Jeritan Tengah Malam

Jeritan Tengah Malam
Petunjuk Baru


__ADS_3

Pak kades beserta dua orang petugas kepolisian duduk di ruang tengah. Beberapa pertanyaan seputar penemuan mayat Eman diajukan oleh Budi. Seperti kenapa pak Kades mengurungnya dan dimana keluarga Eman.


Eman hidup sebatang kara, kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat hendak menjual sayur hasil kebun ke kota. 


"Eman itu nggak waras sudah lama?" Andi iseng bertanya.


"Sebenarnya sih baru beberapa tahun ini, dia kadang waras kadang bener pak."


Andi mengernyit, "Pernah nggak Eman cerita sesuatu yang berhubungan dengan penemuan mayat-mayat di desa ini?"


"Nah ini, saya hampir lupa mau bilang ke bapak-bapak polisi. Seingat saya, kemarin waktu dia di sungai itu …,"


Pak kades kemudian menceritakan apa yang dikatakan Eman sesaat setelah ia dibawa ke balai desa. Eman yang sepanjang jalan mengoceh tentang bayi bajang dan hantu wanita itu terdiam saat pak kades bertanya apa itu bayi bajang.


Eman malah mengoceh, tentang wanita dalam hujan yang sangat cantik. Eman melihat dengan jelas wanita itu dibantu sosok-sosok kecil mengerikan membunuh seorang pria. Dia menyebutnya dengan bayi bajang, anak-anak yang dibuang. 


Ilmu spiritual yang dipelajarinya membuat Eman sedikit paham dengan hal-hal yang berhubungan dengan mistis. Dia menyebutkan wanita itu tanpa belas kasihan membunuh dan membuang jasadnya ke jurang. 


BRAAK!!


"Hah, pembunuh dalam hujan? Wanita cantik?" Andi dan Budi terperanjat.


Pak kades ikut terkejut karena Andi tanpa sadar memukul meja dengan keras, "Astaga pak Andi bikin jantung saya lepas!"


"Sori, kebawa emosi! Jika itu benar berarti Eman melihat tersangka pembunuhan, mayat yang ditemukan di sungai ketiganya berjenis kelamin laki-laki." Ujar Andi bersemangat.


"Tapi kita nggak bisa percaya seratus persen sama info ini, Eman sakit jiwa! Nggak waras, siapa yang bisa jamin kalau kata-katanya benar? Apalagi dia sudah mati sekarang!" Perkataan Andi dimentahkan Budi.


Pak kades hanya manggut-manggut, tapi kemudian ia berkata. "Saya kok percaya sama cerita Eman. Karena saya melihat sendiri penampakan hantu wanita dengan bayi yang selalu digendongnya."


"Apa?!" Budi dan Andi mengerjap tak percaya. Hantu? Apa mungkin pelakunya hantu? Begitu pikir mereka.


"Desa ini sedang diteror hantu wanita pak polisi. Dia berkeliaran di malam hari meneror warga. Tapi setelah acara bersih desa yang dilakukan tetua, Alhamdulillah desa ini kembali aman."


"Wanita cantik, bayi bajang, teror desa. Rasanya kasus ini sedikit berbau hal mistis. Menurut kamu gimana?" Budi bertanya pada Andi yang menggaruk kepalanya, baru kali ini ia mendengar ada hantu meneror warga.


Andi memang seringkali mendengar dan membaca berita tentang teror hantu tapi semua kehebohan itu biasanya berujung pada modus pelaku kejahatan. Andi tak pernah percaya dengan kehadiran sosok mistis yang kerap di kait kaitkan dengan sesuatu.

__ADS_1


"Cck, paling juga ujungnya biasa Bud! Orang lagi, orang lagi! Aku nggak percaya hantu hantuan!" Sanggahnya malas.


"Eeh, pak Andi jangan salah lho! Hantu itu ada. Kami sendiri pernah dua kali bertemu sama hantu wanita bawa bayi seram gitu!" Pak kades berkata sambil menyentuh tengkuknya yang tiba-tiba saja meremang.


"Aah masa sih! Saya nggak percaya!" Tukas Andi cepat.


"Gini deh gimana kalo bapak-bapak ini nanti malam ikutan kita ngeronda! Siapa tahu hantunya muncul pengen kenalan sama pak Andi. Pengen eksis dan dianggap sama pak Andi!" 


Mendengar usulan pak kades, Andi hanya bisa menggerutu sementara Budi tergelak. 


"Hantu minta eksis, ada-ada aja pak kades ini." Ucap Budi geli.


