
Bu Lasmi geram dengan tingkah Asih yang tak kunjung menurutinya. Bahaya jelas terlihat didepan mata, tapi Asih tidak juga menyadarinya.
"Aku harus bertindak, aku tidak mau mati konyol!" ujar Bu Lasmi lirih seraya menatap Asih dan pak tua itu menghilang dalam gelapnya hutan.
Bu Lasmi bergegas menuju ruangan khusus miliknya. Jam menunjukkan pukul dua dini hari, Bu Lasmi telah larut dalam ritualnya. Aroma kemenyan dan wewangian khas menyebar ke seluruh ruangan. Mulutnya terus berkomat kamit mengucapkan mantra, memanggil para makhluk halus peliharaannya.
"Pergilah, jangan kembali sebelum nenek tua itu mati!"
Makhluk halus bertubuh besar hitam itu menghilang, melesat menembus dinding menuju sasaran yang dimaksud tuannya.
Mata Bu Lasmi terlihat memerah emosinya yang tertahan sedari kemarin meluap. Ia harus bertahan hidup, Bu Lasmi tidak ingin kekalahannya terulang kembali.
Mbok Ratem masih terjaga di dalam rumahnya. Sedari sore dirinya berdiam diri, dalam posisi meditasi. Sepulang dari rumah pak kades dan mengurus beberapa keperluan, ia mengurung dirinya didalam kamar.
Mbok Ratem tahu Bu Lasmi tidak akan tinggal diam. Bu Lasmi pasti akan melindungi Asih bagaimanapun caranya. Beberapa tahun lalu, Anita putri tunggal Bu Lasmi juga melakukan kebodohan yang sama. Mengusik ketenangan desa dengan membunuh salah satu warga.
Mbok Ratem menghela nafas pendek, "Kau tak pernah belajar dari kesalahanmu Lasmi. Aku mengampunimu karena ingin memberikan kesempatan kedua dalam hidupmu. Tak kusangka kau justru mengambil jalan yang sama dengan mengangkat gadis itu sebagai putrimu."
"Sekarang kau ingin membunuhku? Kau benar - benar tidak tahu diuntung Lasmi!"
Mbok Ratem memperhatikan sekeliling, ia menajamkan telinga tuanya. Ada pergerakan angin tak biasa yang mengitari rumah mbok Ratem. Hawa dingin yang biasanya menyelimuti desa kini berganti dengan panas. Mbok Ratem beranjak dari duduknya.
Kaca jendelanya bergetar, menimbulkan suara tak nyaman di telinga. Dinding anyaman bambu yang menutupi sebagian rumahnya seperti digaruk oleh tangan-tangan besar yang hendak merobohkan rumah.
Mbok Ratem tersenyum sinis, ia mengambil tongkat kayu miliknya. Selarik mantra diucapkan dan diketuknya ke tanah sebanyak tiga kali. Dinding dan kaca yang semula bergetar tiba-tiba saja terdiam.
Mbok Ratem keluar rumah, ia menatap sekeliling. Sebagai tetua desa yang paham benar tentang hal mistis, ia tahu ada hal ganjil yang sedang terjadi.
"Baguslah, kemarilah kalian semua! Datang dan mendekatlah padaku sekarang!"
Mbok Ratem berjalan keluar rumahnya, kelebatan bayangan terus bermunculan tidak hanya satu tapi beberapa. Tangannya menengadah ke atas, ia membaca mantra, memanggil para penjaga desa. Hujan mulai turun dengan lebat tapi mbok Ratem tak peduli.
__ADS_1
Kelebatan makhluk bertubuh besar hitam semakin santer mendekat, hingga akhirnya mbok Ratem kembali mengetuk tanah tiga kali dengan tongkat uniknya. Makhluk-makhluk peliharaan Bu Lasmi muncul dihadapan mbok Ratem.
"Kalian ingin membunuhku? Cobalah jika kalian sanggup!" Mbok Ratem menantang.
Ia kembali mengucap mantra, kali ini ada perubahan di matanya yang kini berkabut putih samar. Makhluk hitam utusan Bu Lasmi menggeram dan menyerang secara bergantian. Tapi tak ada satupun dari mereka yang bisa menyentuh mbok Ratem. Nenek renta itu seolah diselimuti tabir tak terlihat yang tak mampu ditembus oleh para makhluk peliharaan Bu Lasmi.
Mereka terus mencoba, hingga akhirnya mbok Ratem kembali mengetukkan tongkatnya ke tanah. Ajaib, para makhluk berbulu hitam itu seketika jatuh terkapar, meraung kesakitan. Tapi mereka masih bisa melawan, satu makhluk menyerang mbok Ratem dengan cepat.
Makhluk itu hendak mencekik nenek bertongkat itu, tapi belum juga tangan berbulu hitam menyentuh tubuhnya, mbok Ratem telah menyentuh leher dan mencekiknya kuat hanya dengan satu tangan. Mulut mbok Ratem berkomat kamit, makhluk itu pun terbakar dengan cepat.
