Jeritan Tengah Malam

Jeritan Tengah Malam
Ardi Cemburu


__ADS_3

Ardi resah mendapati Asih yang terlihat begitu senang dengan kedatangan pak Kades. Ia mengendap endap, berusaha mencari tahu apa yang dilakukan Asih.


Tapi apa yang ia lihat sungguh membuatnya kecewa. Asih menggoda pak kades dengan kerlingan mata dan bahasa tubuhnya. Asih begitu intens berbicara dengan pak kades. Sesekali tangan Asih bahkan terampil menggoda bagian sensitif pak kades.


Ardi geram, ingin rasanya ia melabrak Asih dan menariknya dari sana. Tapi mbok Jum mencegahnya.


"Jangan Den! Berbahaya!" Ujar mbok Jum seraya menarik tangan Ardi yang sudah terbakar api cemburu.


"Bahaya gimana mbok, saya kan cuma mau nyelamatin Asih dari pesona pak Kades itu! Saya yakin pak kades pasti sudah punya istri!" Wajah Ardi memerah menahan amarah.


Mbok Jum menggelengkan kepala, ia menatap Asih dari kejauhan dengan nanar.


"Yang terjadi justru sebaliknya den. Asih menggunakan mantra untuk mengikat pak kades."


"Apa?!" Ardi terbelalak tak percaya.


"Jika Aden mengacaukannya sekarang, Asih akan murka dan bisa jadi dia akan membunuh Aden sekarang!" Mbok ganti menatap Ardi dengan tajam.


Den Ardi belum tahu siapa Asih dan bagaimana sifatnya. Mbok Jum berkata dalam hati. Miris dengan kelakuan Asih dan juga kasihan melihat Ardi yang tersiksa dengan situasi yang tak nyaman.


Ditatap mbok Jum demikian membuat nyali Ardi ciut, "Apa katamu mbok? Mem-membunuhku?! Tidak! Itu tidak mungkin terjadi!" Ardi menggelengkan kepala dengan cepat, ia tak percaya kata-kata mbok Jum.


"Percaya simbok den! Simbok hanya mengingatkan aden, mau percaya atau tidak itu terserah den Ardi!" Simbok berlalu meninggalkan Ardi yang kacau. 


Ardi mengacak rambutnya kasar, matanya nyalang menatap Asih yang kini tengah memadu kasih dengan pak kades. Tapi perkataan mbok Jum membuatnya berpikir, Ardi akhirnya menyusul mbok Jum.


Di ruang tamu Asih melancarkan aksinya. Ia tak peduli lagi pada Ardi, meski Asih tahu Ardi mengintipnya. Ia semakin nekat menggoda pak kades. Ada sensasi menyenangkan yang menjalar dihatinya saat perbuatan mesum Asih terlihat Ardi.


"Pak kades ada apa kemari?" Asih bertanya menggoda pak Kades dengan kerlingan matanya.


Mata Asih yang menggoda, menghipnotis dalam buaian pesona mistis. Pak kades bahkan tak berkedip menatap Asih. Ia memperhatikan Asih dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.


"Dek Asih, katanya mau mengurus surat kepindahan kan?" Suara pak kades sedikit tergagap, kata-katanya seketika berhenti di tenggorokan saat melihat belahan dada Asih yang begitu menggoda.


Ia membayangkan kedua tangannya menggenggam tubuh depan Asih. Hasratnya yang sedari tadi terpancing kini semakin menjadi.

__ADS_1


Asih mengetahui keinginan pak kades, ia dengan sengaja mendekatkan tubuhnya hingga kedua asetnya itu menyentuh lengan pak kades.


"Iya, pak kades … bisa bantu saya?" Bisiknya dengan sedikit menghembuskan nafas di telinga pak kades. Membuat pak kades semakin panas.


"Ehm, itu … iya, ten-tentu saja bisa! Dek Asih memang pindahan dari mana?" Pak kades menelan ludah kasar saat ia melirik kedua bukit kembar yang menempel tepat di tangan kirinya.


"Dari … hati saya pindah ke hati pak kades!" Bisik Asih lagi, kali ini ia dengan nekat menggigit cuping telinga pak kades dan memberikan kecupan basah di leher pak kades.


Perlakuan Asih itu sontak membangkitkan naluri lelaki yang sedari tadi menegang di bawah sana. Tangan pak kades dengan liar menelusup ke leher Asih. Mendekatkan bibirnya pada bibir seksi Asih yang sedari tadi menggodanya.


Asih merespon dengan mengecup lembut bibir tebal meski tercium bau tembakau. Ia tak peduli pikirannya hanya satu. Menguasai pak kades. Ciuman liar yang membara di ruang tamu begitu menghanyutkan keduanya. Pak kades terpengaruh dalam mantra Asih.


