
Pak kades celingukan melihat situasi. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam lewat sepuluh menit. Ia sedikit tergesa karena masih harus melewati jalanan sepi dan gelap.
Malam yang dingin, dan kabut mulai turun. Warga desa sudah tertidur dengan pulas dalam buaian mimpi. Pak kades menoleh ke kanan dan kiri jalan, jantungnya berdegup kencang membayangkan kehadiran sosok hantu wanita dan bayi seram.
Bulu kuduknya merinding membayangkan, sesekali pak kades mengusap tengkuk. Kelebatan bayangan terlihat di sudut matanya, lututnya seketika lemas. Ia mempercepat langkahnya.
"Duh, gegara keenakan sampe lupa waktu dah! Lagian legit bener tu anak, sampai nambah mulu maunya." Pak kades bergumam menyesali keputusannya hingga harus menembus malam dingin sendirian.
BRUUGH!!
Terdengar suara benda jatuh begitu keras di belakangnya. Pak kades menghentikan langkahnya. Tubuhnya mulai berkeringat, ingin balik badan tapi ia takut. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali melangkah.
"Pak kades,"
Suara setengah merintih memanggilnya, pak kades tercekat. Ia menelan ludah kasar.
"Pak Kades,"
Pak kades merapatkan jaketnya menghalau ketakutan yang melanda, mengabaikan suara panggilan itu dan melangkah pergi. Tapi belum juga dua langkah lemparan batu mengenai kakinya.
"Pak kades, dibantuan atuh! Kumaha sih, dipanggil panggil teh angger we teu nyalingak acan!"
Pak kades terkejut dan langsung berbalik, "Astaghfirullah, pak sekdes!" Ia pun segera menghampiri pak sekdes yang terjerembab jatuh.
"Pak sekdes ngapain? Kenapa bisa jatuh begini!" Pak kades pun membantu pak sekdes untuk berdiri. Rupanya kaki pak sekdes terkilir hingga ia kesulitan berjalan.
"Saya teh baru nganterin bapak-bapak kepolisian ke rumah singgah milik Wak Haji! Mereka nyariin pak kades, malah si bapak teh teu muncul-muncul di balai desa. Kamana atuh?!"
"Ehm, anu tadi saya baru … ehm, ke desa sebelah! Nengokin istri!" Elak pak kades menyembunyikan perbuatannya.
"Oh gitu, kita nyariin pak kades tadi. Ni mas Hansip kamana deui yak? Tadi bareng mau nyari eh sekarang menghilang!" Pak sekdes celingukan ditengah gelapnya malam.
Mereka berdua duduk di pinggiran rumah salah satu warga. Pak sekdes memijat ringan kakinya yang terkilir.
"Bapak-bapak dari kepolisian mau nginap berapa lama di desa kita?"
"Katanya belum tahu pak kades, mereka mau mengumpulkan bukti tambahan dulu katanya! Ini kamana sih mas Hansip ya?!"
"Pak sekdes dari tadi nanyain mas Hansip mulu sih! Dia lagi muter keliling kampung kali!" Pak kades sedikit kesal pada sekdesnya.
"Gimana kakinya pak sekdes, bisa jalan sendiri nggak?" pak kades lanjut bertanya.
__ADS_1
Pak sekdes mencoba berdiri, tapi sedetik kemudian ia mengasuh. "Sakit pak kades!" Ujarnya meringis.
Sari kejauhan nampak beberapa warga datang membawa obor. Pak Hansip terlihat ada diantara mereka.
"Mas Hansip!" Pak kades melambaikan tangan.
Warga dan pak Hansip pun mendekat. "Ada apa pak kades?"
"Tolong bantu pak sekdes pulang, di jatuh dan terkilir kakinya!"
"Siap laksanakan pak kades!" Pak Hansip pun membantu pak sekdes bangun dan berjalan.
"Ohya pak kades, tadi dicari sama adik ipar bapak! Katanya bu kades minta dibawakan baju sama pakaian bayi, dia tadi nyari bapak di rumah nggak ketemu!" Pak Hansip berkata sambil membantu pak sekdes berjalan.
Pak kades pun terdiam dia salah tingkah, apalagi pak sekdes menatapnya heran. "Lah tadi katanya pak kades nengokin istri? Itu kenapa iparnya nyariin?"
Warga pun menatap pak kades, ada yang tersenyum ada yang langsung terang terangan meledek. "Istri yang lain kayaknya pak sekdes!" Celetuk warga yang iseng.
"Maklum pak kades kita udah lama, jadi nggak nahan!"
