Jeritan Tengah Malam

Jeritan Tengah Malam
Amel dan Bidan Mimah


__ADS_3

Amel berusaha membuka kedua matanya dengan susah payah, kepalanya terasa pusing dan berputar. Ia mengerjapkan matanya, Amel tersentak dan seketika duduk. Ia mendapati dirinya ada di dalam kamar, tapi bukan kamar miliknya.


"Dimana ini?" Gumamnya lirih, kepalanya masih terasa berat. Ia mencoba berdiri,tapi terjatuh di lantai yang rasanya begitu di dingin.


Pintu kamar terbuka, seorang pria berkulit bersih menghampirinya dengan wajah khawatir.


"Kamu udah sadar, kamu nggak apa-apa?" Tanya lelaki itu dengan tatapan lembut.


"Kamu, siapa?" Amel berusaha memicingkan matanya, kepalanya terasa berkunang kunang.


"Aku Didi, siapa nama kamu?" Tanya lelaki bernama Didi itu, ia membantu Amel berdiri dan kembali duduk di tepi ranjang.


"Amel," Amel menatap sekeliling lalu kembali bertanya, "Aku ada dimana?"


"Ini rumah kontrakan ku, semalam aku nemuin kamu tergeletak pingsan di depan rumah ini. Apa kamu sakit?"


Amel mengernyit, "Aku pingsan?"


"Iya, apa sesuatu menimpamu? Dirampok atau ...,"


Amel menggeleng, seingatnya kemarin sore Amel masih ada di rumah kontrakannya. Menunggu Sinta memasak cemilan untuk mereka. 


"Hhm, entahlah aku juga bingung kenapa aku ada disini." Ujarnya lirih.


"Oh, sudahlah lupakan saja nanti kamu juga ingat. Oh ya kamu ingat rumah kamu dimana kan?"


Amel mengangguk pelan, Didi tersenyum dan berdiri hendak keluar ruangan. "Setelah sarapan aku akan mengantarmu pulang." Didi menutup pintu setelah sebelumnya berhenti sejenak memperhatikan Amel yang masih linglung.


Satu stel pakaian bersih ada di meja sebelah ranjang, Amel menghela nafas panjang. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi, tapi ingatannya kacau. Amel pun memutuskan untuk mandi, ia berharap ingatannya pulih setelah menyegarkan diri.


Suara ketukan terdengar tak lama setelah Amel selesai mandi dan merapikan diri.


"Boleh aku masuk?" Suara Didi terdengar dari luar.


"Ya,"


Didi tersenyum saat melihat Amel yang terlihat lebih segar dan juga … menawan.


"Syukurlah pakaian itu cukup untukmu,"


"Maaf merepotkan, ini punya siapa?" Amel menanyakan pemilik pakaian yang dikenakannya itu.


"Itu dulu, punya pacar aku." wajah Didi berubah muram.


"Oh, maaf. Aku akan mengembalikannya segera!"


Didi tak menanggapinya, ia menarik tangan Amel. "Makan yuk, sarapan sudah siap!" Ajaknya dengan mata yang tak lepas menatap Amel yang begitu cantik di matanya 


Merasa diperhatikan Didi, Amel salah tingkah. Ia mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Hatinya berdetak lebih cepat dan desiran aneh menyergapnya saat tangan Didi tak sengaja menyentuh kulitnya.


Mereka sarapan hanya berdua karena rumah kontrakan Didi memang hanya ditinggalinya sendirian. Asisten rumah tangga hanya datang saat pagi hari untuk membereskan rumah dan memasak.


Amel merasa canggung, ia gugup . Sarapan pagi yang hanya sekitar lima belas menit terasa begitu lama baginya.

__ADS_1


"Oya, kamu mau aku antar ke rumah atau ke rumah sakit?" Suara Didi memecah keheningan.


"Rumah sakit?" Amel balik bertanya.


"Kamu kerja di rumah sakit kan? Rumah sakit mana, nanti aku antar kamu dulu?"


Amel bingung dengan pertanyaan Didi, bagaimana bisa Didi menyimpulkan ia bekerja di rumah sakit sementara dirinya masih tercatat sebagai mahasiswa aktif.