Ia lupa pada istri yang menunggunya, ia lupa akan tugasnya untuk menemani petugas kepolisian yang hendak melakukan penyelidikan.


"Ah, pak kades … jangan, berhenti," ucap Asih disela lenguhan nikmat saat pak kades mengusap lembut bagian depan tubuhnya.


Pak kades tak peduli lagi. Matanya tertutup hasrat tabu yang ditiupkan Asih dalam mantra. Ia mendorong tubuh Asih, merebahkannya dan mulai melepas satu persatu pakaian mereka.


Asih tersenyum puas, satu lelaki kembali jatuh dipelukannya dalam mantra sihir. Ia terus menggoda dan memancing pak kades untuk tidak berhenti. Saling menyentuh, meraba membangkitkan gairah pak kades yang tertidur cukup lama. Kecupan, gigitannya begitu menggila, tak ada bagian tubuh Asih yang terlewat kan.


Setelah lelah bertukar lendir, pak kades dan Asih saling memeluk. 


"Mas Adi, apa nggak takut ketahuan istrinya?" Tanya Asih sembari membingkai wajah tampan pak kades dengan telunjuknya.


"Istri saya lagi ke desa sebelah, tempat orangtuanya," pak kades menjawab kalem, ia meraih tangan Asih dan menciumnya.


"Oh, kenapa? Lagi marahan ya?!" Tebak Asih penuh selidik.


"Mau persiapan lahiran anak pertama, jadi dia pulang ke rumah ibunya." Pak kades masih menyusuri tangan putih Asih. Ia begitu mengagumi kecantikan Asih.


Asih tersenyum licik, rencananya seperti mendapat angin segar. "Pantesan aja mas Adi, garang!" Asih mengerling nakal pada pak kades.


"Maklum sudah lama libur!" Pak kades tersenyum malu-malu, ia menatap Asih kembali dengan penuh hasrat.


Pak kades hendak melancarkan kembali serangannya tapi Asih menolaknya. "Besok lagi masih bisa, sudah malam banget, nggak enak sama warga."

__ADS_1


Asih menahan tubuh pak kades yang sudah kembali mendaratkan kecupan di bibirnya. "Tapi …,"


"Nggak pake tapi, mas Adi pulang sekarang. Saya capek!" Asih kali ini tegas dan serius. Ia turun dari pangkuan pak kades yang memeluknya posesif.


Pak kades hanya bisa menatap Asih dengan wajah memelas. "Dek Asih,"


"Nggak, kalo mas Adi tetap maksa juga … kita nggak usah ketemu lagi!" Asih merajuk, setengah kesal karena pak kades masih ingin bersamanya.


Pak kades pun mengalah, demi bisa bertemu lagi dengan Asih besok. Ia merapikan pakaiannya, mengenakan jaketnya lagi dan pamit pulang.


"Kita ketemu besok ya, dek Asih sayang?!" 


Asih hanya mengangguk dan tersenyum kecut. Ia menatap punggung pak kades yang menghilang dalam gelap malam. 


"Kini kau ada dalam genggaman ku! Dengan menguasaimu aku bisa menguasai desa ini!" Gumam Asih.


"Ada apa pak kades kemari?" Suara Bu Lasmi terdengar di belakang Asih.


Asih hanya melirik kan matanya, ia tak suka Bu Lasmi ikut campur urusannya.


"Dia cuma mampir sebentar,"


"Mampir?" Bu Lasmi kini ada dihadapan Asih menatapnya tajam. "Jangan bermain main dengan warga desa, apalagi mbok Ratem! Ingat, aku tidak bisa melindungi mu selamanya!"


Bu Lasmi pergi berlalu meninggalkan Asih yang tersenyum sinis. Asih memiliki rencana lain, mengambil anak pak kades dan menyingkirkan istrinya. 


"Anak itu bisa menjadi aset bagiku!" 


Hati Asih tertutup ambisinya. Ia lupa daratan. Menjalani pesugihan demi kecantikan, kekayaan, dan balas dendam. Asih ketagihan, ia berencana memperbarui perjanjiannya dengan iblis. Mengorbankan kembali calon anak dalam rahimnya dan menumbalkan bayi lain untuk dijadikan pengikut jin wanita yang selalu membantunya.


Asih lupa bahwa janji manis iblis hanya terwujud semu. Penderitaan dan penyiksaan abadi yang akan menanti setiap pengabdi setan. 


Dari kejauhan Ardi menatap Asih. Ia masih sangat kesal, ia merasa dikhianati. Apalagi dengan mata kepalanya sendiri ia melihat pergumulan terlarang Asih dan pak kades. Ardi terbakar amarah dan rasa cemburu.


"Kau … kau mempermainkan cintaku Asih!"

__ADS_1


 


__ADS_2