
Seorang wanita berjalan di selasar lorong rumah sakit. Suasana yang sunyi membuat langkah kakinya terdengar begitu jelas menggema. Dibalik kacamata minusnya ia mengedarkan pandangan. Tak ada siapa pun yang berani berada di lorong sunyi dan menakutkan apalagi ditengah malam seperti ini.
Mengenakan pakaian setelan serba putih, dan stetoskop yang tergantung di leher jenjangnya, wanita itu berjalan menuju ke sebuah ruangan khusus.
"Clara …," wanita itu bergumam dengan senyuman iblis.
Seorang gadis muda tergolek lemah tak berdaya dengan berbagai macam selang dan kabel pendukung kehidupannya. Clara, gadis malang itu dalam kondisi koma setelah overdosis obat-obatan.
Wanita berkacamata itu mendekati wajah Clara lalu berbisik padanya, "Apa kau menikmati tidurmu, Clara?"
Tentu saja Clara tidak merespon, jiwanya bahkan entah ada dimana sekarang. Hanya detak jantung, tekanan darah, dan pernafasan yang masih terdeteksi alat monitor ICU. Wanita itu melirik ke arah monitor lalu tersenyum mengejek.
"Lihatlah dirimu sekarang, terombang ambing antara hidup dan mati! Sebaiknya kau menyerah, karena Asih ... tidak akan mengampunimu!"
Tiba-tiba saja grafik di monitor ICU bergerak cepat dan meningkat tajam. Clara mendengarkan. Wanita itu terkekeh.
"Huh, gadis bodoh! Asih, kau ingat nama itu?"
"A-sih! Gadis desa yang kalian permainkan!"
Tubuh Clara merespon perkataan wanita itu, matanya yang tertutup bergerak gerak seolah hendak membuka, jemarinya dengan susah payah memberi respon dengan gerakan.
Wanita itu kembali tertawa, ia mengeluarkan suntikan kecil dari sakunya. Setelah memastikan keadaan aman, wanita itu menyuntikkan cairan berisi kalium dalam dosis tinggi. Seringainya bagaikan iblis pencabut nyawa, mengerikan.
Tubuh Clara seketika merespon saat cairan itu memasuki aliran darahnya. Tubuhnya mengejang dan berguncang kuat untuk beberapa saat sebelum akhirnya melemas. Alarm pengingat berbunyi nyaring dan tanda-tanda vital di monitor ICU menunjukkan garis datar.
Wanita itu pergi meninggalkan ruangan dengan senyum ganjil, "Bye, Clara!"
Tak lama setelah wanita itu pergi, dua orang suster terdengar berlarian dan panik. Clara tewas di tangan wanita misterius itu.
...****************...
Di ruangan lain, Lisa gelisah. Sedari tadi ia mondar mandir tak karuan. Keringat membasahi tubuhnya, sesekali ia menggigiti kuku tangan yang terlihat penuh luka. Lisa mengalami depresi berat setelah mendapati dirinya dalam keadaan bugil di sebuah kamar hotel bersama Clara.
Tubuhnya dipenuhi memar dan alat vitalnya pun mengalami pendarahan hebat. Bagaimana tidak, dalam semalam ia dan Clara digilir lima orang pria yang tidak hanya menyetubuhi tapi menyiksanya tanpa ampun.
Lisa yang shock berat tak mampu mengendalikan akal sehatnya lagi. Seperti malam ini, ia nekat mencabut selang infus yang menancap di tangannya dengan kasar. Darah pun terlihat menetes di tangannya.
Kelebatan bayangan hitam menyelinap ke dalam kamar Lisa. Hawa aneh dan bebauan tak sedap menyergap Lisa, membuat gadis dengan wajah tirus dan pucat itu semakin ketakutan.
"Jangan, tidak! Jangan mendekat!" Teriaknya saat menyadari ada bayangan hitam yang terus berkelebat mendekatinya.
__ADS_1
"Lisa … ikutlah denganku!" Bisikan gaib terdengar di telinga Lisa dengan jelas, ia semakin gemetar.
Lisa menggelengkan kepala dengan cepat, tubuhnya gemetar dan jatuh beringsut di sudut ruangan. Matanya memutar, mengedar ke sekeliling ruangan mencari sosok yang berbisik padanya.
"Lisa … kemarilah, ayo ikutlah bersamaku"
Bayangan semu Clara seketika muncul dihadapan Lisa, mengulurkan tangannya mengajak Lisa pergi.
"Cla-Clara?"
"Iya, ini aku Clara … ikutlah denganku Lisa, aku kesepian … temani aku!" Bayangan semu Clara merajuk meminta Lisa mengikutinya.
Dengan ragu Lisa perlahan meraih tangan Clara, dan ketika tangannya bersentuhan dengan bayangan semu itu mata Lisa berubah. Matanya tertutup kabut tipis keabuan, Lisa berdiri dan mengikuti bayangan semu Clara keluar ruangan.