Hal serupa juga dilakukan oleh makhluk hitam lainnya, satu persatu dari mereka menyerang mbok Ratem. Tapi mereka bukanlah tandingan sepadan. Hanya dengan tongkat uniknya, mbok Ratem memukul dan menghabisi mereka dengan mudah. Tenaga dan kekuatannya sungguh tak sebanding dengan usia mbok Ratem.
Mulut mbok Ratem terus berkomat kamit, matanya pun masih memutih, tangannya kini dihadapkan pada makhluk berbulu yang tersisa di depannya.
"Pergi, dan laporkan pada tuanmu!"
Tanpa menunggu lama satu makhluk hitam berbulu yang tersisa langsung pergi menghilang dalam gelapnya malam.
"Yang kotor akan kembali bersih, tapi yang rusak tidak akan mungkin kembali seperti semula. Kau mengecewakanku Lasmi!"
Bu Lasmi terjengkang dari posisinya, angin kencang datang entah dari mana menghempas dirinya dan membalikkan meja tempat sesaji biasa diletakkan. Darah segar keluar dari mulutnya. Ia kalah telak. Tangan Bu Lasmi gemetar, mengusap darah di sudut bibirnya.
"A-apa ini … a-aku kalah lagi?"
Bau anyir darah bercampur busuk tercium begitu menyengat. Suara cekikikan jin wanita dari sudut gelap ruangan terdengar nyaring.
"K-kau! Mana janjimu menjadikan aku lebih kuat dan sakti dari nenek tua itu!" Bu Lasmi menatap jin wanita yang datang menyeringai seram padanya.
"Aku? Aku sudah menjadikanmu dukun terhebat bukan? Kau bahkan menjadi yang terkaya di desa ini, apa itu masih kurang?" Jin wanita itu mengelak dari pertanyaan Bu Lasmi.
"Kau berjanji menjadikanku hebat melebihi mbok Ratem! Apa kau lupa?!" Bu Lasmi berteriak histeris, ia tertipu mentah-mentah oleh jin wanita yang dulu merayunya untuk mengikat perjanjian dengannya.
__ADS_1
"Aku? Tentu saja tidak! Tapi kau tahu selalu ada nilai lebih jika kau menginginkan kekuatan tertentu. Kau belum memiliki nilai lebih yang aku mau," jin wanita itu kembali terkikik panjang. Ia mendekati Bu Lasmi yang masih terduduk lemas di lantai.
Matanya nanar menatap jin wanita itu, kebenciannya membuncah. "Aku telah menyerahkan putriku padamu dan juga Asih, apa itu masih kurang!" Teriaknya tepat di wajah jin wanita seram itu.
Jin wanita itu terdiam sesaat, lalu ia tertawa panjang. "Tentu saja itu masih kurang, Lasmi. Aku menginginkan lebih!"
"Lima wanita muda lagi harus kau berikan padaku, sebelum ilmumu sempurna!" Ia kembali tertawa, tak peduli dengan wajah Bu Lasmi yang kini tampak begitu marah.
Bu Lasmi meraih keris yang ada didekatnya, lalu ia segera berdiri dan menghujamkan ya pada jin wanita itu dengan cepat.
"Kau menipuku! Kau menipuku, dasar demit brengsek!"
Satu tusukan mengenai tubuh jin itu, tapi Bu Lasmi tidak puas ia kembali menusukkan hingga berkali-kali. Darah hitam kental berbau busuk keluar dari.mulut sang jin wanita. Bu Lasmi puas, ia berhasil membunuh jin penipu itu.
Tapi apa yang terjadi tidaklah sesuai harapan Bu Lasmi. Jin wanita itu menggelengkan kepalanya, ia tertawa begitu keras mengisi ruangan khusus itu dengan rasa horor mencekam.
"Kau salah!"
Bu Lasmi gemetar hebat, ia mundur beberapa langkah. "Ti-tidak, tidak mung-kin …," suaranya tercekat.
Darah hitam menempel di seluruh telapak tangannya, tapi jin wanita itu tidak mati. Bu Lasmi tertipu.
"Nikmatilah kematianmu yang menyakitkan Lasmi! Sudah waktunya aku menarik upahku!"
Jin wanita itu tersenyum ganjil, dari belakang tubuhnya muncul bayi-bayi bajang dengan wajah menyeringai seram, mata kemerahan dan taring panjang yang mencuat, mereka menyerang Bu Lasmi.
Memasuki tubuh paruh bayanya. Menggerogoti dari dalam, menghancurkan semua fungsi organ. Bu Lasmi kelojotan, ia menjerit kesakitan, matanya melotot, suara parau dan serak terdengar seperti ayam baru disembelih. Penderitaannya diakhiri dengan keluarnya darah yang begitu banyak dari mulut, hidung, dan telinganya.
Bu Lasmi tewas meregang nyawa dengan sangat kesakitan. Kesepakatan telah usai, Bu Lasmi kini harus menuntaskan perjanjiannya, menjadi budak di dunia bawah hingga akhir zaman tiba.
__ADS_1