Jeritan Tengah Malam

Jeritan Tengah Malam
Pak Kades yang Malang


__ADS_3

Asih berusaha melepaskan diri dari pak kades yang gelap mata. "Ada apa ini mas Adi?!" Tanyanya berpura-pura tidak mengerti.


"Kau pembunuh! Kenapa kau tega membunuh Warni?"


"Siapa? Aku, bunuh mbak Warni? Nggak mungkin!"


"Jangan menipuku Asih, kamu kan yang kasih Warni racun! Kamu ambil anakku!" Pak kades menekankan kalimatnya, wajahnya memerah karena amarah yang meluap. Lengan pak kades menekan kuat di dada Asih hingga terasa menyesakkan dada.


"Aku memang memberimu cairan itu tapi bukan untuk meracuninya! Itu untuk melancarkan persalinannya!" elak Asih sambil berusaha melepaskan diri.


"Bohong, kau jangan coba menipuku!" Pak kades tetap bersikukuh pada pendiriannya.


"Aku nggak bohong, lagi pula buat apa aku mengambil bayimu!" Asih mengelak masih dalam kepura-puraannya.


Pak kades menatap Asih mencari kebenaran dalam kata-katanya, tapi itu menjadi bumerang baginya. Asih mengambil kesempatan saat mata keduanya bertemu pandang. Ia mengucapkan mantra untuk mempengaruhi pikiran pak kades.


"Kau tahu, aku sangat mencintaimu! Aku tidak mungkin menyakiti anakmu." ujarnya pelan memberikan sugesti pada alam bawah sadar pak kades


Mata pak kades yang semula terlihat memerah karena amarah perlahan berubah sendu. Mantra Asih bekerja cepat padanya. Mengisi celah kosong dari jiwa yang rapuh.


Asih mendorong tubuh pak kades perlahan hingga ia terduduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Asih tersenyum, ia kembali berkata.


"Istrimu terlalu lemah saat melahirkan, jadi salahkan takdir yang merenggutnya darimu. Bukan aku!" Bisiknya lagi.


"Apa kau mengerti? Semua ini bukan salahku!"


Pesona mistis Asih mulai bekerja. Pak kades menatap Asih dengan tatapan kosong, perlahan ia mulai mengangguk.


"Apa kau merindukanku, sayang?" Asih kembali berbisik, tangan nakalnya mulai menjelajahi tubuh kekar pak kades yang masih dalam pengaruhnya.


Asih memancing dengan memberinya satu kecupan nakal di bibir pak kades. Ia tersenyum licik, "Kemarilah, dan lupakan kematiannya!"


Asih duduk dipangkuan pak kades, dengan gerakan agresif Asih kembali menguasai pak kades dalam gairah tabunya. Menggoda lelaki malang yang baru saja kehilangan anak dan istrinya. 


Asih tak menyadari jika waktu yang ditetapkan jin wanita itu hampir habis. Ia terlalu menikmati cumbuan pak kades yang semakin liar menjelajah tubuh indahnya.


Ia tak menyadari siasat licik jin wanita yang tanpa Asih sadari, hadir dalam kamar itu. Jin wanita itu tersenyum, "Waktunya mengambil apa yang menjadi hakku!"


Jin wanita itu pun merasuki tubuh Asih. Wanita ayu yang tengah mencumbu pak kades terhenyak saat jiwanya ditekan jauh ke dasar, ia tak kuasa menolak jin wanita yang menguasainya.

__ADS_1


"Pak kades …," Asih mendesah diatas tubuh pak kades, jin wanita itu mengontrol tubuh Asih agar bergerak sesuai kemauannya.


Keduanya dimabuk kenikmatan duniawi. Asih tersenyum ganjil, ia menelusuri leher pak kades yang berkabut gairah. Memberi pak kades sensasi luar biasa. Tangan Asih meraih pisau lipat yang ada di meja dekat ranjang.


Pak kades tak menyadari apa yang akan dilakukan Asih padanya. Saat dirinya rakus mengulum puncak dada Asih, saat itulah tangan Asih membuat sayatan dalam dan memanjang di leher pak kades.


"A-asih …," pak kades membelalakkan matanya, suaranya parau , ia menatap Asih seraya memegangi leher.


Luka sayatan itu cukup dalam dan memutuskan pembuluh darah utama. Wajah pak kades seketika memucat, darah membanjiri tubuhnya dengan cepat. Asih terkekeh, jin wanita dalam tubuhnya mendominasi. 


Melihat darah segar mengalir, jin dalam tubuh Asih menelan Saliva. Dengan cepat ia menghisap dan meminum darah segar pak kades. Membuat pak kades semakin cepat menjemput ajal.


"Manis, aku suka!" Asih menjilati luka pak kades yang kini terbujur kaku di atas ranjangnya.