Budi tiba-tiba teringat sesuatu, "Hhm, pak kades tadi disana saya lihat ada perempuan cantik diantara warga desa. Saya yakin dia bukan penduduk asli sini, apa pak kades tahu siapa dia?"


Mata pak kades seketika membulat, ia sedikit gugup. Ia yakin jika Budi bertanya soal Asih. "Oh, tadi itu anak angkatnya Bu Lasmi. Namanya Asih."


Budi memperhatikan sikap pak kades yang tiba-tiba saja berubah. Ia kembali bertanya, "Asih? Warga baru ya, sepertinya dia dari kota." 


"Iya baru datang, lagi liburan semester katanya. Dia kesini sama temennya Ardi." Sahut pak kades sedikit berhati hati.


Ardi, pemuda yang aku temui di warung waktu itu. Sepertinya aku harus mencari tahu siapa mereka. 


Sepeninggal pak kades, Budi dan Andi menerima laporan sementara hasil visum dan bukti forensik yang ditemukan Andi dari pemuda penuh luka.


"Bud, ini laporan dokter Wahyu."


Budi menerimanya, dengan teliti ia membaca satu demi satu poin penting dari dokter Wahyu. Matanya terbelalak saat melihat bahwa gigi yang ditemukan adalah gigi binatang karnivora sejenis anjing hutan.


"Di, sepertinya kita punya saksi kunci. Lakukan perlindungan untuk lelaki itu!" 


Andi mengangguk, matanya tertuju pada tulisan di kertas.


"Namanya Arif, ia tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi." Andi terdiam sejenak, ia menatap Budi tak percaya. "Dia masuk dalam daftar orang hilang dua Minggu lalu!"


Budi terperanjat, "Orang hilang?"


Andi mengangguk, ia kembali membaca kertas di tangannya. "Arif dilaporkan hilang bersama dua orang lainnya."

__ADS_1


Budi yang penasaran ikut membaca kertas yang ada ditangan Andi. "Jangan-jangan, mayat yang tadi kita temukan juga ada dalam daftar ini."


Budi dan Andi saling memandang, titik terang mulai ditemukan. Mereka pun menyusun rencana untuk menyelidiki lebih jauh lagi tentang Arif dan mayat-mayat yang ditemukan. Salah satu rekan mereka pun ditunjuk untuk menginterogasi Arif setelah kondisinya memungkinkan.


******


Asih mondar mandir dikamar. Penemuan satu mayat di jurang itu mengusiknya. 


Tidak boleh ada saksi mata, tidak boleh ada bukti yang tertinggal!


Asih kalut, ia pun memanggil jin wanita sekutunya. Asih masuk ke ruangan khusus milik Bu Lasmi. Bibirnya bergerak perlahan melantunkan mantra pemanggil. Asap pembakaran kemenyan mengepul tipis memenuhi ruangan.


"Ada apa kau memanggilku!" Suara serak parau menyapanya. Jin wanita itu muncul dari sudut gelap.


"Aku perlu bantuanmu, untuk menghabisi satu orang lagi." 


Jin wanita itu terkekeh, ia berjalan mendekati Asih. "Satu korban, satu tumbal!" Bisiknya ditelinga Asih.


"Sediakan tumbal ketujuh, maka aku dan anak-anakku akan bekerja!"


"Aku akan menyediakannya, segera! Lakukan dulu tugasmu!"


Jin wanita itu kembali terkekeh, ia menyentuh wajah Asih yang tanpa takut menatapnya nyalang. 


"Kau tahu apa akibatnya jika tumbal itu terlambat diberikan?" Asih diam tak menjawab, jin itu kembali berbisik.


"Kematian!"


Asih mengepalkan tangannya, gemetar dengan kata kematian yang dibisikkan jin wanita itu.


Mati? Tidak aku tidak boleh mati! Dendamku belum tuntas terbalaskan!


"Clara dan Lisa, mereka belum mati! Tapi kau sudah kembali meminta tumbal? Kau melupakan tugasmu!" Cerca Asih pada jin wanita yang tiba-tiba saja terdiam.


"Kau meragukan kemampuanku! Mereka akan mati malam ini!" Jin itu berteriak tepat di depan wajah Asih.


"Huh, benarkah? Jangan menipuku atau kau tidak akan mendapatkan tumbalmu!" Asih balas menggertak.

__ADS_1


Netra mereka saling menatap, mata merah darah mengerikan bertemu dengan mata hitam milik Asih. Jin itu pun tertawa cekikikan. Ia mundur dan menghilang dalam bayangan meninggalkan suara serak parau yang menggema dalam ruangan.


Ingat Asih, jangan bermain main denganku! Tak ada satu manusia pun yang bisa lolos dariku!


__ADS_2