
Ardi berada di ruangan tempat Rico dan Arif meregang nyawa. Ia meletakkan kardus berisi janin bayi kiriman bidan Mimah untuk Asih. Ardi bermaksud menyembunyikannya karena Asih pasti akan mencarinya.
Ruangan gelap dan pengap itu terasa sedikit berbeda ketika Ardi memasukinya. Bulu kuduknya merinding seketika, bau aneh menyergapnya. Antara bau busuk, anyir dan wewangian bunga persis seperti yang ada di kamar khusus Bu Lasmi.
Ardi menyentuh tengkuknya, "Aneh," ia bergumam sambil memperhatikan sekitar.
Ardi meletakkan dus itu ditengah ruangan lalu berbalik. Kelebatan bayangan hitam terlihat mendekati Ardi, ia menangkap kelebatan itu dengan ekor matanya. Ardi pun berbalik. Tak ada siapapun disana.
Ardi kembali berjalan saat suara tawa anak kecil menyapanya dengan jelas. Bayangan yang berkelebat menimbulkan suara angin yang berhembus cepat, darah Ardi seketika mengalir lebih cepat.
"Siapa disana?" Ia bertanya ke arah sudut ruangan gelap.
Yang terdengar adalah tawa anak kecil, dan sayup sayup terdengar suara lirih yang memanggilnya.
"Ayah, apa kau mau menjadi ayah kami?!"
Ardi menajamkan pendengarannya, suara tadi seolah berbisik pada angin dengan intens dan kembali bersuara.
"Ayah, aku ingin kau jadi ayahku!"
Ardi ciut nyali, ia mulai gemetar dan berjalan mundur perlahan hendak meninggalkan ruangan. Sayang ketika berbalik pintu tertutup dengan kerasnya. Lampu ruangan redup, Ardi semakin dibuat ketakutan.
"Siapa kalian!"
Minimnya cahaya membuat kaki Ardi tak sengaja menendang kardus berisi janin yang tadi ia letakkan. Bungkusan berisi janin itu pun keluar dari kardus.
Suara-suara anak kecil tertawa cekikikan kembali terdengar, Ardi menoleh ke kanan dan kekiri dengan cepat.
"Ayah,"
"Ayah!"
Nafas Ardi memburu, "Pergi! Pergi!"
Kardus yang tak sengaja ditendang Ardi terlihat bergerak, begitu juga bungkusan kain yang ada didalamnya. Mata Ardi menatap tak percaya, takut tapi penasaran. Sepasang mata merah menyorot ke arahnya.
"Apa kau orang tuaku?"
Ardi tercekat, ingin berteriak tapi tak mampu. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Bukan, pergi! Pergi, jangan ganggu aku!"
Sosok-sosok kecil dengan mata merah itu muncul semakin banyak. Mereka mendekati Ardi yang terjerembab jatuh ke lantai.
"Aku ingin ayahku, aku ingin ibuku!"
Suara-suara itu terus berputar di kepala Ardi hingga ia menutup erat telinganya seraya berteriak.
"Pergi! Pergi kalian!"
Suara itu rasanya begitu menyiksa Ardi, ia ingin pergi tapi kakinya terasa lemas, ingin melawan tapi rasa takut terlanjur mengontrol pikirannya untuk tunduk. Ardi hanya bisa pasrah dan berteriak dengan keras seperti orang yang kehilangan kewarasan.
...----------------...
Hujan begitu deras, Asih dan pak tua berbadan tegap itu berjalan kembali ke rumah Bu Lasmi, petir menyambar berkali-kali di langit hitam tepat diatas kepala Asih. Berkali kali itu pula Asih menutup telinganya dari suara keras yang memekakkan telinga.
__ADS_1
Derasnya hujan menjadikan jalanan sangat licin, pandangan Asih sedikit kabur terhalang air hujan yang terus mengalir di wajah ayunya. Asih baru menyadari kalau dia kehilangan pak tua yang berjalan tepat di depannya.
"Pak tua! Pak tua!"
Asih berhenti dalam gelapnya hutan dan derasnya hutan, ia celingukan mencari keberadaan pak tua yang tiba-tiba saja hilang.
