Jeritan Tengah Malam

Jeritan Tengah Malam
Fakta yang Terungkap


__ADS_3

Ardi berusaha menggerakkan tubuhnya yang terhimpit bodi mobil. Kepalanya nyeri dan pandangannya kabur. Ia menyentuh pelipis kanannya yang terasa basah dan lengket.


"Dimana a-aku?" Ardi berusaha mengingat kejadian yang menimpanya. 


"Asih," gumamnya lemah, ia menoleh ke samping tapi tak menemukan tubuh wanita yang ia cintai.


"Asih!" Ardi memanggil lirih, tak ada suara apa pun selain rintik hujan.


Tiba-tiba saja ia mendengar suara benda jatuh diiringi teriakan minta tolong yang memilukan. Sebuah benda terguling dengan cepat ke bawah menuju jurang yang lebih dalam.


"Asih?!" Ardi terbelalak, ia segera melepaskan safety belt.


Memaksa tubuhnya yang terasa remuk untuk bergerak keluar mobil. Pintu di samping Ardi penyok dan melesak ke dalam hingga menyulitkan dirinya keluar dari pintu pengemudi. 


Dengan menahan sakit Ardi berpindah keluar melalui pintu yang lain. Kaki kiri Ardi sepertinya patah hingga begitu ngilu dan sakit ketika digerakkan. Ia menahannya sekuat tenaga.


"Asih!" Ardi mengedarkan pandangan ke sekitarnya, gerimis dan kabut membuat siang itu terasa seperti senja. 


"Asih?" Ardi terjatuh, kakinya benar-benar tidak bisa diajak kerjasama lagi. 


Ardi menyeret tubuhnya, ia menyusuri jejak yang diyakini adalah Asih. Hati Ardi bergejolak tak karuan, ia sangat berharap mata dan telinganya salah. Beberapa kali Ardi juga terguling karena licinnya medan. Dedaunan basah dan tanah yang licin membuatnya kesulitan bergerak tapi Ardi tak menyerah. Ia terus merangkak hingga akhirnya tiba di tepian jurang.


"Asiiih!" Ardi berteriak.


Kabut yang turun menghalangi pandangannya untuk melihat ke dasar jurang. "Dimana kau Asih, dimana!" Ardi panik, ia sungguh berharap Asih masih hidup.


Semilir angin berhembus menerpa tengkuknya. Suara tawa kembali terdengar. Ardi bergidik ngeri membayangkan ia harus terjebak semalaman di hutan gelap dan menakutkan. 


Kabut seolah tersibak begitu saja, mata Ardi menangkap sosok yang sangat ia kenali. Ardi shock, "Asih! Asih!" teriaknya berulang ulang.


"Tidak, tidak, Asih … maafkan aku Asih, Asiiiih!" 


Ardi menyesal tak bisa menyelamatkan pujaan hatinya. Matanya nanar menatap ke bawah, jasad Asih sangat mengenaskan. Dari ketinggian jelas terlihat tangannya terlepas, tubuh bagian bawah tak karuan bentuknya dan kepala pecah. 


Isak tangis terus terdengar dari mulut Ardi, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ardi kehilangan Asih dan juga calon anaknya. Suara cekikikan kembali terdengar, Ardi terkesiap. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak ada siapapun di sekitarnya. Hari semakin gelap dan cuaca semakin dingin.


Ardi merogoh saku celana, ia tersenyum lega. Dengan cepat Ardi menghubungi nama yang pertama ada di daftar kontaknya, Amel.


Ardi memberitahukan Amel kecelakaan yang dialaminya juga kondisi Asih. Amel yang terkejut meminta Ardi mengaktifkan GPS diponselnya agar bisa terlacak. Usai menghubungi Amel, Ardi lega. Ia merebahkan tubuhnya di tanah, tak peduli lagi dengan hujan yang mengguyur tubuhnya. Ardi bertekad untuk bertaubat.

__ADS_1


...----------------...


"Pak, kantor pusat menghubungi. Ada kecelakaan tunggal tidak jauh dari desa ini. Kita diminta untuk segera cek lokasi." Mita melaporkan pada Budi.


Budi yang frustasi menghadapi mbok Jum, hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Budi memijat kepalanya yang hampir meledak menghadapi nenek tua di depannya.


"Siapa nama korbannya?" 


"Asih dan Ardi."


"Apa?! Asih Putri Bu Lasmi? Siapa yang melaporkan?" Budi terbelalak, ia sampai berdiri dari duduknya.


"Temannya dari kota, Amel."


"Ayo, kita segera kesana! Mana pak Hansip, suruh dia jaga simbok ini!"


Budi mengambil jaketnya, tangan mbok Jum meraihnya.


"Asih, apa dia baik-baik saja?!" Mbok Jum dengan wajah sayu bertanya, kelelahan nampak jelas di matanya.


"Kita belum tahu, semoga saja mereka baik-baik saja." Budi berusaha tersenyum menenangkan mbok Jum, perlahan ia melepas tangan lemah mbok Jum.


"Mbok, apa mbok sudah makan? Mbok sebaiknya makan dulu, karena malam kita akan panjang."


