
"Kalian tidak akan pernah mengerti. Hanya kekasihku Lasmi yang tahu tentang hal itu. Sayang kematiannya begitu cepat, aku sangat merindukannya."
Tentu saja jawaban itu membuat Budi dan Andi terperangah. "Lasmi? Kekasihmu?" tanya Budi menyelidik.
Darsono hanya melirik kan matanya. "Kau tidak percaya bukan, selama ini Lasmi melindungiku. Ia memperlakukan aku sebagai lelaki normal lainnya. Hanya dia yang mengerti keinginanku, aku menuruti semua keinginannya termasuk membantu putri angkatnya yang kurang ajar itu untuk menutupi jejak kejahatannya!"
Mata Budi membulat sempurna, ia menatap Andi dengan senyuman penuh arti. Kasus mereka kembali menemukan tersangka baru, Darsono harus siap dengan dakwaan baru.
"Jika kau mencintai Lasmi, maka ceritakan semuanya pada kami. Buat Asih membusuk di penjara!" Andi memainkan perannya agar Darsono mau bercerita banyak tentang kasus pembunuhan yang mereka tangani.
Darsono tanpa sadar masuk dalam tipuan Andi. Rasa cintanya yang besar pada Bu Lasmi membuatnya bercerita tentang Asih dan apa yang selama ini mereka perbuat. Tentang pembunuhan keji yang dilakukan Asih termasuk pada pak kades.
Budi dan Andi pun tersenyum, mereka puas berhasil menangkap kembali Darsono dan tentu saja mendapatkan bukti lain untuk kasus Asih.
Selamat menikmati masa tuamu di penjara!
Kasus Asih ditutup. Ardi dijebloskan dalam penjara dengan hukuman seumur hidup. selama dalam tahanan Ardi banyak sekali berubah. ia memutuskan untuk berhijrah dan bertaubat dari segala kesalahannya. Sayang, adiknya tidak berhasil melewati masa sulit. Adik Ardi meninggal satu tahun setelah Ardi masuk penjara.
Bidan Mimah dan asistennya juga harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Lisensi nya dicabut, dan bidan Mimah mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di toilet penjara. Sementara asisten bidan Mimah dihukum 10 tahun penjara.
Arif, satu satunya korban Asih yang selamat harus rela tubuhnya cacat seumur hidup. Ia terus dihantui sosok Asih yang membuat Arif gila. Jika malam menjelang Arif akan berteriak tak karuan. Ia selalu meracau tentang Asih, hingga akhirnya keluarganya sepakat masukkan Arif ke dalam rumah sakit jiwa.
...----------------...
Mbok Ratem menatap sekitar rumah tanpa ekspresi. Rumah Bu Lasmi terlihat cukup angker. Aura hitam tipis menguat dari dalam rumah. Sesosok bayangan tampak memperhatikan mbok Ratem dari balik jendela di lantai dua.
Mbok Ratem memukulkan tongkat uniknya tiga kali ke tanah seraya berteriak,
"Keluarlah wahai Danyang penunggu desa! Aku, membutuhkanmu!"
Dalam sekejap, Danyang penunggu desa hadir disamping mbok Ratem. Sosok lelaki tua berbaju serba hitam dengan ikat kepala hitam pula berdiri sejajar dengan mbok Ratem. Tidak hanya satu tapi tiga.
Mbok Ratem kembali membaca mantra pemanggil roh. Langit seketika berubah, awan hitam memayungi desa disertai kilatan cahaya, seolah tercipta dimensi lain yang mengurung rumah mewah itu dan mbok Ratem.
Kaca diseluruh rumah bergetar, menimbulkan retakan yang kemudian pecah berkeping keping. Cahaya kecil kemerahan melesat keluar dari jendela. Tiga belas cahaya muncul dan berputar di hadapan mbok Ratem.
Mata mbok Ratem kembali diselimuti kabut tipis, mulutnya berkomat kamit. Ketiga belas cahaya kecil itu diam lalu perlahan menampakkan sosok kecil dengan wajah pucat membiru. Sosok-sosok kecil itu saling memandang lalu menunduk takut.
__ADS_1
"Pulanglah, nak! Kembalilah pada sang pencipta. Aku lepaskan dan bebaskan nyawamu untuk kembali pada sang pemilik yang sesungguhnya!"
"Tapi kami tidak pernah dipanggil mbok, kami tidak dianggap dan diakui." salah satu dari sosok kecil itu bicara dengan wajah sedih.
"Aku akan mendoakanmu ngger, waktunya kalian pulang. Sudah terlalu lama kalian bergentayangan di dunia ini."
"Kalau begitu, beri kami nama mbok agar kami bisa naik ke atas." pinta sosok kecil di ujung kanan.