"Iish, kemana dia? Tadi ada di depanku, apa dia terpeleset? Tapi aku nggak dengar suara jatuhnya?"
Asih memperhatikan sekitar, pak tua itu benar-benar menghilang. Udara disekitar yang dingin dan lembab membuat Asih akhirnya memutuskan meninggalkan si pak tua yang hilang entah kemana.
Asih pun tiba di rumah Bu Lasmi setelah bersusah payah menembus hutan. Pintu yang terbuka tanpa dikunci tidak membuat Asih curiga. Pakaiannya basah kuyup dan ia pun mulai kedinginan. Suara jeritan disusul teriakan mbok Jum terdengar dari lantai atas.
Asih bergegas naik dan melihat apa yang terjadi.
"Ndoro!" Mbok Jum terlihat duduk bersimpuh di depan jasad Bu Lasmi yang telah terbujur kaku bersimbah darah.
Asih terkejut, matanya menatap tak percaya. Meja sesaji terbalik, lemari tempat penyimpanan berbagai macam ramuan pun roboh. Tak jauh dari mayat Bu Lasmi juga tergeletak keris yang dimata Asih berlumuran darah.
"A-apa yang terjadi mbok?" tanyanya dengan tubuh menggigil kedinginan.
"Mbok juga nggak tahu non, ndoro tau-tau udah begini! Mbok cuma dengar suara keras dari dalam kamar, malah nggak tahunya ndoro putri sudah tewas!" Terang mbok Jum disela isakannya.
Asih menatap kosong jasad Bu Lasmi, ia mendekati dengan langkah gontai.
"I-ibu, ma-maafkan Asih!" Untuk kali pertama Asih menitikkan air mata untuk Bu Lasmi.
Entah mengapa ia disergap rasa sedih yang sudah lama tak ia rasakan. Rasa kehilangan yang teramat dalam. Bu Lasmi begitu banyak membantunya selama dirinya terpuruk, dan kini ia pergi. Asih menyesal karena tidak mengindahkan permintaan konyol Bu Lasmi untuk segera pergi. Asih menyesal telah berkata kasar padanya tadi.
"Sekarang giliranmu!" ujar jin wanita itu dengan seringai mengerikan. Wajahnya tiba-tiba saja mendekat seolah berada di depan wajah Asih membuatnya terlonjak kaget.
"Tidak! Tidak, aku sudah menyiapkan tumbal untukmu! Tidak, jangan sakiti aku!"
Asih menyeret tubuhnya mundur hingga menempel ke dinding. Suara jin wanita itu seolah berputar terus di pikirannya. Dentang jam besar mengagetkan Asih, hari hampir subuh. Ia terbelalak, Asih lupa akan janjinya pada jin wanita itu. Tumbal ketujuh harus diberikan sebelum jam dua belas malam.
Wajahnya pucat pasi, ia melupakan perjanjiannya. Ia justru asik bermain dengan pak kades yang telah mati di tangannya. Asih terlalu sibuk memikirkan cara menyembunyikan jasad pak kades hingga ia lupa pada tumbalnya.
"Ardi, dimana Ardi?!"
"Mbok, dimana Ardi mbok?!" Asih menguncang guncangkan tubuh mbok Jum, ia harus mencari Ardi segera.
"Mbok nggak tahu non, semalam den Ardi pergi keluar setelah menerima paket."
"Paket? Itu paketku, tumbalku!"
Asih bergegas pergi dengan terburu ia menuju kamar Ardi, kosong. Ia pun kembali mencari Ardi, tapi lelaki yang selama dua tahun menjadi asisten dan kekasih bayarannya itu tidak ada di seluruh ruangan.
"Gudang tua, dia pasti ada disana!"
Asih berlari menuju gudang tua, ia tak peduli rumput yang licin dan tergenang air. Saking terburu burunya ia pun terpeleset. Asih tersungkur di tanah, ia kembali berlari menuju gudang tua.
"Ardi, Ardi!"
Langkah kakinya tergesa, menuju ke ruangan tempat dirinya menyekap ketiga pemuda malang dulu. Ardi ada disana, disudut ruangan dengan wajah kusut.