Pintu ruangan yang terkunci dari luar terbuka dengan sendirinya. Lisa berjalan perlahan, menyusuri lorong dingin dan temaram, menapaki satu persatu anak tangga rumah sakit.
Hingga akhirnya ia tiba di lantai paling atas. Pintu menuju rooftop yang terkunci terbuka dengan sendirinya, mempersilahkan Lisa kembali menaiki anak tangga. Bayangan semu Clara terus membimbingnya berjalan hingga ke tepian gedung.
"Lisa, ayo kita pulang … aku menunggumu!"
Lisa menatap bayangan semu Clara yang meraih tangannya, menariknya dalam pelukan dengan seringai mengerikan.
BRUUGH!!
Jeritan histeris menggema mengisi malam yang kelam. Dua orang gadis tewas mengenaskan di rumah sakit yang sama.
Tugasku selesai Asih, kini tinggal giliranmu!
...****************...
Asih masih berada di kamarnya berusaha menghubungi bidan Mimah. Ia harus mendapatkan tumbal selanjutnya.
"Siapkan paket terakhir untukku!" Ujarnya tanpa basa basi setelah terdengar sahutan diujung sana.
"Apa? Tapi saya belum mendapatkan satu pasien baru!" Suara bidan Mimah terdengar panik.
"Aku tidak peduli! Kau harus mendapatkannya! Jika tidak aku akan membongkar semua kejahatanmu pada pihak kepolisian, tidak hanya itu aku juga akan menghabisi putrimu! Kau tahu bukan aku bisa melakukan segalanya!" Suara Asih terdengar menggertak keras bidan Mimah
"Ja-jangan Asih, aku mohon! Baiklah … aku akan mengirimnya segera," suara bidan Mimah terdengar serak dan gemetar.
"Besok, paket itu sudah harus terkirim besok!"
__ADS_1
Asih tidak menunggu jawaban dari bidan Mimah. Ia segera menutup teleponnya. Keraguan muncul di benak Asih, hatinya tak tenang. Ia harus mendapatkan tumbal ketujuh segera, lebih cepat lebih baik.
Asih mendapatkan ide gila, ia bergegas turun menuju ke ruangan khusus bu Lasmi. Ia mencari ramuan penggugur kandungan yang dimiliki Bu Lasmi. Dengan tergesa ia membuka lemari kayu, mencarinya dengan gugup dan nafas memburu.
Matanya membulat ketika melihat sebotol kecil berisi cairan bening kehijauan. "Ini dia!"
Asih menggenggam erat botol itu dan segera pergi menemui pak kades. Tujuannya satu mendapatkan tumbal ke tujuh, anak pertama pak kades adalah sasarannya.
Bu Lasmi terkejut mendapati kamar khusus miliknya terbuka lebar. Ia semakin terkejut saat lemari kayu tempat ia menyimpan berbagai jenis ramuan obat dan racun juga berantakan.
"Asih, ini pasti ulahnya! Apa yang dia lakukan!"
Bu Lasmi mencari ramuan apa yang menghilang, dan ia mendapati ramuan penggugur kandungan yang ia gunakan pada Asih dulu tidak ada ditempatnya. Seketika tubuhnya lemas, Asih telah bertindak diluar batas.
"Oh tidak! Anak itu!"
Wajah Bu Lasmi memucat, ia tak menyangka Asih akan bertindak sejauh itu. Bu Lasmi menduga, Asih mencari tumbal untuk jin wanita yang baru saja datang mendatanginya.
Waktu perjanjian telah habis, Asih harus membayarnya!
Peringatan jin wanita itu sontak membuat Bu Lasmi terhenyak. Jika Asih mati, maka tak lama lagi dirinya juga akan menerima balak.
Dialah sumber kekuatan Bu Lasmi. Bu Lasmi memberikan Asih sebagai mahar untuk dijadikan budak pada jin wanita itu agar Bu Lasmi mendapatkan kekuatan sihir hitam yang tak tertandingi. Asih adalah tumbal yang diam diam dipergunakan Bu Lasmi untuk kedigdayaan.
Asih yang malang, Asih yang hina. Ia tak menyadari jika dirinya dipermainkan Bu Lasmi dan terperangkap dalam kesesatan nyata.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...hai teman2 Asih dan mbak Sari menyapa untuk menemani long weekend ini. semoga terhibur dan dukung terus Asih dan juga Sari agar bisa bertahan di kolom beranda🤗...
...yang nda bisa liburan karena banjir, macet, dan dompet kosong (kehororan hakiki😁🤪) mari merapat, baca petualangan Sari, Asih, Mika, atau mlipir ke ...
...Bad Boy Story sesion 2...
...Musim Bercinta ...
...karya author kesayangan kita Al Orchida, seru seruan bareng mas Elang dan Bu dosen Nindya😁siapin jari buat tutup mata yaa🤪😂...
...jangan lupa beri like dan komen2 seru sebanyak banyaknya yaaa, biar rame lapak nya🤭...
...thanks 4 supporting, see u in next day🥰...
__ADS_1
...with love ~ Lia❤️...