasukkan beberapa helai baju ke dalam tas Asih. Ardi kebingungan dengan sikap Bu Lasmi.


"Kalian harus pergi dari desa ini!" Ucap Bu Lasmi dengan gemetar.


"Maksudnya apa ini Bu?" Ardi yang tak mengerti berdiri sedikit menjauh dari Bu Lasmi yang nampak kalut.


"Kalian membuat masalah yang seharusnya tidak perlu!" Bu Lasmi berkata dengan suara gugup dan gemetar, tangannya tak berhenti memasukkan pakaian dan benda-benda milik Asih.


"Apa?!"


Bu Lasmi melemparkan tas yang sudah berisi baju Asih. "Pergi! Aku nggak mau kejadian putriku terulang lagi! Jaga Asih dan segeralah menghilang dari desa ini!" Teriak Bu Lasmi frustasi.

__ADS_1


"Ada apa ini sebenarnya Bu?!" Ardi semakin bingung karena Bu Lasmi mendorongnya keluar kamar sembari memaksanya membawa tas berisi pakaian.


"Kalian membawa malapetaka untukku! Aku melupakan dendamnya pada anak-anak itu, aku salah memperhitungkan segalanya! Dan kau, kau juga ikut andil dalam pembunuhan mereka, kau … membuat semuanya semakin kacau!"


Bu Lasmi berteriak di depan wajah Ardi, meluapkan emosi dan amarahnya yang terpendam. Ia ketakutan, ia bingung, Bu Lasmi tak ingin kehilangan Asih dan juga kekuatannya. Asih adalah jaminan hidup kedua setelah kematian sang putri yang juga dijadikan tumbal kedigdayaan untuknya.


"Pergi! Lekas pergi! Jaga Asih untukku!" Bu Lasmi mendorong Ardi kuat hingga ia terjatuh ke lantai. 


"Cari tempat persembunyian yang aman dikota! Aku akan memantau kalian dari sini juga akan melindungi kalian dari jin jelek itu!" Bu Lasmi kembali berkata dengan mata melotot, ia mulai kehilangan kewarasannya. 


Ardi yang bingung tak tahu harus berbuat apa. Ia menuruni anak tangga dan membawa serta pakaian Asih. Bu Lasmi menatapnya dengan sorot mata tajam. "Kalian harus pergi hari ini juga!"


...----------------...


Asih kembali mengendap endap di rumah pak kades. Ia menyelinap masuk lewat pintu belakang. Suara rintihan wanita terdengar begitu menyayat hati, tapi tidak untuk Asih. Ia tersenyum lebar, usahanya membuahkan hasil. 


Asih mengintip dari balik pintu kamar yang terbuka sebagian. Warni, istri pak kades sedang merintih kesakitan. Perutnya mulas tak karuan, keringat membasahi sekujur tubuhnya.


 "Mas … mas Adi, aduuuh!" Rintihnya sembari menahan sakit yang luar biasa.


Asih tersenyum, ia mengatur nafasnya sejenak lalu berpura pura terkejut saat masuk ke dalam kamar.


"Astagaaaa, mbak! Mbak kenapa?"


Dengan liciknya, Asih mulai memainkan perannya.


"Mas Adi? Pak kades maksudnya?" Asih mengulur waktu.


Warni kembali mengasuh, cairan merah terlihat merembes membasahi pakaian bagian bawahnya.


"I-iya mbak, tolong … saya udah nggak kuat, tolong … panggilkan mbok Ratem juga!"


Wajah Asih seketika berubah saat mendengar nama mbok Ratem disebut. "Nanti saya panggil kan, saya bantu mbak dulu boleh? Saya biasa membantu ibu-ibu yang melahirkan kok!" 


"Mbak, yakin bisa?" Warni bertanya dengan keringat yang sudah membanjiri tubuhnya, kontraksi di perutnya sudah melebihi batas kemampuannya.


Sakit yang luar biasa membuatnya tersiksa. Cairan keruh keluar bersamaan dengan darah kental, Warni menjerit kesakitan. Asih yang tak ingin suara Warni terdengar keluar pun segera menutup mulutnya dengan potongan kain.


