
Asih berjalan mengendap endap menuju rumah pak kades. Sesekali ia menoleh ke belakang. Asih yakin Ardi mengikutinya. Bayangan siluet Ardi sempat terlihat ekor mata Asih. Udara yang cukup dingin membuat Asih merapatkan mantel penutup tubuhnya.
Terdengar suara orang terjatuh di belakang, Asih berhenti sejenak lalu menoleh hanya setengah seraya tersenyum licik. Asih kembali berjalan menuju rumah pak Kades.
Setelah melihat situasinya aman, Asih mengetuk pintu. "Mas, mas Adi?" Panggilnya lirih.
Suara langkah kaki tergesa terdengar dari dalam rumah. Pak kades muncul membukakan pintu, ia celingukan memantau situasi.
"Aman kan?" Bisiknya pada Asih.
Asih hanya mengangguk dan mengerlingkan mata. Pak kades langsung menariknya ke dalam.
"Dek Asih lama banget sih datangnya!" Bisik pak kades dengan wajah cemberut.
"Saya kan nunggu situasi aman dulu, mas!"
Pak kades menarik tangan Asih mengajaknya duduk di kursi tamu. Ia menatap Asih dari atas sampai bawah. Cantik dan begitu menggoda.
"Kok, dek Asih pake mantel tebel begini sih! Apa nggak panas?"
"Panas? Saya kedinginan pak kades."
Asih menggigit bibir bawahnya, mulai melancarkan aksinya menggoda pak kades mudah yang baru berumur 35 tahun.
"Kan ada saya, buat menghangatkan. Dibuka dong mantelnya biar saya meluknya enak," suara pak kades mulai serak menahan hasrat.
Asih mulai menurunkan resleting mantel hangatnya perlahan. Ia berdiri di hadapan pak kades yang menelan ludah. Setiap gerakan tubuh Asih membawanya pada tingkatan lebih tinggi hormon kejantanan pada tubuhnya.
Pak kades terbelalak, matanya lekat menatap tubuh Asih dalam balutan pakaian seksi di depannya. Bak menonton tayangan dewasa secara live, jakun pak kades naik turun melihat Asih menggerakkan tubuhnya dengan sensual. Menggoda dengan bagian tubuh sensitif yang hampir semuanya terlihat jelas.
Asih mendekati pak kades dan duduk di pangkuannya. Mengusap lembut bibir pak kades dengan tangannya yang disambut kecupan liar pak kades. Tubuh Asih bergetar saat pak kades memberinya sensasi kenikmatan pada puncak dadanya.
Pak kades kembali tertipu hasrat semu menggebu. Kejantanannya yang tegak sempurna tak sanggup lagi menahan godaan Asih yang terus menggeliat dan mengeluarkan teriakan penuh gairah. Pak kades terlena dengan sentuhan dan keliaran Asih dalam bercinta.
__ADS_1
Asih melirik ke arah jendela yang sedikit terbuka. Ardi terlihat jelas dari posisi Asih. Asih tersenyum tapi berpura-pura tidak tahu. Ia terus menggoda pak kades, untuk menyentuh setiap bagian tubuhnya. Tak peduli jika Ardi melihatnya dari luar.
Ardi berdiri diluar jendela sambil menahan amarahnya. Posisi rumah pak kades yang bersebelahan dengan kebun jagung membuat Ardi mendapatkan posisi untuk melihat dengan jelas apa yang dilakukan Asih didalam sana.
Asih dan Ardi sempat bersitatap tapi Asih hanya tersenyum dan semakin menikmati permainannya yang seolah sengaja dipertontonkan pada Ardi.
Asih ingin Ardi membencinya, Asih ingin Ardi mengurungkan niat tulusnya untuk memulai hidup baru bersamanya. Asih ingin memperlihatkan pada Ardi siapa dia sebenarnya. Asih Ingin Ardi jijik padanya dan pergi meninggalkannya.
"Asih!" Ardi begitu geram, ia menahan emosinya dan tak tahan melihat Asih yang begitu liar bermain dengan lelaki beristri. Ia pun memutuskan untuk pergi.
Suara ******* dan teriakan laknat Asih terasa begitu jelas terngiang di telinga Ardi. Hatinya pilu, cintanya tak terbalas, pengorbanannya sia-sia.