Pak Hansip pun ikut menyindir, "Wah ya pak kades mulai tidak setia nih! Eh tunggu jangan-jangan pak kades kepincut sama neng Asih ya, anaknya Bu Lasmi!"
Pertanyaan pak Hansip spontan membuat wajah pak kades memerah. Ia teringat pergumulan panasnya dengan Asih beberapa jam lalu.
Pak kades berhasil meredam tudingan warganya. Tanpa banyak membantah mereka pun mengikuti perintah pak kades.
Malam semakin dingin, kabut pun semakin tebal. Sepi dan sunyi hanya suara jangkrik dan tonggeret yang menghiasi malam dengan nyanyian merdu.
Seseorang dengan susah payah menyeret tubuhnya di tengah gelapnya malam. Lukanya cukup parah, tapi tak mau menyerah begitu saja. Dilihatnya rumah salah satu warga yang tak jauh dari tepian hutan.
Lampu salah satu kamar masih menyala. Ia sungguh berharap masih ada orang yang terjaga ditengah gelapnya malam. Perlahan tapi pasti, ia menyeret tubuhnya dengan tangan. Luka cukup parah di bagian kaki membuat ia tak mampu berjalan.
"Tolong! Tolong saya …," suaranya serak dan hampir habis.
Tak ada yang bergerak dari dalam rumah. Dengan sisa tenaga terakhir, ia mengambil sebatang kayu bakar kecil yang cukup panjang. Ia mengetuk ngetuk jendela, berharap ada yang bisa menolongnya.
"Tolong … kumohon, tolong saya!"
Lelaki dengan wajah penuh darah dan luka di sekujur tubuh itu mulai terisak. Ia hanya ingin hidup sekali saja. Ia ingin bertobat dan memohon ampun atas segala kesalahannya.
"Tolong … to-long sa-saya," lelaki itu pun pingsan. Darah yang mengalir begitu banyak membuatnya lemas tak berdaya.
__ADS_1
Pintu jendela terbuka, seorang lelaki gagah dengan garis wajah tegas terbelalak. Ia bergegas membuka pintu belakang dan menghampiri sosok tubuh yang tergeletak tanpa daya.
Dibantu dua orang lainnya, ia membawa masuk lelaki penuh luka itu ke dalam rumah. Kondisinya sangat memprihatinkan. Lelaki penuh darah itu tersadar setelah merasakan kehangatan di tubuhnya.
Mata kirinya bengkak membiru, bibirnya yang mengelupas mengatakan sesuatu. "Se-selamatkan Clara … to-tolong,"
Lelaki itu kembali tak sadarkan diri, membuat para penolongnya yang berasal dari pihak kepolisian saling berpandangan.
"Clara?"
"Lukanya parah bener, sebaiknya kita bawa dia ke kota!"
"Aku takut lelaki ini adalah kunci dari pembunuhan di desa."
Mereka mengangguk setuju dengan pendapat Budi. "Hubungi dokter Wahyu, rahasiakan lelaki ini dari perangkat desa. Kita harus tuntaskan penyidikan ini sebelum Minggu depan!"
Salah satu dari mereka segera menghubungi dokter kepolisian. Sambil menunggu, Budi membersihkan wajah dan beberapa luka lelaki muda itu dengan air hangat.
"Luka cakaran … ini seperti," tangan Budi berhenti menyeka wajah.
"Cakaran kecil seperti … jari balita? Aneh, ini persis seperti luka lelaki kurang waras di balai desa kemarin!" ujarnya lagi
Budi terkesiap, lelaki muda dengan penuh luka itu kemungkinan besar adalah benar saksi kunci pembunuhan berantai yang terjadi di desa.
"Ada apa Bud?" Andi rekannya mendekat.
"Lihat, ini luka yang sama kan?"
Andi mendekat dan memperhatikan dengan seksama. "Hmm, benar ini mirip sekali sama Eman." Andi memperhatikan luka dikaki lelaki muda itu. "Hei apa ini?"
Andi mengambil gunting kecil, membuat sobekan kecil di celana panjang yang dikenakan lalu mencabut sesuatu yang menancap di paha kanan.
Budi dan Andi keheranan dengan benda yang dengan susah payah dicabut.
"Ini, taring hewan kan?" Andi menoleh pada Budi yang masih tak percaya dengan temuan rekannya.
"Anjing hutan, atau mungkin serigala?" Budi memastikan.
"Kita bawa ini ke dokter Wahyu!"
Terdengar suara deru mesin mendekat, dua orang masuk ke dalam rumah. Mereka membawa tandu dan segera membawa tubuh lelaki penuh luka itu. Petunjuk baru kembali mereka temukan, tinggal menarik benang merah dari semua bukti yang terkumpul.
__ADS_1