"Gigit ini mbak biar nggak kedengeran jeritnya, biar tenaganya ada buat mendorong si bayi!" 


Warni yang kesakitan hanya bisa pasrah, tangannya mencengkram kuat tepi ranjang sementara Asih duduk berjongkok di depan kedua kaki Warni yang membuka lebar. 


Setelah hampir satu jam, bayi itu lahir. Warni tergeletak lemas, "Mbak, mana anakku?" 


Asih yang masih membekap putra pak kades tersenyum ganjil, "Anakmu sudah mati mbak, maaf!"


"A-apa?!"

__ADS_1


Asih memotong sembarangan tali pusar yang masih melilit di tubuh bayi itu, ia segera membungkusnya dengan kain jarik yang tergeletak tak jauh dari Warni.


"Kembalikan, kembalikan a-anakku!" Ujar Warni lemah, wajahnya terlihat pucat.


Asih tersenyum sinis padanya, "Ini milikku, kau matilah dengan tenang disini!"


Warni menatap Asih nanar, ia hendak merebutnya dari Asih. Dengan tubuhnya yang lemah dan masih berlumuran darah, Warni berusaha berdiri dan meraih Asih. 


"Jangan, kembalikan putraku!"


Asih yang gelap mata mendorong Warni dengan kuat, hingga kepalanya membentur meja dengan keras. Warni pingsan tak bergerak. Belum puas sampai disitu, Asih menjejali Warni dengan racun yang ia ambil dari lemari milik Bu Lasmi.


"Mati kau!"


Asih segera pergi meninggalkan rumah pak kades, sebelum ada yang mengetahuinya. Ia memasukkan jasad bayi tak berdosa itu ke dalam kantong plastik hitam. Ia membasuh kedua tangan yang dikotori darah, lalu melenggang pergi kembali rumah.


Setibanya di halaman, Ardi sudah menunggunya dengan muka masam.


"Kita harus pergi, sekarang!" Ardi menarik paksa tangan Asih agar masuk ke dalam mobil.


"Apa apaan sih kamu!" Asih menepis tangan Ardi.


"Kita harus pergi sekarang, sebelum ibu kamu marah!" 


"Huh, marah? Udah gila kali dia marah! Lepasin tangan aku!" Asih kembali menepis tangan Ardi yang masih kuat mencengkeram.


Asih akhirnya berhasil melepaskan diri dari Ardi, ia masuk ke dalam dan menuju ruangan khusus yang biasa digunakan untuk ritual. Asih meletakkan jasad bayi yang baru direbutnya dari Warni di atas selembar kain hitam.


Asap tipis pembakaran kemenyan mulai memenuhi ruangan, mulut Asih berkomat kamit memanggil jin wanita sekutunya.


"Aku bawakan tumbal terakhir untukmu!"


Suara cekikikan terdengar dari sudut gelap, jin wanita itu muncul. Ia berjalan mendekati janin yang baru beberapa menit lalu dilahirkan. Tangannya yang mengerikan mengusap wajah janin yang telah sempurna wujudnya itu.


Tapi sesuatu yang salah terjadi, mata jin wanita itu melotot. Menatap nyalang Asih, "Ini bukan yang aku mau!"


"Apa maksudmu?!"


"Lihatlah baik-baik! Dia tidak bergerak, usianya melebihi perjanjian kita!"


"A-apa?! Tapi kata mas Adi …," Asih terduduk lemas, perhitungan pak kades salah. Putra pertamanya yang telah terbujur kaku di depan Asih ternyata berusia lebih dari 26 Minggu, usia yang seharusnya diberikan pada jin wanita itu.


"Kau bodoh! Malam ini sebelum jam dua belas malam kau harus mencari lagi tumbal untukku, jika tidak …," jin wanita itu mendekati Asih dan berbisik, "Kau yang akan menjadi penggantinya!"


Mata Asih terbelalak, tubuhnya seketika menggigil. Ancaman jin wanita itu kali ini menciutkan nyalinya.


Tidak, aku tidak ingin mati! 

__ADS_1


__ADS_2