"Ehm, aku …," belum sempat Amel menyelesaikan perkataannya, Didi sudah berdiri dan memberikan blazer putih dengan logo salah satu rumah sakit.


"Ini punya kamu kan? Kamu pingsan masih pake blazer ini, maaf kalau aku lancang melepasnya."


Amel dengan gemetar menyentuh blazer putih yang biasa dikenakan para tenaga kesehatan. Di saku bajunya ada sebuah suntikan kosong. Seketika ingatannya melayang, rekaman memori bak slide film silih berganti muncul.


"Cla-Clara …," 


Amel semakin gemetar saat ia menyadari dan teringat kejadian semalam. Airmata merebak dari kedua mata indahnya.


"Ada apa? Kenapa menangis?" Didi panik, ia segera mendekat dan memeluk Amel yang mulai terisak.


"A-aku mau pulang, please antarkan aku pulang. Sekarang!" 


Amel kalut, ia bingung dengan ingatannya. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi. 


Ini hanya mimpi … mimpi!


Amel menolak ingatannya sendiri, ia harus segera memastikan apa yang terjadi. Didi mengantarkan Amel ke rumah kontrakannya, disana Arini, Sinta dan Fanny telah menunggu. Mereka cemas karena Amel pergi begitu saja semalam.


"Ya ampun, kamu bikin kita khawatir! Kamu kemana sih semalam, kok main pergi aja?!" Tanya Sinta lagi.


Amel bingung tak bisa menjawab, ia semakin bingung. Wajahnya pucat dan ketakutan."Ka-kalian tahu aku pergi?"tanyanya dengan terbata bata.


Sinta dan Arini saling memandang, mereka menggelengkan kepala begitu juga Fanny. "Kamu itu pergi waktu kita ada di dapur buat masak cemilan!" Arini menjawab.


"Iya, baru kita tinggal sebentar eh kamunya ngilang!" Sinta menimpali.


"Ngga taunya malah sama mas ganteng ini to?" Fanny mengerling pada Sisi, sifat nakalnya kambuh.


Didi salah tingkah, ia seolah menjadi tersangka utama yang secara tidak langsung membawa kabur Amel. "Hhm, begini mbak saya menemukan Amel pingsan didepan rumah semalam. Karena bingung dan sudah larut malam ya saya bawa dia masuk ke dalam rumah. Takut kenapa-kenapa!"


Didi berusaha membela dirinya dari tatapan para wanita cantik di hadapannya. Sinta dan Arini berusaha memahami. Berbeda dengan Fanny yang langsung mendekati Didi dan meraih tangannya.


"Tapi, kamu sama Amel nggak … begini kan?" Tanyanya mesum dengan menautkan jemarinya seperti dua orang yang berciuman.


Didi tergelak, "Wah nggak mbak, saya nggak mungkin ambil kesempatan dalam kesempitan. Saya, lelaki yang bertanggung jawab!" Elaknya cepat.


Fanny menatap Didi dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Lalu mengerling nakal padanya. "Masnya ganteng juga, siapa namanya? Boleh kenalan kan?" 


"Fanny!" Seru Sinta dan Arini bersamaan.


Mereka mengabaikan Amel yang hanya diam membisu. Tatapan matanya kosong, tiba-tiba saja ia teringat sebuah nama.


"Clara … gimana kabar Clara?"

__ADS_1


Arini, Sinta dan juga Fanny saling berpandangan.


"Ehm, Clara … kamu belum dengar kabar dia ya Mel?" Wajah Sinta murung.


"Clara, meninggal semalam begitu juga dengan Lisa. Kabarnya mereka depresi berat, dan kematiannya sungguh tragis." Arini menambahkan.


Amel bagai tersambar petir, ingatan dirinya yang datang menjenguk Clara adalah pertanda bahwa dialah yang menyebabkan Clara tewas. Amel meremas blazer putih yang ada ditangannya. Air Matanya jatuh tak terbendung, "Ma-maaf, maafkan a-ku!"


Arini dan Sinta tidak menaruh curiga sama sekali, mereka justru saling memeluk merasakan kesedihan kehilangan dua orang rekan satu angkatan. Didi hanya bisa menatap Amel dengan iba. 