Mbok Ratem mengangguk, ia dan ketiga Danyang penjaga desa mengucapkan mantra khusus bagi ketigabelas roh janin yang ditumbalkan orang tuanya. Mbok Ratem memberikan nama pada mereka dalam setiap tarikan nafas doa yang dilantunkan. Satu persatu dari mereka pun menghilang menghadap sang Illahi.
Mbok Ratem tersenyum lega, ia kembali mengetukkan tongkat tiga kali dan para Danyang pun menghilang. Jin wanita itu muncul dihadapan mbok Ratem.
"Berani sekali kau muncul dihadapan ku!" Mbok Ratem menghardik.
"Kau melepaskan mereka! Mereka anak-anakku!" Jin wanita itu berteriak.
"Mereka bukan anakmu, mereka telah kembali pada sang pencipta. Mereka kau culik dengan paksa untuk kepentingan manusia sesat. Kau tidak berhak memilikinya!"
Mata mbok Ratem kembali memutih, selarik mantra kembali diucapkan. Jin wanita itu berteriak kesakitan, mengeluarkan suara lengkingan yang memekakkan telinga lalu terbakar. Jin wanita itu musnah.
Mbok Ratem menghentakkan tongkat tiga kali ke tanah, langit pun kembali berubah cerah, ia berjalan perlahan meninggalkan rumah mewah milik Bu Lasmi.
...----------------...
Amel terduduk lesu dikamarnya. Ia menatap sebuah alat di tangannya dengan nanar. Airmata yang menggantung di matanya akhirnya lolos menuruni pipi halusnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" suaranya terdengar putus asa.
Ia menelpon Didi yang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah kontrakan. "Mas, kita perlu bicara."
"Ada apa?" Suara Didi terdengar khawatir.
"Aku … hamil!"
"Apa? Ulangi lagi?" Didi seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Aku hamil mas, bagaimana ini?" tangis Amel pecah.
__ADS_1
"Oke, oke tunggu lima menit lagi aku nyampe rumah. Tunggu aku sebentar."
Didi menutup teleponnya. Amel kembali terisak menggenggam erat hasil testpack di tangannya. Andai waktu itu dirinya tidak mengikuti hasrat mudanya, andai ia bisa mengontrol dirinya dari sentuhan liar Didi, semua ini tidak akan terjadi.
Amel belum siap jadi seorang ibu, Amel belum siap menikah, Amel masih ingin membahagiakan orang tua nya. Didi datang dan dengan tergesa masuk ke dalam kamar Amel.
"Mel," sapanya lembut seraya memeluk tubuh mungil kekasihnya.
Amel terisak dalam pelukan Didi. "Aku harus bagaimana?"
Didi melepas pelukannya, menatap Amel dengan lembut. "Aku akan menikahimu, segera."
Amel menggeleng, "Tapi aku belum siap mas,"
"Lah terus anak ini gimana?" Didi meminta jawaban Amel.
"Kita gugurin anak ini gimana?"
"No, aku nggak setuju! Itu anakku!" tolak Didi tegas.
Perdebatan panjang terjadi di antara keduanya. Tangis Amel kembali meledak, ia bingung dengan situasi sulit yang harus dihadapinya. Satu sisi ia belum siap menjadi ibu tapi sisi lainnya ia juga menyayangi calon bayi yang siap tumbuh dalam rahimnya.
"Aku tahu solusi terbaik. Untuk kita dan anak kita!" Didi tersenyum ganjil, Amel menatapnya dengan perasaan campur aduk.
Didi tak menjawab lalu memeluk Amel erat. Mengusap lembut rambut Amel. Sorot matanya aneh, ia menatap ke arah jin wanita yang kini berdiri tak jauh dari Amel. Menyeringai dengan senyuman iblis.
Dia akan segera kusiapkan untukmu!
...*** T A M A T ***...
...Alhamdulillah...cerita Asih kelar juga, makasih dukungannya teman2 semoga bisa terhibur yaa, 🥰...
...special thanks and always be the one pak RT 13, yg selalu support all out, barisan KFC, barisan anu dan itu yang setia ngikutin saya🤭 kak Ali, kak sang, kak Andin, kak Winda, kak uli, kak EMI, kak namika, kak ayu Larasati, kak Sekar, kak Olla Romlah, kak yamink oi, siapa lagi ya🤔banyak bgt yg nda bisa say sebut...big thanks 4u...upps hampir lupa spesial thanks to 🐓kak takdir 🐓reader pemes senupeltuun🤭thanks 4supporting ...
...I'm nothing without all of u.....
...see u in next novel, insyaallah Senin sudah rilis baru untuk horor yaa......
__ADS_1
...*** Bedak Sang Nyai ***...
...stay tune always, with all love~Lia❤️...