Usai meminum darah pak kades, jin wanita itu pun keluar meninggalkan tubuh Asih dengan puas. Tubuh Asih terkulai lemas diatas mayat pak kades.


Untuk beberapa saat Asih kehilangan kesadaran. Ia terbangun saat jam dinding berdentang. Asih terkejut, tubuh pak kades mulai membiru dan berlumuran darah. Begitu juga dengan dirinya, sudut bibir Asih penuh dengan noda darah.


Asih gemetar, ia turun dengan cepat menatap kedua tangan dan tubuhnya yang berlumuran darah.


 "Ti-tidak! Apa yang terjadi!" 


Matanya menatap jasad pak kades, "Mas Adi, apa yang telah aku lakukan padanya?" Ia kembali mengulang pertanyaannya sendiri.


Asih bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari noda darah. Beberapa saat kemudian, dengan bersusah payah Asih menutupi tubuh pak kades dengan selimut. Asih kesulitan membawa tubuh pak kades sendirian, ia memutar otak.


Asih pun turun dan mencari pak tua yang menempati rumah kecil di samping gudang.


"Pak tua, pak tua!"


Asih mengetuk pintu kayu rumah itu dengan keras, ia tak peduli jika waktu telah melewati tengah malam.


"Kemana pak tua itu?!" Gerutunya sembari mengintip dari balik jendela.


"Pak tua!"


Asih berusaha memanggilnya kembali, kali ini terdengar suara langkah kaki berat dan decitan lantai kayu dari dalam rumah.


Pak tua itu membuka pintu, ia mengalungkan sarung yang dipakainya ke samping.

__ADS_1


"Bantu aku membereskan sesuatu!" Titah Asih tanpa berbasa basi.


Pak tua itu terlihat memicingkan matanya, Asih pun kesal. "Nggak usah banyak tanya, cepat ikut aku!"


Lelaki tua itu akhirnya mengikuti langkah kaki Asih menuju ke dalam rumah. Bu Lasmi telah menunggunya di sana.


"Apa yang kau lakukan Asih! Aku sudah menyuruhmu pergi bersama Ardi bukan?!"


Asih melengos mengindahkan teriakan Bu Lasmi yang terus mencercanya dengan pertanyaan. Ia berjalan menuju ke kamarnya bersama pak tua penunggu gudang.


Tubuh pak kades diseret pak tua yang berotot itu dengan mudah. Bu Lasmi mendelik tak percaya saat selimut yang menutupi tubuh pak kades terbuka, menampakkan wajah pak kades dengan mata mendelik, tubuh membiru dan luka menganga di lehernya.


"Asih!" Ia menghardik Asih keras.


"Kau benar-benar gila!"


PLAAK!


Satu tamparan mampir ke pipi mulus Asih, meninggalkan noda merah di sana. Bu Lasmi, murka. Kini ia benar-benar dalam ancaman nyata. Asih menggila dan membunuh dua warga desa disaat bersamaan. 


"Kau melanggar aturannya! Kau tidak akan bisa selamat darinya!" Bu Lasmi berteriak histeris.


Asih tak mengerti maksud Bu Lasmi, ia hanya menatapnya sejenak lalu berlalu meninggalkan Bu Lasmi yang terus mengumpat dan memakinya.


"Dasar bawel!" Gerutu Asih.


Bu Lasmi gemetar, ia bingung. Asih membunuh salah satu warga desa, itu artinya ia akan berhadapan dengan mbok Ratem. Sama seperti saat putrinya menggila dan membunuh salah seorang pemuda desa. Bu Lasmi gentar menghadapi mbok Ratem.


"Tidak, kenapa … kenapa terulang lagi!"


Tubuh Bu Lasmi melorot ke bawah, tak kuasa menahan sedih mengingat kematian tragis putrinya.


Anita, putri Bu Lasmi harus meregang nyawa karena tindakan bodohnya mencintai salah satu putra petani desa. Sialnya, sang putri juga Bu Lasmi tumbalkan layaknya Asih. Semua hanya karena kedigdayaan. 


Putri Bu Lasmi yang juga menjalani pesugihan bayi bajang, membunuh pemuda yang dicintai membuat kemarahan para tetua desa yang salah satunya adalah Mbok Ratem.


Para tetua desa mengampuninya dan membuat Bu Lasmi berjanji untuk tidak akan melukai salah satu warga desa. Tapi malang bagi Anita, tindakan bodohnya membuat dirinya kalut dan tewas dalam sebuah kecelakaan mengerikan.


Mbok Ratem memang memberinya kesempatan kedua tapi kali ini Bu Lasmi yakin, ajal akan menjemputnya.

__ADS_1


"Semua ini karena ulahmu Asih!"


__ADS_2