Disela kegiatan basahnya Asih melirik ke arah jendela. Ardi pergi, ia tersenyum puas. Pak kades terus menggempurnya dengan kenikmatan duniawi, hingga akhirnya mereka lemas dan tertidur tanpa sehelai benang pun di tengah ruangan.
SREK … SREK!!
Suara gesekan terasa menyakiti telinga Asih. Ia mulai membuka matanya. Tangan pak kades begitu posesif memeluk dirinya. Asih menyingkirkan tangan kekar pak kades dari tubuh polosnya.
SREK … SREK!!
"Ada apa kau menggangguku!" Tanya Asih seraya berdiri masih tanpa berpakaian.
Jin wanita itu tertawa, suaranya begitu mengerikan.
"Kau menikmatinya!"
Asih tak menjawab, ia hanya melirik jin wanita berwajah pucat mengerikan. Tangan Jin wanita itu menyentuh bahunya, lalu berbisik.
"Tumbal ketujuh harus siap dalam dua malam, jika tidak aku akan meminta pengganti nya!"
"Tapi besok belum waktunya! Kenapa kau memintanya lebih awal?" Asih terkejut.
"Karena batas waktu perjanjian pertama hampir habis! Aku … sudah melakukan tugasku, dan kini aku meminta bayaran!" Bisiknya dengan suara serak.
__ADS_1
"Dasar licik! Kau sengaja mempermainkan aku!" Tangan Asih mengepal.
"Aku? Mempermainkan mu?" Jin wanita itu memalingkan wajahnya dari Asih, tapi kemudian ia menatap Asih yang polos dari atas sampai bawah.
"Aku membuatmu seperti ini, cantik, menawan …," kuku hitam panjang jin wanita itu menyusuri wajah Asih lalu turun menyusuri bagian depan tubuhnya. "Seksi, menggairahkan, dan mempesona, apalagi yang kurang?"
Sentuhan itu membuat Asih meremang, rasa nyeri dari goresan kuku hitam tajam dibarengi dengan sensasi lain yang menggoda. Asih memang gila.
"Aku hanya meminta bagianku!" Bisiknya lagi.
"Baiklah, aku akan menyiapkannya untukmu! Sekarang pergilah, dan jangan ganggu aku!"
Jin wanita itu mundur dan tertawa lalu ia menghilang. Asih memejamkan mata, tumbal ketujuh belum siap. Bidan Mimah baru akan mengirimnya Minggu depan, tapi jin wanita itu memintanya menyiapkan dalam dua hari.
"Sialan! Aku harus bagaimana?" Asih memutar otak, ia berpikir keras harus mencari tumbal cepat.
Tiba-tiba saja tangan kelas pak kades mulai menggerayanginya dari belakang. Memijat lembut dan memberikan sensasi nikmat pada puncak dadanya. Satu ******* panjang lolos dari mulut Asih.
Pak kades kembali berhasrat, ia menghujani Asih dengan kecupan basah di leher dan tengkuk Asih. Seketika Asih teringat pada bayi yang dikandung istri pak kades.
"Mas, sudah … nanti kamu jadi nggak mau menyentuh istrimu. Ketagihan sama aku," ujar Asih disela nafasnya yang memburu.
"Biar, aku bisa ceraikan dia asih asal bisa bersamamu!" Mata pak kades tertutup pesona mistis yang Asih keluarkan.
"Terus anak mas gimana? Kasian kan?"
Pak kades yang asik memberikan tanda di leher dan dada Asih seketika berhenti. "Dia punya ibu kan, dia bisa bersama ibunya!"
Pak kades kembali menyentuh Asih. Ia tak lagi peduli pada keluarganya. Dalam otaknya hanya ada Asih dan Asih.
"Kalau begitu ceraikan istrimu dan bawa … anakmu padaku!"
Asih mengangkat dagu pak kades, menghipnotisnya agar menuruti kemauannya. Ia mengulanginya lagi dengan mantra pengikat yang ditanamkan pada pikiran pak kades.
__ADS_1
Bibirnya bersentuhan dengan liar, beradu dengan benda kenyal milik pak kades. Mengaburkan pikiran pak kades, membuatnya menuruti segala kemauan Asih. Disela pergumulannya Asih mempengaruhi pak kades. Mantranya telah sempurna masuk ke dalam setiap aliran darah pak kades.
Aku harus mendapatkan anak itu, harus!