__ADS_1
"Dimana paketku? Dimana?!" Teriak Asih tak sabaran.
Ardi mendongak, menatap wajah Asih yang begitu marah padanya. "Untuk apa, untuk apa kau cari paketmu?" tanyanya dengan tatapan kosong.
"Sudah terlambat Asih, semua sudah terlambat! Kau dan aku akan mati sebentar lagi!" sambungnya lemas.
Asih lemas, perkataan Ardi seketika menciutkan nyalinya. Tubuhnya melorot duduk bersimpuh di lantai. "Terlambat, apa aku terlambat?"
Airmata Asih jatuh, bayangan kematian Bu Lasmi mengingatkannya pada ancaman jin wanita itu. Asih menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, aku nggak mau mati!"
Asih menarik Ardi, ia memaksa Ardi berdiri. "Kita pergi dari sini, segera!"
Ardi tidak mengindahkan perintah Asih, ia masih tidak mau beranjak dari tempatnya.
"Ardi, cepat bangun! Kita pergi segera!"
"Kemana, kau pikir dia akan melepaskan kita dengan mudah! Setan itu akan mencari kita Asih, dia bahkan mendatangiku!"
"Tidak, tidak akan! Turuti aku dan aku akan melakukan apa saja seperti yang kau perintahkan."
"Apa saja?"
"Iya, apa saja!"
Ardi mengulas senyum, ia pun berdiri dan segera mengikuti Asih keluar dari gudang tua. Asih dan Ardi bergegas pergi meninggalkan desa. Semburat jingga mulai terlihat di ujung cakrawala, mobil yang ditumpangi Asih dan Ardi melesat cepat menuju perbatasan desa.
Hujan deras semalam menyisakan jalanan becek dan licin. Ardi memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan jejak kejahatan mereka di desa kecil di sebuah lereng gunung.
Asih sesekali melirik ke kaca spion, rasa gelisah bercampur ketakutan melandanya. Asih menoleh ke arah Ardi, ekspresi pemuda di sebelahnya rumit. Ketegangan mendominasi wajah Ardi, pikirannya berkecamuk.
"Di, kita mau kemana?" tanya Asih khawatir, karena ia tak tahu arah jalan yang dituju Ardi.
"Entahlah, pergi sejauh mungkin! Kita nggak akan kembali ke kota itu, ataupun ke desa! Aku sudah janji sama ibu kamu buat jagain kamu!" Ardi menjawab tanpa mengalihkan pandangan ke jalanan.
"Ibu …," menyebut nama ibu membuat mata Asih mengembun. "Bu Lasmi sudah nggak ada Di, ibu … meninggal semalam."
"Hah, apa?! Meninggal?!" Ardi semalaman berada di gudang tua, ia sama sekali tidak mengetahui jika Bu Lasmi meninggal.
"Iya, dibunuh."
"Siapa, siapa yang bunuh ibu kamu?!" Ardi mulai panik, ia tidak lagi fokus berkendara.
"Di-dia …," Asih ragu untuk menjawab, sementara Ardi terus memberondong dengan pertanyaan apa dan mengapa.
Perkataan Asih membuat Ardi semakin tegang, tanpa sadar ia semakin dalam menginjak pedal gas di tengah jalanan kabupaten yang belum teraspal sempurna. Tiba-tiba saja seorang penyeberang jalan melintas begitu saja.
"Ardi, awas!" Asih berteriak mengagetkan Ardi.
Seketika Ardi menginjak rem mendadak, jalanan licin dan kecepatan yang cukup tinggi membuat Ardi tak bisa menguasai kendaraannya. Seketika mobil pun berguling dua kali dan terperosok masuk ke dalam jurang di tepi jalan.
Mobil mereka rusak parah dan berhenti saat menghantam pohon besar. Tak ada yang mengetahui kejadian itu, selain wanita yang menyeberang jalan secara tiba-tiba. Wanita muda berwajah pucat itu berjalan perlahan dan melongok ke dalam jurang, ia tersenyum ganjil.
__ADS_1