Aku harus membuang ini, aku tidak ingin mendapat masalah!


...----------------...


Sementara itu ditempat praktek Bidan Mimah, asisten bidan Mimah sibuk kesana kemari menyiapkan peralatan persalinan. Siang tadi ada seorang wanita muda yang datang padanya. Usia kandungannya belum memasuki enam bulan tapi pendarahan hebat terjadi.


Tak ada pilihan lain dari bidan Mimah selain berpura-pura bahwa bayinya tidak akan selamat jika tidak dilahirkan. Malam ini janin bayi harus segera dikirim kepada Asih. Bidan Mimah gugup, ia takut jika Asih akan nekat melukai putrinya. Amel.


Yah, Amel adalah putri yang disembunyikan bidan Mimah dari keluarganya. Bertahun tahun yang lalu Amel dititipkan pada sepasang suami istri yang masih terhitung saudara jauh bidan Mimah. Amel lahir dari hubungan gelapnya dengan seorang dokter muda.


Hubungan mereka terlarang karena bidan Mimah telah bersuami. Suami bidan Mimah pergi merantau ke luar negeri, karena jarang tersentuh sang suami dan merasa kesepian, hubungan tak pantas itu pun terjadi.


Demi menjaga keutuhan rumah tangganya, bidan Mimah menyembunyikan Amel jauh darinya. Selama ini Amel hanya mengetahui dirinya anak dari petani kecil di desa. Ia sama sekali tidak mengetahui jika orang yang dianggap orang tua untuknya hanyalah asisten rumah tangga dari bidan Mimah.


"Bu, apa ini akan berhasil! Perasaan saya nggak enak Bu!" Ratih, asisten bidan Mimah yang berwajah glowing bak artis ibukota itu gusar.


"Udah, lakukan seperti biasa!" Bisik bidan Mimah agar tak terdengar pasiennya.


Beberapa jam kemudian lahirlah bayi cantik berjenis kelamin perempuan dalam keadaan lemah. Jantungnya sedikit bermasalah, ia tidak menangis hanya sedikit bergerak. Bidan Mimah menatap bayi tak berdosa yang masih berlumuran darah dan tali pusat yang menempel di perutnya.


"Maaf, tapi anakku harus tetap hidup!"


Tangan bidan Mimah membekap mulut dan hidung sang bayi dengan kuat. Bayi tak berdosa itu pun mati lemas. Setelah memastikan denyut jantungnya berhenti, bidan Mimah memberi perintah pada orang kepercayaannya untuk mengirim mayat sang bayi pada Asih.


"Jangan sampai terlambat!" Begitu pesannya.


Sementara itu ibu si bayi yang masih lemah menanyakan kondisi bayi yang terpaksa dilahirkan sebelum waktunya.


"Dimana anakku, Bu?" Suaranya begitu lemah, karena kehilangan banyak darah.


"Anak ibu tidak bisa diselamatkan, maafkan saya. Kami sudah berusaha." Bidan Mimah berpura pura sedih dan menyesal.


Wanita muda itu menangis sejadinya, ia meminta pada bidan Mimah untuk bisa memeluk putrinya yang telah tiada. Bidan Mimah bingung, ia mencari alasan untuk menghindar.


"Sebentar ya Bu, kita bersihkan ibu dulu baru setelah ini ibu bisa bertemu dengan putri ibu." 


Bidan Mimah menenangkan sang ibu, tapi bukan menenangkan biasa. Ia memberikan suntikan kematian untuk si ibu. Tanpa diketahui wanita muda itu, bidan Mimah memasukkan cairan kalium ke dalam infus. 


"Ini akan membuatmu mati secara normal. Tak ada yang akan mencurigaiku." Gumamnya dengan seringai iblis.


Tanpa rasa iba, tanpa belas kasihan, bidan Mimah mengeksekusi dua nyawa dalam semalam. Ia terjebak dalam lingkaran setan yang diciptakan Asih.


Ia tak menyadari bahwa semuanya memiliki batas waktu. Termasuk perjanjian dan kejahatan yang dilakukannya selama ini. Ini adalah awal dari sebuah akhir.

__ADS_1


__ADS_2