Budi kembali terduduk dan meraih tangan tua mbok Jum. "Asih, kabarnya terjatuh di jurang dan … dia tidak selamat. Maaf tapi saya rasa mbok Jum harus mengetahui hal ini."


Mbok Jum tercekat, ia menatap Budi dengan air mata tergenang. "Asih ..,"


"Maaf, saya ikut berduka cita." Budi beranjak kembali dari tempat duduknya.


"Tolong, bawa Asih kembali kesini pak polisi."


"Pasti mbok, setelah semua penyelidikan selesai." Budi pun berlalu meninggalkan wanita renta yang larut dalam tangisannya.


Hari menjelang malam saat tim dari kepolisian dan regu penyelamat datang. Ardi dalam keadaan shock dan mengalami hipotermia, nyawanya hampir saja melayang jika tim penyelamat terlambat. 


Mata Ardi memicing ketika namanya dipanggil, ada kelegaan dalam hatinya. Ia menjawab lemah saat tim penyelamat menanyakan kondisinya. Ardi segera dibawa ke rumah sakit di kota untuk mendapatkan perawatan.


Jenazah Asih baru bisa diangkat keesokan harinya. Untuk kepentingan penyelidikan jenazahnya juga dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi.

__ADS_1


Mbok Jum akhirnya mau bicara, ia menceritakan semua kejahatan yang dilakukan Asih. Kejahatan berat yang melibatkan Bidan Mimah dan asistennya. Lewat mbok Jum juga diketahui bahwa Ardi menjadi kaki tangan Asih dalam menjalankan kejahatannya.


Mayat-mayat tanpa identitas yang ditemukan di pinggiran sungai juga berhasil diidentifikasi. Ketiganya atas nama Tirta ( paman Asih), Samuel ( asisten Asih sebelum Ardi ), Windi ( rival Asih sekaligus teman akrabnya). 


Keterangan berhasil didapatkan juga dari Arif yang kondisi kejiwaannya mulai stabil. Dari keterangan Arif ditemukan fakta jika Asih menjadi korban kebiadaban nafsu sesat mereka. Rico, Rudi, Clara dan Lisa tewas secara mengenaskan. Bukti memang hanya ditemukan untuk tiga orang pemuda sementara kematian Clara dan Lisa tidak ditemukan bukti cukup yang mengarah pada Asih.


Budi terhenyak melihat fakta yang mengerucut pada Asih. Wanita cantik yang sempat membuatnya penasaran.


"Aku nggak nyangka, wanita secantik ini bisa tega ngebunuh orang segini banyak." 


"Ini yang dinamakan cantik membawa petaka."


"Tapi dia melakukannya dengan alasan kuat. Balas dendam." Budi menambahkan.


"Menyimpan dendam memang mengerikan." Andi menggelengkan kepala. "Menurut mbok Jum, semua ini kesalahan Tirta pamannya. Seandainya Tirta tidak memperkosa Asih semua ini mungkin nggak akan terjadi." Ia melanjutkan kembali, Andi menghisap rokoknya dalam-dalam.


"Pelecehan ditambah dengan perlakuan kelima mahasiswa biadab itu. Aku nggak habis pikir bisanya mereka melakukan hal tercela seperti itu pada Asih, nggak mikir dulu apa mereka itu?!" Budi melipat kedua tangan di dadanya.


"Hukum sebab akibat, itu yang terjadi." ujar Andi menutup file di depannya. 


"Tersangka utama kita sudah mati, kita tinggal menjerat Ardi, Bidan Mimah dan juga asistennya." 


"Ohya jam tangan yang aku temukan di hutan itu milik siapa?" tanya Budi pada Andi yang masih membaca laporan kasus Asih.


"Sebentar," Andi mencari laporan tertulis yang dimaksud Budi. "Ini dia, menurut laporan darah yang terdapat di rantai arloji identik dengan milik Darsono."


"Astaga, siapa kamu bilang tadi? Darsono?" Budi terkejut bukan kepalang.


"Iya, Darsono. Residivis kelas kakap, dikenal dengan julukan jagal tanpa lidah. Dia tak pernah bicara, bahkan saat persidangan dulu dia hanya diam tanpa ekspresi." Andi membaca file di depannya.


Budi terdiam, ia mengenal sosok Darsono. Dulu Budi juga menangani kasusnya. Pembunuh kejam, yang tega memutilasi para korbannya. Entah bagaimana, ia bisa lepas dari penjara super maximum security. Darsono dikabarkan hilang saat terjadi kerusuhan di lapas dan hingga kini ia tidak ditemukan.


Budi meraih file tentang Darsono dari tangan Andi, ia menatap foto terakhir Darsono saat masuk lapas. Budi mengernyit, "Tunggu, dia …,"


Budi mengambil saputangan di kantongnya, lalu menutup kumis tebal yang menghiasi wajah Darsono. "Astagaaaa, sepertinya aku tahu dimana Darsono!"


"Maksudmu?" Andi tak mengerti.


"Ikut aku, kita melewatkan satu petunjuk penting. Bawa personil secukupnya. Kita berburu Darsono."

__ADS_1


__ADS_2